Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Perhatian Aida


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam yang panjang telah usai dilalui, dan telah berganti menjadi pagi hari yang begitu sangat menyejukkan.


Wajah imut dengan perpaduan antara cantik dan manis, serta memiliki ciri khas bola mata biru itu, benar - benar membuat kecantikan gadis kecil yang masih berusia lima tahun itu seolah tak pernah bosan di pandang.


Pagi ini gadis kecil yang sudah wangi itu akan bersiap - siap untuk sarapan pagi bersama bundanya. Keduanya benar-benar terlihat sangat cantik, apalagi keduanya menggunakan model baju yang sama yang menandakan jika keduanya sangat kompak.


Cup... cup...


" Cantiknya anak bunda, ayo sayang kita siap - siap ". Seru Nadira.


" Siap - siap kemana bunda? ". Sahut Aida.


" Ya siap - siap untuk sarapan lah sayang, tapi sebelum sarapan kita ke kamar Alvin dulu ya, kita sarapan bersama ". Tutur Nadira yang menjelaskan.


" Daddy sudah di meja makan ya bunda?, kenapa tidak nunggu kita sih? ". Sahut Aida, karena pasalnya daddy nya keluar seorang diri dari kamarnya tanpa menunggu dirinya.


" Iya sayang, daddy sudah siap di meja makan, mungkin daddy mu sudah sangat lapar jadinya memilih sarapan lebih dulu, ya sudah ayo kita temui Alvin dan nenek Lusi ". Sahut Nadira.


Nadira menggandeng putri kecilnya dan melangkah keluar bersama menuju kamar Alvin.


Hari ini adalah hari terakhir Alvin menginap di rumah ini, entah kapan lagi ada kesempatan bagi putranya agar bisa tinggal di rumah ini lagi.


Nadira bersama putri kecilnya Aida terus melangkah hingga keduanya kini tepat berada di pintu kamar Alvin.


Ceklek...


Dan pintu kamar itupun telah berhasil dibukanya.


" Sayang, Alvin, mama, ayo kita sarapan dulu, sarapannya sudah siap di meja ". Seru Nadira lembut setelah dirinya dan juga putrinya masuk ke kamar itu.


" Iya sebentar lagi nak, ini mama masih mau merapikan mainan Alvin ". Sahut Lusi.


Nadira memperhatikan putranya, putranya Alvin hanya duduk diam memperhatikan neneknya tanpa sama sekali menoleh padanya. Nampaknya putranya begitu sangat kepikiran akan yang dihadapinya. Kemungkinan putranya merasa sangat berat karena harus pulang dan kembali menjauh darinya.


Nadira mendekati putranya dan meninggalkan putrinya Aida yang sedang berdiri mematung.


" Alvin sayang, Alvin baik - baik saja kan nak? ". Dengan lembut Nadira mulai merengkuh tubuh mungil putranya.


Nadira sangat tahu dengan apa yang menjadi penyebab putranya diam seperti ini, namun dirinya tetap bertanya semata-mata karena dirinya ingin membuka obrolan dengan putranya.


" Alvin sayang, kenapa tidak lihat bunda?, bunda mengajak Alvin untuk sarapan loh, ayo kita sarapan ". Seru Nadira lagi.


Dan benar saja, akhirnya Alvin mau menoleh padanya. Alvin mengangguk sebagai tanda jika dirinya bersedia mengikuti ajakan bundanya.

__ADS_1


Alvin sudah mau diajak bicara, sementara Aida masih diam berdiri membeku dengan pandangannya yang tak lepas dari sebuah koper berwarna hitam yang berukuran tak terlalu besar.


Melihat koper itu entah mengapa malah timbul desiran kesedihan di relung hatinya. Telah siapanya koper itu membuat Aida sadar jika hari ini Alvin akan pergi dari rumahnya.


Menyadari akan hal ini jujur membuat Aida merasa sangat sedih. Jadi Alvin akan benar pergi dari rumah ini, mengapa begitu sangat cepat sekali.


Ya, tak bisa dipungkiri jika keberadaan Alvin selama beberapa hari ini di rumahnya, tanpa Aida sadari ternyata memiliki keberartian tersendiri.


Aida baru menyadarinya sekarang jika keberadaan Alvin selama ini begitu sangat berkesan baginya. Bagaimana tidak berkesan, jika selama beberapa hari ini dirinya banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Alvin, pastilah kebersamaannya selama beberapa hari ini cukup banyak memberikan hal - hal penting dalam kesehariannya.


Entah mengapa rasanya tak rela jika Alvin memang benar harus kembali pulang hari ini. Dirinya ingin Alvin lebih lama tinggal di rumahnya.


Merasa menyesal, mungkin itulah yang Aida rasakan. Aida merasa menyesal karena selama beberapa hari bersama Alvin, dirinya kurang begitu bisa menunjukkan sikap ramahnya. Dan sekarang ketika Alvin sudah akan pergi, barulah dirinya menyadari akan betapa pentingnya Alvin.


" Ayo sayang Alvin, kita sarapan sekarang nak ". Ajak Nadira.


" Ayo ma kita sarapan, ayo semuanya sarapan ".


Lantas Nadira mulai menurunkan tubuh mungil putranya dari atas ranjang kasur. Nadira menuntun putranya sebelum akhirnya dirinya juga menuntun putrinya Aida.


Ibu muda itu menuntun kedua anaknya menuju ke ruangan meja makan. Seolah seperti tak ada persaingan, kedua bocah kecil itu menggandeng tangan bunda mereka dengan begitu sangat akur.


Merasakan keakuran ini membuat Nadira menjadi tersenyum, apalagi setelah mengetahui sikap putrinya Aida.


Aida tak bersikap seperti biasanya, biasanya Aida selalu menjadi posesif kala Alvin selalu ingin bersama bundanya. Namun kali ini sikap Aida terlihat menjadi lebih ramah.


" Selamat datang nona, nyonya ". Sapa bi Sari dan juga suster Lina ramah.


" Terima kasih bi, sus ". Dengan tersenyum Nadira menyahut sapaan mereka.


Asisten rumah tangga yang mana yang tak merasa dihargai jika majikannya sangat ramah seperti Nadira, pastilah mereka akan sangat senang karena selalu mendapatkan respon yang baik dari majikannya.


Selain cantik, ramah pula, benar - benar majikan ideal.


" Mas, mas Andra masih belum sarapan?, berarti dari tadi mas hanya duduk di sini? ". Seru Nadira, pasalnya di piring milik suaminya masih belum tertata makanan apapun.


" Aku menunggu kalian ". Sahut Andra singkat.


Andra memperhatikan Alvin, tatapannya kali ini tak seperti biasanya, tatapannya terlihat lebih sendu.


Alvin sangat menyadari jika daddy nya Aida sedang memperhatikan dirinya, namun bocah kecil itu memilih acuh seolah seperti orang yang tak diperhatikan oleh siapapun.


Mereka semua sudah mulai duduk tenang dengan mulai menyajikan makanan yang mereka suka ke masing-masing piringnya, namun belum sampai satu menit lamanya mereka duduk bersama, tiba - tiba saja si kecil Aida memerosotkan tubuhnya dari kursi khususnya.


" Sayang, mau kemana? ". Tanya Nadira.


" Mau duduk di samping Alvin bunda ". Sahut Aida.

__ADS_1


Gadis kecil itu berpindah posisi dengan membawa piring kesukaannya, entah apa yang ingin dilakukan oleh Aida.


Aida duduk di kursi sebelah yang ada di samping kursi milik Alvin. Jujur Alvin merasa sedikit gugup karena Aida memilih duduk di sampingnya. Biasanya Aida selalu duduk di samping bunda Nadira nya, tapi sekarang Aida malah memilih duduk di sampingnya.


" Alvin, kenapa kamu diam?, kamu masih belum ambil nasinya?, ya sudah aku ambilkan ya ". Ternyata Aida malah menawarkan bantuan.


" Eh nona Aida, tidak perlu, biar saya saja yang menyiapkannya untuk tuan muda Alvin ". Tahan Lina.


" Sudahlah sustel Lina, aku mau bantu Alvin, ini sebagai hubungan pelsaudalaan, kamu jangan ganggu, aku mau bantu Alvin ambil nasinya ". Sahut Aida yang menolaknya.


Dan benar saja, gadis kecil itu benar mengambil centong nasinya. Karena tubuhnya yang masih kecil, membuat Aida sedikit kesulitan mengambil nasinya, alhasil Aida malah berdiri di atas kursinya dan mengambilkan nasi untuk Alvin.


Apa yang dilakukan oleh Aida kali ini benar-benar membuat semua orang menjadi menatap tak percaya. Aida perhatian pada Alvin, gadis kecil itu ingin menunjukkan rasa perhatiannya pada saudara barunya. Baru kali ini Aida menunjukkan rasa perhatiannya, dan sikap Aida ini benar-benar sangat jauh berbeda dengan hari - hari sebelumnya yang cenderung menyaingi Alvin.


Apalagi Andra, sang daddy yang selama ini selalu merasa khawatir jika putrinya akan kekurangan kasih sayang dari bundanya Nadira karena hadirnya sosok Alvin. Andra sangat tak menyangka jika putrinya Aida bisa juga perhatian dengan saudara barunya.


" Kamu mau lauk apa Alvin?, bial aku ambilkan juga ". Tawar Aida lagi.


" Emm... tidak pellu Aida, atu bisa ambil sendili, tata nenek atu halus mandili ". Sahut Alvin, karena bocah kecil itu sudah merasa cukup dengan bantuan dari Aida.


" Kenapa, apa kamu tidak suka kalau aku bantu?, kan kata bunda kita saudala ". Sahut Aida.


" Emm... ya sudah tidak apa - apa, atu mau itu, ayam golen ". Pasrah Alvin.


Alvin tak ingin kembali menolak bantuan dari Aida karena nanti yang ada bisa panjang urusannya.


" Selain ayam goleng, aku juga ambilkan sayul buat kamu, kamu juga halus makan sayul kalna kata bunda sayul itu buat badan jadi sehat ". Terang Aida dengan meletakkan sayuran di atas piring Alvin.


" Alvin, kenapa kamu hanya diam nak?, ayo ucapkan terima kasih pada kak Aida mu ". Seru sang nenek Lusi karena cucunya hanya diam saja.


" Telima tasih Aida ". Sahut Alvin cepat - cepat.


" Iya, sama - sama ". Sahut Aida.


Ini benar-benar seperti sebuah mimpi indah di pagi hari yang rasanya seperti tak ingin usai.


Nadira tersenyum bahagia menyaksikan semua ini. Rasanya baru kali ini dirinya melihat kedua anaknya bisa seakrab ini.


Mengapa baru sekarang kedua anaknya bisa begitu sangat akrab, andai saja jika semenjak pertama kali bertemu keduanya bisa seakrab dan seakur ini, pasti keindahan ini sudah ada sejak awal.


Namun setidaknya ini tetap menjadi hal yang baik, meski sedikit terlambat setidaknya ini tetap bisa menjadi awal hubungan persaudaraan yang baik antara Aida dan juga Alvin.


Dengan akurnya kedua anaknya bisa menjadi jalan agar putranya Alvin bisa terus menghubunginya, atau bahkan mungkin putranya bisa sering menginap di rumah ini.


Dan sebagai seorang ibu tentu Nadira harus benar-benar memanfaatkan momen ini, dengan harapan agar kedua anaknya tetap menjadi saudara.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2