
Hari beranjak siang, Tiara mulai mengerjabkan matanya setelah tertidur cukup lama. Kegiatan panasnya dengan sang suami sungguh membuatnya benar-benar lelah.
Tangannya meraba di mana suaminya itu tidur, kosong. "Apa sudah bangun?" gumam Tiara. Pasalnya biasanya ialah yang terbangun lebih dulu. Akhirnya kamar mandi adalah tujuan Tiara untuk membersihkan diri.
Di ruang kerja, Alex sedang duduk dengan mata tertuju pada berkas yang berada di tangannya.
Alex sendiri setelah kegiatan panasnya dengan istrinya, memang tidak bisa memejamkan matanya. Hingga lebih memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Membaca laporan yang di kirimkan oleh Riko beberapa saat lalu.
Alex memerintahkan Riko untuk mencari tahu tentang Rafael, dan itu bukan yang pertama kalinya. Karena dulu ia sudah melakukanya, dan hasilnya tetap sama tidak ada yang mencurigakan dari Rafael.
"Sebenarnya apa tujuan Rafael??" Alex menaruh kembali berkas yang ia pegang kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Flashback On.
Beberapa bulan lalu sebelum acara tujuh bulanan Tiara. Rey yang tidak tahu waktu bertamu ke mansion.
Awalnya Rey memang hanya ingin mencari teman untuk menemaninya begadang karena tidak bisa tidur. Yang kemudian mengajak Alex untuk bermain ps di mansion.
Tapi di tengah-tengah permainan Rey teringat sesuatu. "Lex, apa laki-laki yang bertemu di mekdi tadi rekan bisnis lo?" Dengan mata yang masih tertuju pada layar televisi.
Alex menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Rey, dan mengingat kembali kejadian tadi siang. "Rafael??"
"Hm ... gue lupa namanya," sahut Rey.
"Kenapa?" tanya Alex.
"Shitt," umpat Rey saat ia di kalahkan oleh Alex dalam permainan ps. Rey langsung meletakkan stick-nya di atas meja.
Alex hanya menyunggingkan senyum ketika melihat kekesalan di wajah Rey karena kalah.
Rey kemudian memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Alex. "Gue pikir ada yang nggak beres sama tuh orang," ucapnya dengan wajah yang serius. Karena Rey melihat ada yang tak biasa dari Rafael.
"Darimana lo tau??" Alex yang tak langsung mempercayai ucapan Rey.
"Ck," Rey berdecak melihat sahabatnya yang sepertinya meragukan analisanya. "Gue waktu pertama lihat dia tatap bini lo udah curiga. Karena gue tau arti tatapan tuh orang. Dia kayaknya ada demen sama bini lo," jelas Rey.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, dia baru saja ketemu sama Tiara." Alex berusaha menyangkal apa yang di tuturkan oleh Rey.
"Adalagi yang lo perlu tau, dia kan bilang. Kalau dia datang dengan ponakannya. Padahal sebelum gue datang, gue lihat dia sendirian turun dari mobilnya. Gue nggak nyangka aja ternyata dia rekan bisnis lo," Rey mengatakan apa yang dia lihat. Karena dia pikir Alex perlu waspada dengan orang yang bernama Rafael itu.
Pembahasan tentang Rafael itu akhirnya berlanjut hingga hampir subuh. Dan setelah kepulangan Rey, ternyata ucapan Rey masih terngiang di kepala Alex. Meskipun Alex sendiri tidak merasa curiga, tapi yang di ucapkan sahabatnya tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Apa benar yang di ucapkan Rey?" Pertanyaan itu yang selalu terngiang di pikirannya. Hingga Alex memutuskan menyuruh Riko untuk menyelidiki tentang Rafael.
Saat di selenggarakan tujuh bulanan istrinya, ternyata Alex sudah menerima laporan Riko. Dan hasilnya semuanya tidak ada yang mencurigakan. Tapi kemudian matanya tidak sengaja menangkap keberadaan Rafael yang telah memperhatikan istrinya dari jauh. Apalagi melihat pergerakannya yang kemudian mengikuti Tiara saat beranjak dari sana. Dengan segera juga Alex menghampirinya, dan ternyata Rafael hanya ingin ke kamar kecil.
Hingga beberapa minggu kemudian, kerjasama mereka juga berjalan lancar tanpa keanehan. Dan Alex mulai menyingkirkan prasangka nya.
Ketika suatu saat istrinya mulai bercerita tentang beberapakali pertemuannya yang tak di sengaja dengan Rafael. Dan prasangka itu datang kembali. Apalagi kerjasama mereka sudah selesai, tapi Rafael sering kali berniat datang ke mansion. Meskipun ia terlebih dulu mengabarinya.
Flashback Off.
Klek.
"Mas," panggil Tiara yang berada di ambang pintu ruang kerja Alex.
Suara lembut istrinya itu sontak membuyarkan lamunannya. "Sayang, marilah."
Alex yang tersadar ada berkas tentang Rafael di mejanya segera ia tutupi dengan berkas lain. "Hm, tadi Riko menghubungi. Aku tadi takut mengganggu tidurmu, makanya aku kesini," elaknya. Alex melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sebentar lagi jagoan kita akan pulang." Alex mengalihkan pembicaraan, dan kebetulan memang sudah waktunya Zio pulang sekolah.
Dan benar saja.
"Mami ...."
"Benarkan, dia sudah pulang." Alex yang mendengar teriakkan putranya. "Ayo kita keluar, dia pasti sedang mencari mu."
Alex dan Tiara akhirnya keluar untuk menemui jagoan mereka. Saat mata Zio menangkap keberadaan Tiara ia segera memeluk kaki Mami-nya itu. Kemudian menatap ke arah Alex.
"Daddy," Zio menatap heran pada Daddy-nya yang siang hari sudah berada di rumah. Padahal tadi mereka berangkat beriringan. "Apa Daddy bolos bekerja?" tanya-nya polos.
Alex segera menggendong Zio, setelah gemas melihat wajah lucunya. "Daddy tidak bolos sayang," jelasnya seraya berjalan ke arah kamar Zio. "Tapi Daddy memang sudah pulang bekerja." Tiara hanya tersenyum melihat kedekatan antara anak dan ayah itu.
__ADS_1
"Oh, apa di tempat Daddy sedang ada rapat. Makanya Daddy pulang cepat," Zio yang masih terus bertanya.
"Maksudnya?" Alex yang tidak paham apa yang maksud Zio.
"Biasanya Zio juga akan pulang cepat, jika guru Zio sedang rapat," tutur Zio yang menyamakan sekolahnya dengan tempat kerja Daddy-nya. Zio masih belum tau jika Alex lah pemilik perusahaan. Yang ia tahu Daddy-nya bekerja di kantor.
Ha ha ha ha.
Tawa Alex pecah ketika mengetahui apa yang di maksud putranya. Yang menyamakan tempat kerjanya dengan sekolah. "Iya sayang, tadi di kantor ada rapat. Makanya Daddy pulang cepat." Alex yang mengikuti alur pemikiran Zio.
Tiara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua pria tampan nya itu.
Zio sendiri tidak tau sebenarnya apa yang di maksud rapat. Ia tau istilah 'rapat' saat gurunya memberitahunya ketika sekolahnya akan pulang lebih awal dari biasanya.
Setelah sampai di kamar Zio, Tiara segera mengambil baju ganti Zio di lemari. "Sini, biar aku saja." Alex yang mengambil alih baju Zio pada tangan Tiara setelah mendudukkan Zio di ranjang.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan makan siang." Tiara yang kemudian berjalan ke arah dapur untuk menemui Pak Tito.
***
"Mami, Daddy, besok jangan lupa datang ke sekolah Zio." Zio mengingatkan di sela-sela acara makan siangnya itu, kalau besok adalah hari di mana sekolahnya mengadakan pentas seni. Dan Zio akan bernyanyi bersama teman-temannya setelah mulai tiga hari lalu latihan di sekolahnya.
"Tentu sayang, kami akan datang." Tiara yang menyanggupi keinginan anaknya itu. Benar saja ia dapat melihat raut wajah bahagia Zio.
"Sayang," sela Alex. Karena Alex sebelumnya sudah membicarakan hal ini, dan ia melarang Tiara untuk hadir mengingat usia kandungannya yang sebentar lagi akan menginjak hpl.
Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan menatap suaminya. Agar tidak mengatakan apapun di depan Zio.
Sebelumnya Tiara memang setuju untuk tidak hadir. Tapi semalam Alex memberitahunya bahwa besok ia ada rapat penting yang tidak bisa ia wakilkan. Makanya Tiara akhirnya memutuskan akan hadir. Ia tidak bisa membayangkan wajah sedih Zio jika kedua orang tuanya tidak ada yang hadir, sementara orang tua temanya datang untuk melihat penampilan mereka.
Di lain tempat seseorang menggertakkan giginya. "Lihat saja, apa yang ku inginkan akan ku dapatkan dengan cara apapun. Ha ha ha ha." Dengan menatap foto perempuan cantik di tangannya.
*
*
__ADS_1
*
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn....