DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Suatu Rasa


__ADS_3

Banyak di dunia ini orang baik.


Jika kamu tidak bisa menemukanya.


Maka jadilah salah satu dari mereka.


...****************...


Setelah kejadian pagi yang memalukan, Tiara hanya bisa menundukkan kepala tidak berani untuk bertatap muka dengan Mommy.


Berbeda dengan Alex yang biasa-biasa saja, sejak mengibarkan bendera perdamaian Alex mencoba untuk memulai hidup berumah tangga yang normal. Tapi tentang perasaan?? Entahlah ....


"Ra, ayo berangkat nanti keburu siang," ujar Caca setelah menyelesaikan sarapannya.


"Oh, ayo," sahut Tiara.


"Biar aku yang antar," selah Alex.


Seketika semua yang berada di meja makan menatap ke arah Alex.


"Kenapa?" Tanya Alex melihat semua orang menatapnya.


Semuanya kompak menggelengkan kepala.


"Om, biar Ara berangkat sama aku aja," kekeh Caca.


"Nggak, aku yang akan antar," kekeh Alex yang tidak mau mengalah.


"Nggak," ucap Caca lagi. "Wah, gawat kalau Ara berangkat sama Om. Gak bakal ketemu dong sama pangeran aku," batin nya.


Alex dan Caca sama-sama memberikan tatapan tajam, sedangkan Tiara bingung harus memilih yang mana.


"Sudah, sudah, Tiara sayang kamu berangkat saja sama Caca. Besok baru berangkat sama suami kamu," Mommy menengahi.


"Ya, Alex biarkan istrimu berangkat dengan Caca," sahut Papa.


Caca yang mendengar langsung tersenyum ceria, berbeda dengan Alex yang mendengus kesal.


"Yah sudah Mom, Pa, Tiara berangkat sekolah dulu," pamit Tiara.


"Caca juga berangkat sekolah dulu," pamitnya.


Setelah kedua gadis itu berpamitan kepada semua orang, Caca dan Tiara menuju mobil yang tadi sudah di panaskan Pak Maman.


"Terima kasih Pak," ucap kedua gadis itu akan menaiki mobil kepada Pak Maman yang tak jauh dari situ.


"Iya Non, hati-hati berangkat sekolahnya," ujar pak Maman, yang diangguk'i Caca dan Tiara.


Mobil Caca mulai melaju keluar dari mansion menuju sekolah antar bangsa.


"Mom, Pa, Alex berangkat dulu," pamitnya.


"Yah, hati-hati di jalan," ucap Mommy.


"Hmm," jawab Alex.


Setelah itu Alex bergegas masuk dalam mobilnya, untuk mengikuti mobil Caca.


Tidak butuh waktu lama Alex dapat menemukan mobil Caca yang melaju di depannya.


"Ra, gimana sama Om?" Tanya Caca dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan.


"Gimana apanya," tanya balik Tiara.


"Om gak pernah nyakitin kamu kan?" Tanya Caca, sesekali menoleh ke arah Tiara.

__ADS_1


Tiara menggelengkan kepala, "Semakin kesini, Om semakin baik kok," ucap Tiara dengan sedikit senyuman.


Caca tau itu.


"Kamu mulai suka sama Om?" Tanya Caca.


"Entahlah, aku tidak tau tentang perasaan yang namanya suka atau cinta," jawabnya dengan mengedikkan bahu.


"Tapi untuk saat ini rasa takut itu sedikit mulai hilang," imbuhnya.


"Maksudnya?" Tanya Caca yang tidak pernah tau kalau Tiara pernah di ancam oleh Alex.


"Tidak apa-apa, sudahlah," jawab Tiara.


"Huft," Caca menghembuskan nafasnya.


"Ra, aku cuma berharap semoga hidup kamu lebih baik dari yang sebelumnya," ucap Caca dengan tulus, dan Tiara tau itu.


Tidak lama honda jazz merah sudah sampai di depan gerbang sekolah antar bangsa, dan dari jauh juga terlihat mobil Alex juga berhenti.


Caca segera merapikan dandanannya.


"Mulai deh," ucap Tiara dengan malas melihat kelakuan Caca, sebelum turun dari mobil.


Caca hanya menampilkan senyum manisnya.


"Ara," sapa Alan yang menyambut kedatanganya.


Belum juga Tiara membalas sapaan Alan tapi.


"Hai Alan," sapa Caca dari mobil.


"Hai, Ca," balas Alan.


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu, bye," pamit Caca.


"Siapa dia," gumam Alex, yang melihat interaksi antara istrinya dan Alan. "Sepertinya bukan sekedar teman jika di lihat dari tatapannya pada Tiara," imbuhnya.


Setelah itu mobil Alex melaju meninggalkan Antar Bangsa untuk menuju perusahaan.


Tiara dan Alan berjalan masuk menuju kelas.


"Tiara kenapa kemarin tidak masuk lagi?" Tanya Alan.


"Oh, it-itu kemarin aku tidak sengaja terpeleset di kamar mandi," jawab Tiara gugup.


"Benarkah?" Tanya Alan yang terlihat khawatir.


"Hmm," jawab Tiara dengan tersenyum kaku.


"Syukurlah," ucap Alan yang seketika lega.


Alan memperhatikan siku Tiara yang sekarang hanya tertempel plester.


Hingga tak terasa langkah mereka sampai di depan kelas Tiara.


"Alan aku masuk dulu, bye ...." Ucap Tiara seraya masuk ke dalam kelas.


"Bye," jawab Alan yang kemudian juga menuju ke arah kelasnya.


Di perusahaan.


"Riko, carikan saya supir dan yang bisa melaporkan semua kegiatan Tiara," ucap Alex setelah tadi memanggil Riko ke dalam ruangannya.


"Baik Tuan," jawab Riko yang hanya bisa menyanggupi keinginan Alex.

__ADS_1


"Riko apakah jadwal saya hari ini padat?" Tanya Alex.


Riko mengotak-atik tabletnya. "Hanya satu pertemuan, nanti jam dua siang" jawabnya.


"Kalau begitu gantikan, saya masih ada urusan nanti," Ujar Alex.


"Baik Tuan, apa masih ada yang lain?" Tanya Riko.


"Tidak, kau boleh keluar," ucapnya.


"Kalau begitu saya undur diri," pamit Riko dan keluar dari ruangan kerja Alex.


"Huft," Alex menghembuskan nafasnya pelan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Alex masih teringat tatapan Alan untuk istrinya, entah perasaan apa yang sedikit mulai merasuki hatinya. Tapi yang dia rasakan sekarang hatinya sedikit gusar mengingat itu.


*


*


Siang Hari pukul 13.30 Alex sudah keluar dari perusahaan dan menyerahkan semua pekerjaannya pada Riko.


Alex baru sadar bahwa dirinya tidak mempunyai no hp Tiara, padahal tadi dia berniat untuk menghubungi Tiara terlebih dahulu.


Saat jam 13.55 Alex sudah sampai di depan sekolah Antar Bangsa, Alex menunggu Tiara yang sebentar lagi akan pulang sekolah.


Hingga beberapa saat.


Tet.


Tet.


Tet.


Bel sekolah berbunyi dan semua siswa siswi berhamburan keluar memenuhi halaman sekolah.


"Ara ," teriak Alan dari belakang.


Seketika Tiara memberhentikan langkahnya yang hampir sampai gerbang sekolah saat mendengar ada yang memanggil namanya.


"Ada apa Alan?" Tanya Tiara saat Alan sudah berada di depannya.


"Uhm, apakah kamu sudah tidak bekerja? Karena aku pernah datang ke Cafe Raja tapi tidak melihatmu?" Tanya Alan.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sekarang jadi pengangguran," jawab Tiara dengan tersenyum.


Alan yang mendengarnya juga iku tersenyum.


"Oh ya apa aku boleh minta no hp kamu?" Tanya Alan.


"Untuk apa?" Tanya Tiara dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Uhm, mungkin jika aku membutuhkan bantuan mu tentang pelajaran yang tidak aku mengerti aku bisa meminta bantuan mu," jawab Alan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Tapi Alan tau kalau Tiara memang murid yang pintar di sekolah, bahkan mendapat juara umum.


"Oh ...." Sahut Tiara dan kemudian merogok saku pada seragam sekolahnya. "Ini," Tiara memperlihatkan no hp yang tertera pada ponselnya.


Dengan cepat Alan mencatatnya.


"Terima kasih," ucap Alan setelah selesai mencatat.


"Hmm," jawab Tiara dan memasukkan kembali ponselnya ke saku.


Dari jauh ada pria tampan yang berjalan menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Sayang," sapa nya dan memeluk posesif pinggang Tiara.


Bahkan Alan dan Tiara kaget di buatnya.


__ADS_2