
Klek.
Ucapan Riko terjeda saat seorang Dokter keluar dari ruang operasi.
"Maaf, siapa di sini keluarga dari pasien?" Tanya Dokter.
"Saya Mommy nya," ucap Mommy Jessy.
"Oh ... Nyonya Jessy!" Dokter sedikit terkejut saat Mommy Jessy mengaku sebagai wali Caca. Pasalnya rumah sakit ini adalah milik keluarga Pratama.
"Nyonya Jessy, keadaan Nona Caca sudah melewati masa kritis. Ada beberapa tulang rusuk yang patah, dan tulang ekornya sedikit retak. Dan untuk sementara Nona Caca akan kesulitan untuk beraktivitas, tapi semua itu bisa di atasi dengan terapi saat keadaanya sudah membaik." Jelas Dokter.
"Terima Kasih, Dokter." ucap Papa Nathan.
"Sama-sama Tuan Nathan, sebentar lagi Nona Caca akan segera di pindahkan ke ruang transisi untuk memantau pasca operasi. Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter. Dan segera berlalu dari sana.
"Jessy, sebenarnya ada apa? Kenapa semuanya jadi begini!" Tanya Mama Mona yang masih belum mengerti keadaan sebenarnya.
"Aku sendiri juga tidak tau Mona, mungkin kita bisa tanyakan anak-anak saat mereka sudah baikan." ujar Mommy.
Mommy dan Papa menuju ke ruang rawat vvip, di mana Alex di rawat, sedangkan Mama Mona menuju sebelah ruangan Alex, tempat Rey di rawat. Setelah tadi Riko memberitahunya.
Sedangkan Riko memantau kepindahan Caca dari ruang operasi ke ruang transisi.
Klek.
Mommy melihat Tiara duduk di samping ranjang di mana Alex berbaring. "Sayang ....!" panggil Mommy seraya menyentuh bahu Tiara.
Tiara sedikit terjingkat, dengan sentuhan tangan Mommy. Membuyarkan lamunannya.
"Mom ...." Seketika Tiara berhambur memeluk Mommy yang berdiri di sebelahnya. Yang juga di balas oleh Mommy.
"Mom, maafkan Tiara. Semua ini salah Tiara," ucap Tiara di pelukan Mommy dengan air mata yang jatuh di pipinya.
"Tidak sayang, ini bukan salah siapa-siapa." Ujar Mommy menenangkan, seraya mengurai pelukannya.
"Nak ... apa suamimu belum siuman?" tanya Papa.
Tiara menggelengkan kepala, "Belum pa, Dokter memberi obat tidur, karena sejak datang ke rumah sakit Om tidak mau istirahat." jelas Tiara.
__ADS_1
Mommy dan Papa juga bisa melihat luka lebam di sekujur tubuh Alex.
"Sayang kamu juga harus istirahat." sahut Mommy.
"Nanti Mom." Tiara kembali duduk di samping Alex. Tapi seketika ingatannya tertuju pada Caca. "Mom, apa Mommy tau keadaan Caca sekarang?" Terlihat jelas raut wajah Tiara khawatir.
"Caca sudah selesai di operasi dan akan di pindahkan untuk pemulihan."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Tiara sedikit lega.
"Apa kamu ingin melihatnya? Mommy dan Papa akan menjaga Alex." Sahut Papa.
Tiara sebenarnya ingin melihat keadaan Caca, tapi suaminya sendiri belum.
"Sudah ... kamu lihat Caca saja, Mommy akan jaga Alex." Ujar Mommy saat melihat keraguan di wajah Tiara. "Nanti Riko akan mengantar keruangan Caca."
Hingga beberapa saat Tiara sudah berada di ruangan Caca dengan mengunakan baju steril, setelah tadi di antar Riko.
Tiara dapat melihat Caca yang terbaring dengan muka pucat dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya, tidak ada lagi suara cempreng yang selalu meriuhkan suasana. Tidak ada lagi Caca yang ceria, dan tidak ada lagi Caca yang manja padanya jika merengek menginginkan sesuatu.
Tiara berjalan mendekat, dan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Caca. "Ca ....!" Ucap Tiara lirih dengan suara bergetar. Air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya tak mampu Tiara bendung.
"Ca, seandainya bisa di tukar. Biar aku saja yang merasakan semua ini." Air mata Tiara kian deras, mengingat ini semua terjadi juga karena dirinya. Dulu sejak sepeninggal ibunya, hanya Caca yang ia miliki. Tapi sekarang Tiara tidak bisa menjaga Caca yang sudah di anggapnya adik.
Mata Caca masih tetap terpejam, menikmati mimpi indahnya. Melupakan rasa sakit yang di berikan Alan.
"Ca, sampai kapan kamu tidur? Apa kamu tidak merindukan aku?" Ucap Tiara yang semakin merasakan sesak di dada, menahan rasa sedihnya.
Tiara ingat kata itu dulu yang di ucapkan Caca, saat baru satu hari tak bertemu dengan-nya. Dan Caca merajuk ketika Tiara tak langsung memberikan ucapan yang sama seperti Caca ucapkan.
"Apa kamu lelah? Hingga kamu tertidur pulas seperti ini!" Tiara meraup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan rasa sesak di dada. "Baik, kalau kamu capek kamu istirahat saja. Tapi, jangan lama-lama." Tiara berdiri dari duduknya dan mencium kening Caca sebelum keluar dari sana.
Tiara menyandarkan tubuhnya di depan pintu ruangan Caca, memukul dadanya yang serasa sangat sesak. Seperti tertimpa batu yang sangat besar. Akhirnya Tiara menumpahkan semua air matanya dan menangis tergugu.
Hingga tak lama ada tangan kokoh yang menariknya hingga masuk dalam pelukan yang menenangkan. "Tenanglah Caca pasti akan baik-baik saja," ucapnya. Dengan menepuk punggung Tiara menggunakan tangan kirinya yang terpasang jarum infus, sedangkan tangan kanannya memegang tiang infus.
Tiara menganggukkan kepalanya di dalam pelukan yang terasa nyaman itu, Tiara tau seseorang yang sedang memeluknya adalah suaminya karena Tiara hafal aroma tubuh Alex.
Alex tadi setelah sadar, seketika mencari keberadaan Tiara. Dan Mommy memberitahunya kalau Tiara sedang ada di ruangan Caca untuk melihatnya. Dengan di bantu Riko akhirnya Alex memutuskan menyusul Tiara.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita kembali, kamu juga perlu istirahat." Alex tau dari wajah Tiara yang pucat. Tiara menuruti keinginan Alex yang mengajaknya kembali ke ruang rawat Alex.
Waktu hampir sampai, mereka berpapasan dengan Rey yang juga keluar dari kamar di bantu oleh Mama Mona.
"Rey gimana keadaan lo?"Tanya Alex.
"Hmm ... udah mendingan, cuma luka kayak gini doang mah," Kelakarnya dan kemudian tergelak. Rey tau Tiara mungkin merasa bersalah karena sedari tadi dia hanya menundukkan kepalanya.
"Maaf," cicit Tiara yang masih menundukkan kepala. Alex dan Rey seketika menoleh ke arah Tiara.
"Sudahlah, ini bukan salah siapa-siapa." Sahut Rey. Ya sudah kalau gitu gue mau lihat keadaan Caca," setelah mengatakan itu Rey berlalu dari sana menuju ruangan Caca.
Rey yang baru sadar, seketika mengingat bagaimana Caca menerima hantaman kursi demi dirinya. Hingga Caca ambruk di atas tubuhnya. Tadi Rey sudah bertanya pada Riko ruangan Caca di rawat, dengan bantuan Mama Rey memutuskan melihat keadaan Caca.
Rey memutuskan masuk sendiri ke ruangan Caca, dan Mama Mona menunggu di luar. Karena hanya di perbolehkan satu orang masuk ke dalam.
Rey mendudukkan dirinya di kursi yang tadi sempat di tempati Tiara, setelah tadi memakai baju steril.
Rey merasakan hatinya sakit saat melihat keadaan Caca seperti ini, seseorang yang beberapa minggu ini membuat harinya bewarna. Dan yang selalu bertengkar dengannya.
"Sipit ... lo gak kangen berantem sama gue?" Ucap Rey seraya merapikan anak rambut Caca yang sedikit terburai.
"Kalau lo tidur kayak gini, gue baru sadar ternyata gue kangen suara lo yang cempreng." Rey terkekeh setelah mengatakan itu, tapi mata Rey berkaca-kaca. Membendung cairan bening di pelupuk matanya.
"Gue bosen, gak ada yang gue ajak berantem. Kalo lo bangun, nanti gue traktir ice cream kesukaan lo ... dan sepuas lo." Bujuk Rey, tapi mata Caca masih nyaman terpejam.
"Kenapa waktu itu lo lakuin?" Rey menjeda kalimatnya, tiba-tiba dadanya terasa sesak menahan sesuatu. "Seharusnya nggak perlu Sipit, apa lo nggak tau? Kalau gue ini super hero." Kelakarnya, tapi percayalah semakin Rey mencoba berbicara maka semakin sesak pula dadanya. Hingga cairan bening itu keluar seketika tak mampu ia tahan.
...----------------...
Percaya atau nggak, aku ngetik di bagian part ini sambil mewek sendirian ðŸ˜.
Lihat juga visual Alex dan Tiara di
ig : auraAurora / ninik dwi fauria
fb : auraAurora
Jangan lupa vote,like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn.
__ADS_1