
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu sudah semakin larut, namun sepasang anak manusia yang masih melakukan penyatuannya ini seolah masih tiada kata puas. Mereka larut dalam kenikmatan yang mereka nikmati, keduanya benar - nenar tenggelam dalam sebuah kenikmatan surgawi yang sungguh tiada duanya. Tetesan keringat mereka pun telah membanjiri tubuh keduanya.
Andra terus memacu miliknya itu, bahkan gerakannya sudah sangat lebih cepat dari kecepatan sebelumnya, hingga pada akhirnya...
" Ahhh... ". Seketika itu tubuh Andra menjadi ambruk di atas tubuh istrinya Nadira.
Andra sudah sampai pada titik pelepasannya, hingga ia pun menyemburkan benihnya itu di dalam rahim istrinya. Tubuh Andra menjadi sedikit lemas, malam pertamanya ini begitu sangat memberikan sensasi dan kenikmatan yang membuat Andra ingin mengulanginya lagi, ini sungguh luar biasa.
Sementara Nadira sendiri sudah lebih awal terkulai lemas. Nadira menjadi terkulai lemas tak berdaya lantaran tubuhnya terus - menerus mendapatkan hantaman dari suaminya, bahkan ketika dirinya sudah ingin menyudahi penyatuan ini, suaminya Andra malah tak meresponnya dan masih terus melanjutkan aksinya, alhasil seperti inilah akibatnya tubuhnya menjadi lemah tak berdaya seperti ini.
Malam pertama yang dikata menurut cerita banyak orang adalah malam yang penuh dengan kenikmatan nyatanya tak seperti itu. Nadira merasa hampir seluruh bagian tubuhnya terasa begitu remuk, apalagi di bagian sensitifnya terasa begitu sangat sakit dan perih, dan anehnya lagi suaminya Andra masih tak menarik senjatanya itu dari dalam miliknya, meski memang milik suaminya sudah tak menegang dan menghantam nya lagi, namun tetap saja keberadaannya yang masih ada di dalam membuat bagian sensitifnya semakin sakit. Namun apalah daya, tubuhnya yang sudah lemas ini sudah tak bergerak apalagi bersuara. Nadira hanya bisa memejamkan kedua kelopak matanya.
Dengan perlahan Andra mulai mengangkat wajahnya itu dan memperhatikan wajah istrinya. Sangat nampak jelas dalam pandangannya jika raut wajah istrinya Nadira begitu sangat lelah. Bahkan di kedua sisi pelipisnya nampak terlihat basah karena disebabkan oleh tetesan air matanya. Ya, sepanjang melakukan penyatuan dengan istrinya Nadira, Nadira hampir tak pernah henti menangis. Ada rasa bersalah dalam benak Andra setelah membuat keadaan istrinya menjadi seperti ini. Seharusnya dirinya tak terlalu bernafsu sehingga seperti inilah akibatnya, istrinya Nadira menjadi lemah tak berdaya.
Cup... dengan lembut Andra pun mencium kening istrinya itu.
" Maafkan aku sayang karena sudah terlalu bernafsu, maafkan aku ". Seru maaf Andra.
Semua yang terjadi ini benar - benar membuat Andra menjadi sangat bingung. Jika dirinya tak mengetahui akan status istrinya yang sudah seorang janda dengan memiliki satu orang anak, sudah pasti Andra mengira jika istrinya ini adalah seorang gadis perawan.
Cup... cup...
" Terima kasih sayang ". Serunya.
Merasa sudah cukup dengan kenikmatan yang sudah diberikan oleh istrinya Nadira, Andra pun mulai mengangkat tubuhnya yang sempat mengkungkung tubuh istrinya itu agar kembali terjaga.
Hingga pada akhirnya Andra pun mulai menarik kembali senjatanya itu dari milik istrinya dan hendak mencoba untuk meluruskan kedua paha istrinya yang sudah dirinya buka itu, hingga...
Deg...
" Hah... apa ini? ". Seketika itu kedua bola mata Andra langsung terbelalak.
" Ya Tuhan, tidak, ini tidak mungkin ".
Andra begitu sangat terkejut. Andra begitu sangat terkejut karena apa yang dilihatnya.
" Ya Tuhan, ini, darah? ". Andra begitu sangat terkejut dan tak percaya kala dirinya sudah melihat adanya bercak darah yang keluar dari bagian sensitif milik istrinya, bahkan semakin dilihat, bercak darah itu semakin merembes lebih banyak di sprei kasurnya.
__ADS_1
Andra sangat bingung, benar - benar luar biasa bingung. Bagaimana bisa istrinya Nadira sampai berdarah seperti ini, bukankah istrinya ini adalah seorang janda. Janda?, benarkah seorang janda?, tidak, ini tidak mungkin, jangan katakan jika istrinya ini masih..., tidak, rasanya sangat tidak mungkin jika seorang janda yang beranak satu sampai mengeluarkan bercak darah, apalagi bercak darah yang keluar terbilang banyak.
Merasa begitu sangat khawatir, Andra pun akhirnya mulai meluruskan kedua kaki istrinya itu lalu menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
" Sayang, sayang ". Seru Andra.
Dengan perlahan Andra sedikit mengangkat kepala istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya. Andra merasa khawatir, benar - benar sangat khawatir, mengingat kegiatan panasnya tadi sudah memakan waktu yang cukup lama bahkan sampai membuat istrinya Nadira mengeluarkan banyak bercak darah, membuat Andra benar - benar merasa begitu sangat khawatir, khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak - tidak. Bagaimana jika istrinya Nadira sampai jatuh sakit karena perbuatannya, jika sampai hal itu benar terjadi, pastilah Andra tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
" Sayang, sayang, buka matamu ". Seru Andra dengan menepuk - nepuk lembut pipi Nadira.
" Sayang - sayang ". Serunya lagi.
Dengan perlahan Nadira mulai membuka kedua kelopak matanya. Nadira tersenyum pada suaminya. Meski dirinya dilanda oleh rasa sakit dan lelah, namun Nadira masih bisa tersenyum pada suaminya.
" Sayang, kamu, berdarah, kamu janda tapi kenapa seperti... ".
" Masih perawan? ".
Deg...
Sontak Andra pun menjadi sangat terkejut mendengar sahutan dari istrinya. Bagaimana bisa Nadira mengetahui akan pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
" Sayang, bagaimana bisa kamu tahu jika aku memang ingin mengatakan jika kamu memang masih perawan? ".
" Memang iya, mas ".
Deg...
Andra menjadi semakin bingung dengan keadaan ini. Apa maksudnya ini, jadi istrinya Nadira benar masih perawan.
" Sayang, maksudnya, kamu masih perawan sayang? ". Andra masih tak percaya dengan semua ini.
" Iya mas, aku memang masih perawan ". Sahut Nadira.
" Tapi bagaimana bisa sayang, bukankah kamu janda?, bahkan kamu sudah punya anak sayang ". Sahut Andra.
" Putraku itu sebenarnya adalah anak dari mas Dani dengan pernikahan pertamanya, aku dan mas Dani menikah karena dijodohkan, jadi tidak ada cinta diantara kami ".
Andra sungguh tak percaya dengan semua ini. Apakah dirinya tidak salah mendengar, jadi bocah laki - laki yang sempat dirinya lihat di mall itu bukanlah anak dari Nadira.
" Tapi aku dan mas Dani bercerai, dan aku jadi janda. Tapi statusku itu rasanya tidak adil bagiku mas, bagaimana bisa aku menjadi janda sementara aku sendiri masih belum pernah tidur sekamar dengan mantan suamiku ".
__ADS_1
Deg...
Apa, benarkah ini. Jadi memang benar jika istrinya Nadira memang masih seorang gadis perawan, dan dirinyalah orang pertama yang mendapatkan semua itu.
Andra sungguh tak habis pikir dengan semua ini. Sungguh Andra menjadi sangat terheran - heran dengan semua kebenaran tentang istrinya Nadira. Jadi istrinya yang menjadi seorang janda hanyalah statusnya saja. Jadi selama ini istrinya Nadira adalah seorang gadis perawan. Jadi selama ini istrinya Nadira masih suci tanpa adanya sentuhan dari seorang laki - laki. Dan dirinyalah orang pertama yang telah berhasil menyentuhnya dan mendapatkan keperawanannya.
hingga setelah cukup lama berdebat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Andra pun menarik kedua sudut bibirnya. Sebuah senyuman kecil telah nampak dari raut wajah Andra.
Andra merasa sangat bangga karena ternyata orang pertama yang sudah menyentuh dan memiliki Nadira seutuhnya adalah dirinya. Jadi selama ini semua kejanggalan - kejanggalan yang muncul yang sudah menunjukkan jika istrinya Nadira masih begitu polos memang benar adanya. Istrinya Nadira memanglah gadis yang polos. Dan dirinya sangat beruntung karena bisa memiliki seorang Nadira.
" Kenapa mas Andra tersenyum begitu?, menyesal karena sudah menikah dengan janda? ". Ujar Nadira dengan sindirannya.
Andra hanya bisa tersenyum menanggapi sindiran istrinya. Masih begitu membekas dalam ingatan Andra jika dulu dirinya pernah tidak menginginkan Nadira hanya karena statusnya yang sudah seorang janda beranak satu. Dan kini, setelah mengetahui yang sebenarnya Andra merasa sangat senang sekaligus malu, namun tak apalah meski dirinya merasa malu, yang penting istrinya Nadira sudah menjadi miliknya seutuhnya.
" Iya?, mas Andra menyesal karena sudah menikah dengan seorang janda? ". Sindir Nadira lagi.
" Tidak sayang, aku sama sekali tidak menyesal, meski kamu memang benar seorang janda, aku akan tetap menikahimu ". Sahut Andra dengan tersenyum.
Nadira hanya bisa sedikit mencebikkan bibir bawahnya. Ternyata suaminya bisa juga mengelak dengan tersenyum seperti ini.
" Mau apa lagi mas? ". Seru Nadira.
Nadira cukup tersentak kala suaminya Andra kembali menindih tubuhnya. Sebenarnya apa yang ingin kembali suaminya lakukan, mengapa suaminya mengkungkung tubuhnya lagi.
" Mas, mas Andra mau apa? ". Tanya Nadira lagi.
" Mau melanjutkan yang tadi ". Sahut Andra.
Dan Andra langsung kembali menyambar bibir istrinya. Andra kembali mengambil kendali penuh. Entah mengapa setelah mengetahui jika dirinyalah orang pertama yang menyentuh istrinya, membuat Andra menjadi ingin melakukannya lagi.
Sementara Nadira sendiri sudah tak mampu untuk mengendalikan suaminya Andra. Iya, itu sudah pasti. Suaminya Andra memang sudah pasti akan mendominasi di malam pertamanya ini.
Mengapa malah menjadi seperti ini. Nadira merasa masih belum kering luka di bagian sensitifnya yang disebabkan oleh perbuatan suaminya Andra, kini suaminya sudah ingin melakukannya lagi, dan dirinya sama sekali tak mampu mencegah keinginan suaminya. Sungguh tidak Nadira sangka jika suaminya ini akan begitu sangat bernafsu seperti ini.
Sepertinya malam ini, akan menjadi malam yang sangat panjang bagi Nadira dan juga Andra. Entah kapan sepasang anak manusia ini akan mulai beristirahat, hanya merekalah yang bisa menentukannya.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1