
"Lakukan yang terbaik, Dokter." Itulah keputusan Alex akhirnya. Ia sudah tidak tau harus bagaimana lagi, sekarang ia hanya bisa berharap Dokter bisa menyelamatkan kedua nyawa yang sangat disayanginya.
"Baik kalau begitu, perawat sebentar lagi akan membawa surat persetujuan, silahkan Bapak tandatangani." Dokter wanita itu segera meninggalkan Alex untuk mempersiapkan operasi yang akan Tiara jalani.
Hingga beberapa saat, semua prosedur telah di lakukan. Tiara sendiri juga sudah dalam keadaan setengah sadar, kemungkinan anestesi sudah bekerja.
Alex dengan menggunakan baju OK sudah berdiri di samping Tiara, memberikan semangat bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Sayang, aku akan tetap berada di sisimu. Menemanimu berjuang untuk malaikat kecil kita." Bisik nya di telinga Tiara.
Tapi Tiara tidak bisa menjawab apa yang di ucapkan oleh suaminya. Lidahnya terasa lemas. Hanya air bening yang mengalir dari pelupuk matanya, mewakili perasaanya yang sama seperti yang di rasakan suaminya.
Dengan sigap Alex menghapus air mata istrinya itu. "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Satu kecupan ia tinggalkan di kening Tiara.
Di luar ruang operasi ternyata Mommy sudah di temani Caca, Rey dan juga Mama Mona. Rey memang memberikan kabar tentang Tiara pada istrinya, dan saat itu pula Caca langsung ingin melihat keadaan sahabatnya itu. Ia tidak bisa istirahat dengan tenang sebelum mengetahui keadaan Tiara, meskipun Caca harus menggunakan kursi roda. Mama Mona yang kebetulan akan menjenguk menantunya juga ikut menemani Mommy duduk di kursi tunggu setelah mendengar kabar Tiara, yang sudah di anggapnya putri sendiri. Dari wajah mereka sudah terlihat jelas, mereka benar-benar tegang menantikan kabar Tiara dan anaknya.
Di dalam ruang operasi, Dokter sudah memulai proses operasinya. Sayatan demi sayatan sudah menghiasi perut Tiara. Pandangan Alex yang tidak sengaja melihat darah segar yang mengalir, seketika matanya membulat. Tubuhnya merinding dan keringat keluar begitu saja dari tubuhnya. Entahlah, sekarang tiba-tiba tubuhnya lemas. Kepalanya sedikit berputar, bahkan ia harus berkali-kali menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing itu. Alex yakin istrinya lebih membutuhkan dirinya untuk saat ini.
Beberapa menit kemudian, Suara tangis bayi memecah keheningan di ruang operasi itu. "Sayang, kamu dengar malaikat kecil kita sudah lahir," Alex begitu bahagia meskipun hanya mendengarkan suara tangisan anaknya. Karena perawat sedang membersihkannya. Ia bahkan tak menghiraukan keadaan sekitar, dan memberikan kecupan di seluruh wajah Tiara.
Hanya air mata yang lagi-lagi mewakili perasaan bahagia Tiara.
"Selamat Pak Alex, putra anda terlahir selamat ke dunia." ucap Dokter yang menangani Tiara. Dan kemudian seorang perawat membawa bayi laki-laki yang begitu tampan, dan menunjukkannya pada Alex. "Ini putra bapak," beritahu nya.
Mata Alex sontak berkaca-kaca, bagaimana ia melihat bayi mungil itu sangat mirip dengannya. Mulai mata, hidung, dan bibirnya. Dengan tangan gemetar ia mulai mengusap pipi yang masih kemerahan itu dengan tangannya.
"Apa bapak mau mengadzani nya sekarang?" tanya perawat yang membuyarkan lamunan Alex, tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Iya."
Suara bergetar itu melantukan adzan untuk bayi mungil yang masih di gendongan perawat. Alex tidak berani untuk menggendongnya, rasanya ia takut jika tiba-tiba menjatuhkan bayi kemerahan itu.
__ADS_1
"Pak, kita akan mencoba IMD," ucap Dokter setelah Alex mengadzani putranya. Perawat pun segera meletakkan bayi tampan itu di dada Tiara.
"Tunggu," serga Alex saat perawat akan menyingkap penutup di bagian dada Tiara.
Dokter dan Perawat itu hanya saling pandang mendengar Alex yang mencegahnya. Apa mungkin ia tidak setuju?
Alex mengedarkan pandanganya. "Di sini tidak ada Perawat laki-laki kan?" tanya-nya.
Lagi-lagi Perawat dan Dokter hanya bisa tercengang mendengar pertanyaan konyol Alex. "Tidak ada, Pak. Semuanya perempuan," jelas Dokter. Memang kebetulan semua perawat yang membantunya hari itu adalah perempuan.
"Ya sudah, kau boleh membukanya." Putus Alex. Dan segera perawat itu membuka penutup dada Tiara. Bayi tampan itu kemudian dengan instingnya terus mencari ****** sang Mami yang menjadi sumber makanannya. Beberapa saat kemudian, mulut mungil itu berhasil menemukan pucuk dada Tiara yang kemudian ia hisap.
Pandangan Alex saat itu sulit di artikan, ketika melihat anaknya yang sedang lahap menghisap sumber asi itu. Rasanya ia bahagia tapi juga menatap nanar ke arah aset istrinya itu. "Dulu itu adalah milikku, dan sekarang sudah ganti kepemilikannya."
Dokter segera menyelesaikan tahap akhir operasi Tiara, agar segera di pindahkan ke ruang pemulihan.
"Mom, baby-nya sudah lahir." seru Caca saat mendengar tangisan bayi yang begitu kencang dari ruang operasi.
"Iya sayang," sahut Mommy. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja, tak terasa ia sekarang akan menjadi Nenek.
Caca yang melihat Mommy menangis seketika berhambur memeluknya. Mereka berdua sama-sama menangis karena bahagia. Di balik insiden beberapa waktu lalu, akhirnya di tutup oleh kebahagiaan.
Klek.
Pintu ruang operasi terbuka. Mereka semua seketika mendekat ke arah pintu. Terlihat Tiara sekarang yang sedang terlelap di brankar rumah sakit yang di dorong beberapa perawat menuju ruang pemulihan. Di belakangnya sudah ada box bayi yang juga di dorong oleh seorang perawat yang akan di bawa ke ruang bayi, bayi tampan itu rupanya sedang terlelap. Dan terakhir adalah Alex.
"Mom," dengan mata Alex yang berkaca ia segera memeluk Mommy. Setelah menemani istrinya melahirkan, kini ia tahu bahwa selama ini apa yang ia berikan belum seberapa dengan perjuangan Mommy dulu untuk melahirkannya.
__ADS_1
"Selamat sayang, kamu sekarang sudah menjadi Daddy." Cetus Mommy dengan menepuk pelan punggung anaknya itu.
"Mom, maafkan Alex. Selama ini belum bisa memberikan yang terbaik untuk Mommy," Mommy menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Alex. Bahkan sekarang ia juga mendengar isak tangis dari putra tampannya itu.
Mommy melepaskan pelukannya, ia mengulum bibirnya kuat-kuat saat melihat putranya yang berderai air mata. "Kamu sudah memberikan yang terbaik," jawabnya. "Sudah, hapus air mata kamu. Apa kamu tidak malu?" Mommy melihat ke arah semua orang.
Alex yang baru tersadar segera menghapus air matanya, ternyata ia baru menyadari jika di sana Rey, Caca dan Mama Mona sedang melihatnya. "Ehm," Alex berdehem untuk menetralkan rasa malu yang tiba-tiba menyerangnya. "Siapa yang menangis, Mom?" sangkalnya.
Rasa haru yang tadinya muncul, sekarang menjadi acara gelak tawa dari semua orang. "Lex, ternyata lo bisa nangis?" Ejek Rey setelah berhenti tertawa.
Alex hanya menatap tajam pada sahabatnya itu dan tidak menyahutinya.
"Sayang kamu sakit?" tanya Mommy yang baru menyadari wajah putranya sedikit pucat.
"Tidak Mom, ya sudah kita ke ruangan Tiara saja Mom." Ajaknya. Tapi baru beberapa langkah.
Bruk.
Alex sudah pingsan di tempat.
*
*
*
...Selamat ya untuk kelahiran putra Alex dan Tiara. Sangking senangnya Daddy Alex sampai pingsan tuh .... 😊...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih....