DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Pesta


__ADS_3

Hari menjelang sore sudah waktunya bagi pelajar untuk kembali ke rumah, begitupun dengan Caca. Saat Caca sudah di dalam mobil dia berniat untuk menjemput Tiara karena mulai hari ini Tiara sudah tidak kerja lagi.


Tapi baru saja akan menginjak pedal gas mobilnya bunyi pesan masuk pada ponselnya, Saat di lihat.


💌 Ca sorry aku di jemput Mommy barusan.


Isi pesan dari Tiara.


"Hhhh." Caca hanya menghembuskan nafasnya pelan, padahal hari ini dia berencana mengajak Tiara ke mall untuk cari kaset DVD drakor kesukaannya tapi harus gagal.


Karena tidak ada kegiatan di apartemen, Caca memutuskan untuk melajukan honda jazz merah itu ke kafe tidak jauh dari apartemennya. Saat sampai di kafe Caca memilih duduk di pinggir jendela kafe menikmati pemandangan luar dan lalu lalang kendaraan.


Setelah tadi memesan lemon tea dan seblak pedas kesukaanya, tak lama pelayan membawa pesanan Caca dan menatanya di atas meja.


Baru saja Caca makan sesuap seblak pedas itu, seseorang menjulang tinggi berdiri di hadapannya. "Hai Ca," sapa nya.


Caca yang masih mengunyah seblak pedas itu mengarahkan pandangannya kepada seseorang itu, saat tau yang berdiri di depannya adalah Alan. Langsung saja.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Caca tersedak seblak yang ada di mulutnya, rasa panas terasa di tenggorokannya bahkan menjalar ke hidung. Wajah Caca yang tadinya putih sekarang menjadi merah seperti tomat yang kelewat matang.


Alan yang melihat Caca tersedak langsung memberikan minuman Caca yang ada di depannya. "Nih Ca minum dulu."


Caca pun langsung menenggak habis minumannya hingga rasa panas yang ada di tenggorokannya sedikit hilang, setelah itu. "Terima kasih Alan," ucapnya.


"It's ok." jawab Alan dan menjatuhkan bokongnya ke kursi yang ada di depan meja Caca. "Kamu biasa nongkrong ke sini?" tanya Alan.


"Nggak juga, cuma tadi mampir aja sekalian jalan pulang." jawabnya.


"Oh ya tadi di sekolah Tiara di jemput seseorang, katanya itu Mommy-nya. Bukankah Tiara yatim piatu!" Penasaran yang ada di diri Alan sudah tak lagi mampu ia pendam.


"Oh ... itu, orang yang menolong Tiara kemarin waktu dia sakit," jelasnya. Tapi tetap saja jawaban Caca tak membuatnya yakin.


"Hm," jawab Alan dengan gumaman.


*


*


Alex mengadakan meeting dadakan walaupun hari sudah menjelang malam, karena baru saja mendapat laporan dari Riko kalau ada orang yang menggelapkan dana perusahaan.


Dengan suasana tegang menyelimuti ruang meeting itu, raut wajah Alex sendiri saat ini sangat menyeramkan bagai singa kelaparan yang ingin menerkam mangsanya.


"Siapa yang berani menggelapkan dana perusahaan Ha!" bentak Alex dengan menatap nyalang, wajah para petinggi perusahaan itu. Tapi tidak ada satu pun yang angkat suara.


Brak.


Alex menggebrak meja dengan mengeraskan rahangnya. "Baik kalau tidak ada yang mengaku akan saya bongkar sendiri, jangan salahkan saya yang akan mempermalukan orang itu dan tentu saja akan di pecat secara tidak hormat masuk dalam blacklist. Padahal saya tadi akan memberikan keringanan hukuman kalau saja dia mau berani mengakuinya." Ucapnya, dengan seringai di wajahnya.


"Riko," panggilnya dengan menengadahkan tangannya, Riko yang paham pun langsung menyerahkan map yang berisi berkas yang ia bawa.

__ADS_1


"Ini Tuan," serah Riko pada Alex.


Karena sebelumnya Alex telah mengetahui informasi dari Riko tentang siapa penyeleweng dana perusahaan.


Dengan suasana hati yang liputi amarah, Alex melemparkan berkas itu di hadapan salah satu petinggi perusahaan. "Hendra apa kamu mau melakukan pembelaan!" Tanya Alex.


Sontak saja semua mata langsung tertuju pada Hendra.


Hendra adalah salah satu petinggi perusahaan yang menduduki jabatan sebagai kepala keuangan.


Dengan tangan bergetar Hendra membuka map itu, matanya membulat sempurna. Bukti kecurangannya telah terkumpul semua.


"Pak ini semua tidak benar," kilahnya membela diri.


"Benarkah, berarti kamu pikir saya yang keliru, begitu!" sinis Alex dengan senyuman miring.


"Tap-tapi ini semuanya memang tidak benar pak, saya hanya di fitnah," elaknya, tapi wajahnya sudah seperti mayat hidup pucat pasih.


"Ha, ha, ha." Alex tertawa mendengar pembelaan dari Hendra, bahkan tawanya terdengar mengerikan.


"Apa kamu pikir saya kurang kerjaan hingga saya memfitnah kamu, bahkan saya tadi sempat ingin bermurah hati untuk memberi hukuman tapi nyatanya maling tetap saja maling. Sekarang kamu saya pecat tanpa pesangon, dan rumah yang kamu tempati akan di ambil kembali oleh perusahaan serta rekening yang akan di bekukan semua. Oh, ya saya lupa, pertanggung jawabkan ini kepada pihak berwajib, saya kasih waktu 24 jam untuk menyampaikan kepada keluargamu." Setelah mengucapkan itu Alex keluar dari ruang meeting dan memutuskan untuk pulang.


*


*


Tawa mereka berhenti saat melihat kedatangan Alex dengan wajah kusut. "Sayang apa yang terjadi?" tanya Mommy.


"Tidak apa-apa Mom hanya masalah kecil di perusahaan," jawab Alex, tapi matanya tidak sengaja menatap Tiara yang juga berada di sana. "Mom, kenapa dia ada di sini?" tanya Alex dengan nada tidak suka.


Mommy tau siapa yang Alex maksud. "Sayang, Mommy yang ajak Tiara untuk mampir kesini." jawab Mommy dengan tersenyum.


Alex hanya mendengus dan menatap tajam Tiara.


Tiara yang merasa suasana semakin sesak memutuskan untuk segera berpamitan. "Mom Tiara mau pulang dulu soalnya dah malam." pamitnya, dan segera mencium punggung tangan Mommy dan Papa. Tapi baru beberapa langkah suara Mommy menghentikan langkahnya.


"Sayang biar Alex saja ya yang mengantarkan pulang, sudah malam soalnya."


Tiara hanya tersenyum kaku. "Tidak usah Mom Tiara bisa pulang sendiri," ujarnya. Tapi Mommy tetap pada pendiriannya yang menyuruh Alex mengantarkan.


"Mom--" protes Alex yang ingin menolak, tapi terhenti karena Mommy menatapnya dengan tajam. Setelah itu mengarahkan pandanganya pada Papa, tapi Papa hanya mengedikkan kedua bahunya.


"Huft ...." dengus Alex. "Ya sudah cepat kalau nggak, akan ku lempar dari mension ini keluar," ucapnya, dan berjalan mendahului.


Tiara hanya menatap punggung Alex yang sudah berjalan dengan takut, lalu menatap Mommy. "Mom ...." ucap Tiara.


Tapi Mommy hanya tersenyum dan menepuk bahu Tiara lembut. "Tidak apa-apa sayang," dengan langkah berat Tiara akhirnya di antar pulang oleh Alex.


Saat di dalam mobil mereka hanya diam tidak ada yang berbicara, hingga mobil Alex sampai di depan apartemen Tiara.

__ADS_1


"Turun," ucapnya mengusir Tiara dari mobilnya.


"I-iya, terima kasih Om," ucapnya seraya keluar dari mobil. Tanpa menjawab Alex langsung melajukan mobilnya kembali ke mension.


Saat di mension ternyata Mommy masih menunggunya. "Alex besok ikut Mommy ya ke acara pesta teman Mommy besok," ucapnya setelah melihat Alex akan masuk ke dalam kamar.


Alex langsung berhenti melangkah dan menoleh ke arah Mommy. "Tapi Mom--"


"Stop, tidak ada penolakan." Selah nya dan pergi dari sana.


*


*


Malam Pesta.


Alex heran kenapa Mommy tidak berangkat bersama saja, tapi memilih berangkat terpisah. Alasannya Mommy akan berangkat dari salon, oleh sebab itu Alex berangkat dengan Papa.


Saat Alex dan Papa sudah sampai hotel tempat acara ternyata tidak lama Mommy pun juga sampai tapi Mommy bersama seseorang.


Saat Mommy berjalan mendekat barulah Alex tau siapa yang bersama Mommy Jessy.


Deg.


Deg.


Saat pandangan Alex dan Tiara bertemu, Tiara malam ini tampil nampak berbeda.


Bahkan Alex tidak berkedip menatap Tiara, sedangkan Tiara hanya menundukkan pandangannya merasa risih apalagi gaun yang di pakainya malam ini sedikit terbuka menurutnya.


Mommy yang melihat kelakuan mereka berdua hanya mengulum senyum. "Ayo Pa," ajaknya pada sang suami dan melingkarkan tangannya ke lengan Papa berjalan mendahului Alex dan Tiara.


Saat di dalam Mommy langsung menemui Sisil dan menautkan kedua pipinya bergantian. "Jeng Sisil, selamat ya sekarang dah punya mantu," ucapnya memberi selamat. Begitu pun Papa Nathan yang juga mengucapkan kepada suami Sisil.


"Iya Jeng Jessy terima kasih," balasnya lalu matanya menangkap sosok pria dan wanita cantik di belakangnya.


"Jeng, apa ini Alex anaknya Jeng Jessy?" tanya sisil.


"Iya Jeng," jawabnya lalu menatap Tiara. "Dan ini calon menantu saya," jawabnya bangga dan dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.


"Huh ...."


"Huh ...."


Kaget Tiara dan Alex yang kemudian saling menatap.


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen semoga sehat selalu. Aminnn.

__ADS_1


__ADS_2