DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Ngidam


__ADS_3

Pagi telah datang, semuanya sudah bersiap untuk mengantarkan Mama Mona ke bandara untuk kembali ke Jakarta.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Papa Nathan.


"Hm ... sudah," jawab Alex.


Sudah ada dua mobil yang terparkir di sana, termasuk mobil minicooper Caca yang berwarna merah. Dan satu lagi taksi online yang tadi sudah di pesan.


Alex, Rey, Tiara dan Caca berada di satu mobil. Sedangkan papa, mommy dan mama menaiki taksi online.


Di dalam mobil yang di kendarai Rey, entah sudah berapa adegan drama yang di lakukan Rey dan Caca, apalagi kalau bukan drama pengantin baru.


"Sayang, kenapa tamu bulanan mu lama sekali perginya," gerutu Rey yang sedang mengemudi. Dengan tangan satunya menggenggam tangan Caca yang duduk di sebelahnya.


Caca hanya memutar bola matanya malas. Sejak kemarin hanya itu saja yang di bahas oleh suaminya. Padahal tamu bulanannya baru juga sehari datangnya. "Uncle, dia baru datang sehari, masih ada enam hari lagi."


Rey menghembuskan nafasnya kasar. "Padahal aku baru menikmati malam pertama sekali, tapi dia datang tiba-tiba begitu saja." Rey yang masih dengan kekesalannya.


"Uncle, siapa bilang hanya sekali. Bahkan Uncle melakukanya berkali-kali," dengus Caca. Karena perkataan Rey yang tak sesuai dengan kenyataanya.


Sedangkan penumpang di belakang, hanya terdiam kaku. Keduanya merasa telinganya benar-benar panas mendengarkan percakapan pengantin baru itu.


Padahal Alex dan Tiara juga pernah mengalaminya, tapi tetap saja jika mendengar ucapan vulgar Rey dan Caca rasanya tidak pantas saja.


Alex sendiri sampai sekarang juga belum berani menyentuh Tiara, karena Alex takut jika Tiara akan kembali marah padanya sebelum benar-benar memaafkannya.


"Ouch," pekik Rey saat Alex menendang kursinya dari belakang.


"Apa kalian tidak punya obrolan lain? Selain membicarakan itu!" Alex yang sedikit kesal.


Sedangkan Tiara membuang pandangannya ke arah jalan.


"Memangnya apa yang salah dengan obrolan kami?" Rey yang tidak menyadarinya.


"Ck." Alex hanya berdecak mendengar itu.


Caca seketika menarik tangannya dari genggaman tangan Rey untuk menutupi kedua pipinya yang bersemu merah. Kini Caca tahu apa yang di maksud Alex, sungguh rasanya dirinya sangat malu sekali yang telat menyadarinya jika di dalam mobil itu ada Alex dan Tiara yang sedari tadi mendengarkan percakapannya.


***


"Kalian baik-baik ya di sini!" ucap Mama Mona sebelum berpisah pada Caca dan Rey. Di sana juga sudah ada Doni.


"Hm," sahut Caca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Hei ... menantu cantik Mama tidak boleh menangis, kita bisa bertemu lagi jika kamu sudah kembali ke Jakarta," ujar Mama Mona.


Tapi ucapan Mama Mona justru membuat air mata Caca menetes. Caca menganggukkan kepalanya mendengar ucapan mertuanya. "Tunggu Caca ya, Ma."


"Pasti," sahut Mama Mona dan langsung memeluk Caca.


Semua orang terharu melihat interaksi mertua dan menantu itu, tak terkecuali Tiara yang sedari tadi ikut menangis.


Alex dengan segera membawa Tiara dalam pelukannya. "Sudah, jangan menangis. Nanti kasihan baby-nya ikut sedih jika mami-nya menangis."

__ADS_1


"Aku hanya sedih, karena belum bisa kembali," sahut Tiara yang berada di pelukan Alex dan melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.


"Ya ,aku tahu." Alex yang mengeratkan pelukannya.


Hingga beberapa saat pesawat yang di tumpangi Mama Mona sudah lepas landas.


"Bagaimana kalau kita mencari sarapan saja?" ujar Mommy.


Mereka semua belum ada yang sarapan, karena Mama Mona mengambil penerbangan pagi.


"Ca, kamu ajak saja semuanya ke cafe," sahut Tiara.


Semua kemudian menatap ke arah Tiara. "Loh, kamu tidak ikut?" tanya Mommy.


"Uhm ... Tiara tiba-tiba ingin gado-gado Mom," jawab Tiara dengan tersenyum kaku.


Mommy kemudian tersenyum. "Kamu sedang ngidam?" tanya Mommy.


"Tidak tau Mom, hanya saja sekarang Tiara ingin makan gado-gado," jawab Tiara.


"Ya sudah, biar Alex saja Mom yang antar Tiara. Mommy dan Papa ikut saja dengan Rey dan Caca," sela Alex.


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati," ujar Papa Nathan.


"Ya Pah," sahut Tiara dan Alex.


Hingga akhirnya mereka berpisah dengan tujuan masing-masing.


"Sayang, apakah tidak ada penjual gado-gado di restoran?" tanya Alex. Alex rasanya sudah ingin menyerah, sudah hampir satu jam mereka berkeliling mencari penjual gado-gado. Tapi satu pun tidak mereka jumpai karena hari masih terlalu pagi.


"Meskipun ada, tapi aku ingin yang di jual di gerobak pinggir jalan," tutur Tiara.


Alex menghembuskan nafasnya pelan. "Mungkin ini yang di maksud sebenarnya dengan suami siaga," batin Alex.


Supir taksi yang sebenarnya sedari tadi bingung dengan tujuan penumpangnya akhirnya membuka suara. "Maaf, sebenarnya Tuan dan Nona sadang mencari apa?"


Kedua penumpang itu seketika mengarahkan pandanganya pada supir taksi yang tetap fokus mengemudikan taksinya.


"Istri saya sedang ingin memakan gado-gado," sahut Alex.


"Oh ... kalau jam segini masih belum buka Tuan," ujar supir taksi setelah melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Tapi saya tau penjual gado-gado yang enak, kalau Tuan mau saya bisa antar kan. Cuma harus menunggu sebentar karena masih tutup," imbuhnya.


"Boleh," sahut Tiara antusias, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Taksi itu kemudian melaju ke arah yang penjual gado-gado yang di maksud supir taksi.


15 menit kemudian mereka sudah sampai di depan gerobak penjual gado-gado yang masih belum buka. "Terima kasih," ucap Tiara pada supir taksi sebelum mereka turun, setelah Alex memberikan beberapa lembar uang bewarna merah untuk membayar ongkos taksi.


"Kita tunggu di sana saja." Tunjuk Alex pada penjual kelapa muda.


"Ayo." Tiara yang menyetujui.


Mereka berdua akhirnya berjalan ke arah penjual kelapa muda, sembari menunggu penjual gado-gado buka.

__ADS_1


Tempatnya lumayan sejuk karena berada di bawah pohon yang rindang. "Pak, kelapa mudanya dua, di minum sini." Pesan Tiara.


"Iya, Neng," sahut bapak penjual kelapa muda.


Tiara dan Alex duduk di bangku panjang yang di sediakan oleh penjual.


5 menit kemudian kelapa muda yang di pesan Tiara sudah di antar oleh penjualnya. "Silahkan."


"Terima kasih," ucap Tiara. Alex menaruh kelapa mudah itu di tengah-tengah bangku yang mereka duduki.


"Seger," ucap Tiara setelah menikmati kelapa muda dengan sedotan.


Alex yang melihatnya juga ikut tersenyum. Karena dengan hal sederhana ini pun bisa membuat istrinya bahagia.


"Sayang, kamu makanlah dulu sesuatu untuk mengganjal. Kasian baby-nya pasti lapar," ujar Alex.


Tiara seketika memegang perutnya. Memang benar yang di katakan suaminya, dirinya belum makan apapun gara-gara pengen gado-gado.


"Uhm ... kalau begitu Tiara mau makan ind*mie saja, biasanya di warung kopi nyediain," ucap Tiara dengan menunjuk warung kopi yang berada di samping penjual kelapa muda.


"Sayang kenapa mie instan? Makanan yang lain saja ya!" Alex yang kurang setuju jika Tiara memakan mie instan.


Tiara mendengus mendengar ucapan Alex. "Mas, tapi mie instan itu rasanya lebih enak, apalagi di masakin orang lain." Tiara yang sudah membayangkan dan menelan ludahnya.


Alex hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah, baiklah, semuanya hanya memang untuk istriku," ucap Alex dan segera beranjak dari duduknya untuk memesankan makanan yang istrinya inginkan.


7 menit kemudian Alex sudah membawa sepiring ind*mie goreng yang di inginkan istrinya. "ini."


Tiara menerimanya dengan tersenyum girang. "Terima kasih," ucap Tiara dengan mata berbinar menatap ind*mie goreng yang berada di tangan-nya.


Tiara segera memakannya dengan lahap, bahkan tidak ada niatan untuk menawari suaminya yang sekarang sedang menatapnya.


Hingga beberapa saat, piring yang tadinya penuh dengan mie, sekarang sudah bersih tidak tersisa. Bahkan dahi Tiara sudah di penuhi oleh peluh, dan bibir yang sedikit memerah.


Alex yang melihatnya hanya menelan saliva nya. Sungguh bibir Tiara sekarang begitu sexy. Kalau saja Alex tidak ingat ini di tempat umum, tentu saja Alex akan menyambarnya dan melum*tnya dengan rakus.


"Apa sekarang sudah kenyang?" tanya Alex dengan matanya yang masih fokus pada bibir Tiara yang sekarang meminum kelapa muda-nya.


Tiara menganggukkan kepalanya. "Hm."


"Jadi bagaimana gado-gadonya?"


Tiara menaruh kelapa mudanya kembali. "Tetap jadi Mas, tapi nunggu agak siangan aja yah! Masih kenyang soalnya," dengan tersenyum lebar.


"Huh."


...----------------...


...Hayo siapa yang tiba-tiba kepingin ind*mie 😁....


...Sama aku juga kepingin, habis up bab ini langsung cuz bikin 😉....


...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊🙏...

__ADS_1


__ADS_2