Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Anak Pembantu


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Duduklah dulu nak, kalian duduk dulu ". Seru Yudi pada Nadira dan juga Andra.


Nadira dan juga Andra pun duduk bersama di sebuah sofa panjang yang ada di sana. Dan setelah Nadira dan juga Andra duduk, tiba - tiba saja Siska juga ikut duduk di samping Andra.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh Siska ini membuat Andra merasa begitu geram. Bisa - bisanya orang seperti Siska bisa bersikap dengan semaunya seperti ini padahal masih belum lama kenal. Namun Andra harus bisa menahan diri, mengingat saat ini dirinya berada di depan kedua orang tua Nadira.


Apa yang dilakukan oleh Siska sebenarnya juga tak luput dari perhatian Nadira. Semenjak tadi kakaknya ini memang sudah terlihat jika sedang berusaha untuk mendekati kekasihnya Andra. Meski sedikit ada rasa tak suka pada sikap kakak perempuannya ini, namun Nadira tetap bersikap biasa karena dirinya sangat yakin jika kekasihnya Andra tak akan mungkin terpengaruh apalagi sampai tergoda pada kakaknya.


Pak Yudi selaku orang tua laki - laki dari Nadira tak tahu harus berbuat bagaimana. Setelah sekian bulan tak pernah bertemu dengan Nadira, bahkan tak pernah menanyakan kabarnya, membuat Yudi merasa malu jika harus bertanya atas dasar apa Nadira datang ke rumah ini.


" Untuk apa kamu datang kemari? ". Seru Santi yang mulai membuka suaranya.


Mendengar ucapan sang mama, membuat hati Nadira menjadi sedikit tersayat. Apa, untuk apa datang kemari. Bukankah itu adalah pertanyaan yang sangat aneh. Rumah ini adalah rumahnya juga, jadi tidak masalah jika dirinya datang ke rumah ini.


Rasanya sungguh miris. Seharusnya mama nya menanyakan kabar apakah dirinya sehat dan baik - baik saja selama berada di tempat perantauan, tapi mama nya malah bertanya untuk apa dirinya datang kemari. Apa dirinya memang benar - benar sudah tidak diharapkan kedatangannya. Sebegitu tidak diharapkannya kah kedatangannya.


" Kami datang kemari untuk meminta restu ". Sahut Andra pada akhirnya.


Andra sudah merasa sangat muak dengan semua sikap keluarga Nadira, meski baru beberapa menit dirinya berada diantara keluarga ini, sudah membuat Andra sangat yakin jika keluarga Nadira ini, bukanlah keluarga yang baik.


" Meminta restu? ". Tanya Yudi.


" Iya om, kami datang jauh - jauh dari ibu kota ke tempat ini karena ingin meminta restu. Saya ingin menikahi Dira ".


Deg....


" Saya mencintai putri om, Dira. Dan kami datang kemari selain untuk meminta restu, kami ingin mengatakan jika sebentar lagi kami akan segera menikah ". Sahut Andra dengan segala kejelasan yang sejelas - jelasnya.


Tentu saja apa yang dilontarkan oleh Andra ini membuat semua orang menjadi begitu sangat terkejut, apalagi Santi dan juga Siska.


" Untuk apa kalian meminta restu pernikahan?, itu percuma, kalian tidak bisa meminta restu untuk menikah ". Sentak Siska dari tempat duduknya.


Deg...


" Iya, itu benar, sudahlah Dira, untuk apa kamu meminta restu untuk menikah dengan pria seperti nak Andra ini?, kamu itu seorang janda, dan kamu sama sekali tidak pantas menjadi pendamping hidup nak Andra, masih lebih pantas kakakmu Siska yang lebih baik menikah dengan nak Andra ". Timpal Santi dengan tersenyum pada putrinya Siska.


Tak terima dengan ucapan Santi, membuat darah di tubuh Andra seolah mendidih dengan hebat. Andra langsung beranjak dan berdiri dari posisinya. Sudah cukup dirinya bersabar dengan manusia - manusia yang tidak beradab seperti mereka.


" Sayang ". Seru Andra pada Nadira lalu ia pun meraih tangan kiri Nadira agar bisa bangkit dari posisinya, hingga akhirnya mereka berdua pun sama - sama berdiri bersama menghadapi tiga manusia yang tidak punya rasa dan sikap untuk menghargai sesama ini.

__ADS_1


" Om, dengan segala hormat saya, saya meminta restu pada om untuk menikahi putri om, Dira, dan saya tidak menerima adanya penolakan restu, restuilah kami, karena kami akan segera menikah ". Tegas Andra.


" Meminta Restu?, hey Dira, pasti kamu ingin menikah dengan mas Andra ini karena dia kaya kan?, iya mengaku saja kamu ". Timpal Siska.


" Tutup mulutmu wanita tidak punya malu, jangan bersikap semena - mena pada kekasihku Dira ". Sahut Andra dengan rautnya yang sudah terlihat begitu geram.


" Maafkan saya mas Andra, tapi yang saya katakan ini adalah fakta, Dira memang seorang janda, bagaimana bisa pria mapan dan terlihat terhormat seperti mas Andra ini mau menikah dengan seorang janda, jangan tertipu mas, pasti dia itu mau sama kekayaan mas Andra saja, apalagi janda ini adalah anak dari sepasang pembantu ". Sahut Siska.


Deg....


Apa maksudnya. Apa dirinya tidak salah mendengar. Baru saja kakaknya Siska mengatakan jika dirinya adalah anak dari sepasang pembantu. Apa maksud dari pernyataan kakaknya ini.


" K-kak Siska, a-apa maksudnya anak dari sepasang pembantu?, siapa yang anak dari sepasang pembantu kak? ". Seru Nadira pada akhirnya.


" Ya kamu lah, siapa lagi, kamu itu anak dari sepasang pembantu, kalau bukan karena permintaan papa, tidak mungkin kamu dirawat dan dibesarkan di rumah ini ".


" Kami yang merawatmu tidak mau rugi, itulah sebabnya kenapa selama kamu tinggal di rumah ini, kamu melakukan semua pekerjaan pembantu, itu memang pantas untukmu, karena kamu memang anak pembantu ". Sahut Siska dengan sejelas - jelasnya.


Tubuh Nadira seolah menjadi lemas. Hatinya seolah hancur menjadi berkeping - keping. Semua yang telah dilontarkan oleh kakaknya Siska, telah benar - benar meluluhlantakkan isi hatinya.


Benarkah yang dikatakan oleh kakaknya Siska jika dirinya adalah anak dari sepasang pembantu. Dan oleh karenanya, itulah mengapa selama ini kedua orang tuanya tak pernah benar - benar memberikan kasih sayang mereka yang tulus untuknya, karena dirinya memanglah bukan anak kandung mereka. Hingga tanpa terasa, Nadira pun menjadi meneteskan air matanya.


" Sayang ". Seru Andra.


Andra merasa begitu sangat khawatir dengan Nadira. Keluarga ini sungguh sudah sangat - sangat keterlaluan. Jadi selama ini kekasihnya Nadira telah diperlakukan sebagai seorang pembantu. Andra sungguh tidak tahan dengan sikap dari keluarga yang tidak tahu diri ini. Mereka harus diberi pelajaran.


Nadira tak merespon, dengan masih meneteskan air matanya, Nadira menatap papa nya, sosok pria yang selama ini sudah dirinya anggap sebagai papa kandungnya sendiri.


" Pa, tolong jawab pertanyaan Dira, di mana orang tua Dira pa?, di mana mereka berada?, kenapa yang selama ini merawat Dira adalah papa?, memangnya ada di mana orang tua kandung Dira pa?, jadi memang benar jika Dira memang bukan anak kandung papa? ". Cecar Nadira dengan semua pertanyaannya.


Yudi hanya bisa pasrah. Bukan keinginannya untuk membuat hati Nadira terluka seperti ini. Tapi, mungkin ini memang sudah saatnya lah Nadira mengetahui yang sebenarnya. Mungkin kenyataan ini akan terasa begitu menyakitkan bagi Nadira. Namun, Nadira harus tetap mengetahui tentang kebenaran yang sebenarnya.


" Pa, kenapa papa hanya diam?, di mana orang tua Dira pa?, di mana mereka, Dira ingin bertemu dengan orang tua kandung Dira sendiri ". Tanya Nadira lagi.


" Maafkan papa nak, maafkan papa yang selama ini sudah tidak memberitahumu tentang yang sebenarnya. Kedua orang tuamu sudah meninggal Dira ".


Deg...


" Orang tuamu meninggal karena kecelakaan disaat ingin pergi ke pasar, maafkan papa nak ". Sahut Yudi dengan segala kebenarannya.


Hancur, hati Nadira sudah benar - benar hancur. Jadi selama ini dirinya hanya menumpang pada sepasang suami istri yang selama ini dianggap sebagai orang tua kandungnya. Dan yang sebenarnya, orang tua kandungnya sudah meninggal dunia.


" Hiks hiks... hiks hiks... ".

__ADS_1


Nadira pun menangis dengan tangisan yang begitu memilukan. Dirinya sudah benar - benar tak mampu untuk membendung air matanya lagi. Kenyataan ini, benar - benar begitu sangat memukul batinnya.


" Hiks hiks... hiks hiks... ". Isak tangisnya semakin menjadi saja.


" Sayang... sayang... ".


Hanya dua kata itu yang bisa Andra serukan. Andra memeluk tubuh mungil Nadira dengan begitu erat. Sungguh tak disangka jika ternyata selama ini, kekasihnya Nadira sudah begitu banyak menelan kepahitan dalam hidupnya.


Sudah kehilangan kedua orang tua kandungnya, ditambah selama ini kekasihnya diperlakukan seperti seorang pembantu, itu semua sudah menunjukkan, betapa banyaknya luka batin yang dideritanya selama ini.


" Hiks hiks... ".


Nadira sudah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun lagi. Hatinya terlalu rapuh untuk mendorong kedua belah bibirnya agar mampu bersuara.


Santi dan Siska, dua wanita yang berbeda generasi itu tersenyum senang melihat kesedihan yang dialami oleh Nadira. Entah kesalahan apa yang pernah Nadira perbuat sehingga mereka merasa lebih bahagia ketika Nadira menderita seperti ini, seolah Nadira seperti manusia hina yang memang pantas menerima penderitaan.


Dengan tubuh kekasihnya yang masih bergetar hebat karena isak tangisnya, Andra mencoba sedikit merenggangkan pelukannya dari tubuh mungil Nadira.


Diusapnya lelehan air mata yang membasahi sepasang pipi putih kekasihnya ini. Andra tak bisa membayangkan bagaimana akan kesedihan yang dialami oleh kekasihnya. Namun dirinya tetap harus bisa menenangkannya.


" Sayang, sudah jangan menangis lagi, sudah cukup selama ini kamu menangis, aku tidak mau kamu menangis lagi sayang ". Ujar Andra dengan begitu lembut.


" Mas Andra, kenapa mas Andra masih begitu peduli pada anak pembantu ini, dia kan anak pembantu, janda lagi ". Ujar Siska.


" Nak Andra, daripada kamu sibuk mengurusi Dira, lebih baik kamu berkenalan saja dengan putriku, siapa tahu kalian berdua berjodoh ". Seru Santi yang ikut menimpali.


" Tutup mulut kalian, sekali lagi kalian berani menghina calon istriku, akan aku pastikan semua usaha milik Yudi akan aku hancurkan sampai tiada sisa ". Sentak Andra.


Andra sudah benar - benar kehilangan kesabaran dengan dua wanita ini. Jika saja mereka berdua bukan seorang wanita, sudah pasti dirinya akan meremukkan tubuh mereka berdua.


" Sayang, kita harus pergi dari tempat ini ". Seru Andra lagi pada Nadira, dan Nadira pun mengangguk.


" Pak Yudi, saya rasa tidak perlu rasanya jika saya masih harus bersikap sopan pada anda. Terima kasih karena selama ini anda sudah mau merawat Dira meski dihiasi dengan penderitaan ".


" Sekarang, di mana kedua orang tua Dira dimakamkan?, cepat berikan alamatnya ". Ujar Andra tanpa basa basi lagi.


" Baiklah nak, tunggu sebentar, saya akan memberikan alamatnya ". Sahut Yudi.


Tak ingin bertindak lebih lama, Yudi pun akhirnya segera menuju ke kamarnya untuk memberikan catatan di mana alamat kedua orang tua Nadira dimakamkan.


Dan kini, di ruangan tamu ini, hanya menyisakan Nadira dengan Andra, serta Santi dan juga Siska. Namun kali ini, sikap Santi dan Siska tak seperti sebelumnya. Entahlah, mungkin karena mereka begitu takut dengan ancaman dari Andra, sehingga saat ini mereka seperti orang yang kehilangan nyalinya.


Bersambung.........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2