
Setelah Alex bertemu Rey di hotel untuk chek in. Mereka kembali berpencar untuk mencari keberadaan Tiara dan Caca, termasuk Dino yang ikut membantu mencari.
Dengan mengandalkan transportasi dari hotel tempatnya menginap, Alex berkeliling ke segala arah. Alex bahkan tidak sempat untuk beristirahat meskipun sejenak.
Hingga pukul sepuluh malam Alex belum juga menemukan hasil, begitupun dengan yang lainya.
Supir hotel yang mengemudi sesekali menoleh ke arah belakang, melihat Alex yang duduk dengan gelisah. Dengan mengedarkan pandanganya ke arah jalan yang di lalui oleh mobil mereka.
"Ehm ... tuan, apakah boleh kita berhenti untuk mencari makan terlebih dahulu?" Ucap supir Alex. Sebenarnya ada rasa takut untuk mengatakannya, tapi bagai mana lagi perutnya memang sedang lapar dan meminta untuk di isi.
Alex segera mengarahkan pandanganya pada supir, dan melihat jam di pergelangannya, ternyata memang sudah lumayan malam. Dan dirinya juga sebenarnya belum makan dari tadi siang, tapi karena terkejutnya mendengar berita dari Rey hingga semua itu terlupakan.
"Baiklah kalau begitu," sahut Alex.
"Di dekat sini, ada cafe yang enak tuan. Padahal baru beberapa bulan mereka buka tapi sudah ramai. Di cafe itu terkenal dengan yang bisa mengambil bawang goreng sepuasnya, karena sudah di sediakan di meja. Dengar-dengar karena pemiliknya sangat suka dengan bawang goreng," jelas supir itu dengan sedikit tersenyum karena merasa sedikit lucu.
Alex hanya mendengarkan tanpa ingin menyahuti, tapi mendengar itu Alex teringat tentang istrinya. Terakhir kali melihat Tiara yang memakan nasi goreng dengan taburan bawang goreng yang cukup banyak.
Hingga beberapa saat Mobil yang di tumpangi Alex berhenti di depan cafe yang memang lumayan ramai, meskipun sudah sedikit larut.
"Tuan, kita sudah sampai," beritahu supir itu.
Alex segera turun dari mobil, dan berjalan beriringan dengan supir masuk ke dalam cafe.
"Mau kemana?" tanya Alex saat melihat supirnya menuju meja yang berbeda dengannya.
"Itu ... anu tuan saya akan makan di meja yang lain saja," ucap supir Alex dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman jika harus makan semeja dengan Alex karena status mereka yang berbeda.
Alex menghembuskan nafasnya pelan, tau apa yang ada di pikiran supirnya. "Kita satu meja saja," ujar Alex seraya mendudukkan dirinya di kursi yang ia pilih.
"Tap--"
"Sudah cepat duduklah," sela Alex.
Mau-tidak mau akhirnya supir itu duduk semeja dengan Alex.
Alex melambaikan tangan pada gadis muda yang menjadi pelayan di cafe itu.
"Mau pesan apa tuan?" Tanya pelayan itu saat sudah tiba di hadapan Alex. Dengan memberikan buku menu.
Alex melihat semua menu yan di sediakan cafe, ingatannya kembali pada istrinya. Semua menu yang ada di cafe itu masakan yang pernah Tiara masak untuknya.
"Nasi goreng dan lemon tea," pesan Alex. Sedangkan supirnya memilih untuk menyamakan saja.
"Nasi goreng dua dan lemon tea dua, tuan," pelayan mengulang pesanan Alex setelah mencatatnya. Setelah-nya pelayan itu berlalu dari sana untuk menyiapkan pesanan Alex.
Alex mengedarkan pandanganya, tempat itu memang strategis. Terletak di depan kampus, dan juga memiliki disain yang menarik.
Tidak salah jika cafe itu sangat ramai, pengunjung di dominasi oleh kalangan anak muda tapi ada juga yang bersama keluarganya.
__ADS_1
Mata Alex sekelebat melihat bayangan seseorang. Orang yang selama berbulan bulan ini dia rindukan.
Gadis muda dengan rambut pendek sebahu, kulit putih, paras ayu dengan pipi chubby dan perut yang membuncit. Tiara.
Deg
Alex merasakan getaran dalam hatinya, rasanya penantian panjangnya akan segera berakhir.
Tiara keluar dari pintu yang menuju dapur cafe itu. Di tangannya membawa nampan yang berisi beberapa makanan dan minuman.
Saat Alex akan menghampirinya, ada seorang pria yang datang menghampiri Tiara. Pria itu merebut nampan yang berada di tangannya. "Sudah, kamu istirahat saja. Kasian baby-nya capek," ucap pria itu.
Sialnya Alex melihat Tiara yang tersenyum manis pada pria itu, sungguh hatinya tidak bisa menerima semua itu. Yang ada pada Tiara seharusnya itu miliknya, hanya miliknya.
Tiara berjalan ke arah meja kasir, sesekali mengusap perutnya yang buncit.
Dengan perlahan Alex menghampiri Tiara, yang sedang duduk di belakang meja kasir. Sesekali mengusap perutnya dan seperti mengajak bayi mereka yang masih di dalam kandungan untuk berbicara.
Supir Alex hanya menatapnya bingung saat melihat apa yang sedang di lakukan Alex.
Kegiatan Tiara terhenti saat mengetahui seseorang berdiri di depannya, mungkin salah satu pegawainya yang akan memberikan tagihan makanan pelanggan mereka.
Tiara segera mengarahkan pandanganya.
Deg.
Tubuh Tiara tiba-tiba terasa kaku, lidahnya terasa keluh saat mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya. Hanya pandangan matanya dan mata Alex yang saling mengunci.
Tiara hanya diam mendengar itu, rasa kecewa yang dulu pernah di alaminya sekarang tiba-tiba muncul lagi di ingatannya. Setelah Tiara berjuang untuk mengobati luka hatinya.
Tiara segera memalingkan wajahnya, setetes cairan bening lolos dari matanya. Dengan kasar Tiara menghapusnya.
"Sayang ...." ucap Alex lagi, rasanya ingin sekali Alex memeluk istri yang selama ini ia rindukan. Alex segera mendekat ke arah Tiara, tapi saat Alex ingin menyentuhnya dengan segera Tiara menghindar. Alex sungguh tidak menyangka Tiara akan melakukan itu.
"Maaf, ada apa ini?" tanya pria yang tadi merebut nampan dari tangan Tiara. Sontak kedua pasang mata itu seketika beralih padanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Tiara pada pria yang di panggil Radit itu.
"Apa kamu mengenalnya?" Tanya Radit pada Tiara.
Tiara bingung harus menjawab apa, sungguh hatinya masih kecewa terhadap Alex.
Melihat Tiara yang hanya diam saja, Alex segera mengambil alih untuk menjawabnya. "Saya suaminya," sela Alex.
Alex dapat melihat wajah Radit yang sedikit terkejut setelah mendengar ucapannya.
"Apa itu benar?" tanya Radit pada Tiara.
Tiara dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin Tiara menyangkal jika Alex adalah suaminya.
__ADS_1
***
Dan di sinilah Tiara dan Alex, berada di rumah sederhana. Rumah yang selama ini di tempati Tiara dan Caca. Tiara terpaksa mengajak Alex pulang ke rumahnya karena tidak mau mendapat pertanyaan dari karyawan di cafe.
Sedangkan Alex menyuruh supirnya untuk kembali ke hotel terlebih dahulu.
Di dalam ruang tamu itu hanya ada keheningan, sesekali Tiara mengelus perutnya. Merasakan gerak anaknya yang lebih sering dari biasanya. Dan itu tidak luput dari pandangan Alex.
"Sayang ...." Panggil Alex lirih. Tapi Tiara tidak menyahutinya.
Bruk.
Tiba-tiba Alex berlutut di hadapan Tiara. Mata Tiara seketika melebar saat mengetahui tindakan Alex yang seperti itu.
"Sungguh, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Aku tahu sikapku terhadapmu sangat keterlaluan, bahkan aku waktu itu tidak percaya padamu. Karena ada seseorang yang mengirim foto kau dan Andrian sedang berpelukan, aku waktu itu sangat marah karena mengira kau akan mengkhianati ku. Tapi ternyata itu semua ulah Bella. Sungguh aku sangat menyesal, sangat-sangat menyesal," ucap Alex dengan menundukkan kepalanya di hadapan Tiara.
Tiara hanya bisa meremas ujung kain bajunya mendengar penuturan suaminya, ternyata yang menjadi dalang selama ini adalah mantan kekasih suaminya. Tapi tetap saja ada rasa kecewa terhadap suaminya yang waktu itu tidak mempercayainya.
Tiara sendiri bisa melihat suaminya yang bersimpuh di depannya untuk mendapat maafnya sungguh-sungguh dihinggapi oleh rasa penyesalan, dan untuk pertama kalinya juga Tiara melihat seorang Alex Pratama yang terkenal tegas, sekarang menangis di hadapannya.
"A-aku masih terlalu kecewa padamu mas," ucap Tiara akhirnya.
Alex masih bisa menerima apa yang di ucapkan istrinya, memang dia yang bersalah.
"Aku tahu, aku juga bukan seorang daddy yang baik," lirih Alex dengan suara bergetar seraya mengangkat pandanganya hingga tertuju pada perut buncit Tiara.
Tiara hanya menghembuskan nafasnya pelan melihat Alex seperti ini, apalagi saat menyebutnya seorang daddy, daddy untuk anak yang sekarang berada di kandungannya.
***
Tiara akhirnya membiarkan Alex menginap di rumahnya setelah tadi menyuruhnya untuk kembali ke hotel tapi Alex tidak mau, dengan catatan Alex tidur di kamar tamu.
Tiara yang berada di dalam kamarnya tidak bisa tidur, apalagi kalau bukan karena Alex yang berada di kamarnya dan Caca yang masih belum pulang. Padahal jam sudah menunjukkan tiga pagi.
Alex juga mengalami apa yang di rasakan Tiara, tidak bisa tidur. Di sisi lain, ada rasa kelegaan yang di hatinya karena sudah menemukan Tiara. Tapi di sisi lain Alex juga gelisah karena tau istrinya masih belum memaafkannya.
Hingga beberapa saat ponsel Alex yang berada nakas bergetar tanda panggilan telefon masuk. Alex menautkan kedua alisnya saat nama Rey yang tampil di layar ponselnya. Alex juga baru menyadari jika dirinya belum memberitahu kalau sudah bertemu dengan Tiara.
"Halo!" jawab Alex saat panggilan tersambung.
("")
"Iya"
("")
Mata Alex membulat seketika, saat mendengar ucapan Rey dari seberang sana.
...----------------...
__ADS_1
Besok ada kejutan dari mas Rey di tunggu ya 😊
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊