
Malam hari semua dekor untuk acara besok telah terselesaikan. Tidak salah Mommy memilih WO ternama untuk menangani acara menantunya itu, dan hasilnya memang memuaskan.
Hingga pukul 22.00 semua orang sudah bersantai, dan berkumpul di ruang tengah panti.
"Alex, apa semua tamu undangan sudah kamu pastikan sudah mendapat undangannya?" tanya Papa Nathan.
"Sudah Pa, Riko sudah mengurus semuanya." Alex memang mengundang semua relasinya. Karena waktu di acara pernikahannya hanya beberapa petinggi saja yang dia undang. Oleh sebab itu sekarang Alex mengundang semua karyawan dan relasinya.
"Ya sudah kalau begitu, berarti semuanya sudah siap." Ujar Mommy merasa lega, dan berharap acara besok akan berjalan dengan lancar seperti harapan semua orang.
Setelah itu semua orang, pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena besok pagi-pagi semuanya juga harus bersiap.
Klek.
Rey yang berada di dalam kamar, terkejut ketika mendapati istrinya masuk ke dalam kamar yang ia tempati. Pasalnya semenjak hamil Caca belum pernah tidur sekamar dengannya.
"Sayang." Rey segera menghampiri istrinya yang sudah mengenakan piyama keropi kesukaannya. "Kamu mau tidur disini?" tanya Rey. Tapi di dalam lubuk hatinya, berharap istrinya itu akan memberikan jawaban 'iya.'
"Iya," jawab Caca dengan raut wajah bingung. Bukankah mereka suami istri, apa ada yang salah jika dirinya tidur dengan suaminya.
Senyuman lebar seketika terbit di bibir Rey. Ia tak menyangka istrinya mau tidur dengannya. Tadi, Rey memang masuk ke kamar lebih dulu. Karena dia berfikir akan seperti biasanya tidur sendiri, sedangkan Caca tadi lebih memilih ke dapur terlebih dulu untuk mencari makanan yang dapat ia makan.
"Apa kamu sekarang tidak mual?" Rey takut jika tiba-tiba nanti saat baru saja memeluk ketika istrinya tidur, Caca tiba-tiba mual.
Sekarang Caca baru mengerti mengapa tadi suaminya bertanya seperti itu. Tapi Caca sendiri juga merasa aneh, karena saat berdekatan dengan suaminya seperti sekarang ini, perutnya tidak bergejolak seperti biasanya.
Caca menggelengkan kepalanya. "Tidak Uncle," jawab Caca dengan tersenyum.
Seketika otak kotor Rey berkelana. Mungkin inilah saat yang tepat untuk menjenguk anaknya, setelah satu bulan tidak bersahabat dengannya.
Rey lebih mendekat ke arah istrinya, dengan tersenyum penuh arti. Tangannya pun segera menarik pinggang Caca hingga menghapus jarak di antara mereka. "Apa kamu tidak rindu dengan olahraga panas kita," bisik Rey di dekat telinga Caca. Dan Rey sengaja menggigit kecil telinga istrinya, yang membuat Caca seketika meremang.
Rey, kemudian melihat wajah istrinya yang bersemu merah. Meskipun Caca tidak menjawab pertanyaannya, tapi dari gelagatnya, Rey tau bahwa istrinya juga menginginkannya.
Langsung saja Rey mengangkat tubuh Caca dan dengan perlahan membaringkannya di atas ranjang. "Uncle apa tidak apa-apa? Kata dokter waktu itu --"
__ADS_1
"Tidak apa-apa jika kita melakukanya dengan perlahan," ujar Rey. Ia tahu istrinya itu juga khawatir dengan keadaan anak mereka. "Bahkan aku akan melakukanya sehalus kentut yang tak bersuara."
"Huh." Caca langsung membulatkan matanya mendengar ucapan suaminya. Apa maksudnya, antara bercinta dan kentut.
Rey bisa melihat wajah istrinya yang kebingungan mencerna ucapannya, tapi ia tak peduli itu dan segera melaksanakan aksinya. Sebelum istrinya itu tiba-tiba berubah pikiran.
Entah bagaimana Rey melakukanya, hingga sekarang mereka berdua sama-sama polos. Dahi Caca sudah di penuhi sedikit peluh karena rangs*ngan yang di berikan suaminya sebelum ke permainan inti mereka. Nafas keduanya sudah memburu, terselimuti oleh kabut gairah.
"Unghhh," lenguh Caca ketika suaminya memulai penyatuannya. Meskipun ini bukan yang pertama kali baginya, tapi tetap saja terasa penuh dan sesak.
Hingga malam itu menjadi malam yang begitu panas bagi Caca dan Rey. Dan meskipun Rey melakukanya dengan hati-hati, nyatanya ia melakukanya hingga empat kali.
*
*
Pagi harinya semua orang sudah terbangun, mereka antusias untuk merayakan tujuh bulanan Tiara.
Dan sekarang Caca sedang menemani Tiara di dalam kamar, menunggu perias yang akan mendandaninya. Karena Mommy ingin Tiara merayakan tujuh bulanannya dengan adat jawa.
Klek.
"Sayang, sebentar lagi periasnya datang. Hanya saja dia sedang terjebak macet," ujar Mommy. Mommy tadi sudah menanyakan pada orang yang menangani acara Tiara, dan katanya sebentar lagi akan datang karena sempat terjebak macet.
Dan benar saja tidak lama ada seseorang yang masuk dalam kamar Tiara. "Holla ... apa ini kamarnya?" tanya-nya dengan manja.
Mulut ketiga wanita itu terperangah melihat seseorang yang baru saja datang. Tiara dan Caca reflek dengan segera mengelus perutnya.
"Ya ampun kenapa tulang lunak begini!" Pekik Mommy.
"Mom, apa tidak salah?" Bisik Caca pada Mommy.
"Entahlah."
"Hey, kenapa kalian menatap ekke seperti itu?" tanya-nya dengan raut wajah merajuk.
__ADS_1
Bagaimana mereka bertiga tidak terperangah, menatap tulang lunak di depannya. Dengan pakaian kebaya berwarna merah dan kain batik yang melilit sebagai bawahannya. Dan jangan lupakan konde yang lumayan besar menempel di bagian kepala belakangnya.
"Maaf saya terlambat," ucap seseorang yang juga berpakaian sama dengan tulang lunak. Tapi yang sekarang adalah wanita asli, yang seumuran dengan Mommy.
"Oh tidak apa-apa, silahkan masuk." Mommy mempersilahkan masuk.
Dua orang itu kemudian masuk setelah Mommy mempersilahkan. "Kenalkan saya Ika yang akan merias calon ibu-nya," Ika memperkenalkan diri. "Dan ini adalah Laura, asisten saya."
Laura kemudian tersenyum manis kepada semua orang.
"Sudah kuduga namanya," gumam Mommy sambil tersenyum.
Caca yang berada di samping Mommy penasaran apa yang di maksud, karena Caca sempat mendengarnya. "Apa yang Mommy maksud?" Bisik Caca.
Mommy langsung mendekat ke arah Caca. "Lanang ora, wedok ora." Jawab Mommy yang juga ikut berbisik.
Alis Caca saling bertautan, karena tidak mengerti apa yang di maksud Mommy. "Mom, Caca tidak mengerti apa yang Mommy bicarakan."
"Ck." Mommy hanya berdecak kesal dengan putrinya yang satu itu. Sampai sekarang masih saja tidak mengerti Bahasa Jawa. "Maksudnya ... laki-laki tidak, perempuan juga tidak." Jelas Mommy dengan berbisik.
Setelah tau apa yang di maksud Mommy tawa Caca seketika pecah memenuhi kamar Tiara. Kedua penata rias dan Tiara merasa heran kenapa Caca tiba-tiba saja tertawa, sedangkan Mommy hanya tersenyum kaku.
"Ehm," dehem Mommy untuk mengalihkan perhatian. Karena Caca masih saja tidak mau berhenti tertawa. "Saya Jessy, saya ibu dari mereka. Dan yang akan di rias adalah Tiara," Mommy memperkenalkan diri dan menunjukkan Tiara yang akan di rias. Kemudian Mommy menoleh ke arah Caca yang sekarang wajahnya memerah karena terlalu banyak tertawa dan baru saja berhenti. "Ini juga putri saya, juga sedang mengandung tapi usia kandungannya masih kecil."
"Wah selamat ya, Bu. Putrinya sedang hamil dalam waktu yang bersamaan," ucap Bu Ika yang memberi selamat.
"Terima kasih," jawab Mommy.
*
*
Maaf ya teman-teman beberapa hari nggak up. Karena harus bantu tetangga yang punya hajatan.
Waktu kemarin mau maksain buat nulis, tapi ketika dengar dangdut koplo di puter. Tiba-tiba ambyar gitu aja 😁🙏.
__ADS_1
Terima kasih buat yang masih mau nunggu di ceritaku. Semoga sehat selalu. Amin .