DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Bertemu Rafael


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, dua hari lagi akan di adakan tujuh bulanan Tiara. Dan seperti rencana sebelumnya, acara itu akan di adakan di panti asuhan Kasih Bunda.


Hari akan beranjak siang, Tiara sudah bersiap untuk menjemput Zio di sekolahnya. Sebenarnya jam pulang sekolah Zio masih kurang tiga puluh menit lagi, tapi tadi Caca menelponnya karena ingin di temani Tiara untuk pergi ke Mekdi.


Entahlah tadi tiba-tiba saja ingin memakan ayam berbalut tepung itu. Karena Mama Mona dan Rey sedang berada di pabrik, untuk itu Caca meminta Tiara untuk menemaninya. Dan kata Rey, nanti akan menyusul.


Hingga tak lama mobil yang di kemudikan Tomy sudah memasuki halaman rumah mewah bertingkat dua yang di tempati Caca. Tiara dapat melihat dari dalam mobil sahabatnya itu sudah duduk di teras untuk menunggu kedatanganya.


Caca tidak menunggu Tiara turun dari mobil, karena langsung membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalamnya.


"Panas," keluh Caca saat baru saja duduk di samping Tiara.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Sejak hamil, Caca semakin cerewet. "Paling kamu baru sebentar Ca duduk di luar," sindir Tiara.


Caca hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih menanggapi sindiran Tiara.


Tomy segera melajukan mobilnya ke arah sekolah Zio, karena pasti majikan kecilnya itu sebentar lagi akan mencari keberadaan maminya.


Karena siang itu belum memasuki jam makan siang, hingga jalan tak terlalu ramai. Benar saja mobil yang di kendarai Tomy baru memasuki halaman sekolah, bel tanda pulang sekolah Zio berbunyi.


Semua murid TK itu berhamburan keluar kelas untuk mencari orang tua masing-masing. Tak jarang juga dari mereka yang hanya di jemput oleh supir.


"Mami ...."


Tiara yang baru turun dari mobil, seketika mengedarkan pandanganya saat mendengar teriakan putranya. Bibir Tiara melengkung membentuk senyuman, ketika pandanganya menangkap keberadaan Zio yang berlari ke arahnya.


Zio langsung memeluk tubuh Tiara dengan tangan mungilnya. Tapi kemudian mata bulatnya melihat keberadaan Caca yang berada di dalam mobil, karena kaca jendela mobil yang di turunkan Caca. "Aunty," sapa Zio.


"Hai sayang,"sahut Caca dari dalam mobil dengan melambaikan tangannya.


"Aunty," sapa Ziva yang baru datang.


Zio segera melepas pelukan pada maminya, dan menoleh ke arah Ziva.


"Sayang, apa kamu sudah di jemput?" tanya Tiara.


Ziva segera menganggukkan kepalannya. "Sudah Aunty, itu di sana." Ziva menunjuk mobil bewarna merah yang terparkir dekat gerbang sekolah.


Sedangkan Zio hanya melihat Ziva dengan tatapan datarnya. Sepertinya sifat Alex mulai menurun padanya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati pulangnya," ujar Tiara.


"Iya Aunty, sampai jumpa Zio." Ziva segera berlalu dari sana untuk menuju ke arah mobilnya.


Sedangkan Zio hanya diam memerhatikan kepergian teman perempuannya itu. Tiara hanya heran melihat putranya yang diam saja tidak membalas ucapan Ziva.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu tidak membalas ucapan Ziva?" tanya Tiara dengan mengusap pucuk kepala Zio.


Mata bulat Zio segera menatap Tiara yang menjulang tinggi di depannya. "Mami, dia selalu menggangguku di kelas."


"Mengganggu? Tapi sepertinya Ziva anak yang baik," ujar Tiara.


"Tapi saat di kelas dia selalu menempel pada Zio," keluh Zio. Mengingat Ziva selalu saja menempel padanya, padahal banyak teman perempuan lainya tapi Ziva lebih memilih mengikuti Zio kemanapun pergi.


Tiara tersenyum mendengar penuturan putranya. Sekarang dirinya baru paham, kalau anaknya itu tidak suka dengan Ziva karena yang selalu mengikutinya.


"Mungkin itu karena kamu tampan, sayang." Tiara mencoba menggoda putranya itu yang semakin menekuk wajahnya. Tapi memang di sekolah itu bisa di bilang Zio paling tampan di antara murid-murid yang lainya.


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi, Aunty Caca sudah menunggu." Tiara segera menggandeng Zio dan berjalan ke arah mobilnya.


Hingga tak lama, mobil yang di kendarai Tomy melaju pergi meninggalkan kawasan sekolah. Dan dari kejauhan sama seperti sebelum-sebelumnya sebuah mobil mengawasi apa yang di lakukan Tiara dan Zio, terlihat seorang perempuan tersenyum sinis.


***


Disinilah mereka bertiga sekarang, di tempat makanan cepat saji seperti keinginan Caca. Tadinya Caca sebelum datang, dirinya hanya ingin memakan ayam berbalut tepung. Tapi, setelah melihat menu yang ada, Caca justru memesan semua makanan yang tersedia di sana. Entah kenapa, setelah melihat menu itu Caca menginginkan semuanya.


Tidak membutuhkan waktu lama, pesanan Caca sudah tersaji di meja mereka duduk. Tiara menggelengkan kepalanya, melihat pesanan Caca yang memenuhi meja mereka.


"Ca, ini sangat banyak. Bagaimana kita akan menghabiskannya?" Tiara berfikir akan sayang jika makanan itu kalau tidak di habiskan, maka akan terbuang percuma.


"Tenang saja Ara, aku akan menghabiskan semuanya karena aku sangat lapar." Caca berbicara dengan sangat yakin.


Mereka akhirnya mulai memakan makanan yang di pesan Caca. Di sela-sela makan, Caca mencoba menggoda Zio. Karena Caca juga melihat, saat Ziva yang menghampirinya. "Zio, apa teman perempuan tadi di sekolah adalah pacarmu."


Zio yang sedang menikmati burgernya, seketika menghentikan kunyahan nya. "Aunty, apa itu pacaran?" tanya Zio polos.


Tiara langsung menajamkan tatapannya pada Caca, saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu pada putranya. "Ca, Zio masih kecil. Belum waktunya dia tahu itu."


Caca hanya tersenyum kaku mendengar Tiara berkata seperti itu. "Sorry." Kemudian mengalihkan pandanganya pada Zio. "Bukan apa-apa, cepat habiskan saja burger mu."


"Aunty aneh," sahut Zio. Sedangkan mata Caca mendelik mendengar Zio mengatainya.


"Sayang," sapa Rey yang baru tiba, kemudian mengecup kening Caca.


Rey kemudian mendudukkan dirinya di samping istrinya. Tapi pandangan Rey kemudian tertuju pada meja yang terdapat banyak makanan. "Siapa yang pesan makanan sebanyak ini?" Heran Rey.


"Caca, tadi katanya dia sanggup untuk menghabiskannya." sahut Tiara.


"Benar begitu, sayang?" Rey yang tidak percaya. Karena saat di rumah Caca sangat susah untuk makan, sejak hamil Caca lebih memilih banyak memakan buah-buahan daripada makan nasi atau makanan berat lainya.


"Iya sayang," sahut Caca dangan mulut penuh dengan ayam yang ia makan.

__ADS_1


Rey senang melihat istrinya makan dengan lahap seperti itu, tanpa harus di bujuk seperti biasanya. Walaupun Rey tahu jika makanan cepat saji seperti itu sebenarnya tidak baik untuk istrinya yang sedang hamil, tapi tidak apalah, toh tidak setiap hari. Akhirnya Rey juga memutuskan untuk ikut makan siang bersama mereka.


"Nyonya Alex Pratama," sapa seseorang.


Sontak mereka segera mengalihkan pandanganya ke arah sumber suara. Laki-laki yang beberapa hari lalu bekerja sama dengan Alex.


"Tuan Rafael," balas Tiara dengan tersenyum. Tiara segera beranjak dari duduknya.


"Saya tidak menyangka akan bertemu Nyonya di sini!" Ujar Rafael dan mengulurkan tangan pada Tiara.


Tiara segera menyambut tangan itu, tapi langsung dia lepaskan. "Iya, saya menemani putra saya, Tuan." Jelas Tiara.


Rafael menganggukkan kepalanya.


"Tuan Rafael," sapa Alex yang baru datang. "Anda juga berada di sini?"


Alex menyusul Tiara, setelah tadi di perjalanan menuju mekdi istrinya itu memberinya kabar.


"Oh ... iya, tadi saya bersama keponakan saya. Tapi mereka sudah kembali ke mobil terlebih dahulu." jelas Rafael. "Ya sudah kalau begitu, saya harus pergi dulu," pamitnya.


"Iya, Tuan Rafael. Kalau begitu hati-hati." Sahut Alex.


Setelah kepergian Rafael, Alex juga ikut bergabung makan siang bersama anak dan istrinya juga sahabatnya.


Meskipun semua juga ikut makan makanan pesanan Caca, tapi tetap saja makanan itu masih tersisa banyak di atas meja.


Dan Caca yang tadi sempat percaya diri akan menghabiskannya, nyatanya sekarang perutnya sudah mulai bergejolak. Mual.


"Uncle, aku sudah kenyang." ujar Caca dengan mengelus perutnya yang masih rata.


Semua mata segera tertuju pada Caca, karena semua juga sudah merasa kenyang. "Lalu siapa yang akan menghabiskannya?" tanya Rey.


"Uncle saja yang menghabiskan. Aku ingin melihat Uncle yang memakan semuanya," jawab Caca dengan tersenyum lebar pada suaminya.


"Huh ...." Rey masih tidak percaya apa yang di ucapkan istrinya.


*


*


*


Selamat siang semua pembaca setiaku. Aku mau kasih bocoran ya !!!!


Mungkin DENDAM KU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU ini akan *****end***** tidak sampai 150 episode. Othor takutnya akan bosan jika alurnya berbelit-belit.

__ADS_1


Jadi seperti judulnya Alex dan Tiara sudah bahagia, tinggal menunggu kelahiran anak mereka. Tapi sebelum itu, aku mau kasih satu tikungan lagi 😁. Dan akan di sambung dengan kisah anak mereka di novel othor berikutnya.


Terima kasih, jangan lupa vote, like dan komen.


__ADS_2