Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Bunda


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Dua mobil mewah dengan harga yang fantastis itupun mulai secara beriringan menuju halaman rumah sosok wanita yang sudah hampir menginjak kepala lima itu.


Setelah hampir sekitar dua puluh menit lamanya masing - masing sejoli itu melakukan perjalanan menuju pulang.


Sementara bu Dewi, sang ibu dari kedua gadis cantik itupun nampak keluar dari dalam rumahnya lantaran dirinya melihat dua mobil mewah yang nampak berjejer berurutan memasuki halaman rumahnya.


Nadira dengan Andra sudah keluar dari mobil mewahnya, begitupun denga Firly dan juga Putri.


Bu Dewi yang menyaksikan kedua putrinya keluar dari masing - masing mobil mewah itu menjadi sedikit bingung, jika Nadira sudah keluar dari mobil Andra, bu Dewi sendiri sudah merasa tidak aneh, namun putrinya sendiri bagaimana, bagaimana bisa anak perempuannya malah diantar oleh sosok pria yang pernah bu Dewi sendiri lihat beberapa waktu yang lalu.


" Terima kasih mas sudah mengantarku ". Seru Nadira yang berterima kasih.


" Iya sayang, tidak perlu berterima kasih, lagipula sangat sepi rasanya jika sehari saja aku tak melihat wajahmu ". Sahut Andra dengan segala ungkapannya.


Mendengar sahutan dari Andra ini membuat Nadira menjadi tersipu malu.


Dan tak lama dari itupun bu Dewi mendekati mereka berempat.


" Tuan - tuan terima kasih karena sudah mengantar Dira dan juga Putri, maaf ya anak - anak ibu selalu merepotkan kalian ". Sahut bu Dewi dari belakang tubuh Nadira.


Sontak Nadira dengan Putri pun langsung menoleh ke arah belakang.


" Tidak apa - apa bu ". Sahut Andra dengan santai.


" Ibu, ibunya Putri kan? ". Seru Firly.


" Iya tuan benar, saya ibunya Putri sahut bu Dewi.


" Jangan panggil saya tuan bu, panggil saja saya dengan Firly ". Sahut Firly.


Firly pun mendekati bu Dewi, lalu tanpa berbicara apapun, ia mulai meraih punggung tangan kanan bu Dewi lalu menciumnya.


Deg....


" Ya Allah, tuan, apa yang tuan Firly lakukan? ". Sentak bu Dewi, bu Dewi begitu sangat terkejut karena Firly tiba - tiba saja melakukan hal itu.


" Sudah saya katakan, jangan panggil saya tuan bu, tapi panggil saya Firly, atau nak Firly juga boleh ". Tutur Firly lagi.


Putri yang menyaksikan aksi Firly pun menjadi dibuat bingung sekaligus merasa kagum, ternyata sosok pria yang dirinya kira sedikit sedikit bar - bar dan nampak tak begitu serius, bisa bersikap sesopan ini pada ibunya, bahkan Firly bersikap sedikit merendah pada ibunya.


Sementara Andra sendiri, entah mengapa merasa tersindir atas sikap Firly. Ya, Andra merasa tersindir karena selama dirinya menjalin kasih dengan Nadira tak pernah sekalipun ia memperlakukan bu Dewi seperti yang dilakukan oleh sahabatnya Firly.


Dalam hal ini Andra merasa ditampar namun tak ada bekas, namun harus bagaimana lagi, mungkin karena di niat awalnya dirinya menjalin hubungan dengan Nadira karena memiliki alasan yang lain, sehingga seperti inilah jadinya, dirinya sudah lupa untuk memperlakukan bu Dewi secara lebih terhormat.


" Bisa - bisanya kamu Fir ". Batin Andra.


" Emm... nak Firly, kenapa harus sampai cium tangan begini, tidak perlu nak ". Seru bu Dewi yang menolaknya secara sopan.


" Tentu saja perlu bu, dan itu harus, karena biar bagaimana pun, ibu kan calon ibu mertuaku ". Sahut Firly dengan tersenyum simpul.


Deg...


Putri terkejut, ia begitu sangat tertegun dengan pernyataan Firly kepada ibunya, apa maksudnya Firly mengatakan hal yang demikian, memangnya Firly akan menikah dengannya.


" Calon ibu mertua?, maksudnya bagaimana ini nak, ibu tidak mengerti ". Sahut bu Dewi.


Sangat nampak jelas jika bu Dewi merasa kebingungan.


" Bu, sudahlah bu, jangan dengarkan mas Firly, dia memang begitu orangnya ". Timpal Putri.


" Baby, kenapa kamu bicara begitu, ibu mu harus tahu jika aku ini calon menantunya ". Sahut Firly.

__ADS_1


" Apa calon menantu, calon menantu apa sih mas? ". Sahut Putri, nampaknya Putri sedang berusaha untuk menutupi hubungannya dengan Firly.


Namun bukan Firly namanya jika melakukan sesuatu tidak secara terang - terangan.


" Begini bu, saya dengan Putri sudah resmi pacaran bu, jadi saya ini calon menantu ibu ". Sahut Firly pada akhirnya.


Bu Dewi yang mendengar ujaran dari Firly memang cukup tersentak, namun dirinya tak terlalu begitu terkejut, Firly sudah mengatakan jika bu Dewi sendiri adalah calon ibu mertuanya, jadi ada kemungkinan jika Firly memang menjalin hubungan dengan putrinya.


Andra yang menyaksikan tingkah sang sahabat, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, bukan Firly namanya jika tak bertingkah terbuka seperti ini.


" Jadi, nak Firly dengan putri ibu sudah pacaran? ". Seru bu Dewi yang ingin memastikan.


" Iya bu, kami sudah pacaran, bahkan setelah Putri lulus kuliah, saya dengan dia akan menikah ".


" Apa?... ". Sentak semuanya yang begitu sangat terkejut.


" Jangan gila kamu Fir ". Sentak Andra.


" Tidak, aku tidak gila ". Sanggah Firly.


Plak...


" Aw... sakit baby, kenapa kamu memukulku? ". Firly meringis lantaran kekasihnya memukul lengan kanannya dengan begitu kencang.


" Bercandamu tidak lucu mas ". Sahut Putri yang sudah merasa begitu geram.


" Putri, kamu sudah merencanakan pernikahan? ". Sahut Nadira pada akhirnya setelah cukup lama ia menjadi penonton akan drama live yang ada di depannya.


" Ti-tidak Dir, kamu jangan percaya... dan ibu, jangan percaya juga, aku dengan mas Firly memang sudah berpacaran, tapi di antara kami sama sekali belum merencanakan pernikahan, iya benar begitu, yang dikatakan mas Firly itu bohong ". Sanggah Putri.


" Bohong apanya sih baby, kita kan sudah pacaran, jadi endingnya ya pasti kita akan menikah ". Sanggah Firly juga.


" Ya sudah - ya sudah, jika kalian memang memiliki sebuah hubungan, ibu merestui hungan kalian, tapi ada satu permintaan ibu, selama kalian masih belum menikah, jangan sampai kalian melakukan sesuatu yang melebihi batas ". Sahut bu Dewi pada akhirnya.


Bu Dewi memang sempat terkejut setelah mengetahui hungan putrinya dengan kekasihnya, namun setelah itu dirinya memaklumi dan menerimanya.


" Sayang, ya sudah, aku harus pulang, pasti Putriku Aida sedang menungguku di rumah ". Seru Andra pada Nadira.


" Iya mas ". Sahut Nadira yang tersenyum.


" Loh Dra, kamu sudah mau pulang saja ". Protes Firly.


" Iya, aku memang mau pulang ". Sahut Andra singkat.


Lalu Andra mengarahkan kedua bola mata birunya itu pada sepasang tangan mungil Nadira, digenggam nya sepasang tangan mungil itu dengan begitu lembut, dan...


Cup...


Andra juga mencium kening Nadira dengan lembut.


" Sayang aku pulang dulu ya ". Seru Andra lagi dan Nadira pun mengangguk.


Seusai melakukan hal itu, lalu Andra pun mulai melangkah pergi meninggalkan Firly, pria berusia matang itu melangkah menuju mobil mewahnya.


" Hey Andra tunggu ". Seru Firly namun tak digubris oleh Andra.


Andra sudah cukup jengah dengan tingkah Firly, jika Firly juga ikut dengannya, entah mengapa membuat suasana di sekitarnya menjadi semakin gaduh.


Itu memang benar, wajar saja jika Firly juga ikut dengannya, karena dia pun datang ke tempat ini adalah memang untuk mengantar kekasihnya.


*****


Sang waktu yang terus berjalan seolah lebih cepat, entah itu bisa dirasakan ataupun tidak, namun yang pasti waktu kini sudah menunjukkan malam hari.


Kini, di bawah atap yang sama dua gadis cantik itu, nampak disibukkan dengan kegiatan malam mereka.

__ADS_1


Malam ini Nadira nampak memeriksa segala keperluannya dan juga sang sahabat untuk keperluan kemah mereka esok.


Putri sama sekali tak membantunya, gadis itu malah sibuk dengan layar ponselnya sendiri dan tak jarang ia pun juga tersenyum ke arah ponselnya, seolah di dalam layar ponselnya itu ada sesuatu yang begitu sangat lucu.


" Hmmm... ternyata, setelah jadi pacar kak Firly, kamu jadi tersenyum begitu terus Put, sampai lupa jika di dekatmu ini ada aku ". Seru Nadira yang sengaja menyindir sang sahabat.


" Eh, hehehe... siapa yang lupa sih Dir, kamu bicara begitu seperti kamu tidak pernah saja dengan tuan Andra ". Sahut Putri.


Nadira tak menyahut, lagipula dirinya menyindir sang sahabat karena hanya ingin menggodanya saja, dan seusai obrolan singkat itu, Nadira melakukan kegiatannya yang lain, kali ini gadis cantik yang tidak lama lagi akan genap berusia dua puluh satu tahun itu mencoba melihat kembali jadwal yang ditentukan untuk kegiatan kemah besok.


Dengan teliti Nadira pun membacanya, menurutnya kegiatan untuk kemah besok nampaknya akan sangat menyenangkan, bagaimana tidak, dari jadwal yang dibacanya, cukup banyak hal yang berhubungan dengan pelestarian alam sekitar, dan Nadira sangat menyukai hal itu.


Nadira masih terus membaca jadwal kegiatan berkemah itu hingga pada akhirnya...


Drtt... drtt... drtt...


Getaran dari suara handphone nya yang berada di atas meja kecil itu pun terdengar seolah mengusik indera pendengarannya.


" Siapa yang menelfon ya? ". Gumam Nadira dan hendak untuk mendekati handphone nya.


" Mungkin kesayangan kamu si tuan Andra yang menelfon Dir ". Goda Putri.


Nadira mulai meraih handphone pintarnya, namun kali ini bukan panggilan telepon, melainkan panggilan video.


" Ini siapa ya, kok nomer handphone nya tidak aku kenal? ". Batin Nadira.


Nadira merasa ragu untuk menjawab panggilan video itu, ia tak pernah mengangkat panggilan video dari nomer yang tak dikenalnya.


" Dir, kenapa diam, itu handphone mu sepertinya masih berbunyi? ". Tanya Putri.


" Iya Put, tapi masalahnya nomernya tidak aku kenal, kalau hanya menelfon saja mungkin aku akan menerimanya, tapi ini panggilan video ". Sahut Nadira.


" Ya sudah coba angkat saja dulu, siapa tahu itu dari orang yang kamu kenal tapi sudah ganti nomer handphone ". Sahut Putri.


" Humm... baiklah, kamu benar juga ". Sahut Nadira pada akhirnya, Nadira mengikuti saja saran dari sahabatnya, siapa tahu orang yang melakukan panggilan video ini adalah orang yang dikenalnya.


" Loh... sudah mati ". Seru Nadira.


Baru saja Nadira ingin menjawab panggilan video itu, namun panggilan videonya telah berakhir.


" Kamu sih terlalu lama menjawabnya, akhirnya mati kan ". Sahut Putri yang begitu menyayangkan sikap lelet dari sahabatnya.


" Ya sudah, kalau kamu memang merasa takut, sudah letakan saja handphone mu Dir, tidak usah panggil balik ". Imbuh Putri lagi.


Tak ada bantahan dari Nadira, ia meletakkan kembali benda pipih itu di atas mejanya.


Drtt... drt... drtt...


Dan ternyata handphone pintanya itu malah bergetar kembali.


" Cepat angkat Dir sebelum mati lagi ". Peringat Putri lagi, Putri sudah merasa cukup kesal dengan sikap lelet sahabatnya ini.


" Iya - iya, akan segera aku angkat ". Sahut Nadira.


Nadira kembali meraih handphone nya itu, dan ternyata nomer yang sama telah kembali melakukan panggilan video padanya.


Dengan penuh kehati - hatian, jempol kanan miliknya itu ia usapkan pada layar handphone nya, sehingga gambar pada layar handphone nya itu terpampang nyata.


" Bunda... ". Seru suara seorang bocah kecil yang terlihat jelas di layar handphone nya.


Deg....


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2