DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Memulai Balas Dendam


__ADS_3

Brak.


Suara gebrakan meja terdengar begitu nyaring, amarah seolah menyelimuti Alex setelah mendengar laporan dua anak buahnya.


"Bagaimana bisa kau melaporkanya setelah mereka menikah, hah ....?" bentak Alex. Bahkan Alex tak segan untuk memukuli anak buah-nya.


Setelah membuat anak buah-nya babak belur, Alex baru bisa menguasai dirinya kembali. Riko yang baru datang sontak saja terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Pergilah kalian dari sini." perintah Alex pada anak buah-nya.


"Baik tuan," jawab anak buah-nya dan pergi dari sana.


Setelah itu hanya tertinggal Riko bersama Alex. "Maafkan saya tuan, saya terlambat mengetahui informasi ini." ucapnya menyesal.


"Yah ... dan itu adalah kesalahan fatal mu." Setelah itu Alex terlintas di pikirannya dengan percakapan Tiara yang mendukung keputusan ayah Andien untuk menjodohkan nya. Kemudian Alex melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 20.00.


"Riko jam berapa j*lang kecil itu pulang kerja?" tanya Alex.


"Jam sembilan malam Tuan," jawab Riko. Entah apa yang akan di lakukan oleh Alex yang tiba-tiba menanyakan tentang Tiara.


"Pergilah dari sini," usir Alex.


"Baik tuan." Setelah itu Riko pergi dari ruangan Alex.


"Ini semua juga karena mu ******* kecil, kalau tidak kau memberikan saran itu mungkin semua ini tidak akan terjadi." Geram Alex.


Alex mengambil kunci mobilnya untuk menuju tujuannya. Dan tujuannya sekarang adalah memulai balas dendam dengan Tiara yang di anggap salah satu penyebab masalahnya.


Setelah beberapa saat Alex tiba tidak jauh dari kafe Raja, Alex menunggu pulangnya Tiara karena dia ingin memastikan sendiri apa yang di laporkan anak buahnya.


Waktu menunjukkan jam 21.00, tidak lama terlihat Tiara keluar dari kafe berjalan menuju halte untuk menuggu bus. Alex pun tetap mengawasi Tiara, hingga Tiara menaiki bus yang akan mengantarkannya pulang.


Saat Tiara sampai di apartemen Tiara langsung memasuki kawasan itu untuk menuju unit apartemennya, Tiara sama sekali tidak sadar jika Alex mengikutinya.


"Ya ampun lelah sekali hari ini." keluh Tiara pada dirinya sendiri saat sudah masuk kedalam apartemennya, Tiara memutuskan untuk membersihkan diri dengan berendam air hangat agar mengurangi rasa lelahnya.


20 menit berlalu Tiara sudah selesai melakukan ritual mandinya dan terlihat segar, Tiara hanya memakai baju handuk dengan panjang yang hanya menutupi separuh paha mulusnya untuk membungkus tubuhnya.


Sesaat kemudian Tiara mendengar suara pintu apartemen terbuka, Tiara pun berfikir itu adalah Caca karena yang tahu pasword-nya hanya Caca.


Tiara tidak memperdulikannya, tapi kemudian tenggorokan Tiara terasa kering memutuskan Tiara mengambil minum di dapur dengan keadaanya masih menggunakan handuk.


Waktu Tiara tiba di ruang tengah mata Tiara membulat sempurna ternyata yang tadi masuk bukanlah Caca melainkan Alex.


"**-tuan sedang apa ada di sini, dan bagaimana Tu-tuan bisa masuk?" tanya Tiara terbata. Tiara ingat dia adalah orang yang pernah menabraknya.


Alex yang memang dari tadi duduk di sofa melihat gerak gerik Tiara hanya tersenyum miring. "Memang apa yang tidak bisa ku lakukan di dunia ini, aku bisa melakukan apapun yang ku mau dengan kekuasaan ku." sombong Alex.


Seketika Alex berjalan maju secara perlahan menghampiri Tiara. Tiara yang reflek waspada langsung menghindar dari Alex, Tiara mencoba berlari agar bisa keluar dan pergi dari sana. Tidak peduli keadaanya sekarang yang hanya memakai handuk.

__ADS_1


Tapi baru saja satu langkah Tiara menghindar, Alex sudah mencekal tangannya, hingga membuatnya tersentak dan menghadap ke arah Alex. "Apa kau ingin lari j*lang kecil? Bahkan setelah kau mengusik kehidupanku!" tanya Alex dengan suara yang meninggi.


"**-tuan apa yang kau maksudkan! Aku sama sekali tidak mengerti. Bahkan aku tidak mengenalmu." jawab Tiara dengan suara bergetar. "Dan apa yang kau bilang tadi kau menyebutku *******! Aku bukan seperti itu Tuan," bela Tiara.


"Cih, kau masih tidak mau mengakui kesalahanmu, bahkan karena mu aku dan Andien harus berpisah. HAH ....!" bentak Alex. setelah itu Alex mencengkeram rahang Tiara dengan keras.


"Akh ...." Rintih Tiara saat merasakan sakit di rahangnya.


"Kalau kau bukan j*lang, bagaimana bisa kau bisa tinggal di tempat mewah seperti ini? Kau bahkan hanya pelayan kafe!" hina Alex.


Tenggorakan Tiara terasa kering tidak tau harus bicara apa, tidak mungkin dia memberitahu pekerjaan sampingannya kepada orang asing di depannya. Tapi untuk urusan Andien dia bisa menjelaskannya.


"Tuan jika kau tidak bisa bersama dengan kak Andien, mungkin kalian memang tidak berjodoh. Dan sungguh aku tidak tahu apa-apa," jelas Tiara.


Alex semakin keras mencengkeram rahang Tiara setelah mendengar ucapan Tiara. "Apa kau pikir aku akan percaya. HAH ....!" sinis Alex.


Setelah itu Alex dengan tega mendorong tubuh Tiara dengan keras, hingga membuat tubuh kecil Tiara terjerembab ke belakang. Dan membuat punggung Tiara membentur meja yang ada di dekat situ.


"Akh ... sakit!" Rintih Tiara, tapi itu malah membuat Alex tersenyum senang. Alex berjalan mendekati Tiara yang masih terduduk di lantai. "Mulai hari ini aku akan pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang, bahkan orang yang ada di sekitarmu akan terkena imbasnya." ancamnya, kemudian Alex memutuskan pergi dari apartemen Tiara.


Sedangkan Tiara hanya menangis terisak merasakan sakit karena perlakuan Alex dan nyeri yang ada di punggungnya. Tiara memutuskan untuk pergi ke kamarnya mengistirahatkan tubuhnya.


*


*


Caca yang sudah keluar dari apartemennya heran melihat Tiara yang tidak ada. "Tumben Ara belum siap!" ucap Caca.


Caca memtuskan untuk masuk ke dalam apartemen Tiara. Saat masuk Caca menemukan Tiara yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah lesu. "Ara kamu sakit?" tanya Caca.


"Nggak, cuma kurang istirahat aja," elak Tiara dengan menampilkan senyum manis, Tiara tidak mau Caca mengetahui hal yang terjadi semalam.


"Beneran? Kalau kamu sakit lebih baik libur sehari aja sekolahnya ntar aku izinin ke sekolah kamu!" saran Caca, tapi Tiara tetap tidak mau.


"Nggak usah, aku nggak apa-apa. Ya sudah ayo berangkat," ajak Tiara yang menggandeng tangan Caca.


Saat akan menuju mobil, Tiara baru sadar dengan pakaian yang di gunakan Caca. "Ya ampun!" teriak Tiara.


Caca yang ada di sampingnya sontak ikut terkejut. "Kenapa Ra?" tanya-nya.


"Ca, kenapa rok kamu jadi kurang bahan gini?" tanya Tiara sambil memegang rok yang Caca pakai.


"Uhm ... karena hari ini mau ketemu pangeran tampan," ucap caca sambil tersenyum centil.


Tiara hanya menaikkan satu alisnya. "Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Alan," jawabnya dengan senyum yang mengembang.


"Huh." Tiara masih cengo mendengar jawaban Caca tadi.

__ADS_1


Caca yang melihat Tiara hanya bengong langsung menarik tangannya. "Ayo cepat berangkat Ra, nanti terlambat." alasannya, padahal Caca hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Alan.


Setelah beberapa menit, honda jazz merah itu sudah tiba di sekolah antar bangsa. Tiara yang sudah turun dari mobil langsung pamit. "Hati-hati Ca bawa mobilnya," ingat Tiara. Tapi herannya Caca masih diam di tempat tidak seperti biasanya.


Sesaat kemudian Alan menghampiri Tiara yang masih di samping mobil Caca. "Hai Ara...." sapa nya.


"Hai Alan," balas Tiara.


"Hai Alan ...." Sapa Caca dari salam mobil dengan senyum cantiknya. Alan seketika menoleh ke arah Caca. "Oh ... hai Ca," balas sapa Caca dengan tersenyum tampan.


Caca yang melihat senyum Alan yang begitu tampan langsung membuat pipinya bersemu merah, Tiara yang melihat kelakuan Caca hanya memutar bola matanya malas.


"Kalau begitu aku berangkat ya Ra, bye ...."


"Bye, Alan." Imbuhnya, setelah itu mobil itu perlahan pergi menjauh.


Alan mengajak Tiara masuk kedalam sekolah, tapi perhatian Alan tertuju pada wajah Tiara yang terlihat pucat. "Ara kamu sakit? Wajah kamu pucat!"


"Tidak Alan, aku baik-baik saja." jawabnya.


"Bagaimana kalau aku antar ke UKS saja?"


"Tidak usah Alan, aku benar tidak apa-apa. Ya sudah aku masuk ke kelas dulu, bye ...."


Alan hanya menatap punggung Tiara yang semakin menjauh, Alan benar-benar khawatir terhadap Tiara.


*


*


Saat jam sekolah telah usai Tiara berjalan menuju kafe, tapi kali ini Tiara berjalan dengan sempoyongan. Tiara merasakan kepalanya yang semakin pusing.


Waktu Tiara akan menyebrang jalan Tiara merasakan seolah semuanya yang ada di sekitarnya berputar dan


Bruk.


chiittttt.


Bersamaan Tiara pingsan, ada mobil mewah yang mengerem dadakan karena terkejut Tiara yang hampir tertabrak olehnya.


...----------------...


...Terima kasih yang masih setia membaca di karya saya yang receh ini. Jangan lupa vote, like dan komen. Semoga sehat selalu. aminn....


...kunjungi juga...


...facebook : auraaurora...


...iG : auraaurora / ninikdwifauria...

__ADS_1


__ADS_2