
Nisa , Indah dan sahabat Nisa sudah sampai di Galeri es krim yang cukup terkenal dikotanya, karena mereka bersama dari rumah sakit.
Taklama Rendra dan sahabatnya datang dengan kendaraan masing para pelayan membuka pintu dan mempersilahkan untuk masuk di ruangan Nisa pesan.
" Silahkan masuk tuan, nona" kata pelayan. Cahaya mengucapkan terima kasih.
" Mommy" kata Revina, menyalami Nisa dan diikuti oleh lainnya. " Mami ada disini juga?" kata Verlo, pada Bella yang dari tadi menatap putranya.
" Kakak kalian ingin makan es krim jadi kami juga ingin, kalian langsung dari sekolah atau boros" kata Bella, menatap tajam pada putranya.
Yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalabya karena Bella mengerjai putranya.
" Dokter kapan omnya datang" kata Indah, mengayun manja pada Nisa. " Sebentar sayang mungkin dalam perjalanan" kata Nisa, mengelus hijab Indah.
" Kak Indah masih ingat kami" kata Revina, menatap sedih. Indah menggelengkan kepalanya, Efina mencoba untuk menenangkan Revina.
Tiba pintu terbuka masuklah Rendra dan sahabat Indah. " Kakak tampan datang" heboh Indah memeluk Firza. Firza hampir saja terjatuh jika Dayat tidak memegangnya.
" Bagaimana keadaan adik kakak ini" kata Firza, membalas pelukan Firza, Indah menanggukan kepalanya. Firza mengajak mereka duduk .
__ADS_1
" Kok kak Indah mengingatnya tapi pada kami tidak" kata Revina, cemberut. Indah masih memeluk Firza tapi matanya tertuju pada Rendra yang tersenyum padanya.
" Hai kamu siapa kok Indah pernah lihat" kata Indah. Membuat mereka tertuju pada Indah penuh harapan.
" Sayang kamu mengingatnya?" Nisa, terharu. Indah menggelengkan kepalanya. " Tapi dia sering muncul di mimpi Indah dokter, dia panggil kakak pada Indah" kata Indah, menatap intens.
Semua orang tersenyum Nisa melihar Eza menanggukan kepalanya.
" Kalian harus sering menemani Indah agar ingatannya pulih" kata Eza. Mereka menanggukan kepalanya.
Alex dan lainnya juga sudah datang bahkan tak hanya mereka tapi juga oma, opa dan kakek , nenek mereka. Berkumpul bersama mereka memesan es krim yang diinginkan.
" Bella, Verlo aku ada yang ingin dibicarakan" kata Alex. Membuat mereka menatap Alex.
" Victor akan pergi ke Amerika selama tiga bulan jika cepat sebulan cukup" kata Alex. Seketika Bella menghentikan kegiatannya.
" Mas mengapa tidak bilang ke Bella" kata Bella, pada Victor. " Sayang mas juga mendapat kabar ini ketika akan kesini, mas janji akan mempercepat urusan ini" kata Victor memeluk Bella yang sudah menangis.
Verlo tertunduk sedih Victor mengelus kepala putranya dengan tangan satunya. " Kapan papi pergi?" Verlo.
__ADS_1
" Masih ada yang harus dipersiapkan kalau sesuai jadwal bulan depan papimu akan betangkat" kata Alex.
" Nak alex apa tidak ada yang lainnya mengurusnya" kata Ayah Nisa, sudah menanggap Bella sebagai putrinya sendiri.
" Hanya Victor yang dapat dipercaya untuk menangani masalah ini , ayah" kata Alex
Mereka hanya bisa menghela nafasnya dan berharap agar Victor dapat menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.
" Verlo jaga mamimu jangan biarkan dia sedih" kata Victor. Verlo menanggukan kepalanya.
Tanpa mereka sadari Indah keluar dari ruangan karena merasa terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Alex. Cahaya merasa ada yang aneh karena Indah duduk di dekatnya sambil memainkan hijabnya.
" Astagfirrah" teriak Cahaya, melihat kursi di sebelahnya kosong. Membuat lainnya terkejut.
" Sayang kamu kenapa" kata Rendra, merasa khawatir. " Kakak, kak Indah dimana tadi dia disini" kata Cahaya.
Mereka melihat ada bangku kosong di antara Cahaya dan Firza. " Mas dimana Indah kondisinya masih labil, jika ada orang yang melukainya bagaimana" kata Nisa, menangis dalam pelukan Alex.
" Kalian cepat cari Indah jabgan sampai ada terluka sedikit pun" kata Alex. Mereka segera mencari keberadaaan Nisa.
__ADS_1
Tinggalah para wanita dalam ruangan mereka berdoa untuk keselamatan Indah.