
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari telah menyinari di hampir bagian ufuk timur, sinar paginya memang selalu memberikan semangat bagi hampir semua insan yang akan memulai aktivitas mereka.
Seperti di pagi ini, dua gadis cantik akhirnya akan berangkat bersama untuk kuliah dengan menaiki motor matic, wajar jika mereka berangkat bersama karena kekasih mereka sama - sama telah berada di luar negeri untuk kepentingan pekerjaan.
" Bunda... ". Teriak suara seorang gadis kecil yang ternyata sudah siap siaga menunggu sang bunda di dekat mobilnya.
" Sayang ". Sahut Nadira.
Nadira cukup terheran dengan kedatangan putri kecilnya pagi ini, pasalnya sangat jarang putrinya ini datang, meski sebenarnya kedatangannya di temani oleh supir pribadinya.
" Bunda ". Seru Aida lagi, lalu gadis kecil itupun ingin memeluk bunda nya.
Dengan penuh kasih sayang Nadira pun membalas pelukan tubuh mungil putrinya itu, gadis cantik yang akrab dipanggil dengan sebutan bunda itu memeluk putrinya dengan erat.
Cup... cup... cup... dengan lembut Nadira menciumi kening dan juga bagian wajah mungil Aida yang lainnya.
" Sayang, ada apa, kenapa putri bunda yang cantik ini pagi - pagi sudah datang, memangnya Aida tidak belajar piano nak? ". Tanya Nadira lembut pada putrinya.
" Tidak bunda, hali ini Aida tidak belajal piano, kalna hali ini Aida mau antal bunda ke kampus ". Sahut Aida yang menejalaskan.
" Benar nona, nona Aida menolak untuk belajar piano, katanya ingin mengantar nona Dira ke kampus untuk menggantikan tuan Andra ". Timpal pak Rahman agar Nadira memahami maksud kedatangan nona Aida nya.
" Iya bunda, Aida mau gantikan daddy untuk antal bunda ke kampus, kan daddy ada di lual negeli jadinya Aida saja yang antal bunda ". Sahut Aida.
Entah darimana gadis kecil ini memiliki inisiatif seperti ini, seolah mengerti akan tanggungjawab daddy nya yang terbiasa untuk mengantar bunda nya ke kampus, kini Aida malah mengambil alih tanggungjawab itu.
Tentu Nadira sebagai bunda nya merasa begitu sangat bangga dan juga senang, bagaimana tidak, masih kecil saja putrinya ini sudah memiliki inisiatif yang seolah mengerti akan tanggungjawab orang dewasa.
" Dira, kan putrimu sudah datang menjemput, ya kamu ikut saja, kan masih nanti sore kita mau ke mall nya ". Seru Putri.
Ya, selain Nadira dan juga Putri akan berangkat bersama, mereka berdua pun sudah memiliki janji jika nanti sore setelah pulang kuliah akan mampir ke mall terlebih dahulu untuk membeli keperluan mereka yang sudah mulai habis.
" Ya sudah, aku berangkat duluan ya ". Lanjut Putri lagi dan diangguki oleh Nadira.
" Ayo bunda, tunggu apa lagi, kita belangkat sekalang ". Ajak Aida.
" Baiklah sayang, tapi nanti sore Aida tidak perlu menjemput bunda ya, karena bunda masih harus ke mall dengan aunty Putri ". Sahut Nadira dengan menahan tangan mungil putrinya.
" Iya... okey... baiklah bunda, ayo sekalang masuk ke mobil ". Sahut Aida lagi.
Rupanya Aida sudah begitu tak sabar ingin mengantar bunda nya, lebih tepatnya gadis kecil itu sudah begitu tak sabar ingin bersama bunda nya di dalam mobil.
Kini, hanya tersisa bekas sepatu dan ban kendaraan mereka saja, karena mereka sudah berada di kendaraan mereka masing - masing.
*****
Di lain tempat, jauh dari keramaian ibu kota, kini di sebuah rumah yang cukup besar, lebih tepatnya di kamar pribadinya, seorang wanita nampak tersenyum dengan penuh rasa haru.
Ia merasa terharu lantaran prasangka nya akan adanya sebuah kehidupan di rahimnya benar - benar terbukti, hal itu terlihat dari adanya dia garis merah dari dua alat tes kehamilan yang berbeda, merasa sangat bahagia, itulah yang dirinya rasakan.
" Ya Allah, jadi ini benar, aku hamil lagi ". Seru Diana yang masih tak percaya dengan kehamilannya.
Ya, setelah sekitar lima bulan lamanya dirinya hidup bersama dengan Dani setelah rujuk, kini tanpa disangka - sangka, Tuhan, telah kembali memberikan kepercayaan padanya.
__ADS_1
Pantas saja selama beberapa hari ini dirinya merasa mual dan sudah sekitar dua bulanan dirinya sudah tidak kedatangan tamu bulanannya, ternyata ini penyebabnya, dirinya tengah hamil anak keduanya.
" Alhamdulillah, aku hamil lagi, pasti mas Dani sangat senang mengetahui kabar ini ". Sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana kebahagiaan yang Diana rasakan saat ini.
" Tapi tidak, sebaiknya aku memberitahu mas Dani nanti saja setelah pulang, tidak seru rasanya jika memberitahunya lewat telepon ". Diana mencoba menahan keinginannya setelah baru saja dirinya sempat memegang handphone nya.
" Bunda ". Seru suara seorang bocah kecil yang tiba - tiba terdengar dari arah belakang tubuh Diana.
" Alvin, sayang, ada apa nak? ". Sahut Diana pada putranya Alvin.
" Tapan ayah mau pulan bunda, Alpin cudah tidak cabal mau tetemu bunda Dila? ". Tanya Alvin.
Ya, tak seperti sebelum - sebelumnya, kini Alvin sudah diperbolehkan untuk bertemu Nadira, setelah sekitar satu minggu lamanya Alvin pernah sakit bahkan hingga dilarikan ke rumah sakit, ayah dari Alvin yaitu Dani sudah memberikan izin jika Alvin ingin bertemu dengan bunda Nadira nya.
Bukan tanpa sebab Dani memperbolehkan putranya untuk bertemu dengan Nadira, hal itu karena selama Alvin sakit, hanya nama Nadira lah yang selalu dipanggil, sehingga Dani pun merasa tidak tega melihat kondisi putranya, dan mau tidak mau, Dani pun harus mempertemukan Alvin dengan Nadira.
" Ayo bunda, telpon ayah, tapan ayah pulan?, Alpin cudah tidak cabal mau beltemu bunda ". Seru Alvin lagi.
" Alvin, sayang, sabar dulu ya nak, kan kita masih besok berangkatnya untuk bertemu dengan bunda Dira nya Alvin, jadi Alvin tenang saja dulu ya, pasti nanti sore ayah Alvin sudah pulang ". Sahut Diana yang mencoba menenangkan putranya.
" Huum, dandi ya bunda, becok tita mau beltemu bunda Dila? ". Seru Alvin lagi yang ternyata masih ingin memastikan.
" Iya anak bunda, pasti ". Sahut Diana.
Mungkin seperti inilah nasib yang harus diterima dirinya, pernah mengandung dan melahirkan Alvin belum tentu bisa membuat Alvin menjadi lebih dekat padanya.
Namun tak mengapa, karena sampai sejauh ini, meski masih belum sepenuhnya, Alvin sudah mau menerima dirinya, bahkan Alvin sekarang menjadi lebih banyak berkomunikasi dengannya.
Drtt... drtt... drtt...
Suara getaran handphone miliknya yang sempat dirinya letakkan di meja riasnya rupanya sedang bergetar yang menandakan jika sedang ada seseorang yang menghubunginya.
" Iya sayang, mungkin itu ayahnya Alvin yang menghubungi, sebentar ya, bunda angkat telfon dulu ". Sahut Diana.
Tak ingin berlama - lama, Diana pun mengangkat handphone nya itu, namun setelah melihat layar handphone nya, Diana menjadi mengernyit bingung, pasalnya ini bukanlah nomer yang dirinya kenal.
" Halo, ini dengan siapa? ". Tanya Diana setelah mengangkat panggilan itu.
" Maaf mbak, apa benar ini keluarga dari mas Dani? ". Sahut orang dari balik handphonenya.
" Iya benar, saya istrinya, ada apa ya? ". Sahut Diana.
" Begini mbak, mas Dani mengalami kecelakaan ".
Deg...
" Dia ditabrak oleh pengendara motor yang sedang mabuk, dan sekarang mas Dani sedang dibawa ke rumah sakit ".
Bak mendapatkan sambaran petir, Diana begitu sangat terkejut, apa yang dirinya dengar ini bagaikan sebuah bom waktu yang telah meledak sehingga telah meluluhlantakkan semuanya.
" Mbak, mbak, apa mbak masih bisa mendengar saya? ". Tanya orang itu.
" Sekarang di rumah sakit mana suamiku dirawat? ".
" Kalau begitu, saya kirim lewat pesan saja mbak, biar lengkap ". Putus suara orang itu pada akhirnya.
Diana benar - benar dilanda oleh rasa kekhawatiran, baru saja dirinya merasakan kebahagiaan karena dirinya tengah kembali mengandung, kini dirinya harus dihadapkan dengan musibah yang telah berhasil menghapus semua senyum kebahagiannya.
__ADS_1
" Sayang, kita harus siap - siap nak, kita akan pergi keluar sekarang ". Seru Diana pada Alvin.
" Tita mau temana bunda? ". Tanya Alvin yang merasa bingung.
" Nanti Alvin akan tahu sayang, ayo kita pergi sekarang ". Putus Diana.
Lalu Diana pun membawa tubuh mungil Alvin ke dalam gendongannya. Diana tak tahu apakah kondisi Dani saat ini sedang baik - baik saja atau tidak, namun yang pasti dirinya begitu sangat khawatir dan ingin segera melihat kondisi suaminya itu.
*****
Sungguh tak terasa waktu memang berjalan begitu cepat, padahal baru tadi pagi dirinya berangkat kuliah, namun kini dirinya sudah berada di sebuah restoran di dalam mall bersama sahabatnya.
Membeli kebutuhan bulanan telah selesai, kini dua gadis cantik inipun ingin mengisi perut mereka dengan beberapa menu yang ada di restoran ini.
" Dira, sebentar ya, aku mau ke toilet dulu ". Seru Putri.
" Ya sudah sana pergilah Put, tidak baik kalau ditahan - tahan ". Sahut Nadira.
Padahal baru saja mereka berdua memesan menu, namun Putri sudah mendapatkan panggilan alam.
Dengan duduk bersantai menunggu pesanannya, sesekali Nadira mengedarkan pandangannya ke hampir setiap sudut di restoran ini.
Restoran ini terbilang cukup besar dan juga cukup mewah, namun hebatnya menu makanan di restoran ini memiliki harga yang cukup terjangkau sehingga tak terlalu menguras isi dompet.
Deg...
Terkejut... itulah yang Nadira rasakan saat ini, disaat dirinya sedang begitu asyiknya melihat suasana restoran, tiba - tiba saja Nadira dikejutkan dengan sosok yang begitu tak asing.
" Itu kan mbak Celine, kenapa ada di restoran ini?, bukankah seharusnya mbak Celine ada di rumah sakit untuk menjalani perawatan? ". Gumam Nadira yang begitu sangat keheranan.
Merasa begitu sangat penasaran, Nadira pun mulai beranjak dari tempat duduknya untuk menuju Celine.
Dirinya harus mendapatkan penjelasan, mengapa Celine bisa berada di tempat ini sedangkan seharusnya ia dirawat di rumah sakit.
" Ya Tuhan, Celine, jadi kamu hanya pura - pura sakit?, gila kamu Celine, bagaimana kalau perbuatanmu ini sampai ketahuan? ". Seru teman Celine yang bernama Mita.
" Tidak mungkin, tidak mungkin sampai ketahuan, Andra tidak akan tahu jika aku sebenarnya pura - pura sakit ".
Deg...
" Ya Tuhan, Cel, apa yang kamu lakukan ini sangat berbahaya, kamu jangan main - main Cel, kalau Andra sampai tahu jika kamu membohongi dia, akan tamat kamu Celine ". Peringat Mita.
" Aduh tidak mungkin, jika mainnya cantik, mana mungkin akan ketahuan, sekarang saja Andra begitu sangat peduli padaku ".
" Jangankan sampai ketahuan, aku yakin, Andra sendiri tidak menaruh kecurigaan padaku, jadi untuk ketahuan sangat tidak mungkin ".
" Mbak Celine... ".
Sontak adanya sentakan suara itupun langsung membuat Celine dan juga temannya Mita langsung menoleh ke arah belakang.
Deg...
Bak terjadi ledakan bom yang begitu besar, keberadaan sosok wanita yang saat ini memandang Celine telah benar - benar membuat Celine sangat terkejut bukan main.
Celine membelalakkan kedua bola matanya lantaran melihat Nadira sudah berada bersamanya, dan itu artinya Nadira sudah mendengar semua kebohongannya tentang penyakitnya. Celine benar - benar sudah tertangkap basah. Bagaimana bisa Nadira ada di tempat ini, ini sungguh sangat mengkhawatirkan.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€