
Pukul sebelas siang, semua murid TK berhamburan keluar kelas. Tak terkecuali Zio. Mata bulatnya mengedarkan ke segala arah, untuk mencari keberadaan sang mami yang biasa menjemputnya.
Senyuman terbit dari bibir mungilnya, saat pandanganya menemukan keberadaan Tiara yang berjalan ke arahnya.
"Mami ...." Teriak Zio, dan berlari menghampiri Tiara. Dengan tangan kecilnya Zio memeluk pinggang Tiara dan wajah yang menempel pada perut buncit mami-nya.
"Ayo kita ke kantor Daddy, mungkin sekarang Daddy sudah menunggu kita." ujar Tiara, kemudian menggandeng tangan Zio dan berjalan menuju mobil.
"Iya, Mih." sahut Zio dengan girang.
Tiara tadi memang sengaja mengunjungi rumah Rey, karena jarak dari sekolah Zio yang lebih dekat. Jika pulang ke mansion, maka akan memerlukan waktu lebih lama.
Tidak memerlukan waktu lama mobil yang di kendarai Tomy sudah sampai di perusahaan Pratama Group.
Tiara turun dengan tangan kanan-nya menggandeng tangan Zio, dan tangan kirinya membawa beberapa paper bag berisi makanan yang sempat di belinya tadi sebelum menjemput Zio.
Semua karyawan menundukkan kepalanya ketika berpapasan dangan Tiara yang tak lain istri pemilik perusahaan.
Hanya memerlukan beberapa detik, Tiara dan Zio sampai di lantai tempat ruangan suaminya berada.
"Kak Sheryl," sapa Tiara ketika sudah berada di depan meja sekertaris suaminya itu.
Sheryl yang terlalu fokus dengan kerjaannya, tidak menyadari keberadaan Tiara yang sudah berdiri di sebrang mejanya. Sontak itu membuat Sheryl terkejut, saat tau Tiara sudah menyapanya.
"Nona." Sheryl segera berdiri dari duduknya dan menunduk hormat. "Maaf, Nona saya tidak tahu." ucapnya menyesal.
Tiara hanya tersenyum. Tiara sendiri juga memahami Sheryl begitu sibuk dengan pekerjaannya, terlihat dari tumpukan berkas yang cukup banyak di meja kerjanya. "Tidak apa-apa. Oh ya apa Tuan ada di dalam?"
Sheryl dengan cepat mengangguk. "Ada, Nona. Tapi di dalam masih ada tamu Tuan Alex," ujarnya. "Apa perlu saya sampaikan kedatangan Nona?" Tawar Sheryl.
"Tidak usah, biar saya tunggu di sana saja." Tiara mengarahkan pandanganya pada deretan kursi yang berada di depan ruangan Alex. "Ini untuk Kak Sheryl dan Kak Riko buat makan siang." Tiara memberikan dua paper bag yang di bawanya tadi.
"Ya ampun Nona, ini pasti merepotkan Nona." Sheryl menerimanya dengan sungkan. Karena takut jika Alex tau dirinya akan terkena masalah.
"Tidak apa-apa, saya memang sengaja membelikannya." ucap Tiara dengan tersenyum. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah kursi yang tadi dia lihat.
"Mami, kenapa kita duduk di sini?" tanya Zio saat sudah mendudukkan dirinya di sebelah Tiara.
"Sayang, Daddy masih ada tamu. Makanya kita tunggu di sini dulu, takutnya nanti menganggu Papi." Jelas Tiara memberi pengertian kepada Zio.
Zio kemudian duduk dengan patuh di sebelah Tiara. Tapi hingga sepuluh menit berlalu pintu ruangan Alex tak kunjung terbuka. Zio yang sudah bosan menunggu langsung turun dari duduknya dan berlari ke arah ruangan Alex.
__ADS_1
"Zio, kamu mau kemana?" Tiara segera beranjak dan mengikuti Zio.
Klek.
Zio yang sudah membuka pintu ruang kerja Alex langsung masuk ke dalam. Alex dan tamunya seketika menoleh ke arah Zio.
"Daddy," teriak Zio dan langsung melompat ke arah Alex yang sedang duduk di kursi.
Alex seketika merangkul tubuh Zio yang masih terbalut seragam TK itu. "Loh kamu sudah datang? Di mana Mami?" Saat Alex tidak melihat keberadaan istrinya.
"Sudah dari tadi Daddy, tapi kata Mami harus menunggu di luar dulu." Ujar Zio seperti penjelasan Tiara tadi.
"Zio." Panggil Tiara saat sudah berada di dalam ruangan suaminya. Karena perut buncitnya Tiara sudah tidak segesit dulu. "Maaf, Mas. Kita jadi mengganggu," ucap Tiara merasa tidak enak.
"Sayang, kata Zio kalian sudah datang dari tadi! Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya Alex.
"Aku takut mengganggu," jawab Tiara.
Alex menggelengkan kepalanya mendengar penuturan istrinya. Sedangkan tamu Alex hanya tersenyum melihat interaksi keluarga kecil itu.
"Oh ya, Tuan Rafael. Kenalkan ini istri saya Tiara, dan ini anak saya Zio." Alex yang memperkenalkan mereka berdua pada Rafael yang merupakan tamu Alex.
Rafael baru saja menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Pratama Group. Dan kemungkinan Rafael belum tau tentang keluarga Alex, karena beberapa hari lalu dirinya baru kembali ke indonesia setelah beberapa tahun di luar negri untuk mengembangkan bisnisnya.
Rafael segera beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Tiara. "Rafael."
Tiara segera menyambut uluran tangan itu. "Tiara." Tapi kemudian dengan cepat melepaskannya.
Tiara tahu kalau suaminya tidak suka ia menjabat tangan laki-laki lain terlalu lama, meskipun itu rekan bisnis Alex.
Rafael kemudian menoleh ke arah Zio yang masih berada di gendongan Alex. "Anak anda juga sangat tampan tuan, seperti anda." Puji Rafael.
"Oh, itu sudah pasti." Alex yang mulai membanggakan ketampanannya. Tiara hanya memutar bola matanya malas, jika melihat suaminya sudah dalam mode narsis.
"Ya sudah kalau begitu Tuan, saya permisi. Semoga kerja sama kita akan berjalan dengan baik."
"Semoga Tuan Rafael," sahut Alex.
Setelah kepergian Rafael, kini keluarga kecil itu duduk di sofa dengan posisi Tiara yang berada di tengah dan di apit dua pria tampan berbeda usia itu. Di meja depan mereka sudah ada paper bag yang tadi di bawa Tiara.
"Mas, ayo kita makan. Tadi aku sudah membelinya sebelum kesini." Tiara berniat untuk menata makanannya, tapi Alex tiba-tiba merangkulnya dari samping yang membuat dirinya tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Nanti saja, aku ingin memelukmu seperti ini." Alex memeluk istrinya dengan erat.
"Mas, kamu berat." Tiara mencoba menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di perut buncitnya, tapi tidak bisa.
"Daddy, nanti adiknya keberatan." Zio yang juga membantu Tiara untuk melepaskan tangan Alex.
"Ck." Alex berdecak mendengar itu. Terkadang Alex dan Zio akur, tapi tidak jarang juga mereka bertengkar. Apalagi jika mereka merebutkan perhatian Tiara.
Alex segera menarik tangannya dan kembali duduk di samping Tiara dengan wajah kesal karena tidak bisa bermanja dengan istrinya jika ada Zio.
Tiara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku ayah dan anak itu.
Siang di kantor Alex itu ternyata hanya ada acara makan siang, karena rencana Alex yang ingin bermanja dengan istrinya harus gagal karena keberadaan Zio.
***
Setelah sampai di mansion, Tiara segera menidurkan Zio yang memasuki jam tidur siangnya.
Sebenarnya Tiara sendiri juga sangat mengantuk, tapi ingat pesan mommy tadi yang ingin berbicara dengannya setelah menidurkan Zio.
"Mom," panggil Tiara.
Mommy yang tadinya fokus pada acara tv, seketika menoleh ke arah Tiara yang baru saja datang.
"Sini, duduk sayang." Mommy menepuk tempat di sebelahnya. "Zio sudah tidur?"
Tiara segera mendudukkan dirinya di sebelah mommy. "Sudah Mom, baru saja."
"Oh ya, bentar lagi usia kandungan kamu sudah menginjak tujuh bulan. Bagaimana kalau kita adakan acara tujuh bulanan?" tanya Mommy dengan mengelus perut buncit Tiara.
Tiara berfikir. Memang sebentar lagi sudah menginjak tujuh bulan, dan selama beberapa bulan lalu sejak dirinya mengandung memang belum pernah mengadakan acara syukuran untuk calon anaknya. "Boleh, Mom. Tapi bagaimana kalau di panti asuhan saja? Karena sudah lama Tiara tidak ke sana," ujar Tiara.
"Boleh juga, ya sudah kalau begitu biar Mommy yang mempersiapkan semuanya." jawab Mommy dengan antusias.
*
*
*
...*MAAF BARU SEMPAT UP, KARENA BARU SELESAI ACA***RA HALAL BIHALALNYA MALAM TADI. TERIMA KASIH MASIH SETIA MENUNGGU**....
__ADS_1
...HARI INI HARI SENIN, JANGAN LUPA UNTUK VOTE. LIKE DAN KOMEN. SATU LIKE DARI KALIAN ITU PENYEMANGAT BUAT OTHOR. TERIMA KASIH. SEMOGA SEHAT SELALU. AMINN....