DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Bule KW


__ADS_3

Caca hanya mencebikkan bibirnya dengan pertanyaan suaminya. "Tidak kita pulang saja," ketus Caca.


Bagaimana Caca tidak merasa kesal. Selama film di putar, selama itu pula Rey yang selalu saja mengerjainya. Film yang seharusnya menarik, jadi tidak dapat ia nikmati.


Apalagi Rey memilih kursi yang paling atas pojok, semakin membuat Rey melancarkan aksinya.


Flashback On.


Dalam keadaan remang karena hanya tersorot dari cahaya film yang sedang di putar, tangan Rey yang tidak bisa diam bergerak menyelinap di balik baju Caca yang kebetulan memakai hem berkancing depan. Meremas dan memilin apa yang ada di dalam sana.


"Uncle, berhentilah," bisik Caca dengan menepis tangan suaminya yang masih nyaman menyelinap di bukit kembarnya.


"Diam lah, dan nikmati saja filmnya," sahut Rey. Tetapi tangannya sama sekali tidak berpindah tempat.


"Bagaimana harus menikmati, jika Uncle terus saja seperti ini," gerutu Caca.


Hingga akhirnya film selesai di putar, maka selesai pula kejahilan Rey.


Flashback Off.


***


Tiara mengerjabkan matanya, saat di rasa tidurnya cukup nyenyak. Matanya langsung mengarah pada suaminya yang sekarang juga terlelap di sampingnya.


"Jam dua belas?" gumam Tiara setelah melihat jam dinding yang berada di kamarnya.


"Mas." Panggil Tiara pelan. Tapi Alex sama sekali tidak terbangun.


"Mas," ulang Tiara.


"Hm," gumam Alex dengan mata terpejam. Bahkan sekarang semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas ayo bangun ... tadi katanya mau ke sana lagi beli gado-gado," ucap Tiara yang masih teringat ngidamnya.


Alex tidak menyahuti ucapan istrinya, yang ada Alex semakin menyeruakkan wajahnya pada ceruk leher Tiara. Menghirup aroma manis pada tubuh istrinya yang sudah lama tidak ia lakukan.


Tiara yang merasa kelakuan suaminya semakin menempel padanya berniat untuk menghindar. Tapi sayang, itu sia-sia. Karena Alex tak membiarkannya pergi.


Nafas Alex yang berhembus di dekat daun telinganya, seketika membuatnya tubuh Tiara meremang. Sudah lama Tiara tidak merasakan hal seperti ini.


"M-mas, ayo bangun," ucap Tiara yang kali ini sedikit gugup.


Alex yang sekarang mendengar suara istrinya, dengan perlahan mengerjabkan matanya. Alex seketika juga ikut menegang saat mengetahui kalau posisinya kali ini sangatlah berbahaya. Alex takut phyton yang sudah bertapa selama beberapa bulan akan bangun tiba-tiba.


"Hm, kenapa?" tanya Alex dengan suara serak khas orang yang bangun tidur. Alex sedikit memberi jarak antara dirinya dan Tiara, hingga kini Alex dapat melihat wajah Tiara yang sedikit gugup.


"A-ayo kita pergi, nanti gado-gado nya kehabisan," ujar Tiara.


"Huh."

__ADS_1


Alex masih mencerna ucapan Tiara. "Ya ampun, ternyata gado-gado nya masih to be continue," batin Alex.


"Mas." Tiara mencoba menyadarkan Alex yang hanya terdiam.


"O-oh baiklah, kalau begitu aku mau ke kamar mandi dulu." Alex segera berjalan ke arah kamar mandi.


Sedangkan Tiara berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti.


Beberapa saat kemudian, Alex sudah siap untuk kembali pergi membeli gado-gado yang tertunda.


"Loh, kalian mau kemana lagi?" tanya Mommy. Saat Alex dan Tiara melewati Mommy yang sedang bermain game online di ruang tengah.


Alex dan Tiara seketika menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Mommy. "Mau lanjutin beli gado-gado Mom. Tadi soalnya belum sempat kebeli," jelas Tiara.


Mommy terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu, hingga kemudian tersenyum penuh arti. "Mommy boleh ikut?"


Alex dan Tiara saling bertukar pandang, sebelum akhirnya Tiara menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Mommy.


"Tapi Papa bagaimana Mom?" tanya Alex. Karena tidak melihat keberadaan Papa Nathan di sana.


"Oh ... Papa sedang tidur. Nanti Mommy akan mengirimkannya pesan. Ya sudah ayo!" ajak Mommy yang sekarang lebih antusias di banding Tiara.


Hingga 20 menit kemudian, mereka sudah sampai ke tempat penjual gado-gado, dengan taksi online.


Ternyata tempat itu sekarang sangat ramai pembeli. Rata-rata dari mereka adalah pelajar SMA, karena lokasi-nya yang berhadapan langsung dengan sekolah. Apalagi siang itu bertepatan dengan jam istirahat.


Kedatangan mereka bertiga sontak menjadi pusat perhatian. Tiara, ibu hamil yang terlihat begitu cantik. Alex, laki-laki bule tampan yang sungguh mempesona dan Mommy, wanita bule paru baya yang masih cantik di usianya.


"Sudah diam lah, lebih enak begini. Angin bisa masuk dari mana-mana," jelas Mommy. "Ayo sayang." Mommy yang menarik tangan Tiara untuk menuju penjual gado-gado.


Alex hanya mendengus melihat kelakuan Mommy.


Mommy dan Tiara berjalan ke arah bangku yang masih kosong, karena Mommy menyuruh Alex untuk memesan gado-gado.


Alex sebenarnya sangat risih bila harus berdesak-desakan seperti ini untuk memesan makanan. Bahkan sebenarnya Alex mampu jika harus memborong semua, atau bahkan membeli sekalian bersama gerobak gado-gado nya.


Tapi apa daya, Tiara ingin memakan di tempat penjual gado-gado langsung.


Dari tempat duduknya, Tiara dapat melihat suaminya yang sedang berdiri menunggu antrian. Sungguh Tiara terharu melihat suaminya yang memang sudah berubah demi dirinya. Ada senyuman tipis yang mengembang di sudut bibirnya. Tapi sedetik kemudian mata Tiara menangkap pemandangan yang tidak menyenangkan. Dimana semua pembeli di sana yang di dominasi siswi perempuan, menatap dengan damba pada sosok suaminya. Sehingga senyuman yang tadi terbit luntur seketika, dengan wajah yang sedikit suram.


"Sayang, ada apa?" tanya Mommy dengan menggenggam tangan Tiara. Mommy tahu ada sesuatu yang telah mengusik hati menantunya itu.


Tiara seketika menoleh ke arah Mommy yang sedang menatapnya. Tiara dengan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Mom." jawab Tiara dengan senyum terpaksa.


Hingga beberapa saat, Alex sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi dua piring gado-gado dan tiga botol air mineral.


"Loh, kamu tidak makan?" tanya Mommy pada Alex, seraya menyuapkan lontong yang bercampur sayuran dengan bumbu kacang itu ke dalam mulutnya.


"Tidak Mom, Alex rasanya tidak cocok dengan makanan seperti itu." Menatapnya dengan aneh. Alex memang tahu apa itu gado-gado, tapi dirinya tidak pernah mencobanya.

__ADS_1


Mommy akhirnya melahap dengan nikmat gado-gado di siang hari itu. Berbeda dengan Tiara yang memakannya tidak semangat.


"Sayang, apa rasanya tidak enak?" tanya Alex saat melihat istrinya yang tampak sedikit murung.


"Enak," jawab Tiara singkat.


Alex menautkan kedua alisnya, melihat istrinya sekarang.


Hingga tak lama telinga mereka mendengar kasak kusuk dari siswi yang juga menikmati gado-gado di sana.


"*Wah ... tampan sekali pria itu, mungkin dia anak dari wanita itu. Karena sama-sama bule."


"Iya, tapi siapa gadis yang hamil di antara mereka itu?"


"Mungkin dia anak dari pembantunya."


"Iya, tidak mungkin pria itu memilih gadis biasa seperti dia. Yang lebih cocok itu gadis cantik seperti gue."


"Hei, jangan keras-keras nanti mereka bisa mendengarnya."


"Tidak mungkin, pasti mereka tidak mengerti bahasa indonesia*."


Begitulah nyinyiran dari para siswi yang memuja ketampanan seorang Alex Pratama.


Tiara seketika meletakkan sendok nya, dan tidak melanjutkan makanya.


Alex yang tidak mendengarnya hanya diam saja, karena Alex sedang fokus dengan ponsel yang berada di tangannya.


Sedangkan Mommy juga sudah meletakkan sendok nya, karena gado-gado sudah habis tak tersisa di piringnya. "Alex, ayo kita pulang," ajak Mommy.


"Hm, baiklah," sahut Alex. Tapi kemudian matanya tertuju pada piring Tiara yang masih tersisa banyak gado-gado. "Kenapa tidak di habiskan?"


"Sudah, kenyang. Ya sudah, ayo pulang." Tiara yang beranjak dari duduknya dan segera pergi dari sana.


Alex hanya bingung melihat sikap istrinya yang tiba-tiba berubah. Tapi akhirnya juga menyusul Tiara.


Mommy yang berjalan paling belakang, seketika memutar arah kembali ke arah kerumunan siswi sekolah.


"Ehm." Mommy yang berdehem. Seketika semua siswi yang sedang menikmati makan-nya langsung mengarahkan pandanganya pada Mommy yang berdiri di samping meja mereka.


"He, dadi arek wedok gak usah ngomongno bojone uwong. Durung karuan arek ayu iku, ayu sak njerone atine. Sek cilik sekolah'o ae seng bener gak usah dadi calon bibit pelakor," ucap Mommy sinis dan kemudian pergi dari sana.


( Hei, jadi perempuan nggak usah membicarakan suami orang. Belum tentu orang cantik itu, cantik juga hatinya. Masih kecil sekolah saja yang benar, tidak usah jadi calon bibit pelakor )


"Huh." Semua siswi hanya menganga mendengar ucapan Mommy.


"Wah ... bule kw," cetus salah satu dari mereka.


Sebenarnya tadi Mommy juga sempat mendengar kasak kusuk yang membuat menantunya bersedih.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn. 😊🙏


__ADS_2