DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Permainan Takdir


__ADS_3

Di sebuah rumah berlantai dua, terdengar suara erangan dan ******* dari sepasang manusia yang telah memadu kasih di salah satu kamar.


Wanita itu dengan agresif terus memacu tubuhnya di atas lelaki yang selama ini di puja nya. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Tetapi, laki-laki itu hanya bersikap datar. Meskipun dirinya juga menikmati apa yang wanita itu lakukan, pria mana yang tak tergoda jika wanita agresif itu menggoda dengan tubuhnya. Tapi sayangnya, laki-laki itu hanya memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Tidak untuk perasaanya.


1 jam kemudian, wanita itu ambruk setelah ia dan pria itu menyelesaikan pelepasannya. "Apa kau berhasil menyelesaikan tugasmu?" tanya pria itu tanpa menatap wajah wanita yang telah memberinya kepuasan beberapa saat lalu. Karin.


Karin yang tadi sedang mengatur nafasnya seketika memeluk pria itu. "Jangan khawatir, aku sudah melakukanya. Dan seperti katamu sayang, tanpa luka secuil pun." tuturnya dengan suara manjanya.


"Bagus," sahutnya dengan mata yang masih memandang ke arah langit-langit kamar. Bahkan ia tak membalas pelukan Karin.


***


Tiara mulai mengerjabkan matanya. Rasa pusing masih mendera kepalanya, tentu saja semua itu ulah Karin agar dapat membawanya.


"Di mana ini?" Tiara yang mengedarkan pandanganya, merasa asing dengan tempat itu. Kemudian matanya membulat saat kesadarannya sudah terkumpul. Yang di pikirannya sekarang adalah putranya, Zio.


Sedetik kemudian Tiara bisa bernafas lega, ketika pandanganya melihat Zio yang terbaring di sebelahnya dengan mata yang masih terpejam. "Syukurlah, kamu baik-baik saja." Dengan segera Tiara memeluk putranya itu.


Sedangkan Tomy entah mereka membawanya kemana. Karena di ruangan itu hanya ada Tiara dan Zio.


Klek.


Pandangan Tiara segera tertuju ke arah pintu yang terbuka dari luar. Saat tau Karin yang membukanya, sontak Tiara mengeratkan pelukannya pada Zio. Ia takut jika Karin akan memisahkannya dengan Zio. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Tiara dengan mata yang menatap tajam pada Karin.


Sedangkan Karin berjalan dengan anggun mendekat ke arah Tiara. Kemudian ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Tiara. Karin hanya tersenyum remeh. "Apa kau pikir, aku sudi melakukan ini semua. Tidak!!!" jelasnya. Kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan yang bersendekap. "Kalau saja, ini bukan permintaanya aku tidak akan sudi melakukanya."


Flashback On.


"Cepat tabrak saja mobilnya !!!" geram Karin. Karena sedari tadi orang yang sedang pegang kemudi mobilnya masih saja tidak bisa menghentikan mobil Tiara.


"Tapi Nyonya, nanti Tuan akan marah jika target kita terluka." Supir Karin yang tidak setuju dengan perintah Karin. Apalagi jika dia terkena imbasnya gara-gara target incarannya terluka.


"Apa kau bodoh!!! Bilang saja mobil wanita itu kecelakaan tunggal, apa otakmu sudah tidak bisa lagi kau gunakan." Karin sudah tidak peduli dengan keselamatan Tiara. Baginya jika Tiara mati itu lebih baik, kalau saja itu bukan permintaan dari seseorang yang sangat di puja nya ia tak akan melakukanya.


Brak.

__ADS_1


Akhirnya mobil yang di tumpangi Karin berhasil menabrak mobil Tira dari belakang.


Tomy yang tidak bisa mengendalikan laju mobilnya seketika menabrak pohon besar yang berada di bahu jalan. Terlihat asap mulai mengepul dari mesin mobil Tiara akibat tabrakan itu.


"Nona, apa Nona tidak apa-apa?" tanya Tomy. Untung saja airbag itu bekerja dengan baik, hingga menghindarkan Tomy dari benturan.


"Tidak apa-apa Kak," Tiara sendiri sebelum mobil itu menabrak sudah lebih dulu memeluk erat Zio dengan tangan kananya, dan tangan satunya ia buat berpegangan pada kursi penumpang depan sebagai penyangga dirinya.


Belum bernafas lega kaca pintu mobil sudah di gedor dengan keras. "Nona tetaplah berada di dalam mobil apapun yang terjadi," pesan Tomy. Tiara hanya bisa menuruti apa yang di katakan Tomy.


Prangg.


Kaca mobil itu akhirnya pecah, sebelum Tomy keluar. "Apa mau kalian?" Bentak Tomy.


Tapi laki-laki yang memecahkan kaca mobil itu hanya tertawa mendengar pertanyaan Tomy. "Yang kami mau?" ulang pria itu, tapi sedetik kemudian pria itu menyemprotkan cairan ke wajah Tomy.


"Apa yang kau lakukan!!!" Teriak Tomy dengan mengusap wajahnya, tapi kemudian pandanganya perlahan mengabur. Hingga semua akhirnya menjadi gelap.


"Kak Tomy," jerit Tiara ketika melihat Tomy sudah tak sadarkan diri.


"Tenanglah masih ada Mami," Tiara semakin mengeratkan pelukannya.


Klek.


Pintu mobil tepat di samping Tiara terbuka dari luar. Tiara melihat seorang laki-laki bertampang sangar yang membukanya. Tapi kemudian matanya membulat saat seorang wanita berpakaian **** sekarang sedang berdiri di ambang pintu mobil dan tersenyum menyeringai. "Anda!!" Ucap Tiara.


"Oh ... ternyata kau masih mengingatku!!" Balasnya dengan senyuman yang masih sama.


Tentu saja Tiara mengingat Karin, saat pertemuannya di supermarket sebelum ia berangkat ke panti asuhan untuk acara tujuh bulanannya. "Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Tiara menatap tajam.


Sedangkan Zio ketika melihat Karin seketika menangis. "Mami," dengan menyembunyikan wajahnya di dada Tiara tidak mau melihat Karin.


Karin hanya tertawa mendengar pertanyaan Tiara dan melihat Zio yang menangis saat melihatnya. "Aku melakukan ini karena terpaksa, bahkan tadi aku berharap kau mati saja." Karin yang tiba-tiba menjadi marah.


"Dan, sepertinya putramu senang sekali bertemu denganku." imbuh Karin.

__ADS_1


"Jangan sentuh putraku!" bentak Tiara. Tiara menepis tangan Karin ketika ingin menyentuh Zio.


"Ck, aku sudah bosan dengan permainan ini." ujar Karin, kemudian menoleh kepada anak buahnya. "Cepat selesaikan," perintahnya.


"Baik, Nyonya."


Karin kemudian pergi menuju mobilnya.


"Apa yang akan kalian lakukan?" Tiara yang mulai gelisah ketika pria bertampang sangar itu mendekat ke arahnya. Dan ternyata pria itu melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Tomy sebelumnya.


Tiara, Zio dan Tomy akhirnya mereka bawa dengan mobil yang berbeda dengan mobil Karin.


Ketika dalam perjalanan menuju lokasi persembunyian, Karin menghubungi laki-laki pujaannya. Mengabarkan jika perempuan yang di incaran nya sudah berhasil ia tangkap.


Tidak lama dua mobil hitam itu memasuki halaman rumah bertingkat dua. Karin menyuruh mereka membawa tangkapannya ke tempat yang sudah ia siapkan.


"Sayang, kau sudah datang." Karin seketika mendekat pada sosok pria pujaannya yang baru saja datang. Memeluknya dengan manja, bahkan wajahnya sengaja ia dekatkan pada ceruk leher laki-laki itu. "Lebih baik kita menikmati waktu berdua terlebih dahulu." Yang kemudian mencium bibir pria itu dengan panas hingga akhirnya mereka memtuskan untuk melanjutkannya di kamar.


Flashback Off.


"Aku heran, kenapa dia begitu menginginkanmu," Karin yang menatap Tiara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Bahkan aku lebih segalanya, dan aku rela melakukan apa yang ia inginkan."


Tiara yang mendengarkan ucapan Karin, hanya bisa menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti arah pembicaraannya. "Apa maksud mu?"


Belum juga Karin menjawab, seseorang sudah masuk dalam kamar itu. "Hai," sapa nya dengan senyum ramah.


Mata Tiara membulat sempurna saat melihat sosok pria yang baru saja muncul. "Anda!!!" Sungguh, permainan takdir apalagi ini? Pikir Tiara.


*


*


*


...Selamat malam semua, semoga bisa menemani sebelum tidur. Di sini udaranya dingin, habis hujan....

__ADS_1


...Jangan lupa vote, like dan komen. Semoga sehat selalu. Aminn....


__ADS_2