
Tiara yang baru saja keluar dari mansion berlari ke arah jalan, bahkan scurity yang bertanya juga tidak di hiraukan nya. Yang dia rasakan saat ini sungguh hanya rasa sakit yang suaminya berikan.
"Ara kamu mau kemana?" tanya Caca yang baru saja datang dengan nafas yang sedikit tersengal.
Tapi Tiara tidak menjawabnya, hanya air mata yang terus saja membasahi pipinya.
Hingga tak lama terlihat dari kejauhan ada taksi yang melintas. "Ca ayo kita pergi dari sini," ajak Tiara dengan suara tertahan karena tangisnya.
Caca akhirnya menuruti keinginan Tiara, karena dirinya juga kesal dengan sikap Alex yang membuat sahabatnya menangis. Dan juga Rey yang masih saja membela Alex.
Di dalam taksi Caca hanya bisa memeluk Tiara, karena Tiara yang masih belum mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Caca akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen. Mungkin hanya tempat itu yang bisa ia tuju untuk saat ini.
"Terima kasih Pak," ucap Caca sebelum mereka turun dari taxi. Karena mereka telah sampai di depan apartemen. Tapi baru saja kaki mereka melangkah untuk masuk ke kawasan apartemen, tiba-tiba Tiara merasakan sakit pada perutnya. "Ca, perutku sakit," ucap Tiara dengan mencengkeram tangan Caca.
"Ra kamu kenapa?" tanya Caca panik melihat Tiara yang menahan sakit.
Kaki Tiara bahkan tidak bisa menopang dirinya, hingga menyebabkannya ambruk. Dengan cepat Caca menahan Tiara.
Bahkan Tiara sekarang hanya bisa merintih menahan sakit pada perutnya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Kesadarannya pun mulai menghilang. Tapi Tiara bisa menangkap suara seseorang yang berbicara dengan Caca. Andrian.
Hingga akhirnya Andrian menolongnya kembali dengan membawanya ke rumah sakit. Di dalam mobil pun yang keluar dari bibir Tiara hanya kata sakit.
Tak lama mobil yang di kendarai Andrian sudah sampai di rumah sakit. Tiara semakin tak mengingat apapun lagi. Yang terakhir ia ingat hanyalah dirinya yang di bawa memasuki ruangan yang berbau dengan obat-obatan, setelah itu gelap.
***
Beberapa saat kemudian Tiara mulai tersadar, setelah di pindahkan ke ruang rawat. Samar-samar dirinya mendengar seseorang yang berbicara. Caca.
Hingga tak lama seseorang juga memasuki ruangan Tiara. Andrian.
Tiara membuka matanya saat Caca dan Andrian keluar dari ruangannya. Air matanya lolos dengan derasnya begitu saja. Saat mengetahui jika di dalam rahimnya kini telah tumbuh buah cinta-nya dengan Alex.
Tiara bisa mendengar ucapan Caca tadi ketika mengatakan jika Caca akan menjadi aunty. Berarti benar, dirinya kini telah hamil.
Dengan perlahan Tiara mengusap perutnya yang masih rata. "Maafkan ibu, jika ibu belum bisa jadi ibu yang baik untukmu," ucapnya lirih.
Hatinya kembali terasa nyeri mengingat pertengkarannya dengan Alex.
Klek.
Tiara buru-buru mengusap air matanya, dan memejamkan kembali matanya ketika ada seseorang yang memasuki ruangannya.
Hingga beberapa saat Tiara kembali membuka matanya, saat tahu yang masuk adalah Caca.
"Ra, kamu sudah bangun?" ucap Caca sedikit terkejut.
"Hm," gumam Tiara, dengan pandangan kosong.
"Ra, tadi kata Dokter kamu --"
__ADS_1
"Aku hamil Ca," potong Tiara.
Caca terkejut mendengar ucapan Tiara. "Kamu sudah tau?"
"Aku mendengar, saat kamu berbicara tadi," sahut Tiara dengan pandangan yang masih sama, kosong.
Hingga suasana seketika menjadi hening.
"Ca, lebih besok kita pergi saja," putus Tiara akhirnya.
"Huh." Caca terkejut dengan keputusan uang di ambil Tiara. "Lalu bagaimana dengan Om Alex? Apa kamu tidak ingin memberitahunya!" tanya Caca.
"Biarkan semuanya mengalir begitu saja Ca."
Caca hanya menghembuskan nafasnya pelan dengan keputusan Tiara.
***
Pagi-pagi sekali seperti rencana Tiara semalam. Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari rumah sakit sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka.
Dan Dokter juga sudah mengizinkannya, dengan memberikan resep vitamin dan penguat kandungan.
"Ra apa kamu yakin?" tanya Caca kepada Tiara sekali lagi. Karena mereka sekarang sudah berada di stasiun.
"Hm, mungkin ini yang terbaik Ca," jawab Tiara lirih.
Sejujurnya Tiara sendiri juga masih berat meninggalkan kota Jakarta. Di mana dirinya dari kecil di besarkan di sini. Dan kenangan-kenangan indah bersama keluarganya dan yang terakhir adalah kenangan bersama suaminya. Kenangan yang begitu menyesakkan dadanya.
*
*
Sudah beberapa minggu Tiara tinggal di kota xxx. Dengan membeli rumah sederhana satu lantai dengan halaman yang lumayan luas.
Selama tinggal di sana Tiara hanya menghabiskan hari-harinya berdiam diri di rumah. Bahkan Caca yang sering membujuknya untuk keluar rumah tetap saja di tolak olehnya.
"Ra, bosen di rumah," keluh Caca pada Tiara yang sedang duduk di kursi teras belakang rumahnya.
Tiara yang sedang melamun seketika tersadar saat mendengar suara Caca. Tiara mengarahkan pandanganya pada Caca yang sedang duduk di hadapannya.
"Ra, bagaimana kalau kita buka usaha saja! Gimana kalau cafe kecil-kecilan. Kamu kan juga suka masak," saran Caca.
Tiara terdiam menimbang-nimbang saran dari Caca.
"Menu Cafe-nya kita buat masakan khas rumahan," ucap Caca semangat.
"Apakah sudah waktunya aku menyerah dengan rasa kecewa?" batin Tiara.
"Uhm ... terserah kamu saja," ujar Tiara. Mungkin tidak ada salahnya jika dirinya mencoba dunia yang baru.
Senyuman lebar langsung terbit di wajah Caca. "Ok, kalau begitu aku akan cari tempatnya dan seseorang yang bisa bantu kita."
__ADS_1
"Hm."
Hingga beberapa hari kemudian Caca sudah menemukan tempat yang cocok dengan apa yang dia harapkan. Tempat dekat kampus dan di pinggir jalan raya utama.
Butuh waktu dua minggu untuk mendekor ulang tempat itu dengan di bantu beberapa orang yang ahli dalam dekor.
"Ra tinggal tiga hari lagi cafe kita sudah bisa di buka, semuanya sudah beres. Mulai dari perabotan sama pegawai. Soal gaji mereka aku juga sudah konsultasi dengan ahlinya yang biasa mengurusi hal beginian, jadi kita tinggal menunggu hasilnya saja," jelas Caca. Memang semuanya Caca yang mengatur, Tiara hanya tinggal memberikan menu masakannya saja.
( Maaf ya jika konsep perencanaan tata usaha-nya agak berantakan 😊🙏 )
"Maaf aku tidak bisa bantu banyak," ujar Tiara yang sedikit merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, lagian aku juga suka lakuin nya," sahut Caca.
***
Hingga waktunya tiba pembukaan cafe. Ternyata benar, cafe mereka cukup ramai. Apalagi pegawai mereka adalah anak kampus. Jadi kebanyakan yang datang dari mereka, juga dari teman kampus mereka.
Selama dua minggu cafe mereka buka, ternyata sudah ada pelanggan setia. Laki-laki tampan yang sering mencuri-curi pandang pada Tiara. Radit.
Radit memberanikan diri untuk berkenalan, yang di sambut baik oleh Tiara. Begitupun yang akhirnya juga mengenal Caca.
"Kamu sering kesini, emang nggak kerja?" tanya Caca pada Radit.
"Kerja aku malem, jadi siang hari biasanya cuma tidur," jelas Radit dengan tersenyum.
Caca hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengerti. "Emang kerja apa?"
"Club malam, Dj," jawab Radit.
Mata Caca berbinar mendengar ucapan Radit, pasalnya dari dulu Caca juga penasaran dengan club malam. "Uhm, boleh tidak jika aku mau belajar Dj?" tanya Caca penuh harap.
"Boleh," jawab Radit setelah menimbang-nimbang permintaan Caca.
"Terima kasih," ucap Caca sumringah.
Selama Radit datang ke cafe, Caca lah yang selalu di suruh Tiara untuk menemani Radit. Bagaimanapun Tiara masih menyadari statusnya sebagai istri seseorang.
*
*
Satu bulan Caca belajar dengan Radit tentang bermain Dj, hingga bisa menguasai beberapa genre.
Radit pun mengajukan Caca untuk bekerja di club tempatnya bekerja, dan di terima oleh Farhan.
Tapi Radit harus memendam kekecewaannya, saat melihat perut Tiara yang semakin hari semakin membuncit. Kenyataan pahit jika Tiara sudah memiliki suami yang sedang bekerja keluar kota dan kini dirinya telah hamil. Radit sendiri baru mengetahuinya dari Caca saat dia bertanya.
Flashback Off.
...----------------...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊🙏...