DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Kurang Waras


__ADS_3

Menjelang siang semua orang masih berada di ruang rawat Tiara. Apalagi baby El yang sudah terbangun dari tidurnya. Dengan bergantian, semua orang mendapat giliran menggendong bayi tampan itu.


Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Mbak Tiara, saya mau pulang dulu." Pamit Vita karena harus bersiap-siap, sore nanti ia akan kembali.


"Kenapa harus terburu-buru? Kita baru saja bertemu," sergah Caca.


"Uhm ... nanti takut kemalaman Mbak Caca," jelas Vita. Apalagi jika dirinya mengingat nasib sial yang menimpanya tadi malam.


"Baiklah Kak Vita, hati-hati di jalan." Tiara yang membiarkan Vita kembali. Ia sendiri tahu pasti butuh beberapa jam untuk sampai.


***


1 minggu berlalu.


Alex yang dulu angkuh dan dingin kini berubah menjadi sosok yang hangat, tapi itu hanya berlaku dalam keluarga kecilnya. Sejak kepulangan baby El dari rumah sakit enam hari yang lalu ia masih mengambil libur bekerja, ia masih menikmati hari-harinya menjadi Daddy bagi kedua putranya.


Seperti pagi ini, ia tidak melewatkan untuk berjemur bersama baby El. Karena Alex tau, istrinya sekarang pasti sedang menemani putra sulungnya bersiap untuk pergi ke sekolah.


Dengan memakai kacamata yang sama dengan baby El, Alex berjemur menikmati sinar matahari pagi yang menghangatkan tubuh. Tidak henti-hentinya ia tersenyum melihat baby El yang masih nyaman dengan tidurnya di atas dadanya.


"Daddy," terdengar teriakan dari dalam mansion. Siapa lagi kalau bukan Zio.


"Sudah mau berangkat?" tanya Alex saat Zio sudah terlihat rapi dengan mengenakan seragam TK.


"Iya, Dad." Zio yang menjawab tapi ia sibuk mengganggu baby El yang terlelap dengan mengelus pipi tembemnya.


"Sayang, ayo berangkat. Uncle Tomy sudah menunggu," Tiara yang menghampiri Zio dengan membawa kotak bekal berisi roti isi kesukaan Zio yang kemudian ia masukkan ke dalam tas sekolah Zio.


"Yes, Mami." Kemudian ia menoleh ke arah baby El. "Kakak berangkat sekolah dulu," pamitnya kemudian meninggalkan satu kecupan di pipi bayi tampan itu. "Dad, Zio berangkat dulu." Kemudian mencium punggung tangan Alex.


"Hati-hati sayang. Ingat, harus belajar yang pintar." Alex yang mengingatkan.


"Tentu Dad," sahut Zio kemudian beralu dari sana dengan Tiara.


Setelah kepergian Zio ke sekolah, sekarang giliran Tiara untuk memandikan baby El. Sebelumnya suaminya sudah menawarkan jasa baby sitter untuk membantunya, tapi ia menolaknya. Karena Tiara berfikir, dengan melakukanya sendiri itu adalah cara pendekatan yang terbaik dengan anaknya. Apalagi ada Mommy yang mau membantunya.


"Hm ... sayangnya Mami sudah wangi," Tiara yang melihat baby El sudah rapi dan harum setelah ia mandikan. Tiara sudah pandai memandikan baby El setelah beberapa kali Mommy mengajarinya.

__ADS_1


"Sayang, sekarang giliran aku yang harus kau mandikan." ucap Alex yang kemudian memeluknya dari belakang.


Sejak Tiara sudah bisa memandikan bayi tampan itu, maka Alex juga meminta giliran untuk dimandikan. "Mas, kamu tidak malu dengan El. Lihatlah ia sedang melihatmu, kalau saja ia sudah bisa bicara pasti ia akan mengejek mu."


Baby El yang berada di atas ranjang hanya menatap kedua orang tuanya yang saling berbicara, karena dia masih tidak mengerti apa yang kedua orang tuanya itu bicarakan. Tidak lama bayi tampan itupun menangis.


Oek, oek, oek.


"Uh ... sayang apa kamu lapar, hm??" Yang kemudian Tiara melepaskan diri dari suaminya dan menggendong baby El.


Dengan duduk di ranjang, kemudian mengambil bantal dan meletakkannya di pangkuannya untuk menyanggah baby El yang akan menikmati sarapanya.


Dengan lahap baby El menghisap ****** Tiara untuk mendapatkan asi. "Sayang, jangan terburu-buru. Tidak akan ada yang merebutnya," Tiara yang melihat anaknya begitu lahap.


Glek.


Alex hanya bisa menelan saliva nya susah payah, melihat aset istrinya yang sekarang sedang di nikmati oleh putranya sendiri. Apalagi dua bulatan itu sekarang semakin membesar.


Klek.


"Yuhuu ... Oma datang," Mommy yang begitu saja masuk kedalam kamar Alex. Seperti biasa ia akan membawa baby El setelah di mandikan Tiara. "Eh, lagi sarapan !!!"


Selama menunggu baby El menyelesaikan sarapannya, Mommy tak sengaja melihat wajah anaknya yang di tekuk. "Alex kenapa?" Padahal sebenarnya Mommy tau apa yang ada di pikiran anaknya dengan melihat arah pandang Alex.


"Mom, apakah masih lama aku berpuasa?" tanya Alex dengan wajah memelas.


Tiara yang mendengarkan pertanyaan suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kau itu baru satu minggu berpuasa, masih dua bulan lagi." Mommy tak habis pikir dengan anaknya yang baru sebentar berpuasa tapi sudah terlihat begitu sengsara.


Alex yang mendengarnya dengan cepat menoleh ke arah Mommy. "Kenapa lama sekali, apa tidak bisa di percepat ???"


"Dasar kurang waras," umpat Mommy dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Alex.


"Mom, kau mengatai ku gil@?" Alex yang tidak terima.


"Siapa yang mengatai mu gil@, Mommy cuma mengatakan jika kau hanya kurang waras." Mommy mengelak.


"Itu sama saja, Mom." Dengus Alex, tapi Mommy tidak memperdulikannya.

__ADS_1


Tiara hanya menghembuskan nafasnya pelan, melihat mertua dan suaminya berdebat adalah makanannya sehari-hari.


*


*


Malam hari, seperti biasanya Alex menyuruh istrinya tidur terlebih dahulu setelah baby El baru saja terlelap. Karena nanti di waktu tengah malam bayi tampan itu akan terbangun mengajaknya untuk bergadang.


Dan sekarang Alex sedang di ruang tengah, menemui Leo yang akhir-akhir ini sering bertamu ke mansion nya. "Gue belum membicarakannya dengan Tiara," ucap Alex.


Leo hanya menghembuskan nafasnya kasar, susah sekali meminta bantuan Alex. "Jadi kapan bisa-nya?"


"Tiara sedang fokus dengan anak-anak, kasihan jika harus memikirkan pekerjaan juga." Jelas Alex. Ia tak habis pikir ada-ada saja yang di minta oleh sahabatnya itu, apalagi harus berhubungan dengan Tiara. Mana mungkin ia tega melihat istrinya harus kelelahan.


"Ck," Leo hanya berdecak kesal.


Tidak lama terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka berdua. Dan membuat mereka merasakan perasaan yang tidak enak.


"Om Alex," panggil Caca dengan tersenyum. Kemudian terlihat Rey yang berjalan di belakangnya dengan membawa dua kantong belanjaan yang cukup besar. "Om Leo juga di sini? Wah pasti tambah seru," ujarnya girang.


Sedangkan Alex dan Leo saling tatap karena masih belum mengerti yang di maksud Caca.


"Caca ingin main ps di sini," kata Rey.


Wanita hamil lima bulan itu, sampai sekarang masih saja mengidam. Dan sekarang ia ingin main ps di rumah orang lain.


"Apa kau tidak melihat, sekarang sudah jam berapa?" Alex yang melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Ini masih sore Om," jawab Caca dengan wajah memelas, berharap Alex akan mengijinkannya bermain.


Di belakang Caca Rey sedang mengatupkan tangannya, memohon kepada sahabatnya itu agar mengijinkannya. Karena jika Caca tidak mendapatkan apa yang di inginkan nya, tentu ia yang akan menerima imbasnya dengan tidak di izinkan nya tidur di kamar.


"Ck," Alex berdecak kesal melihat para sahabatnya itu. Hingga dengan berat hati ia mengizinkannya. Dan tiga lelaki tampan itu bergantian menemani Caca bermain ps hingga larut malam.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih yang mau nunggu cerita ini. Jujur sebenarnya ingin up tiap hari, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Karena masih harus bolak balik ke RS. Bahkan kerjaan di dunia nyata juga ikut berantakan. Tapi bagaimana lagi semua juga demi orang tua, karena ayah tidak mau di antar oleh saudara yang lainya. Mohon doanya saja biar lekas sembuh, dan bisa ruti up lagi. Tetima kasih 🙏


__ADS_2