DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Awal Mulai


__ADS_3

Di tempat lain, Pak Teguh yang masih di rawat sudah mulai membaik. Andien dengan sabar merawat sang Papa bahkan seperti sekarang Anton juga sedang menemaninya.


Karena pernikahan mereka yang mendadak masih membuat mereka berdua canggung. "Uhm ... Mas Anton, bagaimana kalau acara resepsinya kita undur saja? Biar nunggu Papa benar-benar pulih?" tanyanya.


Anton yang berada di sampingnya langsung menoleh ke Andien. "Terserah kamu saja gimana baiknya, lagi pula kasian juga Papa kalau tidak bisa menikmatinya," jawabnya. Setelah menikah Anton sudah merubah panggilannya untuk orang tua Andien.


Andien hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis, Andien juga sudah mengatakan kepada Anton. Karena pernikahan mereka di sebabkan oleh perjodohan maka di antara mereka belum ada cinta, mungkin lebih tepatnya Andien yang belum bisa untuk jatuh cinta. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk sama-sama belajar menumbuhkan rasa itu, karena bagaimana pun ikatan pernikahan tidak boleh di permainkan.


*


*


Saat malam hari Tiara yang masih berada di rumah sakit di temani Mommy Jessy dan Alex untuk menjaganya, sebenarnya Alex hanya terpaksa karena Mommy yang memaksanya.


Tiara sudah menghubungi Caca untuk memberitahu keadaanya sekarang, Caca pun tak kalah paniknya mendengar kabar sahabatnya. Dengan segera dia menuju rumah sakit.


Mommy Jessy melihat makanan Tiara masih utuh tidak di makannya berinisiatif untuk menyuapinya. "Sayang makanannya tidak di makan? Mommy suapi ya!" tawar Mommy.


Tiara yang mendengar Mommy ingin menyuapinya langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Mom, Tiara hanya belum lapar." elaknya, padahal Tiara sedang lapar hanya saja mulutnya terasa pahit. Apalagi melihat masakan rumah sakit rasanya menambah untuk malas memakannya.


Alex yang mendengar Tiara juga memanggil Mommy sama sepertinya membuatnya semakin geram, apalagi melihat sikapnya yang sok lemah lembut di hadapan Mommy.


Mommy yang tahu kalau masakan rumah sakit memang tidak enak langsung menoleh ke Alex. "Alex tolong belikan makanan di luar yah! Belikan sup ikan saja," perintah Mommy.


Alex yang mendengarnya tidak menggubrisnya, emangnya siapa Tiara hingga harus membelikan makanan untuknya.


Mommy yang kesal dengan sikap Alex yang tidak mendengarnya sontak saja langsung menjewer telinga Alex.


"Aduh, aduh, Mom, lepaskan sakit, sakit, sakit," teriak Alex saat telinganya mendapatkan capitan panas dari Mommy.


"Makanya cepat sana segera pergi carikan Tiara makanan." Titahnya lagi, dan melepaskan capitan nya.


"Mommy itukan sudah ada makanan, salah sendiri tidak mau memakannya." ujarnya. Lalu Alex menatap Tiara dengan tajam. "Heh! Kalau tidak mau makan jangan menyusahkan orang," bentaknya.


Tiara hanya menundukkan kepala mendengar bentakan Alex, sedangkan Mommy mendelikkan matanya melihat sikap Alex kepada Tiara.


"Alex Pratama," geram Mommy.


Sedangkan Alex tau kalau Mommy sudah menyebut namanya dengan lengkap, maka Mommy-nya benar-benar kesal terhadapnya.


Dengan seribu langkah Alex melarikan diri, tapi bru Alex akan membuka pintu.


Brak.


Pintu terdorong dari luar dengan kerasnya, membuat pintu itu membentur kening Alex terbentur pintu.

__ADS_1


"****," umpatnya, seraya mengusap keningnya yang memerah.


Sedangkan gadis yang membuka pintu itu langsung berlari ke arah Tiara dan memeluknya sambil menangis. "Ara kenapa kamu bisa jadi begini, hu hu hu." tanyanya sambil sesenggukan. Ternyata yang membuat kening Alex di cium pintu tadi adalah Caca.


"Sudah, tidak apa-apa. Tadi aku hanya pingsan." kata Tiara untuk menenangkan Caca.


"Tapi aku khawatir Ra." ucap Caca.


"Iya sudahlah jangan menangis lagi, kamu lihat kan aku tidak apa-apa." ujar Tiara.


Sangking khawatirnya Caca, dia bahkan tidak menyadari keberadaan orang lain. Apalagi laki-laki yang menatapnya dengan tajam karena ketiban sial akibat Caca.


"He! Apakah kamu tidak punya otak sehingga masuk ke dalam ruangan tidak mengetuk pintu." teriak Alex kepada Caca, karena Caca tidak mau meminta maaf setelah membuatnya terluka.


"Huh." Caca yang terkejut langsung melepaskan pelukannya pada Tiara. Dia menoleh ke sumber suara, ternyata ada laki-laki di dekat pintu dan wanita paruh baya di dekat sofa.


"Maaf Om, tadi saya tidak lihat kalau ada orang." ucapnya polos sambil tersenyum manis.


Alex membulatkan matanya sempurna, yang lagi-lagi di panggil Om oleh bocah ingusan di depannya itu. Sedangkan Tiara tidak berani berkomentar, berbeda dengan Mommy yang mengulum senyumnya.


"Apakah aku menikah dengan Tante mu! Sehingga kamu memanggilku Om?" tanyanya sinis.


"Maaf Om tapi saya tidak mempunyai Tante, kalau tidak di panggil Om harus di panggil apa? Kelihatanya umur Om sedikit lebih tua jika di panggil kakak." ucap Caca tanpa rasa bersalah.


"Ha ha ha ha ha."


Alex yang semakin meradang hanya mengepalkan tangannya kemudian menghembuskan nafasnya kasar. "Bisa gila kalo aku masih tetap berada di sini." batinnya.


Brak.


Alex keluar dengan menutup pintunya dengan keras, bahkan Tiara dan Caca terjingkat kaget. "Maaf Mommy," ucap Tiara yang tidak enak karena Caca telah membuat Alex marah.


Mommy hanya tersenyum. "It's ok sayang gak apa-apa Alex memang begitu." ucapnya lembut, seraya menghampiri Tiara dan menepuk pundaknya pelan.


Caca melihat interaksi wanita itu dengan seksama, wanita yang begitu baik. Andai saja mama nya tak meninggalkannya mungkin dirinya kini juga bisa bermanja dengan sang mama.


Mommy yang melihat Caca melamun dengan wajah sendu, sontak menghampirinya. "Hei, sayang lagi ngelamunin apa?" tanya Mommy dan mengusap pipinya lembut.


"Tidak, tidak ngelamunin apa-apa Tante." jawabnya sambil tersenyum tapi mata Caca sudah berkaca-kaca.


"Sayang siapa nama kamu? Oh ya, panggil saja Mommy. Mommy Jessy seperti Tiara." kata Mommy.


"Caca, Mommy." ucapnya sambil tersenyum lebar dan langsung memeluk Mommy, menyalurkan rasa bahagianya. Tiara yang melihatnya juga tak kuasa membendung air matanya. Tiara tau apa yang di rasakan oleh Caca.


Di luar gedung rumah sakit Alex menantikan kedatangan Riko yang tadi di perintahnya untuk membeli makanan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Riko datang dengan menenteng beberapa bungkus makanan. "Ini Tuan," ucap nya sembari memberikan bungkusan itu kepada Alex.


"Oh ya telfon manager kafe Raja, suruh dia pecat pegawai yang bernama Tiara. Kalau dia tidak mau aku akan meratakan bangunan kafe itu besok pagi." perintahnya dingin. Riko hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Unt--" Ucapan Riko bahkan terpotong oleh Alex.


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang ku suruh." sela Alex, setelah itu melenggang masuk kedalam rumah sakit.


"Apa lagi ini?" batin Riko, tapi dia tetap melaksanakan perintah Alex.


*


*


Klek.


Pintu ruangan Tiara di rawat terbuka, Alex langsung duduk di sofa. "Mom ini makanannya." Kemudian menaruhnya di atas meja.


"Ayo sayang." ajak Mommy pada Caca untuk makan bersama. setelah Mommy duduk di sofa dan membuka makanan, itu ternyata hanya 3 bungkus makanan.


"Alex apa kamu tidak makan?" tanya Mommy.


"Tidak. Tidak selera makan." jawabnya datar.


Mommy hanya menghela nafasnya pelan melihat sifat anaknya itu. Ternyata makanan yang di bawa Alex 2 sup ikan dan 1 ayam geprek. "Sayang kamu mau makan ayam geprek?" tanya Mommy. "Karena Mommy tidak bisa makan pedas," jelasnya.


Caca menganggukkan kepalanya. "Ya Mom, itu juga kesukaan Caca." Lalu melihat ke arah Alex. "Makasih ya Om, tau aja Caca suka makan pedes." ucapnya dengan tersenyum girang.


Alex hanya memutar bola matanya malas, lagi-lagi bocah ingusan ini juga ikut-ikutan memanggil Mommy. "Iya kan sama, sama mulut kamu." jawabnya.


"Emangnya kenapa mulut Caca Om?" tanya-nya bingung.


"Pedes," jawab Alex. Caca hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Setelah Mommy menuangkan sup ikan ke dalam mangkuk, Mommy menyuruh Alex memberikannya kepada Tiara. Dengan malas alex melakukanya.


"Nih ...." Sedikit kasar Alex menyerahkannya kepada Tiara. Tiara yang takut pun menerima mangkuk itu, tapi kemudian ponsel yang ada di sebelahnya berdering. Mata Tiara sedikit menyipit saat yang menghubunginya no kafe, dia baru ingat kalau lupa untuk izin hari ini.


"Halo!" Saat Tiara mengangkat telfon, tapi sepersekian detik tubuh Tiara menegang mendengar apa yang di ucapkan oleh pihak kafe. Tak sengaja mata Tiara bertatap dengan Alex yang masih di sebelahnya, dan Alex hanya tersenyum miring. kemudian Alex membungkukkan badannya agar sejajar dengan Tiara. "Ini baru di mulai," ucapnya lirih di telinga Tiara.


Alex tau berita apa yang di terima oleh Tiara barusan.


...----------------...


...Jangan lupa vote, like dan komen. terima kasih semoga sehat selalu. amin ....

__ADS_1


__ADS_2