Dr ANNISA Dan CEO TAMPAN

Dr ANNISA Dan CEO TAMPAN
ACT 23


__ADS_3

Firza dan Indah mengikuti pelajaran dalam perkuliahan mereka, awalnya mereka masih ingin menemani Nisa dirumah sakit, tapi ayah dan ibu nisa yang meminta agar mereka tetap meminta masuk kuliah.


" Kak jika pelajaran Indah selesai duluan boleh ke rumah sakit duluan" kata Indah, masih dalam mobil. Firza menatapnya sekilas dan kembali fokus pada jalanan.


Indah hanya menghela nafasnya. " Baiklah tapi ingat langsung ke rumah sakit jangan kemana" kata Firza. " Terima kasih kakak" kata Indah memeluk lengan Firza. Firza mengelus hijab Indah.


Indah keluar dari mobil setelah menyalami Firza, Firza ikut keluar setelah Indah keluar.


" Indah" teriak Jihan, dari belakangnya yang baru tiba di kampusnya. " Indah kakak duluan ingar yang kakak pesan" kata Firza, melihat kedatangan Jihan .


Indah menanggukan kepalanya dan menariknya ke kelasnya karena belajarnya sebentar lagi akan dimulai.


Kelas Firza.


Firza duduk termenung di tempatnya tidak ada yang berani menegurnya . " Firza dosen sudah datang" bisikDayat. Firza mengeluarkan bukunya dan mendengar penjelasan dosennya.


" Firza apa yang kamu fikirkan sejak tadi hanya melamun" kata Dayat. Firza menatapnya.


" Bunda masih belum sadarkan diri" kata Firza dengan lirihnya. Dayat hanya bisa menenangkan Firza.

__ADS_1


" Firza ada mahasiswa tingkat tingkat satu mencarimu" kata teman sekelasnya. Firza langsung keluar membuat Dayat menghela nafasnya.


Firza keluar dari kelasnya terlihat Indah dan Jihan menunggunya di kursi. " Indah" panggilan Firza. " Kakak pembelajaran kami telah selesai lebih awal, kak boleh Indah ke mall membeli beberapa bahan. Kami ada pelajaran Kerajinan tangan" kata Indah, menundukan kepalanya.


" Memangnya apa yang kalian buat, nanti kak hubungi aunty Putri untuk menyiapkannya" kata Firza.


" Kakak Indah ingin berusaha sendiri tanpa bantuan dari orang lain maupun hasil produk perusahaan AG Group. Kakak jangan cemas Indah satu kelompok bersama Jihan" kata Indah meyakinkan Firza.


Firza melihat Jihan yang menanggukan kepalanya. " Memangnya kalian membuat apa?" Dayat. Indah dan Jihan tersenyum.


" Kami membuat kerajinan dari rajutan kak" kata Indah. " Biarlah mereka pergi Firza bukankah ini tugas kampus" kata Bagus.


Indah melongo dan cemberut melihat sikap kakaknya. Firza menghubungi Rendra


Sekolah


Rendra dan lain sedang di kantin melepaskan rasa lapar. " Revina bagaimana keadaan tante Nisa sekarang?" Efina. Revina hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Kalian tenang saja tante Nisa pasti akan sadar" kata Abimanyu, menepuk punggung Rendra.

__ADS_1


"Seharusnya aku dapat menolong Bunda ketika senjata itu akan menyerangnya" kata Rendra, mengepal tangannya. Cahaya mengelus tangannya agar Rendra tenang.


" Aku tidak menyangka bahwa bunda dan kakak Firza mengalami hal yang mengerikan hanya karena harta" kata Revina, Efina memeluk sahabatnya untuk menenangkannya.


Tret, tret. HP Rendra berbunyi.


" Kak Firza menelepon apa terjadi sesuatu?" Rendra. " Kak cepat angkat teleponnya mungkin kabar dari rumah sakit" kata Revina, mengkhawatirkan bundanya.


" Revina tenanglah kakak akan mengangkatnya" kata Rendra. Mereka mendengarkan pembicaraannya.


" Asssalamualaikum kak apa terjadi sesuatu" kata Rendra.


" Rendra apa kamu sibuk, Jika tidak tolong jemput kakakmu Indah di mall nanti. Kakak belum mendapat kabar kalian tenanglah bunda pasti baik saja" kata Firza.


" Setelah pelajaran nanti lami akan menjemput kak Indah" kata Rendra.


" Baiklah kakak tutup dulu karena pelajarannya akan dimulai, wassalam" kata Firza. Revina dan lainnya menunggu Rendra untuk bicara.


" Kalian percepatlah makanannya setelah belajar berakhir kita akan ke mall untuk menjemput kak Indah" kata Rendra.

__ADS_1


" Kakak Firza hanya bicara tentang itu" kata Revina. Rendra menanggukan kepalanya. Revina dan lainnya hanya menghela nafasnya.


__ADS_2