
Alex tidak bisa fokus dalam pekerjaannya, setelah tadi siang Tiara menghubunginya untuk meminta izin pergi membeli buku.
Sebenarnya Alex tidak masalah jika Tiara membeli buku dengan Caca. Yang jadi masalah adalah karena adanya Alan yang ikut serta.
Hingga akhirnya Alex memanggil Riko dan Sheryl ke ruangannya.
"Riko saya mau pergi setelah ini, jika ada berkas yang perlu saya tanda tangani kirim saja nanti ke mension. Saya ada urusan penting, dan untuk pekerjaan saya selanjutnya kerjakan dengan Sheryl." Ucapnya tegas.
"Ba--"
Belum juga kedua orang itu menjawab, Alex sudah mengambil jas yang tersampir di kursi kebesarannya dan pergi dari sana.
Sheryl melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Masih jam 14.40 Bos sudah pulang, pasti bakalan lembur lagi. Gagal kencan dong ...." Gumamnya, tapi masih di dengar Riko.
Sheryl kemudian menoleh ke arah Riko. "Pak Ri--"
"Tidak ada negosiasi, kerjakan saja. Jika kau tidak mau akan ku turunkan jabatan mu menjadi office girl," ucapnya datar dan segera melenggang pergi dari ruangan Alex.
"Ish ... punya Bos yang lagi bucin sukanya kabur melulu dari kantor. Asistennya juga ... jomblo akut, makanya tidak tau rasanya gimana pacaran pas lagi sayang-sayangnya." Gerutu Sheryl seraya keluar dari ruangan Alex.
*
*
Sedangkan Alex, kini dirinya sudah berada di pusat perbelanjaan yang Tiara sebutkan tadi waktu meminta izin.
Alex segera menuju lantai 2 di mana toko buku berada. Alex mengedarkan pandanganya saat memasuki toko buku, mencari keberadaan istrinya berada.
Hingga pandangan Alex tertuju pada siswi sekolah, yang kesusahan mengambil buku karena berada di rak paling atas.
Dengan cepat Alex menghampirinya, dan membatu mengambilkan buku untuknya.
Hingga istrinya menyadari keberadaan Alex. Tapi akhirnya ... Tiara tidak bisa memilih dengan bebas buku yang dia inginkan, karena Alex yang selalu menempel padanya.
"Ara sudah belum?" Tanya Caca yang menghampiri Tiara. "Loh ... Om, kok bisa di sini?" Tanya Caca heran.
"Iya, sudah." Jawab Tiara.
"Ya bisa, kan punya kaki." Jawab Alex, seraya melepaskan pelukannya pada Tiara.
Caca hanya memutar bola matanya malas, mendengar jawaban Alex. Sedangkan di sisi lain, ada seseorang yang mengepalkan tangan menahan panas hatinya. Melihat kemesraan Alex dan Tiara.
"Uhm ... apakah kalian sudah selesai?" Tanya Alan yang baru saja datang.
"Iya sudah," jawab Caca dengan tersenyum. "Apakah kamu juga sudah?" Tanya Caca balik.
"Hmm ...." Jawab Alan dengan mengangkat tangan kananya yang memegang buku.
"Ya sudah kalau begitu kita ke kasir," ajak Tiara.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Alex, Tiara dan Caca mampir ke food court. Sedangkan Alan pamit pulang dengan alasan banyak mendapatkan PR sekolah yang harus dia kerjakan.
"Ca ... jangan makan sambel banyak-banyak, nanti kalau sakit perut gimana?" Omel Tiara, saat melihat Caca melahap sambal ayam geprek yang sangat pedas. Bahkan kening Caca sudah di banjiri keringat dan bibir yang sudah merah merona.
"Sshh, **-tenang saja Ara. Masih ok kok," sahut Caca. Yang sesekali mendesis saat sambal yang dia makan seperti membakar mulutnya.
Sedangkan Alex hanya menggelengkan kepala, melihat Caca melahap potongan ayam crispy yang di balur sambal pedas itu.
Tiara dan Alex hanya memesan minum, karena Tiara ingin makan bersama di mension bersama Mommy dan Papa.
Tiara mengarahkan pandanganya pada Alex. "Om, apa di kantor sedang tidak ada pekerjaan? Sampai bisa pulang sore?" Tanya Tiara. Membiarkan Caca menyelesaikan makanya.
Alex yang duduk di sampingnya, seketika menoleh ke arah Tiara. "Tidak ada, semuanya sudah beres. Makanya aku bisa pulang sore," elaknya.
Mana mungkin Alex mengakui kalau dirinya cemburu karena ada Alan yang juga ikut membeli buku.
"Oh ya ... Om, Kak Tomy ada di mobil sendirian. Bagaimana kalau di suruh datang kesini, kasihan." Ucap Tiara yang baru ingat keberadaan Tomy.
__ADS_1
"Tomy tadi sudah ku suruh pulang"
"Huh ...."
Alex menatap dalam mata Tiara. "Kenapa semua orang kau panggil 'kak' sedangkan padaku panggilan mu masih sama." Protes Alex.
"A-aku." Tiba-tiba Tiara merasa gugup karena Alex yang menatapnya lekat, karena dirinya juga baru menyadari.
"Om, memangnya mau di panggil apa? Apa mau di panggil Oppa!" sela Caca, kemudian tergelak.
Alex menatap Caca tajam. "Apa aku ini terlihat kakek-kakek?"
"Uhuk uhuk uhuk," sontak saja Caca tersedak makanannya. "Om, Oppa itu artinya kakak. Dalam bahasa Korea." Jelas Caca, setelah reda tersedak nya.
Alex hanya memutar bola matanya, lalu kembali menatap Tiara.
"Uhm ... bagaimana kalau dengan 'Mas' saja," usul Tiara dengan pipi yang sedikit merona.
Byurrrr
Seketika Caca menyemburkan minuman yang ada di mulutnya, saat mendengarkan ucapan Tiara. Sepasang suami istri itu langsung menoleh ke arahnya.
Caca dapat melihat Alex lagi-lagi menatapnya tajam. "Kenapa?" Tanya Alex dingin.
"Ng-nggak Om," sahut Caca dengan tersenyum kaku seraya mengelap mulutnya yang belepotan air dengan tangannya. "Ya ampun ... ternyata Tiara sudah tergila-gila beneran. batinnya.
Setelah selesai Caca menghabiskan makanannya, mereka bertiga akhirnya pergi dari sana. Alex dan Tiara kembali ke mension, sedangkan Caca kembali ke apartemen.
Malam hari.
" Uncle aku besok di ajak Alan pergi ke Cafe," ucap Caca pada Rey. Setelah tadi Alan menghubunginya.
Rey pergi ke apartemen Caca, karena tadi Mama Mona menyuruhnya mangantar makanan yang ia masak pada Caca.
"Ck," Rey hanya berdecak mendengar itu. "Dia cuma ngajak lo pergi ke Cafe, bukan ngajak lo pergi beli berlian." Ejek Rey.
*
*
Besoknya.
Tet.
Tet.
Tet.
Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa siswi berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tiara kebetulan berpapasan dengan Alan yang akan menuju parkiran sekolah. "Mau langsung pulang?" Tanya Alan dengan senyum manisnya.
"Hmm," jawab Tiara. "Sudah di tunggu Kak Tomy."
Alan menganggukkan kepalanya. "Uhm ... aku soalnya mau ke Cafe dengan Caca setelah ini."
"Mungkin, lain waktu saja aku ikut." Ucap Tiara.
"Baiklah," sahut Alan.
Mereka akhirnya berpisah.
Tidak lama mobil yang di kemudikan Tomy, memasuki halaman mension. "Sayang sudah pulang!" Tanya Mommy, saat Tiara hendak naik ke tangga.
"Iya Mom." Sahut Tiara yang mengurungkan langkahnya, dan menghampiri Mommy untuk mencium punggung tangannya.
"Di mana Papa Mom?" Tanya Tiara, saat tidak melihat keberadaan Papa Nathan.
__ADS_1
"Masih tidur," jawab Mommy. "Ya sudah kamu bersih-bersih dulu, setelah itu kamu makan!" Ujar Mommy dengan menepuk pelan punggung Tiara.
"Ya sudah Mom, Tiara ke kamar dulu." Pamit Tiara yang di angguki Mommy.
30 menit berlalu, Tiara baru keluar dari bathroom. Setelah tadi memutuskan berendam.
Saat Tiara selesai mengenakan pakaiannya, ponsel yang berada di atas nakas berbunyi, ada notif pesan yang masuk. Ketika Tiara membukanya, sontak matanya membulat. Pesan dari Caca, yang mengatakan bahwa dirinya terlibat kecelakaan di jalan xxx.
Tubuh Tiara rasanya melemas seketika. Dengan segera Tiara berlari keluar kamar.
"Sayang mau kemana?" tanya Mommy.
Tetapi tidak ada sahutan, Tiara terus berlari ke luar mension. "Di mana Pak Maman dan Kak Tomy?" tanya Tiara pada scurity, saat tidak melihat keberadaan mereka.
"Lagi ke dapur Non, bikin Kopi."
Tiara yang panik meneruskan langkahnya keluar gerbang mension, dan mencegat taksi yang lewat.
"Non ... mau kemana!" teriak scurity. Tapi Tiara sudah masuk dalam taksi yang segera membawanya pergi dari sana.
"Pak ke jalan xxx," ucap Tiara kepada supir taksi.
"Baik Non."
Hingga beberapa saat, taksi yang di tumpangi Tiara sampai di tujuan. "Ini Pak."
Setelah membayar, Tiara segera turun dari taksi untuk memastikan keadaan Caca. Tiara mengedarkan pandanganya. "Kok sepi? Di mana Caca?" Monolognya.
Tiara melangkahkan kakinya untuk mencari Caca, tapi tetap tidak ketemu. Di sana hanya ada pertokoan bekas pakai yang tidak terawat.
Tetapi tidak lama, Tiara melihat beberapa laki-laki di sana. "Tuan, apakah tadi terjadi kecelakaan di sini?" Tiara memutuskan bertanya.
Meskipun Tiara sebenarnya takut, karena melihat perawakan 5 orang itu seperti preman.
Tapi orang-orang itu hanya tersenyum penuh arti, Tiara yang merasa sedikit curiga segera pergi dari sana. Saat Tiara baru berbalik berniat untuk pergi.
Ada yang membekap mulutnya dengan saputangan.
"Ummpphh." Tiara meronta, agar bisa melepaskan diri. Tapi yang terjadi, semakin lama pandangannya semakin menggelap dan tubuhnya yang lunglai.
Laki-laki itu segera menghubungi seseorang lewat panggilan telefon.
"Halo Bos, tugas sudah beres." Lapornya.
("")
"Baik Bos."
Tut.
"Bos menyuruh kita membawanya ke tempat eksekusi," ujarnya kepada salah satu rekanya.
*
*
Tiara mengerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya. Yang Tiara rasakan sekarang kepalanya sedikit pening. Tiara melihat keadaanya sekarang dalam posisi tangan dan kaki terikat.
"Di mana ini?" Gumamnya. Melihat sekelilingnya hanya ruangan kosong berukuran 4x4 m. Tidak lama.
Klek.
"Caca." Teriak Tiara, saat ada seseorang yang membawa Caca sedang tak sadarkan diri dalam posisi terikat seperti dirinya. Dan menggeletakkan di samping Tiara.
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn.
__ADS_1