
FG Hospital.
Mereka sudah sampai di rumah sakit Alex mengacuhkan suster ketika diminta Nisa pindahkan ke brankar, Dia tetap menggendong Nisa sampai ke ruang operasi.
Sedangkan para sahabat sudah pulang karena hari sudah siang dan keadaan tidak membaik sekarang.
Semua orang menunggu di ruang operasi Dimas dan Dewi yang mengoperasi Nisa, Alex duduk dengan kepala tertunduk ke bawah.
Revina dan Indah hanya duduk dengan air mata yang terus mengalir, Sedangkan Cahaya berusaha menenangkan Rendra.
" Sialan" kata Firza memukul dinding hingga tangannya terluka. semua orang terkejut melihat Firza emosi terbesar itu.
Mereka membiarkan Firza mengeluarkan emosinya dan tidak ada menanggunya. Naya mencari kotak obat untuk membantu Firza.
" Firza jika kau menambah lukamu lagi bundamu akan memarahi kami nantinya" kata Naya, membalut luka di tangan Nisa.
Tak lama lampu operasi awalnya merah menjadi hijau kemudian mati, keluarlah Dewi dan Dimas dengan melepas topi dan maskernya.
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya" kata Alex berusaha mengontrol perasaannya. " Nisa mengalami pendarahan karena pelurunya hampir menengai jantungnya dan sekarang Nisa mengalami koma" kata Dewi, menangis dia pun memeluk putri di sampingnya.
" Sekarang Nisa sudah di pindahkan ke ICU mendapatkan perawatan intensif" kata Dimas.
Mereka semua menuju ke ruang ICU disana tidak boleh masuk secara bersamaan hanya satu orang yang boleh menemani pasien, Alex hanya menatap Nisa dengan sendu hatinya terasa teriris melihat keadaan Nisa.
" Sayang bangun kau tahu keadaan seperti ini membuatku takut, seakan mereka menatapku dengan amarah apalagi putramu sayang. Dia terluka sekarang seharusnya ketika wanita itu datang aku langsung mengusirnya atau seharus ku habisi sejak dulu " kata Alex, mencium kening Nisa.
Firza hanya bisa menatap ruangan ICU dengan tatapan kosong.
" Kak ayo minum Indah sudah membawa kopi" kata Indah, tapi Firza hanya mengacuhkannya. " Kak, Aunty kak Firza kenapa?" Indah pada Naya disampingnya.
" Bella, jelaskan pada tante apa maksudnya?" Ibu Nisa. " Tante, Firza akan seperti ini jika Nisa dalam keadaan sakit dulu ketika Nisa kelelahan dan dirawat di RS Firza tidak mau makan.Sekarang Nisa koma kami tidak tahu Firza akan seperti ini lagi" kata Bella, terus menyadarkan Firza.
" Kak sepertinya ikatan mereka begitu kuat seaakan kak firza sedang menatap bunda" kata Revina, sedihnya.
" sayang, itulah nenek dan kakekmu tidak keberatan kak Firza menjadi putra bundamu karena memang itu kenyataannya " kata ibu Nisa, sambil tersenyum.
__ADS_1
" Nenek tidak sedih?" Revina. " bukan sedih tapi tak percaya karena kakakmu memanggil kakaknya sebutkan bunda" kata Ibu Nisa tertawa ringan mengingat Firza menyebut Nisa sebagai bunda.
" Kak Firza memang lebih pantas menjadi kakak kami dari om kami" Revina tersenyum dan memeluk neneknya.
"Kakak, tidak kenapa?" Cahaya melihat Rendra murung. " Kak tidak percaya kalau bunda dan kak Firza mengalami hal seperti itu, bahkan bunda merawat kak firza sendiri" kata Rendra.
" Tapi Cahaya kagum dengan bunda kak, meski banyak yang membicarakannya tapi bunda tak pernah menyerah" kata Cahaya. Rendra merasa bersyukur karena lahir dari Nisa dan Firza sebagai kakaknya.
Dewi dan Bella terus berusaha menyadarkan Firza dari kekosongannya.
" Firza, jika tidak mendengarkan Aunty Bundamu itu akan memecat aunty, terus aunty akan memeras putranya" kata Bella, sambil tertawa.
Firza akhirnya tersenyum melihat bella merengek. " Sepertinya hanya Nisa yang bisa membuat Firza respon" kata Daddy Alex.
" Opa sepertinya aku akan sulit mendapatkan kakak ipar " kata Revina, cemberut. " kamu ada saja Rev itu cahaya dia kan kakak iparmu" kata Mommy Alex.
" ih oma itu dari kak Rendra, kak Firza dan kak Indah belum" kata Revina, meneluarkan lidahnya padanya Indah.
__ADS_1
Mereka merasa senang karena Firza sudah bereaksi meski hanya sedikit, Alex terus berada di samping Nisa.