
Rafael datang dengan santainya, bahkan ia masih menyapa Tiara dengan ramah seakan tidak terjadi hal apapun. Sedangkan Tiara terkejut mengetahui Rafael juga terlibat dalam hal ini.
Karin yang tahu kedatangan Rafael, seketika mendekat ke arahnya dan memeluknya dengan manja. "Sayang, lihat kan dia baik-baik saja."
"Hm, kamu memang bisa di andalkan." Puji Rafael dengan mengusap pipi Karin.
Tiara hanya menatap bingung dengan situasi ini, sebenarnya apa mau sepasang manusia itu menculik ia dan Zio. Karena ia saja tidak begitu mengenal mereka.
"Apa kamu bingung?" Rafael yang seolah mengerti arti tatapan Tiara. "Aku yang menginginkanmu sayang. Karena kamu begitu sulit di dekati, jadi aku terpaksa melakukan ini untuk memilikimu." Jelas Rafael, seraya melepas pelukan Karin dan berjalan ke arah Tiara. Bahkan tatapannya kini menatap Tiara penuh damba.
"Jangan mendekat!!" Tiara memperingatkan dengan berteriak. Ia bergidik ngeri melihat tatapan Rafael kepadanya. "Anda gil*," umpat Tiara. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Rafael, bukankah Rafael tau jika ia sudah memiliki suami. Bahkan perutnya yang sudah membuncit, bisa-bisanya dia bilang ingin memiliki.
"Hei, jangan membentak kekasihku." Karin yang tidak terima Tiara membentak pujaan hatinya.
"Sstt, tenanglah." Rafael tidak ingin Karin membuat Tiara takut.
"Jika dia kekasihmu, kenapa kau malah membantunya untuk menculik ku?" Tiara tidak habis pikir. Hubungan yang seperti apa yang di miliki Rafael dan Karin.
"Memangnya kenapa? Aku tidak peduli. Asalkan dia tetap bersamaku. Jangankan menculik mu, bahkan dulu saja aku bisa membuang putramu ke jalanan," ucap Karin menyeringai. Bagi Karin ia tidak peduli Rafael menginginkan apa, yang penting Rafael tetap menjadi miliknya.
Mata Tiara melebar mendengar penuturan Karin, otaknya berputar ke beberapa bulan lalu awal ia membawa Zio ke mansion. Dan ya, Zio pernah memberitahunya, bahwa yang membawanya ke preman jalanan itu adalah seorang wanita.
"Jadi kau," Tiara yang mulai menemukan kebenaranya.
"Apa kau mau mendengar cerita?" Sela Rafael. Tapi Tiara hanya diam tidak menyahuti.
"Dulu aku pernah mencintai seseorang, tapi saat itu aku harus pergi ke luar negri, karena perusahaan yang ada di sana dalam masalah. Aku terpaksa meninggalkannya dan menyuruhnya untuk menungguku. Tapi setelah aku berhasil membangun bisnisku, aku justru harus menerima kabar jika ia telah menikah dengan laki-laki lain. Bahkan saat dia sudah mempunyai anak, aku masih tetap berharap ia kembali padaku. Tetapi, setelah lima tahun menunggu ternyata ia masih tidak mau untuk kembali bersamaku. Padahal aku lebih dari segalanya dari pada suaminya, kenapa ia tetap tidak mau kembali padaku. Ha!!!" Rafael dengan nafas memburu menahan emosi mengingat masa lalunya.
"Hingga akhirnya, aku lebih memilih untuk melenyapkannya. Itu karena tidak ada yang boleh menolak seorang Rafael," ujarnya dengan tersenyum lebar. "Tapi sayangnya, dia masih selamat." Rafael yang menoleh ke arah Zio. "Karena aku masih berbaik hati, makanya aku masih membiarkannya hidup dengan membuangnya."
Tiara hanya menggelengkan kepalanya mendengar cerita Rafael. Bahkan ia tidak melihat ada raut wajah penyesalan, kenapa ada seseorang yang begitu jahat di dunia ini. Di mana ia tega merenggut nyawa seseorang yang dulu pernah di dikasihinya. "Kalian benar-benar tidak punya hati." Teriak Tiara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Membayangkan bagaimana orang tua Zio yang sengaja di bunuh oleh pria keji itu.
__ADS_1
Rafael sendiri menghabisi nyawa kedua orang tua Zio dengan menabrak mobil mereka hingga terbalik, sesaat setelah mereka pulang dari kebun binatang. Tapi sayangnya Zio masih selamat dalam insiden itu meskipun mengalami luka yang cukup parah di kepalanya. Dan lagi-lagi Rafael menyuruh Karin untuk membuangnya setelah keadaan Zio membaik.
Mendengar teriakan Tiara, Rafael dan Karin hanya tertawa.
***
Di sisi lain Alex dan lainya sedang menuju tempat persembunyian Rafael yang di beritahukan oleh Caca. Entah itu benar atau tidak tapi setidaknya ia masih mempunyai harapan dapat menemukan istri dan putranya.
Bukanya Alex tidak mempercayai ucapan Caca, hanya saja selama ini Alex tidak pernah melihat Caca yang seserius itu.
"Kenapa lama sekali?" gerutu Alex.
"Tempatnya memang lumayan jauh, Tuan." sahut Riko. Karena memang jika di lihat dari maps tempat itu lumayan jauh dari pusat kota. Bisa di bilang tempat itu memasuki daerah terpencil.
Alex hanya menyunggar rambut kasar, merasa mobil yang ia tumpangi melaju lambat. Ia menoleh kebelakang ketika merasakan tepukan di bahunya. "Tenanglah, Nak. Percayalah kita dapat menyelamatkan menantu dan cucu papa." Papa Nathan yang mencoba memberi ketegaran. Dan di angguki oleh Alex.
Alex tak habis pikir, kenapa wanita itu mengusik ketenangan keluarganya. Dan Alex pastikan, ia akan memberikan ganjaran yang setimpal.
Mommy yang duduk di sofa belakang Rey, hanya bisa menghela nafas pelan. Karena sedari tadi Mommy juga menantikan kabar mereka, tapi masih belum ada. "Belum, Rey. Kita doakan saja, semoga mereka kembali dalam keadaan baik-baik saja."
Rey hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun dia sendiri khawatir tentang keadaan Caca, tapi ia juga khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
***
Dari kamar Tiara berada, sayup-sayup terdengar kegaduhan. "Ada apa?" tanya Rafael setelah Karin melihat sumber keributan itu.
"Supir wanita itu sudah sadar, dan ia coba melawan." Beritahu Karin.
Ternyata Tomy mereka taruh di dalam gudang, dan setelah sadar ia mencoba untuk mencari keberadaan Nona-nya. Tapi sayang ia harus menghadapi anak buah Rafael yang menjaga rumah itu.
"Bereskan saja dia, kita tidak memerlukannya." Dengan enteng Rafael mengucapkan itu.
__ADS_1
Tubuh Tiara yang mendengarnya seketika menjadi Kaku. "Jangan, aku mohon jangan sakiti dia." Tiara yang mencoba mencari belas kasihan Rafael. Mana mungkin ia membiarkan Tomy yang di anggap kakaknya harus menderita karenanya.
Rafael segera menatap tajam Tiara. "Aku tidak suka milikku memikirkan pria lain," hardiknya.
"Tapi aku sudah menikah, dan aku mencintai suamiku." Tiara yang mencoba mengingatkan akan statusnya.
Rafael yang geram seketika mencengkeram rahang Tiara. "Aku tidak peduli, dan aku pastikan aku akan tetap memilikimu." Ia kemudian menoleh ke arah Karin. "Cepat bawa anak itu keluar, aku ingin bersenang-senang dengannya." Dan melepaskan cengkeramannya.
Karin segera memanggil anak buahnya, untuk membawa Zio.
"Jangan, jangan bawa putraku." Tiara semakin panik ketika melihat seorang laki-laki yang siap membawa Zio. Dan dengan erat ia memeluk Zio yang sampai sekarang belum sadar.
Tapi usaha Tiara sia-sia saat Karin dan Rafael juga mencekal tangannya. "Zio," teriaknya, ketika laki-laki itu sudah beranjak pergi dengan membawa Zio.
"Sayang ... ingat jangan lama-lama kamu bermain denganya." pesan Karin sebelum ia keluar dari kamar yang di tempati Tiara.
Sedangkan Rafael sekarang sudah menatap Tiara sudah penuh dengan gairah. Apalagi melihat perutnya yang membuncit membuatnya semakin terlihat **** di mata Rafael.
Tidak menunggu lama Rafael segera menarik tangan Tiara yang tadi ia cekal, dan merebahkannya. Pandanganya sekarang tertuju pada bibir Tiara yang menggoda.
"Aku mohon, tolong lepaskan aku." Tiara sudah tidak tahu lagi setelah ini nasibnya akan bagaimana. Apalagi melihat Rafael yang sudang mengungkung nya.
"Tenanglah aku akan bermain dengan pelan," sahut Rafael dengan seringainya.
*
*
*
...Jangan lupa untuk dukungannya. Kalau vote-nya udah nggak ada, boleh dong bagi like. Dan tinggalkan komen biar othor tambah semangat buat nulisnya, apalagi tinggal beberapa bab lagi udah mau usai. Terima kasih 😊🙏....
__ADS_1