
Di sekolah Tiara seperti biasa, saat waktu istirahat menjelang Tiara lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Sekedar menikmati waktu untuk menyendiri, Tiara lebih suka suasana hening dari pada mendengar berisiknya dari suara teman-temannya yang bersenda gurau.
Hingga tak lama ada notifikasi pesan masuk pada ponselnya.
💌 Ara nanti ke Cafe yuk? Pesan dari Caca.
Tiara menimbang-nimbang permintaan Caca, memang dia sudah lama tidak quality time dengan Caca.
Hingga beberapa saat setelah Tiara menghubungi suaminya dan mengantongi izin dari Alex, Tiara segera membalas pesan Caca.
💌 Ok.
Setelah membalas pesan Caca, ternyata bel sekolah sudah berbunyi. Menandakan Tiara harus melanjutkan kegiatan belajarnya.
*
*
Dan disinilah mereka sekarang, di Cafe.
Tiara duduk berdua dengan Caca dengan posisi di pojokan, sedangkan Tomy dan Bayu duduk berjarak dua meja dengan Nona nya.
Sejak Caca sembuh Alex masih menyuruh Bayu untuk menjaganya, dan sekarang menjadi supir untuk Caca. Karena Mommy tidak mengizinkan Caca untuk kembali ke apartemen.
"Ara sudah lama ya ... kita nggak kayak gini!" Ucap Caca bahagia.
"Hmm ... mulai dari kamu sakit."
"Iya, kamu kan juga sibuk sama Om," cibir Caca.
Tiara hanya mencebikkan bibirnya.
"Ara gak terasa ya sebentar lagi udah mau ujian ," ucap Caca.
"Hmm ... kamu mau kuliah di mana?
"Nggak tau, belum kepikiran. Kamu sendiri gimana?"
Tiara mengedikkan bahu. "Sekarang setiap aku ambil keputusan gak bisa sendiri Ca, jadi terserah sama, Mas."
Caca hanya menganggukkan kepala, sebagai jawaban mengerti. Caca sendiri juga memahami kalau sahabatnya sekarang harus menghargai pendapat suaminya.
"Ara kita piknik yuk, dah lama nih kita gak piknik. Anggap aja penyegaran sebelum kita ujian," ajak Caca. Entah kenapa terlintas ide di pikirannya untuk piknik.
"Boleh, gimana kalau hari sabtu aja! Biar bisa lama waktunya."
"Ok, bagaimana kalau kita ke puncak, cari yang Adem!"
"Ok."
Setelah memutuskan rencana mereka berlibur, Tiara dan Caca menghabiskan makanan yang ia pesan tadi. Sesekali mengobrol ringan mengenang masa-masa mereka dulu bersama sebelum Tiara menikah.
"Ca, kita ke apartemen yuk bentar. Udah lama gak di tengok, mumpung masih jam segini," ujar Tiara seraya melihat jam yang melingkar di tangannya, yang menunjukkan pukul empat sore.
"Boleh," sahut Caca.
Tiara segera ke kasir untuk membayar pesanan mereka berempat. "Ya udah ayok," ajak Tiara yang sudah menyelesaikan pembayarannya dan di angguki Caca.
"Kak Tomy sama kak Bayu apa kakak sudah selesai makanya?" Tanya Tiara.
"Sudah Non," jawab mereka berdua.
"Uhm ... kak Bayu, kakak balik duluan aja. Caca sama Tiara mau ke apartemen dulu," sela Caca.
"Baik Non."
Tiara dan Caca akhirnya melanjutkan acara mereka ke apartemen dengan di antar Tomy. Tiara juga tidak lupa juga mengabari suaminya.
__ADS_1
"Kak Tomy nanti mampir ke supermarket ya! Setelah itu kak Tomy ke apartemen saja dulu," ucap Tiara.
"Baik Non."
Hingga tak beberapa lama, mobil yang di kendarai Tomy tiba di pelataran supermarket seperti keinginan Tiara.
Tiara dan Caca memutuskan masuk ke dalam supermarket setelah mobil yang di kendarai Tomy melaju pergi.
Tiara sejenak tersenyum, saat baru memasuki supermaket. Pikirannya melayang ke beberapa bulan lalu, saat pertemuan kedua dengan Alex yang saat itu sangat menyebalkan. Tapi siapa sangka sekarang justru orang menyebalkan itu menjadi suaminya.
"Ara, ngapain sih senyum-senyum sendiri? Jangan kamu --" Ucap Caca dengan menaruh jari telunjuk ke keningnya dengan posisi miring.
Mata Tiara melotot seketika, tapi justru Caca tergelak kencang. Hingga beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.
***
"Ra mau beli apaan sih?" Tanya Caca seraya mendorong troli yang tadi ia ambil.
"Mau belanja buat makan malam, tadi kata Mas, mau makan malam aja di apartemen," jawab Tiara.
Alex tadi memang mengatakan jika ingin makan malam di apartemen saat Tiara menelponnya.
"Oh ...."
"Emang mau masak apa?" Tanya Caca.
"Masih belum tau," ujar Tiara sambil melihat bahan apa saja yang ingin dia masak.
"Gimana kalau ceker pedas?"
"Itu kesukaan kamu Ca," cibir Tiara. Tapi Tiara juga mengambil ceker seperti keinginan Caca dan menaruhnya dalam troli.
Caca hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Tiara akhirnya mengambil ayam filed dan ikan filed, juga beberapa sayur untuk dia jadikan sup. Tidak lupa juga beberapa tepung crispy untuk di balur kan pada ayam dan ikannya nanti.
Semuanya barang yang di perlukan Tiara sudah masuk dalam troli, tapi matanya tidak mendapati Caca yang tadinya mendorong Troli.
Saat Tiara sedang fokus mencari keberadaan Caca, Tiara tidak memperhatikan jalanya. Sehingga Tiara tidak sengaja menabrak seseorang.
Bruk.
Tiara hampir saja terjungkal ke belakang, kalau saja orang yang ditabraknya tidak dengan cepat meraih pinggang ramping Tiara.
Orang itu sempat menatap lekat wajah Tiara yang berada di pelukannya, hanya ada satu kata menurutnya. 'Cantik'
Tiara yang sadar posisinya yang terlalu dekat, seketika menjauhkan dirinya. Apalagi orang itu adalah seorang laki-laki.
"Maaf," ucap Tiara.
"Tidak apa-apa," jawab laki-laki itu.
"Ara ...." Teriak Caca dari kejauhan.
Tiara segera menoleh pada suara cempreng Caca, dan mengarahkan kembali pada pandanganya pada laki-laki yang berada di depannya. "Maaf sekali lagi, kalau begitu saya permisi," ucap Tiara dan pergi dari sana untuk menghampiri Caca sebelum laki-laki itu membalas ucapan Tiara.
"Siapa Ra?" Tanya Caca.
"Nggak tau, tadi gak sengaja aku nabrak dia gara-gara nyari kamu," cibir Tiara.
Caca hanya tersenyum mendengar itu. "Aku tadi cuma ambil ice cream," ucap Caca sambil menunjuk ice cream yang sudah berada di dalam troli.
Tiara membulatkan matanya saat melihat lima box ice cream jumbo di dalam troli. " Ca ... nanti kamu sakit perut kalau makan sebanyak ini."
"Nggak sekaligus juga Ara, masih bisa buat besok-besok nya lagi," elaknya.
Tiara hanya memutar bola matanya malas.
Perdebatan mereka tak luput dari penglihatan laki-laki yang menabrak Tiara tadi. "Pasti kita akan bertemu lagi," gumamnya dengan tersenyum, setelah itu berlalu dari sana.
__ADS_1
"Eh ... Ra, kenapa kamu di kelilingi Om-Om terus, pasti di kehidupan kamu yang dulu, kamu itu sudah baik hati sama Om-Om. Makanya sekarang pra Om-Om tertarik sama kamu," ujar Caca di sela-sela menunggu antrian ke kasir.
"Ck," Tiara hanya berdecak mendengar celotehan Caca. "Ingat ya ... Uncle Rey juga Om-Om," cibir Tiara yang langsung membuat Caca terdiam.
Tiara hanya tersenyum melihat ekspresi Caca. Hingga beberapa saat giliran mereka ke kasir untuk membayar.
*
*
Saat mereka di apartemen, Caca dan Tiara berpisah untuk masuk ke dalam apartemen masing-masing.
"Pasti enak kalau mandi dulu," monolog Tiara.
Tiara segera menata belanjaannya tadi ke dalam lemari pendingin, dan memutuskan untuk membersihkan diri dulu.
Setelah dua puluh menit Tiara sudah selesai dengan urusan mandinya dan sekarang sudah tampak lebih segar.
Dengan hanya mengenakan tengtop dan hotpants di bawah bok*ng warna hitam senada, Tiara menuju dapur.
Tiara mengeluarkan bahan-bahan yang tadi sempat di masukkan dalam kulkas untuk dia masak. "Ok kita mulai," ucap Tiara. Sebelum memasak Tiara menggelung tingg rambutnya agar tidak mengganggu.
Tiara dengan cekatan mengolah ikan dan ayamnya dengan memotongnya dadu, kemudian dia balur kan dengan tepung crispy dan di goreng.
Sambil menunggu ikan dan ayam matang Tiara juga memasak ceker pesanan Caca tadi. Tiara berencana memasak ikan dan ayam crispy saus asam manis.
Tiara merubah haluan, rencana memasak sup tadi dia ubah hanya dengan menumis nya saja. Rasanya itu akan lebih nikmat menurutnya.
Tiara yang terlalu fokus memasak tidak menyadari kalau Alex sudah masuk ke dalam apartemen, Alex sengaja pulang lebih awal karena tadi ada pengacau di kantornya.
Alex yang mencium aroma masakan, seketika melangkahkan kakinya ke arah dapur. Alex dapat melihat istrinya yang begitu menggoda, dengan pakaian mini yang melekat di tubuhnya dan warna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.
Alex menelan saliva nya dengan susah payah, apalagi leher jenjang Tiara yang terlihat jelas tanpa pengganggu.
Alex segera menaruh tas kerjanya dan melepas jas nya. Alex juga melepas dasi yang melingkar di lehernya. Membuka beberapa kancing atas kemejanya dan menggulung kemeja di bagian tangannya hingga sampai siku, hingga tangan kekar Alex juga dapat terlihat.
Dengan langkah perlahan Alex mendekati Tiara yang sedang memunggunginya, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Tiara dan menaruh dagunya pada bahu Tiara yang sedikit terbuka.
Tiara terkejut karena ulah Alex, hingga dengan reflek Tiara menoleh kesamping tepat di mana wajah Alex berada.
Karena jarak mereka yang terlalu dekat, hingga hidung mancung meraka saling bersentuhan. "Mas," ucap Tiara seketika menghentikan masaknya.
"Apa kau ingin menggodaku hmm?"
"Tidak, aku hanya sedang memasak," ucap Tiara yang melanjutkan acara memasaknya. Sedangkan Alex tetap menempel padanya.
Alex masih dapat mencium aroma sabun pada tubuh Tiara, dan sedikit membangkitkan apa yang tidur di bawah sana.
"Apa kau ingin mencoba bercint* di dapur?" tanya Alex vulgar, dengan sedikit menggigit telinga Tiara.
Sontak itu membuat Tiara sedikit meremang. "Mas," ucap Tiara tertahan saat merasakan tangan Alex sudah masuk ke dalam tengtop-nya dan meremas kedua bulatan kesukaan Alex.
Tiara segera mencuci tangannya, dan memegang tangan Alex yang nakal. "Aku sedang masak," ujar Tiara.
Alex tidak kehilangan akal, Alex segera mematikan kompor den menggendong Tiara untuk dia dudukkan di atas meja dapur.
Alex yang sudah tidak tahan segera melahap bibir Tiara juga meremas dengan gemas dua bulatan yang sekarang sedikit lebih besar.
"Ugh ...." Satu lenguhan lolos dari bibir Tiara, ketika Alex meninggalkan jejak kepemilikannya di lehernya.
Alex dengan cepat melepas apa yang ada pada Tiara hingga kini polos seperti bayi. Alex juga melepas apa yang melekat pada dirinya. Hingga sekarang Alex berdiri di sela kedua kaki Tiara yang terbuka.
"Akh ...." pekik Tiara, saat Alex memasukinya. Rasanya selalu sasak meskipun ini bukan yang pertama, begitupun yang di rasakan Alex.
Dengan perlahan Alex mulai menghentak nya, tapi lambat laun hentakan itu semakin kuat saat Alex dapat merasakan milik Tiara sudah berdenyut mencengkeramnya.
Beberapa menit kemudian Alex menghentak nya dengan dalam saat dirinya sudah berada di ujung batasnya. Tiara sendiri juga mencengkeram erat pundak Alex saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir deras di dalam dirinya.
Tiara hanya mampu memeluk tubuh Alex yang sekarang juga memeluknya, rasanya tubuhnya lemas tak bertulang. Acara memasaknya jadi berantakan seketika, mungkin harus mundur satu jam lagi.
__ADS_1
...----------------...