
Beberapa bulan kemudian.
Di mansion Alex pada sore hari itu terdengar suara riuh. Karena sang tuan rumah mengadakan acara makan malam bersama.
Di sana sudah hadir Rey dan Caca, bersama putra tampan mereka yang di beri nama Brian Lesmana. Mama Mona juga hadir di sana. Dan tak lupa juga Leo yang hadir di sana.
Sambil menunggu malam yang sebentar lagi tiba, semuanya berkumpul di ruang keluarga.
Sedangkan anak-anak berada di tempat bermain El, yang posisinya di samping ruang keluarga. Bersama Zio yang bertugas menjaga adik-adiknya, dan di temani para baby sitter.
El yang berusia 1 tahun, sudah bisa berjalan meski masih tertatih. Sedangkan Brian, balita itu berumur sembilan bulan sudah mulai merangkak.
"Jadi bagaimana dengan rencana kerja sama kalian?" tanya Papa Nathan kepada Leo dan Tiara.
"Masih dalam proses, Om." jawab Leo.
Karena nyatanya memang tak semudah membalikkan tangan. Meskipun tujuan awal hanya ingin dekat dengan Vita tapi ia juga tidak boleh asal-asalan dalam membangun kerja sama.
Apalagi Vita yang di harapkan nya harus menyelesaikan kuliah nya terlebih dahulu. Dan itu masih kurang 1.5 tahun.
"Semoga kerja sama kalian bisa lancar tanpa menemui kesulitan." Doa Papa Nathan yang terbaik.
"Amin," jawab mereka semua.
*
*
Saat selesai makan malam semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Tiara dengan perut buncit nya, berjalan tertatih setelah membersihkan diri.
Hamil keduanya ini, membuatnya sering merasa lelah. Jadi tak jarang ia hanya menghabiskan waktunya hanya untuk tiduran.
"Sayang, apa kamu merasa sakit?"
Alex yang melihat istrinya kesulitan berjalan.
"Tidak, tapi rasanya kaki hingga ke pinggul rasanya pegal sekali." Keluhnya, dan perlahan naik ke atas ranjang.
Kerena sejak seminggu ini kaki Tiara mulai membengkak. Bahkan sangat besar.
Alex mengambil sesuatu di dalam laci nakas, kemudian ikut naik ke atas ranjang.
"Mas, apa yang kamu mau lakukan?"
Saat suaminya itu menaruh kakinya di atas pangkuan nya.
"Mungkin dengan memijatnya akan mengurangi rasa pegalnya."
Ternyata yang Alex ambil tadi adalah minyak kayu putih. Dengan sedikit menuangkan di kaki Tiara, kemudian meratakan nya dan perlahan ia mulai memijat.
"Apa terasa nyaman?" tanya Alex.
"Hmm." Tiara menganggukkan kepalanya. "Apa kamu tidak capek?"
"Sedikit. Tapi setelah melihat orang yang ku sayang, capeknya hilang." Ujar Alex dengan menatap wajah istrinya yang sekarang sedikit bersemu merah. Dan tangan yang terus memijat.
"Ish, kamu gombal." Tapi sudut bibir Tiara membentuk sebuah senyuman.
"Tapi istriku suka mendengarnya."
"Tentu."
Kemudian mereka berdua tertawa.
Hingga akhirnya malam itu menjadi malam yang manis bagi mereka berdua. Hingga malam yang dingin itu tiba-tiba berubah jadi malam yang panas, saat Alex mengunjungi anaknya.
__ADS_1
Dan yang tersisa, hanya suara desah*n yang saling bersautan mengalun indah di kamar itu. Yang beberapa saat kemudian berubah menjadi suara lenguhan, ketika keduanya mencapai pelepasan yang begitu menguras tenaga.
"Tidurlah," Alex membawa istrinya ke dalam pelukan. "Tidak terasa, sebentar lagi aku akas puasa lagi." Celetuknya, kemudian terkekeh.
Karena dua hari lagi Tiara akan menjalani operasi Caesar. Jadwal operasi tentu lebih awal dari HPL.
"Mas," Tiara yang gemas dengan Alex langsung mencubit lengan suaminya.
Malam sebelum persalinan.
Tiara dan Alex terlihat bersiap-siap. Membawa tas yang jauh-jauh hari sudah di persiapkan.
"Apa sudah tidak ada lagi yang ketinggalan?" tanya Mommy.
"Tidak Mom," jawab Alex seraya melihat apa saja yang ia bawa.
"Mom, titip anak-anak." ujar Tiara.
"Kamu jangan khwatir, Mommy akan menjaganya." Mommy memeluk Tiara. "Semoga persalinan nya lancar," do'a Mommy.
"Amin," sahut semua orang.
"Alex, nanti jangan lupa memberi kabar." Pesan Papa.
"Tentu."
Sebelum Tiara pergi, ia pergi ke kamar Zio dan El untuk meninggalkan satu kecupan untuk mereka.
Karena Tiara sengaja berangkat malam untuk menunggu Zio dan El tidur. Karena beberapa hari kemarin, Zio bersih keras ingin ikut menemani Mami nya untuk melahirkan. Tapi, tentu saja Tiara tidak tega untuk membiarkan anak nya tidur di rumah sakit.
Dalam perjalanan, Alex terus menggenggam tangan istrinya. Ia tau Tiara tentu saja memiliki rasa gugup meskipun ini bukan yang pertama.
"Aku akan selalu berada di dekatmu," ia mencoba menguatkan.
Tiara tersenyum mendengar itu. "Harus, karena kamu yang menjadi kekuatanku, Mas."
"Sekarang kamu mulai bisa menggombal." Alex yang gemas membawa Tiara ke dalam pelukan nya.
Hingga tak terasa mobil mereka akhirnya sampai di rumah sakit.
Tiara segera menjalani pemeriksaan, setelah itu di pindahkan ke kamar yang nantinya akan ia tempati setelah melahirkan.
"Sekarang beristirahatlah dengan tenang, dan persiapkan diri untuk besok. Karena hasil pemeriksaan tadi hasilnya tidak ada masalah, seharusnya kamu tidak perlu khawatir." Dokter perempuan yang akan menangani operasi Tiara besok.
"Terima kasih," ucap Tiara.
Setelah itu Dokter dan beberapa perawat keluar dari kamar rawat Tiara. Sedangkan Alex duduk di kursi samping ranjang Tiara.
"Mas, kemarilah." Tiara menepuk ranjang sisi kosong di sebelahnya. "Aku ingin di peluk," ucap nya tersenyum.
"Kenapa kamu sangat manja? Hmm!" Alex yang mulai naik ke ranjang Tiara kemudian memeluknya dari belakang. Hingga sekarang tangan Alex mengusap perut buncit itu, dan wajahnya yang ia seruak kan di ceruk leher Tiara.
"Karena aku ingin," Tiara tertawa setelah mengatakan nya.
Karena sebelum-sebelumnya Tiara sama sekali tidak pernah untuk bersikap manja, apalagi setelah memiliki dua anak.
Mereka melewati malam itu dengan mengenang masa-masa manis mereka sebelum ada El dan Zio yang mengundang tawa di antara mereka.
*
*
Pagi hari, Tiara sudah bersiap di ruang operasi. Setelah tadi menjalankan prosedur sebelumnya.
Alex dengan setia selalu berdiri di samping Tiara untuk melewati masa-masa menegangkan itu.
"Sayang, berjuanglah untuk kami." Bisikan Alex di telinga Tiara, tapi istrinya itu sudah berada di setengah kesadaran nya.
__ADS_1
Obat bius itu sudah bereaksi, dan operasi di mulai.
Sayatan demi sayatan mulai menggores kulit perut Tiara, darah segar mulai mengalir deras.
Alex memang tak selemah saat menyaksikan kelahiran El dulu. Tapi tetap saja, warna merah pekat pada darah itu seketika membuat kepalanya ber kunang-kunang.
Tempat yang ia pijak rasanya bergoyang seperti di tepa gempa. Tapi dengan sekuat tenaga ia tetap menjaga kesadaran nya.
Hingga beberapa saat kemudian.
Oek
Oek
Oek
Suara tangis bayi melengking memenuhi ruangan bersalin itu.
"Wah ... selamat, anak kalian perempuan, sehat dan tidak kurang apapun." ucap Dokter perempuan.
"Sayang, kamu dengar! Anak kita sudah lahir, dan dia perempuan. Pasti cantik seperti dirimu." Alex meluapkan rasa bahagia nya dengan menciumi seluruh wajah Tiara.
*
*
Siang sudah datang. Tiara dengan perlahan membuka matanya, sayup-sayup ia mendengar mendengar riuh suara.
"Mami, kamu sudah bangun?" Tanya Alex yang berada di sampingnya.
Karena Tiara tadi tertidur setelah operasi dan hingga sekarang ia baru terbangun. Ia mengerjabkan mata, dan pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya.
Tiara tersenyum melihat itu.
Zio yang menyadari Tiara terbangun segera mendekat. "Mami di mana adi bayi nya?"
Bocah tampan itu tidak sabar melihat adi barunya.
"Sebentar lagi akan ke sini," jawab Alex seraya mendudukkan Zio ke pangkuan nya.
Klek.
"Selamat siang," ucap Dokter. Dan di ikuti perawat yang mendorong box bayi. "Nyonya, waktunya memberi asi untuk si kecil." Beri tahunya.
Alex menurunkan Zio, dan membantu Tiara untuk duduk.
Tiara sedikit meringis, ketika luka pada jahitan nya terasa nyeri.
Mommy mendekat ke arah menantunya, dan memberikan selembar kain. "Sayang pakailah ini saat menyusui, agar kami tidak di usir oleh suami mu." Sindirnya pada Alex, yang membuat semua orang tertawa.
Mommy sengaja membelikan kain penutup saat memberikan asi. Karena ia ingat saat kelahiran El.
Apalagi sekarang semua orang sedang berkumpul. Mulai dari Rey, Caca, Mama Mona, Brian, Papa Nathan dan Zio juga si kecil El.
Setelah itu Dokter dan perawat pergi dari sana, ketika bayi cantik itu sudah bisa meny*su.
"Apa kalian sudah mempunyai nama?" Tanya Papa Nathan.
"Sudah," jawab Alex. "Azalea putri pratama."
"Wah, cantik namanya." Seru Mommy.
Hingga setelah Azalea selesai menyu*su, semua orang berebut untuk menggendongnya.
Awal yang di mulai dengan hubungan yang buruk, bukan berarti berakhir dengan ketidakbahagiaan. Seperti kisah Alex dan Tiara, semuanya berakhir tanpa ada yang tau bahwa mereka akan merasakan kebahagiaan sebesar ini.
TAMAT.
__ADS_1
...----------------...
Extra partnya satu saja ya, soalnya biar nggak maksa ceritanya dan semuanya sudah berakhir bahagia. Love you all 🥰