Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Sudah Boleh Sayang


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Kebahagiaan yang tiada terkira tengah dirasakan oleh keluarga Dani. Akhirnya hari yang sangat membahagiakan yang dinantikan oleh semua anggota keluarganya selama ini benar telah tiba.


Setelah lebih dari sembilan bulan lamanya menanti, akhirnya anak keduanya bersama istrinya Diana telah lahir.


Bayi cantik yang masih mungil dan merah itu benar-benar semakin membuat hidupnya dan juga sang istri terasa lebih lengkap.


Dani sangat bahagia karena putrinya lahir dalam keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun.


Meski dalam keadaan tubuhnya yang masih belum normal, pria yang sudah menjadi seorang ayah dari dua orang anak itu tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.


Lusi sang nenek masih setia menggendong cucu mungilnya. Wanita yang sudah berumur itu seolah tak pernah bosan memandangi cucu keduanya, apalagi cucu keduanya ini benar-benar terlihat sangat cantik.


Jika sang nenek Lusi masih sibuk menimang cucunya, maka beda halnya dengan sang kakak Alvin. Alvin sudah melihat dan tahu bagaimana keadaan adiknya yang telah lahir itu. Dan saat ini yang dirinya lakukan adalah duduk di ranjang kasur menemani bundanya yang berbaring.


" Setelah kami selesai kembali melakukan pemeriksaan, tubuh nyonya Diana masih lemah, ini sangat wajar terjadi tuan nyonya, karena nyonya Diana baru selesai melahirkan ".


" Jadi untuk saat ini nyonya Diana memang harus beristirahat dengan maksimal agar keadaan tubuhnya bisa membaik ". Jelas sang dokter setelah usai dengan pemeriksaannya.


" Iya dok terima kasih ". Sahut Dani.


" Siang nanti kami akan kembali melakukan pemeriksaan tuan, jika nyonya Diana membutuhkan bantuan, jangan segan untuk menghubungi kami tuan ". Ujar sang dokter lagi.


" Iya dok itu pasti, terima kasih dokter ". Sahut Dani.


" Ya sudah tuan nyonya, kami permisi dulu ". Pamit sang dokter yang didampingi oleh susternya.


" Iya dok silakan ". Sahut Dani.


Dani memperhatikan istrinya, istrinya ini memang masih terlihat begitu lemah, hal itu terlihat dari tatapan matanya yang sendu serta wajahnya yang masih pucat.


Apa yang dialami oleh istrinya beberapa jam yang lalu, benar - benar sebuah perjuangan yang begitu sangat luar biasa. Dan rasanya sebesar apapun dirinya berusaha membahagiakan istrinya, rasanya itu semua tetap tak akan bisa membayar perjuangan beratnya.


Cup... cup...


" Terima kasih sayang ". Seru Dani lembut.


Diana hanya tersenyum sebagai responnya, rasanya kedua belah bibirnya masih belum memiliki cukup tenaga agar bisa digerakkan.


" Cantiknya cucu ku, tapi meski cantik wajahnya mirip kamu Dani ". Seru Lusi bahagia yang masih menimang - timang cucu cantiknya.


" Ini semua karena perjuangan keras dan pertaruhan nyawa istri ku sehingga cucu mama yang cantik itu bisa lahir ". Sahut Dani yang menatap lembut pada sang istri yang masih terbaring lemah.


Lantas Lusi menatap pada menantunya Diana yang masih terbaring lemah di atas ranjang perawatan karena usai melahirkan. Lusi lupa jika dirinya masih belum mengucapkan rasa terima kasih pada menantunya yang telah berjuang melawan nasib demi melahirkan cucunya. Dan putranya Dani berusaha mengingatkan dirinya dengan menyindirnya secara halus.


" Terima kasih Diana, terima kasih nak karena kamu sudah dua kali berjuang untuk melahirkan cucu mama ". Sahut Lusi.


Lusi merasa tak enak hati karena baru sekarang mengucapkan rasa terima kasihnya.


" I-iya ma ". Sahut Diana dengan nadanya yang terdengar begitu sangat lirih.


" Nek, dali tadi nenek dendon adik bayi telus, Alpin mau lihat adik nek, nenek tan sudah lama lihatnya, ayo sini, Alpin mau lihat adik lagi ". Seru Alvin.


" Oh iya - iya, baiklah cucu nenek yang tampan ". Sahut Lusi.

__ADS_1


Lantas Lusi benar menuruti keinginan cucunya Alvin. Wanita yang berumur itu melangkah dan berpindah posisi agar bisa dekat dengan Alvin.


Lusi duduk di salah satu kursi yang dekat dengan cucunya Alvin.


" Nah... sekarang Alvin sudah bisa lihat adik bayi kan? ". Seru Lusi.


Alvin mendekat pada adik bayinya, adik bayinya benar-benar sangat menggemaskan.


Cup... cup...


" Tatak sayan tamu adik ".


Kalimat yang terdengar begitu sangat mengharukan itulah yang keluar dari mulut mungil Alvin.


Nampaknya Alvin akan menjadi sosok kakak yang benar-benar sangat menyayangi adiknya.


" Dani, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putri mu nak?, mama bingung harus memanggil cucu mama dengan nama apa? ". Seru Lusi.


" Iya ma, sudah ada, Alvi Dania Putri, itu namanya, panggilannya Alvi ". Terang Dani.


" Itu nama yang bagus nak, iya kan Alvi cucu nenek, Alvi yang cantik ". Dengan gemasnya Lusi menjawel lembut pipi mungil cucunya.


" Belalti nama adik milip nama atu nek, Alpin, Alpi ". Seru Alvin.


" Iya cucu nenek, namanya mirip Alvin, Alvin kan sekarang sudah jadi kakak, berarti mulai sekarang Alvin harus selalu memeberikan contoh yang baik buat adik Alvi ". Sahut Lusi.


" Iya nek, talo itu pasti ". Sahut Alvin dengan mengangguk tegas.


Melihat hal ini jujur membuat Dani merasa bangga pada putranya. Jika diperhatikan, baik dari segi sifat, putranya ini cukup jauh berbeda dengan sifatnya. Putranya Alvin cenderung lebih lemah lembut namun tegas, dan itu sangat berbeda dengan dirinya yang menurut pendapat banyak orang jika dirinya cenderung arogan. Benarkah seperti itu, mungkin saja itu memang benar, dan dirinya tak menyadari akan hal itu.


*****


Rasa gelisah mulai mendera hati sang daddy, meski berada di atas ranjang yang sama dengan sang istri dan juga putrinya, namun tetap saja apa yang diinginkannya saat ini nampaknya masih belum akan tercapai.


Seperti biasa, Andra selalu berada di samping tubuh istrinya, sementara Nadira berada di posisi tengah dengan memeluk putrinya yang masih menonton tayangan kartun kesukaannya.


Andra sedikit bangkit dari posisinya, pria itu ingin memastikan apakah putri kecilnya sudah tidur atau belum.


" Ada apa mas?, apa yang mas Andra lihat? ". Seru Nadira.


" Si bocil masih belum tidur?... haaah... rupanya masih belum tidur ". Keluh Andra.


" Siapa maksud mu mas?, maksud mu putri kita Aida? ". Tanya Nadira.


" Ya siapa lagi sayang, tumben dia tidak tidur? ". Lalu Andra kembali membaringkan tubuhnya.


Mendengar ucapan daddy nya yang entah apa maksudnya, membuat si kecil Aida langsung terjaga dari posisinya. Ada apa dengan daddy nya, mengapa daddy nya bicara seperti itu.


" Daddy, memangnya kenapa kalau Aida belum tidul?, kalau daddy sudah ngantuk ya tidul saja duluan, begitu saja lepot ". Sahut Aida.


" Iya repot, yang buat repot itu kamu karena masih belum tidur ". Lirih Andra namun masih bisa didengar oleh Aida.


" Daddy, daddy bicala apa balusan?, Aida buat lepot?, buat lepot apa daddy? ". Bahkan gadis kecil itu melotot pada daddy nya.


" Tidak ada sayang, Aida hanya salah dengar, tidak ada daddy bicara seperti itu ". Elak Andra.


" Huuuh... dasal daddy ". Kesal Aida, lantas gadis kecil itu kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Nadira tak mengerti dengan tingkah suaminya, sebenarnya apa mau suaminya, mengapa malah memancing emosi putrinya sendiri. Mengapa putrinya ditanya apakah sudah tidur, mengapa suaminya mengatakan jika putrinya membuat repot, aneh, padahal putrinya Aida dalam keadaan baik - baik saja, memang kerepotan apa yang telah dibuat oleh Aida.


Keadaan ini hanya bisa membuat Andra pasrah. Jika putrinya bisa tidur, artinya keberuntungan masih berpihak padanya, namun jika tidak, artinya malam ini bukanlah malam di mana dirinya bisa kembali memadu kasih dengan istrinya setelah sempat cuti selama beberapa bulan lamanya.


" Sampai kapan aku harus berpuasa? ". Batin Andra.


*****


Jam penunjuk waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Andra yang memang masih belum terlelap mulai memastikan apakah putrinya telah tidur pulas.


Dan benar saja, senyum sumringah benar terpancar di wajah tampannya. Andra sangat senang karena putrinya sudah tidur, bahkan putrinya sudah tidur dengan pulas. Ternyata tak rugi juga dirinya menahan diri agar tak tidur, jika tidak, mungkin dirinya tak akan mendapatkan kesempatan ini.


" Sayang ".


" Hmmm... ". Hanya suara dehaman itulah yang keluar dari Nadira.


Baru saja dirinya ingin terlelap, ternyata suaminya Andra malah mengusiknya.


" Sayang, kamu sudah ingin tidur?, jangan tidur dulu sayang ". Seru Andra.


" Emmmh... ada apa mas? ". Lenguh Nadira.


" Jangan tidur dulu sayang, kita pindah ke kamar sebelah ya ". Sahut Andra.


Nadira cukup tertegun mendengarnya, namun tak lama dari itu dirinya mulai penasaran.


" Kenapa mas, kenapa harus pindah ke kamar sebelah, kan tidur di sini bisa?, aku tidak mau meninggalkan Aida sendirian di sini mas ". Sahut Nadira.


" Sayang, hanya sebentar mungkin sekitar dua jam kita di kamar sebelah ". Sahut Andra.


Nadira menjadi semakin bingung, di kamar sebelah hanya dua jam, sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh suaminya.


" Mas, sebenarnya ada apa sih mas?, jangan buat aku penasaran, seperti teka teki saja ". Sahut Nadira.


Lalu Andra mendekatkan bibirnya ke daun telinga istrinya.


" Sayang, aku ingin jenguk adiknya Aida ".


Deg...


" Tenanglah sayang, ini kan sudah empat bulan, jadi akan tetap aman jika kita melakukannya sekarang, aku sudah lebih satu bulan puasa, dan sampai sekarang aku masih belum buka puasa sayang, tri semester pertama sudah berlalu, ini sudah boleh sayang, kita bisa melakukannya sekarang ". Terang Andra.


Dan ternyata inilah maksud dari suaminya, suaminya Andra ingin bercinta lagi. Apakah ini benar-benar aman. Jadi ini alasan mengapa suaminya tadi bertanya apakah putrinya Aida sudah tidur. Jadi karena suaminya tak ingin mendapatkan gangguan.


" Sudah sayang, jangan terlalu banyak dipikirkan, ayo kita ke kamar sebelah sekarang ".


Lantas Andra mulai menarik tubuh istrinya secara perlahan.


" Mas, apa yang mas Andra lakukan, turunkan aku mas ".


" Tenanglah sayang, malam ini kita akan kembali bersenang-senang di kamar sebelah ".


Andra sudah tak memikirkan apa - apa lagi, yang dirinya inginkan saat ini adalah bagaimana agar dirinya bisa kembali memadu kasih dengan istrinya.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2