DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Pertengkaran


__ADS_3

Di ruang kerja Bella, Bella sedang menerima panggilan dari anak buah-nya. Anak buah Bella sedang melaporkan sesuatu yang membuat sudut bibir Bella terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Bagus, segera laksanakan rencana yang kita susun kemarin," ujar Bella.


("")


"Aku tidak mau ada kata gagal, meskipun rencana ini hasilnya tidak sesuai! Aku tetap ingin melihat dia hancur," ucap Bella.


("")


Tut.


"Aku pastikan kali ini, Alex akan pergi meninggalkanmu," ujar Bella dengan tertawa sumbang.


***


Setelah menghabiskan nasi goreng yang di bawakan Tiara, Alex menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Rasa kenyang memenuhi seluruh perutnya.


Sedangkan Tiara membersihkan kotak bekas makan mereka. "Mas, nanti pulang jam berapa?" Tanya Tiara seraya ikut menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa, setelah membereskan kotak bekalnya.


Alex melihat jam yang melingkar di tangannya. "Mungkin jam sepuluh."


Tiara mengangguk anggukkan kepalanya. "Uhm ... kalau begitu aku pulang saja yah!" ucap Tiara.


Alex langsung menoleh ke arah Tiara yang berada di sampingnya. "Kenapa? Apa kau tidak mau menungguku!" Tanya Alex yang sekarang memeluk Tiara dari samping.


"Aku ingin tidur di mansion, rasanya aku lebih suka bau ranjang yang di mansion dari pada di sini," ujar Tiara.


Alex menautkan kedua alisnya mendengarkan ucapan Tiara. "Sayang baunya akan sama saja, karena merk ranjang-nya sama. Lagi pula yang tidur di sini cuma aku, pasti baunya akan sama," jelas Alex.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak, buktinya aku tadi masuk ke kamar Mas, baunya berbeda," seru Tiara.


"Benarkah!" Tanya Alex tidak percaya.


Tiara menganggukkan kepalanya. "Hmm," jawabnya.


Alex hanya menghembuskan nafasnya pelan, melihat Tiara yang tidak mau menunggunya lagi seperti waktu itu.


"Apa Tomy ada di bawah?" tanya Alex.


"Tidak, tadi aku menyuruhnya pulang."


"Kalau begitu biar aku saja yang mengantar," ucap Alex dan segera berdiri dari sofa. Tapi Tiara mencekal tangannya.


"Biar aku pulang naik taksi saja," sahut Tiara.


"Tapi ini sudah malam," sergah Alex yang melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Baru jam tujuh malam Mas, jalan juga masih ramai. Nanti biar kamu tidak bolak-balik," ujar Tiara.


"Tap --"


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu," sela Tiara yang langsung berdiri dan membawa kotak bekalnya.


"Apa kamu sungguh tidak mau aku antar!" Tanya Alex lagi.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, sungguh. Aku akan baik-baik saja," Tiara meyakinkan.


Dengan berat hati Alex akhirnya membiarkan Tiara pulang sendiri. "Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan," ucapnya di iringi hembusan nafasnya pelan.


"Iya," sahut Tiara. Sebelum keluar dari ruangan Alex Tiara menyempatkan memberi kecupan di pipi Alex. Alex seketika tersenyum melihat itu.


Di luar perusahaan Tiara mengambil ponselnya, berniat untuk memesan taksi online. "Yah ... baterainya habis," ucapnya. Setelah melihat ponselnya yang telah mati.


"Non Taksi?" tanya supir yang berhenti di depan Tiara.


Tiara seketika tersenyum, saat melihat taksi yang sudah berada di depannya. Padahal tadi Tiara berniat untuk menemui Alex, menyuruhnya memesankan taksi online untuknya.


"Iya Pak," sahut Tiara yang segera masuk kedalam taksi.


"Ke jalan xxx Pak," ucap Tiara kepada supir taksi.


"Baik Nona," sahut supir taksi.


Di tempat lain Andrian sedang menggerutu kesal karena mobilnya terjebak macet. "Sial, jam segini masih saja macet," umpat Andrian.


***


Tiara menautkan alisnya saat merasa taksi yang ditumpanginya mengambil arah jalan yang berbeda menuju mansion.


"Pak, ini bukan jalan untuk menuju jalan xxx," ucap Tiara kepada supir taksi.


"Jalan sedang macet Nona, jadi saya ambil jalan memutar," jawab supir taksi.


"Oh ...."


Hingga beberapa saat taksi yang di tumpangi Tiara masih saja belum sampai.

__ADS_1


"Pak, lebih baik kita kembali saja ke jalan biasanya," ujar Tiara saat melihat jalan yang dilaluinya semakin sepi dan gelap.


"Sebentar lagi akan sampai Nona," sahut supir taksi dengan sudut bibir yang terangkat.


"Pak, saya mau kita balik ke jalan yang tadi saja," ucap Tiara dengan intonasi suara yang sedikit meninggi. Entah kenapa perasaanya semakin gelisah.


"Nona jangan cepat marah, nanti cantiknya akan luntur," sahut supir taksi itu dengan seringai di wajahnya.


Tubuh Tiara seketika menegang saat taksi itu tiba-tiba berhenti, Tiara mengedarkan jalan sekitar hanya jalan sepi yang kurang penerangan. Dan bangunan lama yang terbengkalai.


"Pak, kenapa berhenti? Cepat putar balik," perintah Tiara yang semakin gusar.


"Nona, lebih baik kita bersenang senang dulu," ucap supir taksi itu seraya menoleh ke arah Tiara yang berada di belakangnya.


Wajah Tiara rasanya memucat seketika, melihat ekspresi supir taksi itu bagaimana memandangnya dengan tatapan lapar.


Belum hilang rasa takut Tiara, dari arah luar taksi ada dua orang laki-laki berbadan kekar menggedor kaca pada pintu taksi.


"Kenapa lama sekali?" tanya salah satu dari mereka, saat supir taksi menurunkan kaca pada pintu taksi.


"Aku hanya mengajaknya berkeliling sebentar sebelum kita ajak senang-senang nantinya," jawab supir taksi dengan tersenyum menakutkan.


Tiara semakin takut rasanya, bahkan Tiara meremas tali tas yang terselempang di bahunya dengan kuat. Sampai kuku-kukunya memutih.


Klek.


Seseorang salah satu dari mereka membuka pintu taksi di samping Tiara. "Hai cantik, ayo keluar, kita akan bersenang-senang," ucapnya.


Tiara menggelengkan kepalanya, dan meringkuk di dekat pintu taksi belakangnya.


Klek.


Ternyata seseorang yang menjadi supir taksi tadi telah turun dari mobil tanpa di ketahui Tiara, dan sekarang dia membuka pintu taksi di mana Tiara meringkuk.


Dengan cepat orang itu mencekal tangan Tiara dan menariknya keluar dari taksi.


"Lepas," teriak Tiara sambil meronta mencoba melepaskan diri, saat dirinya di seret oleh supir taksi gadungan itu. Saat di luar supir taksi itu di bantu temanya untuk menyeret Tiara.


"Cantik, kalau kau teriak akan semakin terlihat menggemaskan," ucap salah satu dari mereka.


"Tolong, tolong," teriak Tiara yang di iringi oleh isak tangisnya. "Tolong, lepaskan aku, aku tidak tahu apa salahku pada kalian," ucap Tiara dengan sesenggukan.


Sedangkan ke tiga pria itu malah tertawa sumbang melihat Tiara yang menangis ketakutan.


Bugh


Pria yang di tendang Tiara langsung jatuh terduduk dengan tangan membekap senjata pamungkasnya sambil merintih kesakitan.


Salah satu teman-nya juga reflek melepaskan tangan Tiara untuk membantu temanya. Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Tiara, Tiara berlari secepat mungkin untuk pergi dari sana.


"Hei, target kabur," Teriak salah satu penjahat itu, dan berlari mengejar Tiara.


Tiara berlari tak tentu arah, yang ada di pikirannya sekarang hanya ingin cepat pergi dari sini.


"Akh ...." Teriak tiara saat penjahat itu berhasil menangkapnya.


"Mau lari kemana kau? Kau sudah ku beri kelembutan, tapi sepertinya kau lebih memilih cara kasar!" Hardiknya.


"Lepaskan aku," teriak Tiara. Tapi tak di hiraukan oleh penjahat itu.


Krek


Lengan baju Tiara dengan sengaja di robek oleh penjahat itu, dengan seketika bahu mulus Tiara terlihat. Yang membuat penjahat itu semakin tidak sabar untuk menjamah Tiara.


Sedangkan Tiara, di pikirannya sekarang hanya ada nama suaminya. "Mas, tolong aku," ucapnya dalam hati.


Tiara memejamkan mata saat penjahat itu akan melancarkan aksinya.


Bugh.


Tiba-tiba saja tubuh Tiara terlepas dari rengkuhan penjahat. Tiara membuka matanya, ternyata penjahat itu sudah tersungkur di aspal.


Tiara dapat melihat ada laki-laki yang berdiri di sampingnya, tapi Tiara tak tahu siapa itu karena terkena lampu mobil yang menyorot.


Tidak berapa lama dua penjahat yang lainya datang. "Bersembunyi lah," perintah orang yang menolongnya.


Tiara dengan keadaan yang masih setengah sadar berjalan tertatih ke arah mobil orang yang menolongnya.


Sedangkan penjahat-penjahat itu sedang berkelahi dengan orang yang menolong Tiara.


Hingga beberapa saat, sudah tidak terdengar lagi suara orang berkelahi.


Puk


Ada seseorang yang menyentuh bahu Tiara. "Akh ... lepaskan, lepaskan aku. Aku mohon," ucap Tiara dengan histeris.


"Hei, tenanglah ini aku," seru seseorang yang menolong Tiara. Orang itu mensejajarkan tubuhnya dengan Tiara yang berjongkok di samping mobilnya. "Apa kau tidak apa-apa!"

__ADS_1


Tiara seperti pernah mendengar suara itu, dengan perlahan Tiara mengangkat pandanganya. "Anda," lirih Tiara.


"Ya, ini aku ... Andrian," ucap Andrian. Orang yang menolong Tiara.


Tiara seketika menangis, karena merasa lega ada seseorang yang mau menolongnya.


Andrian bingung melihat Tiara yang tiba-tiba menangis, kemudian matanya tertuju pada lengan Tiara yang sedikit lecet karena bajunya yang di robek penjahat tadi.


Dengan segera Andrian melepas jas-nya, dan memakaikan kepada Tiara. Tangan Andrian reflek menarik Tiara kedalam pelukannya. "Ssstt ... tenanglah, sekarang kau sudah aman," ujar Andrian menenangkan. "Ayo sekarang aku antar pulang," imbuh Andrian dan menuntun Tiara masuk ke dalam mobilnya.


***


Di perusahaan ponsel Alex berdering, tanda notifikasi pesan masuk. Alex segera membukanya, matanya menyipit saat yang mengirimi pesan adalah no baru.


💌 Apa kau kira istrimu itu wanita baik-baik? Tidak.


"Ck, siapa malam-malam kurang kerjaan," gumam Alex dan meletakkan kembali ponselnya. Tidak berniat untuk meladeninya.


Hingga beberapa saat ponsel Alex berbunyi kembali. "Ck, siapa lagi?" Gerutunya. Tapi Alex tetap membuka pesan itu, masih dari no yang sama tapi kali ini sebuah pesan gambar yang ia kirim.


Mata Alex membulat saat tahu foto apa yang dia lihat, bahkan rahangnya mengencang. Dengan kaki lebar Alex segera keluar dari ruangannya, bahkan panggilan Riko tidak ia hiraukan. Yang ada kini hanya amarah di dalam dirinya, tujuannya sekarang adalah mansion.


***


Saat tiba di mansion Alex tidak menemukan Tiara, laporan dari Pak Tito bahwa Tiara belum pulang.


Alex duduk di ruang tamu, dengan ponsel yang berada di tangannya. Dengan mata yang terfokus pada layar ponsel. Ternyata Alex mengakses CCTV luar mansion melalui ponselnya.


Hingga beberapa saat ada mobil mewah yang berhenti di depan gerbang rumahnya, Alex semakin menggertakkan giginya saat tau yang turun dari mobil mewah itu adalah Tiara.


"Mas ...." Panggil Tiara, saat mendapatinya di ruang tengah.


Baru saja Tiara ingin memeluk Alex dan menceritakan kejadian yang baru di alaminya, tapi justru Alex berdiri dan menghindarinya.


Tiara hanya terpaku melihat reaksi suaminya, biasanya yang selalu senang jika dirinya bersikap manja, tapi kini Alex menghindarinya.


"Mas, ada apa?" tanya Tiara, tapi Alex hanya diam.


"Mas aku tadi --"


"Apa kau ingin menceritakan, bahwa kau baru saja berkencan dengan laki-laki lain!" Sela Alex.


Tiara terdiam, bingung apa yang dimaksud suaminya.


"Kenapa kau diam hah? Bahkan kau berani membawa jas laki-laki itu ke mansion ku," bentak Alex dengan menatap Tiara tajam.


"Mas, bukan seperti itu!" sanggah Tiara. Kini dirinya mengerti bahwa suaminya telah salah faham dengan Andrian.


"Lalu seperti apa? Bahkan aku melihatnya sendiri kau di antar pulang oleh laki-laki itu," hardik Alex. "Jadi itu sebabnya tadi kau tidak mau aku antar pulang!" Imbuh-nya.


"Mas, tadi aku hampir saja celaka. Dan untung ada orang itu yang menolongku," jelas Tiara. Bahkan Tiara sendiri lupa nama Andrian.


Diluar mansion Caca baru saja kembali di antar Rey. Saat kaki langkah Caca yang beriringan dengan Rey baru masuk mansion, Caca sudah mendengar suara Alex yang menggelegar.


Dengan segera Caca masuk kedalam mansion dan benar saja Alex sedang berteriak pada Tiara.


Alex tersenyum sinis pada Tiara. "Ternyata kau pandai sekali berbohong, sekarang aku menyadarinya seperti apa dirimu yang sebenarnya," ucap Alex dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


Air mata Tiara seketika jatuh begitu saja, saat melihat bagaimana ucapan Alex begitu menusuk hatinya.


Caca mengepalkan tangannya melihat sahabatnya yang di sakiti seperti itu, baru saja Caca ingin menghampiri Alex, tangannya sudah di cekal oleh Rey. "Jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka," ujar Rey.


"Mas ... kata-katamu sungguh keterlaluan," lirih Tiara. "Bahkan kau sudah tidak mempercayaiku lagi," imbuh Tiara. Bahkan air matanya tidak berhenti mengalir.


Alex tetap pada pendiriannya, menganggap benar apa yang dia lihat.


Tiara segera keluar dari mansion, dan melewati Caca dan Rey begitu saja.


"Ra," panggil Caca, tapi Tiara tetap berjalan ke arah luar mansion.


Caca segera menghempaskan tangan Rey yang tadi mencekalnya.


"Mau kemana?" Tanya Rey.


"Lebih baik Uncle urus saja teman Uncle yang terhormat itu," ucap Caca sinis dengan melirik ke arah Alex. Kemudian berlari menyusul Tiara.


Rey langsung menghampiri Alex. "Sebenarnya ada apa?" Tanya Rey. Tapi Rey tidak mendapat jawaban apapun dari Alex.


"Ck," Rey berdecak melihat sikap Alex.


Rey segera berlari ke arah luar mansion, untuk mengejar Caca dan Tiara. Tapi nihil, mereka berdua sudah tidak ada.


"****," umpat Rey dan mengusap wajahnya kasar.


...----------------...


...Aku dah bela-belain begadang demi Alex dan Tiara, 2000 kata loh ........

__ADS_1


...Jadi jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊...


__ADS_2