
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Tiara pada laki-laki yang membawa Caca dalam keadaan pingsan.
"Diam lah! Lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri." Sahut laki-laki itu.
Setelah itu hanya ada Tiara dan Caca di ruangan itu yang terkunci dari luar.
"Ca, kamu kenapa?" Tanya Tiara, menyenggol tubuh Caca dengan kakinya yang terikat. Sedangkan tangannya terikat ke belakang.
Caca masih tidak sadarkan diri, meskipun Tiara mencoba menyadarkannya.
Hingga beberapa saat Caca mulai mengerjapkan matanya, dan yang dia lihat untuk pertama kalinya adalah Tiara.
"Ara!" Panggilnya seketika, saat Caca ingin bangun. Caca baru menyadari kondisinya yang juga terikat seperti Tiara, dengan susah payah Caca mendudukkan dirinya.
"Ca, sebenarnya ini ada apa? Tadi kamu chat katanya kamu terlibat kecelakaan. Tapi waktu aku datang ke lokasi, ternyata tidak ada apa-apa. Bahkan ada seseorang yang bawa aku kesini," ujar Tiara.
Caca terdiam mengingat kejadian, sebelum dirinya berakhir seperti sekarang.
Flashback On
"Hai ... Ca, udah lama datangnya?" Tanya seseorang yang baru datang, dan duduk di depannya.
"Baru saja Alan, ini juga belum sempat pesan minum." Jawab Caca.
Yah ... Caca dan Alan sedang berada di Cafe, seperti rencana mereka kemarin.
"Permisi kak, mau pesan apa?" tanya pelayan yang baru hadir dengan menyerahkan buku menu.
Alan membolak-balik buku menu."Saya pesan lemon tea dan nasi goreng," ucap Alan seraya mengembalikan buku menu pada pelayan.
"Kalau saya pesan lemon tea sama seblak komplit level 5," ujar Caca yang juga mengembalikan buku menu.
"Lemon tea dua, nasi goreng dan seblak komplit level 5." Ucap ulang pelayan dengan membaca catatan pesanan Caca dan Alan.
"Iya," sahut Alan dan Caca bersamaan.
"Baik, di tunggu kakak." ucap pelayan itu seraya meninggalkan meja mereka.
Hingga beberapa saat pesanan mereka datang, dan tersaji di meja mereka.
"Oh ya Ca, kamu sama Tiara udah sahabatan dari lama?" Tanya Alan, di sela-sela makan.
"Uhm ... mulai smp," jawab Caca.
"Kalau ... Tiara menikah, kamu pasti juga tau?" tanya Alan yang menatap lekat Caca.
"Uhuk uhuk uhuk." Caca seketika tersedak saat mendengar pertanyaan Alan kali ini, apalagi melihat tatapan matanya.
"Minum dulu Ca," ucap Alan seraya menyodorkan minuman Caca.
"Kamu sudah tau?" Tanya balik Caca setelah tersedak nya redah. Karena Tiara sendiri tidak memberitahu Caca kalau Alan sudah mengetahui statusnya.
"Hmm ...." jawab Alan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum kecut.
Caca dapat melihat ada raut kecewa di wajah Alan.
"Huft ...." Caca menghembuskan nafasnya kasar untuk melegakan dadanya yang tiba-tiba sesak, mengetahui orang yang disukainya malah menaruh hati pada sahabatnya.
Seketika ***** makan Caca hilang, padahal seblak adalah salah satu makanan favoritnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak di makan Ca?" Saat Alan melihat Caca yang sudah tidak memakan seblaknya.
"Aku sudah kenyang," jawab Caca dengan tersenyum kaku.
Drrt.
Drrt.
Ponsel di saku seragam Caca berdering tanda panggilan masuk. Caca segera mengambil benda pipih itu, saat melihatnya ternyata Rey yang menghubunginya.
"Alan sebentar ya!" ucap Caca saat akan mengangkat telfon, yang di Aangguki Alan.
"Halo Uncle!" Sahut Caca, waktu panggilan tersambung.
("")
"Ya nanti malam aku tidak kemana-mana."
("")
"Ok."
Tut.
Caca meletakkan ponselnya di atas meja. "Alan aku pergi ke toilet dulu," pamit Caca.
"Iya," sahut Alan.
Alan melihat punggung Caca yang semakin menjauh dari pandangannya. Mata Alan tertuju pada ponsel Caca yang tergeletak di atas meja. Ada senyum yang sulit di artikan menghiasi bibir Alan.
Hingga tak lama, Caca kembali dari Toilet. "Alan, apa sudah selesai?" tanya Caca saat melihat Alan yang tidak memakan makanannya lagi.
"Iya, rasanya aku ingin tidur sore." jawab Caca dengan tersenyum kaku, padahal hatinya sudah tak nyaman jika masih berada di sini.
"Baiklah." Alan berdiri dari duduknya dan menuju meja kasir.
"Ayo Ca," ajak Alan saat setelah melakukan pembayaran.
"Iya," sahut Caca. Berjalan beriringan keluar Cafe.
"Tunggu Alan, kayaknya ponselku ketinggalan di meja, aku ambil dulu sebentar." Ucap Caca, ketika menyadari ponselnya tidak ada. Caca segera masuk ke dalam Cafe tanpa menunggu jawaban Alan.
Sedangkan Alan berjalan menuju ke arah mobilnya, baru saja Alan akan membuka pintu mobilnya tapi terhenti saat ponselnya berdering. "Halo!" Sahut Alan saat panggilan telfon tersambung.
"Al--" Panggilan Caca terhenti, saat melihat Alan menerima telfon. Caca berdiri tak jauh dari posisi Alan, hingga bisa mendengarkan apa yang Alan bicarakan.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menculik Tiara?" Tanya Alan pada seseorang di seberang sana.
Caca yang mendengarnya membuat matanya membulat seketika karena shock, Caca segera bersembunyi dari penglihatan Alan.
"Bagus, cepat bawa dia ke jalan xx. Di sana ada rumah kosong!" Ada seringai di wajah Alan.
Caca menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Caca segera mengotak atik ponselnya. "Aku harus menghubungi siapa?" Ucapnya bingung dengan tangan bergetar.
Dduuutttttttt
"Ya ampun, ke-kenapa bom ini tidak bisa di kondisikan." gerutu Caca pada diri sendiri.
Hingga Caca melihat riwayat panggilan terakhirnya dengan Rey. Caca segera menghubungi Rey.
__ADS_1
"Ha-halo Uncle!" ucap Caca gemetar, saat Rey mengangkat teleponnya.
("")
"Uncle, tolong Tiara di culik Al-- umph ...." Caca tidak bisa meneruskan kata-katanya saat ada yang membekap mulutnya.
Prak.
Ponsel Caca terjatuh dan pecah.
Caca di seret, dan di paksa masuk kedalam mobil. Hingga seseorang itu juga masuk kedalam mobil yang sama.
Caca menoleh ke arah orang itu.
Deg.
"A-lan," ucapnya bergetar karena takut.
"Kenapa? Kau tidak bisa menghentikan rencana ku, Ca!" ucapnya dengan seringai.
"Apa se-sebenarnya yang kamu inginkan?"
"Yang aku inginkan hanya Tiara, tapi berhubung kamu sudah mengetahuinya, maka tidak akan aku biarkan kamu menghancurkan rencana ku." Ucapnya dengan senyum yang menakutkan.
"Kamu gila ... Tiara sudah menikah Alan."
"Ya ... aku memang gila, karena aku cuma menginginkan Tiara." Jawabnya kemudian tertawa, tawa yang sumbang.
Caca segera menggedor pintu kaca mobil Alan, berharap ada seseorang yang menolongnya. Karena Alan sudah mengunci otomatis pintu mobilnya.
"Tolong, tolong, tolong." Teriak Caca.
Bugh.
Caca seketika tak sadarkan diri saat Alan memukul tengkuknya.
Flashback Off
"Ara ... semua ini ulah Alan," ucapnya setelah mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Huh ..." Tiara masih mencerna apa yang di ucapkan Caca.
"Iya Ra, Alan yang melakukan semua ini. Karena dia begitu mencintaimu," ucap Caca sendu. Caca kecewa ternyata cintanya berlabuh pada hati yang salah.
"Tapi Alan beberapa hari ini kan sudah lebih dekat denganmu, Ca!
"Entahlah ...." Lirih Caca. Caca menyadari kalau kedekatannya bersama Alan beberapa hari ini hanya untuk memanfaatkan dirinya saja.
"Lalu chat dari kamu tadi?"
"Mungkin itu Alan yang melakukanya, waktu tadi aku sedang ke toilet." Jawab Caca yang semakin menundukkan wajahnya. Caca merasa bersalah, karena kebodohannya mereka berakhir seperti ini.
Klek.
Pintu terbuka dari luar. "Bagaimana tempat tinggal kalian yang baru? Di sini tidak kalah mewah kan dengan apartemen kalian!" Ucap Alan yang baru masuk dengan senyum yang mengerikan.
" Alan kenapa kamu jadi begini?"
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen. kaloh di kasih hadiah juga saya terima dengan senang hati 😊, semoga sehat selalu. Aminnn