
Dua bulan berlalu.
Kandungan Tiara sekarang sudah menginjak sembilan bulan, dan hanya tinggal menghitung hari saja untuk menantikan buah hati mereka lahir ke dunia. Untuk jenis kel*minya, ternyata Tiara dan Alex sepakat tidak ingin mengetahuinya. Karena bagi mereka laki-laki ataupun perempuan, itu sama saja. Sama-sama anugrah yang di berikan oleh Tuhan untuk mereka.
"Sayang, maafkan Mommy. Mommy harus pulang ke Bogor," ucap Mommy dengan berat hati. Pasalnya ada salah satu teman Mommy yang meninggal di sana. Padahal sebenarnya Mommy sangat ingin mendampingi menantunya itu melahirkan. Meskipun masih kurang beberapa hari lagi dari hpl Tiara, tapi terkadang prediksi itu maju kadang juga mundur.
"Tidak apa-apa Mom, lagi pula masih kurang beberapa hari lagi Tiara akan melahirkan. Pasti Mommy akan lebih dulu kembali," Tiara mencoba meyakinkan mertuanya yang masih terlihat berat hati untuk meninggalkannya.
"Iya Mom, kata Tiara itu benar." Sela Papa Nathan. Sedari tadi melihat adegan drama istrinya itu yang tak ada ujungnya.
Akhirnya Mommy dan Papa Nathan pergi untuk menuju Bogor, setelah drama kecil itu berakhir.
Seperti rutinitas Tiara akhir-akhir ini, setiap pagi menyiram bunga anggrek yang di tanamnya bersama Mommy beberapa minggu lalu. Karena kandungannya yang mulai membesar, Alex menyuruhnya untuk di rumah saja. Dan Zio berangkat sekolah dan pulang di antar jemput oleh Tomy.
Awalnya Zio sempat merajuk, karena sudah terbiasa Tiara yang akan mengantarnya sekolah. Tapi Alex memberi pengertian bahwa adik bayi yang berada di perut Maminya tumbuh semakin berat, kasihan jika Maminya harus kelelahan.
Setelah selesai menyiram bunga Tiara berniat, untuk kembali ke kamarnya. Karena kegiatan ringan yang ia lakukan sudah membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Baru saja kakinya akan menapaki tangga, suara Pak Tito terdengar menginterupsi.
"Nona, di depan ada tamu Tuan Alex." Lapor Pak Tito yang tadi dirinya mendapat laporan dari scurity depan.
Tiara menautkan kedua alisnya, siapa yang bertamu sepagi ini. Bahkan kalau itu tamu suaminya seharusnya ia sudah tau kalau Alex sudah berada di kantor. "Siapa, Pak?"
"Kata scurity depan namanya Rafael, Nona." jelas Pak Tito.
Tiara semakin terheran, entahlah ia merasa kalau sikap rekan bisnis suaminya itu tak biasa. Karena beberapakali ia terus saja tidak sengaja bertemu Rafael. Dan itu pas dirinya selalu tak bersama suaminya. "Ya sudah, Pak. Di suruh masuk saja, sekalian tolong di buatkan minum."
Setelah mengatakan itu Tiara melanjutkan langkahnya ke kamar.
Rafael sudah menunggu di ruang tamu mansion setelah tadi Pak Tito mempersilahkannya.
"Tuan Rafael," suara bariton menginterupsinya.
Rafael seketika menoleh ke arah sumber suara. "Oh Tuan Alex." Rafael segera berdiri dan mengulurkan tangannya saat Alex mendekat ke arahnya.
Sedangkan di dalam kamar, Tiara mondar mandir dengan gelisah. "Apakah Mas Alex sudah datang?" gumamnya.
__ADS_1
Karena beberapa saat lalu Tiara memutuskan untuk menghubungi suaminya. Dan Alex sendiri yang masih berada di jalan menuju kantornya segera putar balik setelah mendapat kabar dari istrinya.
30 menit berlalu.
Klek.
Tiara segera menoleh ketika pintu kamarnya terbuka dari luar. Ada perasaan lega saat tau kalau yang berada di ambang pintu adalah suaminya.
"Mas." Tiara segera menghampiri Alex. "Bagaimana?" tanya-nya sedikit khawatir.
Alex menyunggingkan bibirnya. "Tidak apa-apa dia sudah pulang," jawab Alex.
"Benarkah?"
"Hm ...." Alex menganggukkan kepalanya.
Tiara sendiri akhirnya bisa bernafas lega mendengar Rafael sudah pulang dari mansion. Meskipun bisa di pastikan Rafael tidak akan berbuat macam-macam di dalam mansion, tapi tetap saja Tiara takut terjadi sesuatu.
Alex segera mengajak Tiara duduk di ranjang. "Sudah, kamu tidak usah khawatir. Dia tadi hanya mampir karena kebetulan lewat," Alex menggenggam tangan istrinya untuk berusaha meyakinkan. Alex tidak mau istrinya itu berfikiran yang lain-lain, apalagi mengingat sebentar lagi Tiara akan melahirkan buah cinta mereka.
"Ssttt, kamu tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh." Alex mencakup wajah Tiara dan memberikan sedikit kecupan di bibir istrinya.
Tiara hanya menghembuskan nafasnya kasar. Entahlah kenapa dirinya selalu berfikiran buruk tentang Rafael. Dulu sebenarnya Tiara tidak menyadari tentang keanehan itu, tapi lambat laun Tiara mulai merasa aneh. "Ya sudah, aku mau berendam saja." Tiara memutuskan untuk melanjutkan tujuannya tadi yang tertunda. Karena suaminya itu selalu saja mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja.'
"Tunggu," Alex mencekal tangan istrinya yang beranjak dari ranjang.
"Ada apa?" Heran Tiara.
"Sayang, apa kamu tidak ingin berkeringat di pagi hari?" tanya Alex.
"Aku tadi sudah berkeringat, Mas. Makanya aku mau mandi sekarang," ujar Tiara. Mengingat tadi dirinya sudah berkeringat, meskipun sekarang sudah tidak lagi.
"Bukan keringat yang itu," sanggah Alex dengan tersenyum penuh arti.
Tiara menautkan kedua alisnya. Hingga beberapa saat ia baru mengetahui maksud dari suaminya. "M-mas harus kembali ke kantor kan," ucap Tiara gugup sembari melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
__ADS_1
"No, aku memutuskan untuk di rumah saja. Karena aku takut istriku ini akan merindukanku lagi." Lagi-lagi Alex mencekal tangan Tiara yang tadi sempat terlepas, kemudian sedikit menariknya hingga Tiara duduk di pangkuannya. "Aku ingin membuat jalan tol," bisik nya tepat di telinga istrinya.
Tiara yang tadi sempat menegang seketika bingung dengan ucapan suaminya. Buat apa Alex ingin membuat jalan tol, bukankah itu tugas pemerintah. "Mas, buat apa membuat jalan tol?"
"Agar anak kita bebas hambatan, ketika ia ingin keluar." Alex berujar dengan tangannya membelai perut istrinya yang membesar. Ia lebih semangat menjenguk anaknya, apalagi terakhir pemeriksaan kandungan kemarin Dokter menyarankan agar Alex sering menjenguknya. "Apa kamu lupa, Dokter yang menyuruhnya." Alex mengingatkan kembali.
Sedangan Tiara hanya memutar bola matanya malas setelah mendengar penuturan suaminya. Karena sebelum Dokter menyarankan 'itu' Alex setiap hari juga sudah menjenguk anaknya.
"Sayang," Alex yang mulai menciumi tengkuk Tiara.
Tiara memejamkan mata saat Alex mulai melancarkan aksinya. Merasakan darahnya berdesir menciptakan hawa panas. "Mas, nanti Kak Riko menunggumu di kantor!!" Tiara berujar dengan sedikit tertahan.
"Biarkan, ada Riko yang bisa mengurus semuanya." Alex sendiri sudah terlanjur On. Dan dengan segera ia membaringkan istrinya di ranjang untuk segera memulai pertempurannya di pagi hari. Hingga di kamar itu hanya ada hawa panas dan suara erangan yang mereka berdua ciptakan.
*
*
Satu jam berlalu akhirnya pergumulan mereka selesai, di tandai Tiara yang sekarang terlelap di pelukan Alex karena kelelahan.
Sedangkan Alex sendiri bersandar dengan tumpukan bantal yang menyangga kepalanya. Pandanganya menerawang jauh. Memikirkan sesuatu hal yang tak ingin ia bagi dengan istrinya.
Cup.
Alex mencium pucuk kepala Tiara. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucapnya dengan yakin.
*
*
*
*
Selamat malam minggu. Semoga sehat selalu, dan terus dukung novel ini ya ....
__ADS_1
Vote, like dan komen. Terima kasih.