DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Jujur


__ADS_3


Pagi hari mobil yang di tumpangi Tiara sudah sampai di depan gerbang sekolah Antar Bangsa.


"Tidak usah kak Tomy," cegah Tiara saat Tomy akan turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.


Tomy akhirnya mengurungkan niatnya.


"Kak Tomy pulang saja, nanti kalau sudah waktunya pulang kak Tomy baru jemput," ucap Tiara saat sudah turun dari mobil.


"Maaf Nona, tapi saya di perintahkan oleh Tuan untuk menunggu Nona sampai pulang sekolah," tuturnya.


"Huft," Tiara hanya menghembuskan nafasnya pelan, Tiara tau jika Alex sudah berbicara maka tidak ada yang berani membantah. Termasuk dirinya.


"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu," pamit Tiara.


"Ya Nona," sahut Tomy.


Saat memasuki halaman sekolah Tiara sudah melihat keberadaan Alan yang berjalan ke arahnya.


"Hai Ra," sapa Alan yang sudah berada di samping Tiara.


"Hai Alan," balas Tiara, entah kenapa perasaannya tidak enak karena kejadian di Cafe kemarin.


"Uhm ... sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan," ucap Alan.


Tiara menyanggupi permintaan Alan, mungkin sudah saatnya Alan tau tentang statusnya sekarang, agar Alan tidak tersakiti dengan hati yang tak terbalas.


Dan di sinilah sekarang, Tiara dan Alan duduk di bangku taman belakang sekolah.


"Ara," ucap Alan, tetapi lidahnya terasa keluh untuk menanyakan kepada Tiara.


Tiara yang di sampingnya menoleh ke Alan, menunggu apa yang akan di ucapkan Alan.


"Waktu kamu pergi dari Cafe kemarin, aku mendengar pria yang bersama Caca berbicara untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga." Alan menjeda kalimatnya. "A-apakah ka-kamu dan Om itu?" Alan rasanya tak mampu meneruskan kalimatnya, karena takut membayangkan jawaban Tiara yang akan benar-benar menghancurkan hatinya.


Yang di rasakan Tiara juga sama, rasanya tenggorokannya juga ikut tercekat mendengar pertanyaan Alan.


"A-Alan, se-sebenarnya aku sudah menikah," putus Tiara yang akhirnya jujur kepada Alan.


Tiara hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Alan, sedangkan Alan seketika mengarahkan pandanganya pada Tiara yang hanya bisa menunduk.


Deg.


Apa yang di takutkan Alan mulai kemarin ternyata benar-benar terjadi, apalagi masih sedikit terlihat kissmark yang di berikan Alex kemarin sore pada leher Tiara.


Sejenak suasana menjadi hening entah apa yang sendang mereka berdua pikirkan.


"Apakah aku sungguh tidak pantas untukmu?" tanya Alan yang juga akhirnya mengungkapkan perasaanya.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu Alan, sungguh ... kamu adalah teman yang baik. Hanya saja aku tidak bisa memberimu perasaan yang lebih selain sahabat," tutur Tiara dengan menatap wajah Alan.


Alan yang juga menatap Tiara, terlihat jelas Tiara mengatakannya dengan tulus.


Alan yang begitu kecewa dengan perasaanya sendiri, memilih untuk pergi dari sana.


Sedangkan Tiara hanya menatap punggung Alan yang semakin menjauh darinya.


"Sungguh ... maaf," gumam Tiara.

__ADS_1


*


*


Sore hari Caca memutuskan untuk menemui Tiara di mension nya.


"Araaaaaa," teriak Caca saat memasuki mension.


"Nona," sapa pak Tito.


Caca yang tadinya berteriak seketika terdiam, melihat raut wajah pak Tito yang ada di hadapannya. "Kenapa wajahnya seperti Tuanya," batin Caca.


"Uhm, apa Tiara nya ada?" Tanya Caca takut.


"Oh... Nona Tiara ada di kamarnya, Nona." Jawab Tito.


"Terima kasih Pak," ucap Caca dan segera berlari menaiki tangga menuju kamar sang tuan rumah yang berada di lantai dua.


Klek.


Caca langsung membuka pintu kamar Tiara, karena Caca yakin kalau suami sahabatnya itu belum pulang kerja.


"Ara," panggilnya.


Caca mengedarkan pandanganya, tapi tidak melihat sosok Tiara.


Caca memutuskan berjalan ke arah balkon kamar Tiara, dan tepat dugaannya. Tiara sedang duduk bersantai dengan menatap pemandangan yang ada di depannya.


"Ra," panggil Caca dengan menepuk bahu Tiara.


"Huh," Tiara yang terjingkat kaget.


"Ngelamun apaan sih?" tanya Caca dan mendudukkan dirinya di sebelah Tiara.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Nggak ngelamunin apa-apa," sangkalnya.


"Bohong," cetus Caca.


"Serius Ca, aku gak ngelamunin apa-apa," kekeh Tiara.


"Ck," Caca hanya berdecak sebal.


Tiara tersenyum melihat Caca yang kesal padanya.


"Tadi katanya mau cerita?" Tanya Tiara, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya ... aku lupa!" Ucap Caca yang baru sadar tujuan utamanya menemui Tiara.


Sebelum Caca datang ke mension tadi, Caca sempat menghubungi Tiara kalau ada yang mau dia ceritakan.


Flashback On


Di rumah mewah bertingkat dua, di sinilah Rey dan Caca berada.


Mama Rey yang bernama Mona itu duduk di depannya dengan melipat tangannya di depan perut.


"Apa ada yang ingin kalian jelaskan?" Tanya Mama Mona.


Caca hanya meremas kedua tangannya yang saling bertautan, dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mah ... Caca tidak ada hubungan apapun dengan Rey," jelas Rey.


"Benarkah?" Tanya Mama penuh selidik.


Rey dan Caca kompak menganggukkan kepala.


Sebenarnya Rey waktu itu kabur, setelah Mama Mona mengajaknya bertemu dengan salah satu temanya yang mempunyai anak perempuan untuk di jodohkan.


Tapi Rey menolaknya, dan pergi meninggalkan rumah.


"Huft," Mama menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arah Caca. "Nak siapa nama kamu? Dan bagaimana kamu bisa mengenal Rey?" Tanya Mama lembut.


Caca kemudian menaikkan pandanganya, "Uncle, tetangga di apartemen Caca, Tante ...." jawabnya lirih.


Mama kemudian menatap Rey yang juga menatapnya. "Rey, Mama sudah tua. Mama ingin segera kamu menikah, karena Mama takut jika sewaktu-waktu Mama di panggil Allah. Mama tidak bisa menyaksikan putra Mama bahagia," ucapnya sendu dengan mata yang berkaca-kaca.


Rey langsung berhambur memeluk Mama. "Ma jangan bicara seperti itu, Papa sudah pergi. Rey tidak mau Mama pergi juga," Ucapnya dengan bergetar.


Mama menepuk punggung anaknya lembut. "Rey, semua manusia pasti juga akan meninggal. Dan Papa di sana juga sudah lama menunggu Mama, Mama juga sudah merindukan Papa," tutur Mama dengan air bening yang sudah lolos dari matanya.


Caca yang mendengar obrolan anak dan ibu itu juga ikut terharu.


"Mah ...." Lirih Rey.


"Kamu juga seharusnya meneruskan usaha Papa, Mama sudah ingin menikmati hari tua Mama," ujarnya.


Papa Rey mempunyai beberapa pabrik yang bergerak dalam bidang makanan, dan mempunyai beberapa cabang di beberapa kota.


Rey kemudian melepas pelukannya dan menatap dalam manik mata mamanya.


kemudian kembali duduk di sebelah Caca, Rey memejamkan matanya memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Sekelebat ide muncul di otaknya, Rey seketika membuka matanya dan menoleh ke arah Caca kemudian menggenggam tangannya.


Caca sontak mengarahkan pandanganya pada Rey, mata Caca mengisyaratkan. "Kenapa? Ada apa?"


Rey menarik nafasnya dalam-dalam untuk melegakan dadanya. "Mah ... Rey akan menikah dengan Caca tapi sementara tunangan dulu karena Caca masih sekolah," ujarnya.


Mata Caca seketika membulat sempurna mendengar ucapan Rey, "Uncle aku ti ... umm," belum selesai Caca berbicara Rey sudah membungkam mulut Caca dengan tangannya.


"Sudah setuju saja, nanti gue bantu untuk dapetin cowok incaran lo," bisik Rey.


Sontak yang terlintas di pikiran Caca 'Alan' .


Dengan seketika Caca menganggukkan kepalanya.


Rey melepaskan tangannya setelah mendapatkan persetujuan dari Caca.


Mama masih melihat interaksi kedua manusia yang sedikit mencurigakan di hadapannya tapi ada juga terselip rasa bahagia. "Benarkah?" Tanya Mama memastikan.


Rey dan Caca menoleh bersamaan ke arah Mama dan kemudian mengangguk bersama dengan senyum yang mengembang di sudut bibir masing-masing.


Mama yang melihatnya juga ikut bahagia dan berhambur memeluk mereka berdua.


Flashback Off


"Ra, aku harus bagaimana?" Ucapnya lesu


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn😊


__ADS_2