Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi ini si kecil Alvin nampak selesai dari aktivitas pertamanya setelah ia bangun dari tidur nyenyak nya.


Dengan digendong oleh sang bunda, Alvin baru saja selesai mandi pagi. Dengan tubuh mungilnya yang masih dililit oleh handuk miliknya. Nadira sang bunda mulai menurunkan tubuh putranya yang masih menyisakan tetesan air mandi di kedua bahu hingga rambutnya itu di atas ranjang kasur miliknya.


Alvin sendiri begitu sangat senang karena tadi malam dirinya tidur di antara bunda dan juga aunty Putri nya.


Meski suasana di rumah ini masih begitu baru bagi Alvin dan dirinya baru satu malam menginap di rumah bunda nya ini, ternyata sudah membuat Alvin begitu sangat betah seolah sudah lama menginap di rumah ini.


Meski rumah yang diinapinya tak sebesar rumahnya di kampung, tak membuat Alvin kehilangan rasa senangnya karena bisa menginap di rumah ini. Selama dirinya masih bersama bunda nya, di manapun tempatnya tak akan menjadi masalah baginya.


Dengan penuh ketelatenan Nadira mulai mengeringkan sisa - sisa tetesan air mandi itu di tubuh mungil dan juga rambut Alvin. Nadira mengeringkan nya dengan handuk khusus yang memang dimiliki oleh Alvin.


Nadira begitu sangat senang karena dirinya kembali melakukan hal yang dulu sempat dirinya lakukan, bisa memandikan Alvin seperti dulu lagi.


" Ih... bunda, tok lama cetali cih? ". Seru Alvin lantaran bunda nya masih tak kunjung selesai mengeringkan tubuh dan kepalanya dengan handuk.


" Sabar dulu sayang, ini sebentar lagi selesai, tinggal rambutnya Alvin ini yang masih banyak airnya ". Sahut Nadira dengan masih tetap mengeringkan sisa - sisa air mandi di rambut lebat Alvin.


Tak banyak yang berubah dari putranya Alvin, dari dulu hingga sekarang Alvin memang suka mengeluh jika sehabis mandi tubuhnya dikeringkan seperti ini.


" Sayang, sewaktu Alvin bersama bunda Diana, siapa yang memandikan Alvin nak? ". Tanya Nadira setelah ia selesai mengeringkan tubuh Alvin.


" Bunda Diana, tapi tadan Alpin mandi cendili bunda ". Sahut Alvin.


" Mandi sendiri?... memangnya Alvin bisa mandi sendiri nak? ". Nadira cukup heran setelah mendengarnya.


" Macih belum bunda, tapi Alpin mau mandi cendili, dak mau mandi cama bunda Diana ". Sahut Alvin.


Nadira tak menyahut lagi aduan dari putranya, dari hal ini Nadira sudah memahaminya jika Alvin memang sengaja menolak jika Diana memandikan nya.


Nadira hanya bisa menghela nafasnya, pasti Diana begitu sangat sedih mendapat perlakuan seperti itu, dan itu sudah pasti.


Mungkinkah Alvin putranya sampai kurus seperti ini lantaran masih belum bisa menerima keadaan, iya, sudah pasti seperti itu.


" Kasihan sekali kamu nak ". Batin Nadira yang merasa sedih.


Merasa sudah selesai mengeringkan tubuh Alvin, Nadira pun mulai mengolesi tubuh mungil putranya itu dengan minyak penghangat badan khusus bayi, dan dilanjutkan dengan langkah berikutnya.


Setelah semua pakaian yang disiapkan dan di pasangkan ke tubuh mungil Alvin telah selesai, Nadira pun mulai menyisir rambut lebat putranya itu dengan rapi sebelum akhirnya ia menaburi bedak bayi di wajah mungil Alvin.


" Wah... wah... wah... tampannya keponakan aunty ini ". Seru Putri tiba - tiba setelah dirinya masuk ke kamarnya.


Lalu Putri pun mulai menjembel kedua pipi Alvin.


" Ih aunty, catit ". Seru Alvin lantaran kedua pipinya dicubit oleh aunty Putri nya.


" Ya jangan salahkan aunty dong, habisnya kamu lucu sih ". Sahut Putri.


Putri merasa sangat gemas dengan Alvin, sangat rugi rasanya jika dirinya tak berbuat ulah dengan anak dari sahabatnya ini.


" Nah sudah selesai, Alvin masih belum sarapan, ayo kita sarapan dulu ". Ajak Nadira.


" Bunda Alpin mau te mall ". Sahut Alvin tiba - tiba.


" Apa ke mall? ". Sahut Nadira.


Nadira cukup tersentak dengan keinginan putranya, pasalnya setahunnya Alvin masih belum mengerti apa itu mall, dan kini putranya ini malah ingin ke mall, yang benar saja, dari mana putranya ini tahu jika di kota ini ada mall.


" Iya bunda te mall, Alpin mau beli minan - minan yan banak cetali ". Jelas Alvin.


" Dir, anakmu ingin ke mall, sudah turuti saja ". Sahut Putri.


Namun Nadira menggeleng, Nadira tak ingin jika putranya melakukan apa yang diinginkan nya begitu saja dengan mudah tanpa mengetahui baik tidaknya.


" Sayang, memangnya Alvin tahu dari mana kalau di sini ada mall, kan Alvin masih baru datang ke sini sayang? ". Tanya Nadira.


" Emm... dali nenek, tata nenek di cini ada mall na, becal cetali ". Sahut Alvin bahkan dengan merentangkan kedua tangan mungilnya seolah menggambarkan betapa besarnya mall yang ingin dikunjunginya itu.


" Dir, sudahlah turuti saja keinginan putramu, mumpung Alvin ada di sini ". Seru Putri.


" Baiklah nak, kita akan ke mall, tapi nanti sore ya kita perginya ". Sahut Nadira pada akhirnya.


" Telimatacih bunda, Apin cenan cetali ". Seru Alvin bahagia dan ia pun langsung memeluk bunda nya.

__ADS_1


Alvin sangat senang karena bunda nya menuruti keinginannya, bocah kecil itu begitu sangat penasaran dengan mall besar yang sempat diceritakan oleh neneknya.


*****


Sudah cukup lama sang tuan pemilik perusahaan ini tengah berada di perusahaannya. Ia duduk seorang diri di kursi kebesarannya.


Hanya kantor inilah yang menjadi saksi bisu akan kegundahan hatinya saat ini. Dengan menahan rasa rindu di hatinya, ia masih menatap layar handphone miliknya itu.


Andra memperhatikan layar handphone nya, ia memperhatikan foto - foto disaat - saat dirinya dan juga putrinya bersama Nadira.


Rindu?... sudah pasti dirinya rasakan, namun Andra masih bertahan pada pendiriannya. Pendirian?... benarkah ini sebuah pendirian, pendirian untuk memberikan pelajaran pada kekasihnya agar ia menyadari kesalahannya atau mungkin ini adalah egoisme nya saja.


Andra memang sengaja mendiamkan Nadira. Apapun itu semoga kekasihnya bisa menyadari semua kesalahannya. Baginya Nadira adalah wanita yang baik, hanya saja karena rasa cemburunya yang berlebihan membuatnya sudah gelap mata bahkan sampai tega memperlakukan seseorang yang sedang sakit dengan tidak baik, dan itu adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji.


Drtt... drtt... drtt...


Tiba - tiba saja handphone yang berada dalam genggamannya itu bergetar yang menandakan adanya panggilan yang masuk.


" Celine?, ada apa dia menghubungiku? ". Gumam Andra.


" Iya, ada apa Celine? ". Tanya Andra setelah ia menjawab panggilan handphone nya.


" Andra aku mau minta tolong apa boleh? ". Sahut Celine.


" Minta tolong apa?, katakan saja asalkan jangan yang aneh - aneh ". Sahut Andra.


" Dra, kan kamu tahu kalau aku sedang sakit, tapi aku ingin ke luar, kamu mau ya menemani aku pergi ke mall ". Sahut Celine.


" Apa?, kamu ingin ke mall?, yang benar saja Celine? ". Andra sangat tak habis pikir dengan keinginan Celine.


" Hanya sebentar saja Dra, aku tidak lama kok di mall, mungkin hanya sekitar dua jam, aku mau membeli keperluanku yang sudah mulai habis ". Sahut Celine.


" Ya kalau begitu, kenapa kamu tidak pesan secara online saja, atau mungkin menyuruh seseorang untuk membeli apa yang kamu butuhkan itu, jangan yang aneh - aneh Celine ". Andra merasa Celine tak cukup pintar untuk mengatasi apa yang diinginkan nya.


" Ini bukan soal aku harus menyuruh orang atau tidak, tapi aku merasa bosan Dra, selain untuk membeli keperluanku yang sudah mulai habis, aku pergi keluar juga untuk menghilangkan rasa stress, itu yang paling aku inginkan Dra ". Sahut Celine.


Andra merasa jengah dengan sikap Celine, menurutnya ada - ada saja keinginannya ini. Jika bukan karena penyakit yang dialaminya tidak mungkin dirinya mau melakukan hal ini.


" Andra bagaimana?, mau ya? ". Tanya Celine.


" Terima kasih Andra, pastinya, aku tidak lebih dari dua jam di sana, tapi nanti sore kita ke mall nya ". Sahut Celine.


" Terserah... ". Sahut Andra.


Dan seusai obrolan itu Andra pun langsung mematikan handphone nya. Mungkin seperti inilah jika ikut membantu orang sakit. Tidak masalah juga sebenarnya, lagi pula Celine hanya beberapa bulan di kota ini, setelah itu pasti dia pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan.


*****


Terangnya cahaya lampu di mall telah memperjelas setiap apa saja yang terdapat di dalamnya.


Berbagai pakaian menarik hingga aksesoris indah sangat banyak di temukan di tempat ini. Tentu hal ini begitu sangat memanjakan setiap pasang mata yang melihatnya, tak terkecuali Nadira, Putri, dan juga si kecil Alvin yang saat ini sedang berada di mall.


Sesuai dengan kesepakatan yang mereka dibuat di pagi hari tadi jika sore ini mereka akan pergi ke mall, dan seperti inilah sekarang, mereka benar - benar sudah berada di mall, dan saat ini mereka sedang memperhatikan setiap apa saja yang berada di hampir setiap sudut mall.


" Ayo bunda, di mana tempat minan na? ". Seru Alvin yang berada dalam gendongan bunda nya kala dirinya masih tak kunjung menemukan area di dalam mall yang khusus untuk menjual mainan.


" Jadi anak bunda ini mau langsung beli mainan, tidak mau ke restoran dulu untuk makan nak? ". Sahut Nadira.


Nadira cukup terheran karena ternyata putranya sudah begitu tak sabar ingin segera membeli mainan.


" Iya bunda, Alpin mau beli minan yan banak cetali, tan Alpin bawa uan banak ". Sahut Alvin dengan rasa percaya dirinya.


" Wah Dir, sepertinya anakmu memang sudah tidak sabar ingin membeli mainan, sepertinya Alvin memang berniat ingin membeli mainan, buktinya semenjak dari tadi pagi yang dibahas soal mainan terus ". Sahut Putri.


Nadira menjadi menghela nafasnya setelah mendengar semuanya. Sepertinya putranya Alvin memang perlu diajari untuk bagaimana agar bisa menggunakan uang dengan baik, jika tidak, bukan tidak mungkin jika putranya ini akan menjadi pemboros ketika sudah besar nanti.


" Sayang, Alvin, dengarkan bunda ". Seru Nadira lembut dengan kedua bola matanya yang menatap kedua bola mata Alvin.


" Alvin dikasih uang banyak dengan ayah kan nak?, kalau Alvin dikasih uang yang banyak, uang nya jangan digunakan semuanya sayang, Alvin harus menabung nya juga ".


" Alvin harus bisa belajar menabung sayang, untuk kebutuhan Alvin nanti kalau sudah besar, kalau uang nya Alvin digunakan untuk membeli mainan terus, sama saja dengan Alvin belajar menjadi orang yang boros ".


" Tidak apa - apa jika anak bunda ini mau beli mainan, tapi uang nya jangan digunakan semuanya untuk membeli mainan, ditabung lagi ya uang nya! ". Tutur Nadira dengan segala larangan dan nasihatnya.


Alvin nampak terdiam setelah mendengarkan penuturan dari bunda nya, namun setelah itu bocah kecil itupun akhirnya mengangguk. Alvin mengangguk paham setelah bunda nya memberikan nasihatnya.


Cup... cup...

__ADS_1


Dengan lembut Nadira pun memberikan dua kecupan di kening putranya. Nadira merasa sangat bersyukur karena ternyata putranya Alvin masih tidak sulit untuk diberikan pengertian, padahal sudah cukup lama dirinya meninggalkan putranya dan tidak memberikan pendidikan darinya lagi.


" Berarti kita langsung ke tempat mainan anak - anak ini? ". Tanya Putri.


" Iya Put, kita langsung ke tempat mainan, dan setelah itu baru kita makan di resto ". Putus Nadira pada akhirnya.


Akhirnya setelah langkah mereka sempat terhenti karena obrolan singkat soal mainan Alvin, mereka pun kembali melanjutkan langkah.


Sementara di posisi lain, tepat setelah Nadira dengan putranya dan sahabatnya menuju ke bagian area penjualan mainan, nampak Andra bersama Celine sudah mulai memasuki area mall.


Mereka berdua telah masuk dengan disambut baik oleh para karyawan Andra. Ya, mall besar ini adalah milik Andra, jadi tak heran ketika sang tuan pemilik telah datang, ia pun disambut dengan baik oleh semuanya.


Celine memegang lengan Andra, dan sikapnya ini telah membuat banyak orang beranggapan jika Celine adalah kekasih dari seorang Andra.


Andra sendiri sangat menyadari bagaimana penilaian mereka pada dirinya dan juga Celine, namun Andra sama sekali tak mempedulikan hal itu.


Saat ini Celine merasa seperti di atas angin. Penyakit pura - pura nya ini benar - benar membawa keuntungan baginya. Coba saja jika dirinya tidak sakit, sudah pasti Andra akan menolaknya jika harus digandeng seperti ini.


*****


Sepasang bunda dengan putranya kini sudah mulai selesai berbelanja di area penjual mainan, dan sekarang saatnya lah bagi mereka berdua untuk menuju ke restoran.


Iya, mereka berdua, Nadira dan juga putranya Alvin, tidak ada Putri, karena Putri sedang menuju ke kamar kecil.


" Ayo sayang, kita ke restoran ya, kan Alvin sudah membeli tiga mainan, ini sudah banyak, jadi kita tidak perlu jalan - jalan di sini lagi ". Ajak Nadira pada putranya.


" Iya bunda ". Sahut Alvin.


Nadira sangat paham jika putranya ini masih merasa tergiur dengan banyaknya mainan yang terpajang di tempat ini, namun dirinya harus bisa mengontrol keinginan putranya.


Alvin harus di didik untuk bisa berhemat sejak dini, jika setiap kali apa yang diinginkannya selalu dituruti, sudah pasti jika besar nanti putranya ini akan menjadi seseorang yang manja dan tidak punya pendirian akibat dari sering dituruti nya keinginannya.


" Ayo sayang ". Ajak Nadira, lalu dengan lembut ibu muda itu pun menggenggam tangan kanan putranya dan menuntunnya untuk pergi dari area penjualan mainan ini.


Dengan sambil lalu menunggu sahabatnya Putri, Nadira dan juga putranya terus melangkah untuk menuju ke area restoran yang berada di mall ini.


Nadira melangkah dengan pandangannya yang sedikit menunduk, maklum saja Nadira seperti ini karena ia harus memastikan jika putranya Alvin melangkah dalam keadaan baik dan tidak terburu - buru sehingga tidak mengakibatkan nya terjatuh.


" Sayang, Alvin nanti mau pesan ayam goreng? ". Seru Nadira karena itulah salah satu makanan favorit putranya.


" Iya bunda, Alpin mau ayam dolen ". Sahut Alvin dengan sumringah.


Alvin sangat suka jika dirinya mendengar akan makan ayam goreng, karena itu adalah salah satu makanan favoritnya, bahkan sewaktu masih tinggal bersama bunda nya dulu, tidak jarang bagi Alvin makan dan ingin dibuatkan ayam goreng.


" Baiklah anak bunda ". Sahut Nadira.


Dengan perasaan senang Nadira terus melangkah dengan menuntun putranya, dengan pandangannya yang sudah mulai mengarah ke depan, tak membuat Nadira selesai dengan obrolannya dengan putranya Alvin.


" Nanti saat di resto Alvin mau minum apa sayang?, mau minum jus atau minuman yang la... ". Seketika itu ucapan Nadira menjadi terhenti.


Deg...


Sontak Nadira pun langsung menghentikan langkahnya. Nadira begitu sangat terkejut setelah melihat sosok yang saat ini sedang berada tegap di depannya. Sosok yang sudah satu minggu ini tak pernah dirinya lihat. Dan kini ia berdiri dengan nyata di depannya.


Namun bukan hanya itu yang membuatnya semakin menjadi sangat terkejut, ternyata sosok yang ada di depannya ini sedang bersama seorang wanita, bahkan wanita ini adalah wanita yang sudah pernah memfitnah nya.


" Dira, ternyata kamu ada di sini juga? ". Sapa Celine pada Nadira.


Ya, saat ini Nadira bertemu dengan Andra dan juga Celine.


Andra yang kembali melihat sosok kekasihnya yang sudah cukup lama tidak dirinya lihat ini menjadi merasa sedikit khawatir. Bagaimana jika Nadira sampai salah paham dengan kebersamaannya bersama Celine.


Namun selain rasa khawatirnya, ada hal lain lagi yang cukup membuat pandangan Andra dalam sejenak menjadi teralihkan.


Untuk sejenak pandangan Andra menjadi teralihkan akan sosok mungil yang saat ini sedang digandeng oleh Nadira. Siapakah sosok anak laki - laki kecil yang saat ini sedang bersama kekasihnya.


Nadira yang menyaksikan bagaimana kekasihnya Andra berjalan bersama dengan Celine, bahkan dengan tidak sungkannya Celine menggandeng lengannya, telah berhasil membuat hati Nadira seolah menjadi teriris.


Apa maksud dari semua ini. Mengapa Celine menggandeng lengan kekasihnya. Apa mereka sudah menjalin hubungan, mereka sudah menjadi sepasang kekasih.


Apa yang terlihat di depan kedua matanya, sungguh menyakitkan bagi Nadira. Nadira sangat tak menyangka dengan pertemuan tak terduga nya ini. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan kekasihnya Andra dalam keadaan seperti ini, keadaan di mana Andra sedang digandeng oleh wanita yang telah berhasil membuat kesalahpahaman antara hubungannya dengan Andra sendiri. Sungguh semua ini benar - benar terasa begitu menyakitkan.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2