
Firza dan lainnya sudah sampai di Hart mereka melihat para pengunjung berlarian karena ketakutan. Revina melihat seorang ibu yang sulit keluar karena menggendong putrinya.
" Terima kasih nak telah menolong kami" kata Ibu. " ibu ini minum dulu dan ini intuk adiknya" Cahaya memberikan air dan roti yang sempat dia beli di kantin sekolah.
" Terimakasih kak" kata putri ibu. " Ibu apa yang terjadi disana, sehingga kalian berlarian" kata Dayat.
" Itu nak ada dua gadis remaja yang dijadikan tahanan dan seorang pria yang tak sadarkan diri di pelukan gadis berhijab" kata ibu.
Mereka saling menatap, " Apakah itu Indah dan Jihan lalu siapa pria yang pingsan " bisik mereka." Nak ibu permisi dulu, terima kasih atas bantuannya" seru ibu. Rendra dan lainnya menanggukan kepalanya.
Kemudian mereka masuk dengan hati Cahaya ysng ketakutan terus memegang kuat tangan Rendra.
" Sayang sebaiknya tunggu di luar bersama Aulia dan Efina" kata Rendra. " Benar Aya mereka pasti sulit untuk menolong kak Indah jika kita berada disana" kata Efina.
" Baiklah tapi mas harus hati- hati" kata Cahaya. Rendra menanggukan kepalanya dan mencium kening Cahaya. Kemudian mereka menuju ke tempat Indah.
" Hei kalian mengapa lama ayo bawa bocah itu kita harus pergi sekarang" kata Orang berpakaian hitam. Indah terus memberontak ketika mereka menariknya.
__ADS_1
" Hiks hiks, pak Raja, Jihan. Kakak , Ayah Bunda Indah takut" kata Indah yang berusaha melepaskan tangannya.
Ketika mereka akan keluar dikejutkan dengan Firza dan Rendra sudah berdiri dengan tatatapan tajam. Indah senang melihat keduanya datang.
" Kakak, Rendra " kata Indah tersenyum. Orang itu menatap Firza dengan tajamnya dan kembali menatap Indah.
" Hei bocah apa dia nama dari tadi kau sebut kakak Firza tolongin Indah" kata Orang itu dengan mencengkam Indah.
" Lepaskan tanganmu dari kakakku" teriak Rendra. orang itu menarik Indah sehingga berada di depan mereka, dia mengeluarkan senjata dan diletakan di lehernya.Indah sangat ketakutan melihat pisau kecil itu melukai kulitnya.
Terdengar suara dari lantai atas terlihat Alex, Rio dan Vektor dengan gagahnya menembak para penjahat, Kemudian turun dengan menggunakan tangga berjalan mereka terus menembak.
" Ayah, papi" kata Mereka, terkejut melihat orangtuanya ada disini. " Abimanyu, Verlo bawa pria pingsan itu ke rumah sakit, Sayang bawa teman kakakmu ke rumah sakit" kata Alex.
Revina dan keduanya menuruti perintah Alex karena keadaan sudah membaik, Alex terus melihat putrinya dan lainnya turun dari lantai dua.
" Rio, Victor bawa mereka ke markas, biar disini aku yang mengurusnya" baik tuan" seru Rio. " Papi" panggil Abimanyu yang telah kembali dari membawa Raja keluar. Raja diantar oleh anak buah Alex yang diluar.
__ADS_1
" Kalian disini saja untuk membantu mereka" kata Victor, pada mereka dan membawa para penjahat yang masih sadar.
Orang yang berpakaian hitam memandang Alex dengan tajamnya tanpa ada rasa takut yang dia rasakan.
" Sekarang kau lepaskan tangan kotormu dari putriku" kata Alex. " Hahaha tuan jangan bercanda aku sangat menengal bocah ini, ibunya yang tidak waras itu adalah ibunya" kata Orang itu.
" Aku tidak tahu maksudmu yang ku tahu adalah dia putriku yang kubesarkan bersama istriku" kata Alex.
Firza dan Rendra saling memberi kode dan menanggukan kepalanya, mereka berjalan secara perlahan dengan cepat Rendra menarik Indah dari tangan orang itu sedangkan Firza memberinya tendangan hingga pegangannya lepas.
Seketika Alex menodong senjata apinya ke orang itu." Kalian bawa dia ke markas ingat jangan beri dia kesempatan untuk kabur" kata Alex.
" Baik tuan" kata Anak buah Alex yang baru saja datang .
" Ayah Indah takut dia pria bersama ibu yang melukai Indah waktu kecil" kata Indah, memeluk Alex. " Tenanglah semuanya sudah beres ayo kita ke rumah sakit luka ditubuhmu harus diperiksa nak" kata Alex.
Alex menggendong putrinya yang sudah kelelahan untuk ke rumah sakit dan diikuti oleh lainnya.
__ADS_1