
Acara tujuh bulanan Tiara berjalan dengan lancar, setelah tadi melewati beberapa prosesi. Dan sekarang Tiara juga sudah berganti pakaian, bersiap untuk menyambut para tamu yang hadir.
Tiara sudah berdiri bersama Alex, Mommy, dan Papa Nathan untuk menyambut tamu. Kebanyakan dari mereka yang datang adalah rekan bisnis Papa Nathan dan Alex.
Tapi yang tidak di sangka oleh Tiara adalah, Mommy mengundang beberapa teman sekolah Tiara. Meskipun di sekolah Tiara tidak begitu akrab dengan mereka, tetapi melihat kedatangan teman-temanya membuat-nya terharu. Setidaknya mereka masih mengingatnya sebagai teman. Mommy sengaja mengundang mereka, karena waktu di pernikahan Tiara tidak satupun temanya yang datang.
"Terima kasih Mom," ucap haru Tiara dengan memeluk Mommy setelah menyambut tamu.
"It's ok, sayang. Mommy akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak-anak Mommy." Mommy juga merasa terharu. Padahal baginya ini adalah hal kecil yang bisa dia lakukan, tapi sudah bisa membuat menantunya itu bahagia.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Nanti cucu Mommy kelelahan jika kamu berdiri terus," saran Mommy setelah pelukan mereka terlepas.
"Uhm ... kalau begitu Tiara mau ke kamar sebentar Mom. Punggung Tiara rasanya sudah mulai terasa kencang," Tiara memilih ingin merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena acara berlangsung mulai pagi hingga menjelang siang membuatnya sedikit merasa lelah. Apalagi sedari tadi dirinya belum melihat Zio. Meskipun Zio sudah bersama dengan Caca dan Rey juga anak-anak panti lainya. Tetapi tetap saja belum merasa tenang jika belum melihatnya sendiri.
"Yah baiklah kalau begitu kamu istirahat saja, karena tamunya sebagian juga sudah pulang."
Tiara akhirnya memilih langsung menuju kamarnya, karena dari kejauhan ia dapat melihat suami dan papa mertuanya sedang berama tama dengan rekan bisnis mereka.
Baru saja Tiara akan membuka pintu kamarnya, tetapi ada seseorang yang memanggilnya.
"Nyonya Alex," sapa seseorang itu.
Dengan segera Tiara menoleh ke arah sumber suara. "Oh, Tuan Rafael."
Tiara heran, kenapa Rafael berada di dekat kamarnya. Padahal suaminya sedang berada di depan.
"Selamat untuk acara tujuh bulanannya Nyonya Alex." Rafael menyodorkan tangannya.
Ketika Tiara berniat untuk menyambut tangan Rafael, tiba-tiba saja suaminya mendatanginya.
"Sayang, jika kau lelah masuk saja ke dalam kamar. Aku akan menemani tamu yang hadir," intrupsi Alex.
Entah kenapa itu seperti angin segar bagi Tiara, dengan patuh Tiara langsung masuk ke dalam kamar. Bahkan dirinya melupakan keberadaan Rafael di sana.
Alex segera mengalihkan pandanganya pada Rafael. "Tuan, Rafael kenapa anda di sini? Apa anda memerlukan sesuatu?" tanya Alex.
"Oh, iya. Saya tadi sebenarnya ingin ke toilet, dan tidak sengaja bertemu istri anda. Jadi saya ingin mengucapkan selamat untuknya," jelas Rafael.
__ADS_1
"Seperti itu! Ehm ... kalau anda ingin ke toilet, anda tinggal berjalan lurus lalu belok kanan." Alex menunjukkan dimana letak toilet di panti itu. Dan Rafael juga segera pergi dari sana untuk tujuan awalnya pergi ke toilet.
Sedangkan Alex segera masuk ke dalam kamarnya, untuk melihat keadaan istrinya. Ternyata Tiara sedang berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Alex dapat melihat raut wajah lelah-nya.
Dengan langkah perlahan, Alex mendekat ke arah Tiara dan duduk di tepi ranjang istrinya berbaring.
Terdengar dengkuran halus dari Tiara, padahal baru saja ia memejamkan mata. Mungkin rasa lelah yang membuatnya cepat terbang ke alam mimpi.
Alex mengusap lembut di mana anaknya berada, hingga setelah beberapa saat ia dapat merasakan pergerakan si kecil. Ada senyuman yang menghiasi bibirnya. "Hei, apa kau tau! Mami sepertinya sedang kelahan. Jadi kamu ikut tidur saja dengan Mami, biar Mami tidak terganggu. Ok!"
Alex mengajak anaknya berbicara, seolah-olah anaknya itu akan menjawabnya. Tapi anehnya setelah ia berbicara seperti itu, Alex sudah tidak merasakan pergerakan lagi dari anaknya.
***
Di lain tempat Caca sedari tadi tidak bisa berhenti tertawa. Melihat suaminya yang sedari tadi di tempel oleh Laura.
"Kangmasssss, ekke bantuin elap keringatnya ya. Itu udah basah semua." Laura yang menawarkan diri dengan suara manja dengan sedikit menggoda.
"Tidak," tolak Rey dengan tegas dan datar. Apalagi melihat Laura yang mengeluarkan saputangan-nya yang terselip di balik kemben yang ia kenakan tepat di dadanya. Sontak itu langsung membuatnya mual.
"Sayang, kenapa kau tidak ingin menolong suamimu ini." Rey yang merajuk kepada istrinya.
Rey hanya berdecak kesal melihat istrinya yang tidak mau membantunya. Apa istrinya itu tidak kasian dengannya? Yang sedari tadi di tempel oleh makhluk jadi jadian itu. Apalagi melihat konde besar Laura yang sedari tadi bergoyang-goyang yang hampir mengenai wajahnya.
*
*
*
Pagi hari, semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Karena semalam semuanya memutuskan untuk pulang karena senin sudah harus bekerja seperti biasa.
Tapi hari ini, Zio libur sekolah. Karena Tiara melihat putranya yang pagi ini sedikit demam, jadi menyuruhnya untuk beristirahat saja di rumah.
"Sayang, kamu makan dulu ya? Setelah itu minum obat penurun panas." Tiara membawa bubur ayam dan segelas air hangat untuk Zio.
Dengan telaten, Tiara menyuapi Zio. Hingga suapan ke empat Zio sudah menggelengkan kepalanya. "Mami, rasanya pahit." Keluh Zio.
__ADS_1
"Itu karena kamu sedang sakit, sayang." Tiara meletakkan mangkok buburnya dan memberikan gelas yang berisi air hangat kepada Zio. Setelah itu memberikan obat demam berupa sirup rasa jeruk.
"Ya sudah kamu tidur lagi, biar cepat turun demamnya." Sesudah meninggalkan satu kecupan di dahi Zio. Tiara akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.
Ketika Tiara berada di dapur untuk mengembalikan tempat bekas Zio sarapan, sayup-sayup Tiara dapat mendengar suara cempreng dari arah depan. Tiara sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Caca.
"Tiara ...."
Caca yang tidak menemukan keberadaan Tiara segera mencarinya ke halaman belakang. Tapi di sana Caca melihat Mommy yang sedang bersantai dengan Papa Nathan.
"Sayang, kemarilah." Mommy yang tau kehadiran Caca segera memanggilnya agar ikut bersantai bersamanya.
"Mom, Pa." sapa Caca ketika sudah duduk di sebelah Mommy. "Tiara kemana, Mom?" Tanya Caca.
"Tadi sedang di kamar Zio. Zio sedang demam," jawab Mommy.
"Benarkah ??"
Mommy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kasihan sekali, pasti karena kelelahan. Soalnya kemarin Zio bermain seharian." Caca mengingat di mana Zio yang sedang bermain sepak bola dengan anak panti lainya.
"Mungkin, tapi namanya juga anak-anak. Pasti mereka tidak mau di suruh berhenti kalau sedang bermain," ujar Mommy. Mengingat masa kecil Alex dulu yang juga seperti itu.
"Suami kamu tidak ikut?" Sela Papa. Yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Rey.
Caca yang mendengar pertanyaan Papa Nathan seketika terkikik. Karena Caca sebenarnya datang ke mansion ingin bercerita dengan Tiara soal tingkah lucu suaminya.
Mommy dan Papa hanya saling pandang melihat Caca yang terkikik sendiri sebelum menjawab pertanyaan Papa.
"Mom, Pa, tahu tidak!! Uncle semalaman tidak bisa tertidur. Katanya takut di goyang oleh Laura, ha ha ha." Caca yang melanjutkan tertawanya. Mengingat semalam suaminya yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk, yang ternyata bertemu Laura di alam mimpi.
*
*
*
__ADS_1
Selamat malam semuanya. Maaf lama nggak up. Karena terakhir up kemarin malamnya masuk igd. Dan sekarang juga masih harus bolak balik priksa. Ada masalah kesehatan, jadi cuma bisa rebahan saja. Terima kasih yang masih setia nunggu cerita ini 🙏😊