
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu terasa begitu cepat berjalan, tanpa terasa sudah satu minggu lamanya Andra telah menjalani masa pemulihan di rumah pribadinya, dan kini ia pun benar - benar sudah pulih.
Sesuai dengan yang telah direncanakan jika dirinya dan juga kekasihnya Nadira akan menikah dalam waktu dekat ini, maka dari hal itu, di kesempatan yang bagus ini, Andra akan meminta restu pada kedua orang tua Nadira di kampung.
Dan kini Andra dan juga Nadira sendiri telah berada dalam perjalanan untuk menuju ke kampung halaman Nadira. Memang sudah tak butuh waktu lama lagi keduanya untuk bisa segera sampai di tempat tujuan. Itulah mengapa mereka lebih memilih untuk berangkat di pagi buta dengan harapan sebelum benar - benar menjelang waktu sore, keduanya telah benar - benar sampai di rumah Nadira sendiri.
" Sayang ". Seru Andra, lantas Nadira pun langsung menoleh ke arah Andra yang sedang menyetir.
" Kenapa kamu diam sayang, sepertinya kita sudah hampir sampai, di mana ini lokasi tepatnya? ". Ujar Andra.
" Mas Andra tetap lurus saja, nanti di depan sana ada jalan pertigaan lalu belok kiri, rumahku ada di sana ". Sahut Nadira.
Tak lama lagi dirinya akan segera bertemu dengan kedua orang tuanya, namun disaat ini sudah hampir menjelang sampai, perasaannya malah menjadi tak menentu. Nadira merasa sedikit enggan jika harus bertemu dengan kedua orang tuanya lagi. Orang tua yang tak pernah benar - benar menganggapnya, orang tua yang tak pernah menanyakan kabarnya lagi disaat dirinya sudah pergi setelah berbulan - bulan lamanya.
Diamnya Nadira yang seperti ini tentu saja tak luput dari perhatian Andra. Tak seperti sebelumnya yang sempat bisa mengobrol, kini Nadira malah menjadi diam dengan rautnya yang nampak datar.
" Sayang, ada apa hum?, apa kamu merasa tidak nyaman? ". Seru Andra.
" Tidak ada mas ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
Nadira tak tahu harus menjawab bagaimana, tidak mungkin kan dirinya mengatakan jika hatinya sedang tak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi setelah sekian lama tak bertemu dan disaat kembali malah datang ingin meminta restu. Entah apa yang akan terjadi nanti, Nadira sendiri juga tak tahu. Namun yang pasti dirinya datang pada kedua orang tuanya adalah untuk meminta restu.
Andra sudah membelokkan mobil mewahnya ke arah kiri sesuai dengan arahan yang diberikan kekasihnya, dan setelah melihat sebuah rumah dengan bercat putih, membuat Andra mulai menghentikan mobilnya.
" Ini rumahmu sayang? ". Tanya Andra.
" Iya mas, ini rumahku, ayo kita turun ". Sahut Nadira.
Dan akhirnya sepasang kekasih yang ingin meminta restu itupun sudah keluar dari mobil mewah mereka.
Andra mulai menggandeng tangan kiri Nadira. Jika dilihat dari rumahnya, bisa dikatakan rumah Nadira ini terlihat lebih besar dari kebanyakan rumah - rumah yang ada di kampung ini. Dari hal itu bisa disimpulkan jika keluarga Nadira adalah keluarga yang cukup berada.
Nadira dan Andra melangkah memasuki halaman rumah yang banyak di tanamai tanaman bunga yang indah. Dan disaat mereka melewati pintu pagar yang terbuat dari bambu itu, nampak seorang pria yang sudah cukup berumur sedang merapikan pot - pot bunga.
Nadira sudah sangat tahu siapa pria yang sudah berumur itu. Siapa lagi pria itu jika bukan pak Ilham, pak security yang selalu senantiasa menjaga rumah dan merawat tanaman - tanaman bunga yang pernah ditanam dirinya dulu.
" Assalamualaikum ". Seru sapa Nadira.
" Waalaikumsalam ". Sahut pak Ilham lalu pak Ilham pun langsung menoleh untuk melihat tamu siapa yang sudah datang di hampir waktu siang seperti ini.
Deg...
" Assalamualaikum, pak Ilham ". Seru Nadira lagi pada pak Ilham.
Tubuh pak Ilham malah menjadi membeku kala melihat sosok yang ada di depannya ini. Benarkah ini, benarkah wanita yang berdiri di depannya ini adalah nona Nadira nya.
" Assalamualaikum, pak Ilham, pak Ilham kenapa? ". Seru Nadira lagi dengan tersenyum.
" Eh, waalaikumsalam, ini non Dira? ". Sahut pak Ilham.
" Iya pak, ini Dira, pak Ilham sudah lupa apa? ". Sahut Nadira dengan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Ya Allah, non Dira, ini benar non Dira, ya Allah, non Dira semakin bertambah cantik saja ". Sahut pak Ilham.
Pak Ilham tak menyangka jika dirinya akan melihat nona Nadira nya lagi. Setelah sekian bulan lamanya, akhirnya nona Nadira yang dirindukan nya menampakkan dirinya juga.
Dan tak lama dari itu, pak Ilham mengalihkan pandangannya pada sosok pria tinggi dan gagah yang ada di samping kanan nona Nadira nya.
__ADS_1
Jujur pak Ilham begitu sangat terkagum dengan sosok pria ini. Baginya, sosok pria yang mendampingi nona Nadira nya ini bak seorang aktor hollywood. Sangat tampan dan sungguh terlihat mempesona.
" Papa, mama, sama kak Siska ada kan pak, Dira mau bertemu dengan mereka ". Seru Nadira.
" Ada non, tuan dan nyonya sedang ada di dalam, non Siska juga ". Sahut pak Ilham.
" Terima kasih pak, pak Ilham dilanjutkan lagi ya bekerjanya ". Sahut Nadira.
" Iya non ". Sahut pak Ilham.
Lalu Nadira dengan masih bergandengan tangan dengan Andra kembali melanjutkan langkah mereka untuk masuk ke dalam rumah.
" Wah... siapa laki - laki yang menggandeng nona Dira, dia tampan sekali seperti aktor hollywood, apa dia pacarnya? ". Gumam pak Ilham dengan rasa keterkagumannya pada sosok pria yang mendampingi Nadira.
Dan kini Nadira dengan Andra telah melewati pintu masuk rumah untuk menuju ke ruang tamu. Tak ada siapapun di ruangan ini. Mungkinkah papa dan juga mama nya sedang duduk di ruang tamu belakang.
" Assalamualaikum, pa, ma, Dira datang ". Seru Nadira namun tak ada sahutan.
" Sayang, di mana orang tuamu? ". Seru Andra.
" Mungkin masih ada di belakang mas ". Sahut Nadira.
Sepanjang berada di ruangan ini, cukup banyak sudut ruangan yang Andra perhatikan. Namun dari sekian sudut yang dirinya lihat, tak ada satupun bingkai foto dari foto Nadira yang terpajang di ruangan ini. Bagi Andra ini terasa cukup aneh.
" Ma, pa, kak Siska, kalian di mana? ". Seru Nadira lagi.
" Siapa sih, iya sebentar ". Sahut suara seorang wanita dari dalam yang Nadira sendiri sudah sangat kenal siapa pemilik suara itu.
" Iya sebentar, siapa sih yang datang siang - siang seperti in... ".
Deg...
Dan wanita itupun menjadi menghentikan langkahnya setelah dirinya melihat akan siapakah sosok yang telah datang.
" Kak, Dira merindukanmu kak ". Seru Nadira, lalu gadis itupun mendekati kakaknya untuk memeluknya.
" Kak, Dira merindukanmu kak ". Seru Nadira lagi dikala dirinya memeluk tubuh Siska.
" Sudah lepaskan, apa yang kamu lakukan Dira? ". Bukannya memberikan pelukan pula sebagai balasannya, Siska malah sedikit mendorong tubuh mungil Nadira.
Sontak saja apa yang dilakukan oleh Siska pada Nadira membuat Andra begitu tersentak kaget. Mengapa saudaranya malah bersikap kasar seperti ini.
" Apa kamu bisa hati - hati? ". Seru Andra dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
Sebenarnya Andra begitu marah setelah melihat Nadira tidak diperlakukan dengan baik oleh saudaranya sendiri, namun sebisa mungkin Andra menahan amarahnya itu.
Siska yang melihat sosok Andra merasa begitu sangat terpesona dengan ketampanannya. Selama seumur hidupnya, baru kali ini dirinya melihat sosok pria tampan yang benar - benar terlihat nyaris sempurna.
Tak ingin kehilangan kesempatan, Siska pun mencoba mendekati Andra.
" Boleh berkenalan, namaku Siska ". Seru Siska tersenyum dengan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabatan tangan.
" Andra ". Sahut Andra singkat dengan tanpa memberikan balasan untuk berjabatan tangan dengan Siska.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Andra ini membuat Siska menjadi cukup tersentak, baru kali ini dirinya diperlakukan kurang ramah seperti ini oleh seorang pria, padahal biasanya pria lah yang akan bersusah - susah untuk mendekatinya.
Andra mencoba mendekati kekasihnya Nadira, namun disaat dirinya ingin melakukan hal itu, Siska malah berani menggandeng lengan kiri Andra.
" Hey, apa yang kamu lakukan?, lepaskan, dasar wanita tidak punya malu ". Ujar Andra sarkas dengan menepis tangan Siska yang sempat menggandeng lengan kirinya.
" Ayo sayang, di mana orang tuamu, kita minta restu pada mereka sekarang ". Lanjut Andra lagi pada kekasihnya Nadira.
__ADS_1
Lalu dengan tanpa mempedulikan Siska, Nadira dengan membawa kekasihnya Andra mengajaknya untuk menuju ke ruang tamu belakang, pasti kedua orang tuanya tengah berada di sana.
Sementara Siska sendiri menjadi dibuat terheran dengan yang baru saja dirinya dengar.
" Apa?, sayang?, maksudnya?, dasar pria sombong, memangnya dia siapanya Dira? ". Siska merasa tak dihargai sebagai tuan rumah di rumahnya sendiri.
Dan kini, Nadira dan juga Andra telah berada di ruangan ini, sebuah ruang tamu di mana kedua orang tua Nadira sedang duduk bersama dengan menonton channel tv kesayangan mereka.
" Assalamualaikum, pa, ma ". Sapa Nadira pada kedua orang tuanya yang masih tak menyadari kedatangannya.
Pak Yudi dan juga istrinya Santi tak menyahut, sepasang suami istri yang sudah cukup berumur itu untuk sejenak hanya diam. Entah mengapa mereka merasa begitu tak asing dengan suara seseorang yang menyapa mereka, bahkan memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama.
" Pa, ma, Dira datang ".
Deg....
Terkejut, Yudi dan juga Santi begitu sangat terkejut dengan kedatangan Nadira. Benarkah ini, Nadira datang kembali ke rumah ini.
" Pa, ma ". Nadira pun mencoba meraih punggung tangan kanan kedua orang tuanya untuk dirinya cium.
Baik Yudi maupun Santi menjadi terdiam kala Nadira datang ke hadapan mereka dan kali ini Nadira sudah mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
Untuk sejenak Yudi memang terdiam, namun sesaat setelah itu, pria yang sudah cukup berumur itupun mulai memeluk Nadira.
" Nak, akhirnya kamu datang ". Seru Yudi.
Yudi memeluk putrinya itu dengan cukup erat, akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa bertemu dengan putri yang sudah dirinya rawat semenjak dari kecil.
" Pa, Dira rindu papa ". Sahut Nadira tanpa sedikitpun ingin melepaskan pelukannya dari papa nya.
" Papa juga merindukanmu nak ". Sahut Yudi dengan penuh rasa haru.
Jika Yudi merasa sangat rindu dengan Nadira, maka beda hal nya dengan Santi. Wanita yang sudah berkepala lima itu hanya bersikap acuh dengan kedatangan Nadira. Namun sesaat tak lama dari ini, sikap tak acuh Santi malah menjadi terusik.
Untuk sesaat Santi memang tak mempedulikan kedatangan Nadira, namun kali ini, Santi malah melihat akan sosok pria tinggi dan gagah yang ikut serta mendampingi Nadira.
Sangat tampan dan terlihat begitu berkarisma, itulah yang bisa Santi lihat dari sosok pria ini.
" Siapa pria ini, dia bule tampan, sepertinya cocok jika menjadi pendamping putriku Siska ". Batin Santi.
Hingga setelah cukup lama berpelukan, sepasang ayah dengan putrinya itupun mulai melepaskan pelukan rindu mereka. Merasa sudah saatnya untuk memulai semuanya, Andra pun akhirnya mulai mendekati kedua orang tua Nadira.
" Om, saya Andra ". Seru Andra lalu ia pun mencium punggung tangan pak Yudi sebagai tanda untuk memberikan penghormatan pada ayah dari calon istrinya Nadira.
Mendapati perlakuan dari sosok pria yang ada di hadapannya ini, membuat perasaan Yudi menjadi tak biasa.
" Tante ". Lanjut Andra lagi dengan mencium punggung tangan kanan Santi.
Apalagi Santi, Santi menjadi lebih terkejut dengan sikap Andra. Apa maksud dari pria tampan yang bersikap dengan begitu sopan dan terlihat memiliki makna khusus ini dari sikapnya. Jangan katakan jika pria yang bernama Andra ini menjalin hubungan dengan Nadira.
Dan tak lama dari itu, Siska pun hadir di tengah - tengah mereka. Bukan Siska namanya jika tak suka penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Nadira.
" Hai Andra, pada kedua orang tuaku sikapmu terlihat baik, tapi kenapa denganku sikapmu malah begitu dingin? ". Seru Siska yang berusaha bersikap dekat dengan Andra.
Namun sayang, Andra adalah tipe pria yang dingin. Apa yang dilakukan oleh Siska tentu saja tak mendapatkan respon darinya.
" Apa?, beraninya pria ini mengacuhkan putriku, tapi kalau dilihat dari penampilannya, selain sangat tampan, dia terlihat seperti orang yang sangat kaya, sepertinya bagus juga jika putriku Siska bisa menjalin hubungan dengan pria ini ". Batin Santi.
Santi memang merasa sangat tak suka dengan sikap dingin yang diperlihatkan oleh Andra. Namun sesaat setelah itu, Santi malah memiliki pemikiran lain.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€