
Di dalam mall tiga wanita dua generasi itu menikmati kesenangan mereka, apalagi di tambah Zio si tampan yang memikat semua mata pengunjung karena ketampanannya.
"Sayang, kita mau kemana dulu?" tanya Mommy saat melihat deretan toko berjejer.
"Uhm ... Mom, bagaimana kalau kita ke tok baju! aku ingin membeli beberapa baju hamil dan untuk Zio," ujar Tiara sembari menoleh ke arah Zio yang berada di sampingnya.
"Boleh, ya sudah ayo." Mommy yang menyetujui.
"Let's go," sahut Caca yang tak kalah bersemangat.
Mereka bertiga memasuki salah satu toko dengan brand ternama, tiga wanita itu berpencar untuk mencari kebutuhan masing-masing.
Tiara lebih dulu menuju ke arah pakaian anak-anak. Zio yang di gandeng nya pun hanya menurut.
Satu persatu Tiara mengambil beberapa baju untuk di tempelkan ke tubuh Zio. "Apa kamu suka?"
Zio mengangguk dengan tersenyum yang menghiasi bibirnya. "Iya, Tante." jawabnya.
Tiara juga tersenyum mendengar itu, saat Zio menyukai apa yang ia pilihkan. Bahkan Tiara sekarang sampai lupa memilih pakaian untuknya.
Tiga puluh menit kemudian, semuanya sudah selesai dengan belanjaannya masing-masing. Bahkan tidak seperti biasanya, Tiara yang biasanya belanja paling sedikit, sekarang dia harus meminta dua pelayan toko untuk membawa barang belanjaannya yang sangat banyak.
Mommy dan Caca sampai menggelengkan kepalanya. "Ra, kamu mau buka toko baju?" celetuk Caca.
Tiara segera mengarahkan pandanganya pada kedua pelayan toko yang sedang membawa barang belanjaannya yang cukup banyak dan kembali menatap Caca. "Tadi aku lihat pakaian yang bagus-bagus untuk Zio," ujarnya.
Karena memang belanjaan Tiara di dominasi oleh pakaian Zio yang lebih banyak dari pada miliknya.
Mommy melihat barang belanjaan kedua putrinya, ternyata keduanya tidak ada yang membelikan pakaian untuk suami mereka. "Sayang, kalian tidak membelikan pakaian untuk suami kalian?"
Tiara dan Caca terdiam sebentar kemudian dengan kompak menggelengkan kepalanya.
Mommy hanya menghembuskan nafasnya pelan. Tapi memang kedua putrinya itu menikah di usia yang sangat muda, seperti dirinya dulu dan Papa Nathan yang menikah di usia yang sangat mudah.
"Oh ya mbak, kalau begitu semua belanjaannya di taruh dulu saja ke kasir. Ada yang masih harus di cari lagi," ujar Mommy dengan menyerahkan belanjaannya kepada pelayan toko. Begitu pun Caca juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kita mau cari apa Mom?" tanya Caca sembari mengikuti langkah mommy.
"Mommy akan menunjukkan apa yang harus di beli untuk suami kalian. Mommy yakin suami kalian pasti akan sangat senang," jawab Mommy dengan meyakinkan.
Ternyata tidak lama mommy berhenti di area pakaian dalam. "Nah, kita sudah sampai," ucapnya.
Sedangkan Tiara dan Caca saling pandang. Entah kenapa pipi Tiara dan Caca tiba-tiba memanas melihat kain segitiga khusus pria itu. Meskipun mereka sudah melihat dan merasakan isinya, tapi tetap saja mereka masih merasa risih untuk melihat kain segitiga itu. Apalagi di tempat umum seperti ini.
"Mom, Tiara malu jika membeli ini untuk Mas Alex," bisik Tiara agar tidak terdengar oleh pelayan penjaga pakaian dalam.
"Sayang, untuk apa malu! Kamu kan sudah pernah melihat dan merasakan milik suamimu," jelas Mommy tanpa sadar dengan suara yang sedikit keras. Hingga pelayan toko itu bisa mendengarnya, bahkan pipinya juga ikut merona karena perkataan mommy.
Mata Tiara seketika membulat, mendengar ucapan mommy bahkan Caca juga sama. Kedua putrinya itu hanya tersenyum kaku saat pelayan toko melihat ke arahnya.
"Ehm ... apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko untuk mencairkan suasana.
"Iya kami butuh pakaian dalam pria, uk L." ucap Mommy. Kemudian mommy mengarahkan pandanganya pada Caca dan Tiara yang masih terdiam. "Eh, apa ukuranya sama dengan suami kalian?" tanya Mommy.
Dan lagi-lagi pipi Tiara dan Caca memanas mendengar itu. "Tidak tahu Mom," cicit Caca. "Tapi, kalau ukuran isinya Caca tahu," ucapnya dengan tersenyum.
***
Satu jam kemudian para wanita cantik itu akhirnya menyudahi acara berbelanja nya. Melihat paper bag yang begitu banyak, mommy segera menghubungi Tomy agar segera menghampirinya.
Tidak sampai lima menit Tomy sudah sampai di hadapan mereka. "Cepat sekali." Mommy yang sedikit heran. Karena tadi mommy menyuruhnya untuk menunggu saja di parkiran, tapi dari jarak parkiran sampai ke tempat mommy, Tomy seharusnya membutuhkan waktu lebih dari lima menit.
"Oh ... i-itu saya tadi kebetulan saya sedang mencari minum," ujar Tomy dengan sedikit gugup. Karena sebenarnya Tomy sedari tadi mengikuti mereka sesuai dengan perintah yang di berikan Alex. Alex sendiri tidak mau jika sesuatu terjadi hal yang tidak di inginkan pada wanita-wanita cantik itu.
Mommy memicingkan matanya. "Benarkah! Lalu di mana minuman mu?" tanya Mommy menyelidik.
"I-itu tadi --"
"Mom, sudahlah ayo kita pulang. Caca sudah sangat lelah," keluh Caca.
"Ya, sudahlah kalau begitu. Tomy tolong kamu bawakan beberapa paper bag itu," titah Mommy yang langsung di laksanakan oleh Tomy.
__ADS_1
"Untung, Nyonya segera lupa," batin Tomy. Dan segera berjalan di belakang para wanita cantik itu.
*
*
Sore menjelang malam. Tiara dan Caca sedang bersantai di taman belakang mansion. Tiara menceritakan bagaimana Zio sampai ikut dengannya.
"Wah, keren Ra. Seperti di film-film," ujar Caca seelah mendengar penjelasan Tiara.
"Aku, nggak tau Ca, dari pertama melihat Zio aku sudah jatuh hati," tutur Tiara dengan bibir melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Zio.
"Tapi kalau di pikir-pikir, Zio juga cocok Ra jadi anak kamu," cetus Caca.
"Benarkah?"
"Hm, wajah kalian sedikit mirip." Caca memang melihat ada kemiripan di wajah Zio, Tiara dan juga Alex. Jadi jika Zio menjadi anak mereka itu sangat cocok.
"Tapi, aku juga tetap harus mencari keluarga yang sebenarnya Ca. Entah karena apa sampai Zio ada di tempat itu kemarin." Raut wajah Tiara tiba-tiba sendu. Membayangkan jika tiba-tiba keluarga Zio datang dan mengambilnya. Tapi Tiara sendiri juga tidak tega jika Zio sampai tidak tahu keluarganya sendiri.
Caca dapat merasakan kesedihan yang menghinggapi perasaan sahabatnya itu. "Uhm ... Ra, aku ambil minum dulu ya," saat melihat kedua gelas yang berada di atas meja sudah habis.
"Hm," sahut Tiara.
Caca segera melenggang pergi ke arah dapur.
Tiara hanya memandang kosong taman di depannya yang di tumbuhi beberapa tanaman buah. Hingga tak sengaja mata Tiara menangkap buah mangga yang masih muda menggoda dirinya. Air liurnya tiba-tiba saja memenuhi mulutnya. Tiara membayangkan, memakan mangga muda yang di cocol dengan sambal gula merah pedas pasti sangat enak.
Cup.
Tiba-tiba ada benda kenyal yang menempel pada pipinya.
...----------------...
...JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN. TERIMA KASIH, SEMOGA SEHAT SELALU. AMINNN....
__ADS_1
...SELAMAT MENANTI BERBUKA PUASA....