
Mereka berlarian menuju ruang rawat Nisa membuat para dokter bertanya. Kedua orangtua masing sudah diberi tahu oleh Dewi.
" Kalian tunggu diluar saja biar aku memeriksa kak Nisa" ucap Dimas. Mereka menanggukan kepalanya dan membiarkan Dimas memeriksa Nisa.
Kedua orangtua mereka sudah berada di rumah sakit. " Revina apa yang terjadi dengan bunda, nak?" Ibu Nisa." hiks hiks. Nenek bunda tiba- tiba kejang Revina takut nek" kata Revina, memeluk neneknya.
Nyonya Hartawan mendekati putranya yang terduduk lemas di depan pintu ruang rawat Nisa, nyonya hartawan memeluk Alex .
Ayah dan Daddy Alex menenangkan Firza yang sudah menangis begitupun dengan Cahaya memeluk Rendra memberinya kekuatan.
Kret Pintu terbuka.
" Dimas bagaimana keadaan Nisa?" Bella, dari tadi bersandar di dinding. Dimas menghela nafasnya sambil mentap mereka sambil tersenyum.
" Kau jangan tersenyum Dimas cepat katakan" kata Alex menatap tajam. " Baiklah kak Nisa sudah sadar, tapi masalahnya dia terus memanggil Indah dalam mimpinya" kata Dimas.
Alex segera masuk bersama lainnya terlihat Nisa yang sudah bangun dan tersenyum melihatnya. " Sayang aku merindukanmu" kata Alex, memeluknya dan diikuti oleh lainnya.
" Bunda kenapa baru bangun sekarang, Revina takut" kata Revina, kembali memeluk Nisa. Annisa menatap satu persatu keluarga dan sahabatnya.
__ADS_1
" Sayang dimana kakakmu Indah" kata Nisa, tidak melihat keberadaannya. " Nisa lebih baik kamu istirahat dulu nanti kita lanjutkan bicaranya" ucap Putri, dengan gugupnya.
" Kak pasti terjadi sesuatukan , kakak terlihat gugup" kata Nisa. " Sudahlah sayang Indah baik- saja sekarang kamu istirahatlah" kata mommy Alex.
" Mas cepatlah katakan Indah dimana kenapa tidak menemuiku" kata Nisa, pegang tangan Alex. " Sayang Indah bersama Dewi". Nisa menanggukan kepalanya menunggu perkataan Alex selanjutnya.
Akhirnya Alex menceritakan semuanya yang terjadi di mall dan pertemuannya dengan orang yang pernah menyakitinya dulu, sekarang rasa trauma itu kembali. Alex menghapus air mata Nisa yang mengalir.
" Nisa harus menemuinya mas sekarang Indah histeris sampai melukai dirinya sendiri" kata Nisa, berusaha melepas selang infusnya. Alex membiarkannya pergi itu membuat lainnya bingung.
" Ayah mengapa biarkan bunda pergi dia baru sadar , ayah" kata Revina , menggoyangkan lengan Alex. Alex memeluk putrinya.
" Sayang sepertinya kamu belum menengal bundamu dia akan terus berusaha melihat Indah jika kita melarangnya. Jadi kita biarkan bundamu kita bisa menjaganya" kata Alex. Revina menanggukan kepalanya.
" Nak mengapa kalian keluar?" Daddy Alex. " Om, tante sebaiknya kita duduk dulu, kalian duduklah biar Indah sendirian dulu" kata Dewi.
Mereka merasa khawatir dengan ini." Kak Putri hubungi kak Eza sekarang katakan padanya dalam waktu sepuluh menit harus tiba" kata Nisa.
Putri segera menghubungi Eza. tret, tret.
__ADS_1
" Halo sayang ada apa kamu menelepon apakah terjadi sesuatu?" Eza, mengetahui saat ini putri di FG Hospital menemui Nisa.
" Mas Nisa sudah sadar, mas bisa ke FG Hospital sekarang jangan lupa ajak Naya" kata Putri. " Baiklah sayang mas akan kesana katakan pada Nisa mas masih ada satu pasien sekitar lima belas menit mas akan tiba" kata Eza, menutup panggilsnnya karena pasien terakhirnya sudah masuk.
" Nisa mas Eza masih ada satu pasien lagi." kata Putri. " Sayang untuk apa kamu memanggilnya bukankah disini banyak dokter Psikolog yang terbaik" kata Alex.
" Mas disini memang banyak dokter Psikolog yang terbaik, tapi hanya Nisa dan kak Eza memahami Indah saat ini karena kamilah yang merawatnya dulu" kata Nisa.
" Pantas saja dulu dia sering menanggu kita berdua " kata Alex, melihat Dewi, Bella dan Dimas yang tertawa.
" Aunty, om apa yang kalian tertawakan disini tidak ada yang lucu" kata Rendra, heran dengan ini.
" Ini semuanya karena ulah ayah kalian yang mengingatkannya" kata Bella. Mereka terus melihat Bella sedangkan Akex hanya diam.
" Waktu itu Indah berusia dua tahun mengalami depresi berat karena siksaan yang dia alami dari ibunya, dan kak Ezalah yang merawatnya selama dua minggu tapi Indah selalu ketakutan melihat wajah kak eza entah kenapa" kata Nisa.
Mereka masih menunggu ceritanya Nisa. " Saat itu bunda baru saja menjemput kak Firza dari sekolahnya, bunda melihat om Eza sangat frustasi tak lama bunda baru mengetahuinya.
Bahwa ada pasiennya ketakutan lihat wajahnya kemudian kami bekerja sama untuk menyembuhkannya. Bunda saat itu meminta kak Eza menutup wajahnya dengan topeng barulah kami dapat mengobati Indah" kata Nisa.
__ADS_1
Mereka tertawa mendengarnya sambil membayangkan Eza memakai topeng.
" Apa yang kalian tertawakan"