Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Kebenaran Yang Tertunda


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi hari yang masih belum menampakkan sinar mentari nya, sang tuan nampaknya telah siap untuk melakukan kegiatannya. Namun sepertinya kali ini nampak berbeda, tak seperti biasanya. Penampilannya nampak sedikit berbeda dari biasanya.


Tok... tok... tok...


Ceklek... pintu kamarnya pun mulai dibuka dengan seseorang.


" Daddy ". Seru si kecil Aida setelah melewati pintu kamar daddy nya.


" Sayang ". Sahut Andra.


" Daddy ". Aida pun mendekati daddy nya.


" Ada apa putri daddy, pagi - pagi begini putri daddy yang cantik ini sudah harum saja? ". Sahut Andra, lalu pria beranak satu itupun mulai meraih tubuh mungil putrinya.


" Daddy, daddy kenapa tellihat lapi sekali, daddy sudah mau kelja?, tapi kenapa bajunya beda? ". Sahut Aida.


Aida sudah sangat mengenali bagaimana penampilan daddy nya ketika hendak akan pergi bekerja, namun kali ini Aida melihat penampilan yang agak berbeda dari daddy nya.


Apakah daddy nya akan pergi ke suatu tempat, oleh karena itu pakaian yang dikenakannya bukan seperti pakaian kantor biasa.


" Daddy, daddy sudah mau belangkat kelja, Aida mau salapan, salapan disuapi daddy ". Seru Aida.


Aida ingin pagi ini daddy nya menyuapi nya untuk sarapan.


Cup... cup...


Andra mencium kedua pipi menggemaskan putrinya itu, sepertinya dirinya memang tak bisa menutupi apapun dari putri kecilnya ini.


" Maafkan daddy sayang, daddy harus pergi sekarang, putri daddy ini sarapan dengan bi Sari saja ya, daddy hari ini harus pergi keluar negeri ". Sahut Andra dengan segala penjelasannya.


" Apa?... daddy mau ke lual negli?, kenapa daddy balu bicala sekalang kalau mau ke lual negli? ". Sahut Aida yang cukup terkejut.


Aida terkejut karena daddy nya sudah akan pergi ke luar negeri sedangkan daddy nya sendiri masih belum memberi kabar apapun pada dirinya.


" Maafkan daddy sayang, daddy belum memberi kabar pada Aida, daddy baru dapat kabar tadi malam jika daddy harus pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan daddy di sana ". Sahut Andra.


Ya, di tengah malam tadi, sebelum Andra tidur, dirinya malah mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya yang berada di luar negeri yang mengatakan jika ada masalah dengan proyek pembangunan miliknya.


Merasa hal ini begitu sangat urgen, Andra pun memutuskan untuk segera berangkat ke sana. Dan pagi inilah rencananya ia akan berangkat dengan menaiki pesawat pribadinya hingga sampai di tempat tujuan.


" Jadi daddy mau belangkat ke lual negli lagi? ". Sahut Aida, sangat nampak di raut wajah mungilnya yang sedikit kecewa.


" Maafkan daddy sayang, kan daddy kerja juga untuk kita semua ". Sahut Andra.


Andra sangat tahu jika putri kecilnya ini begitu sangat kecewa dengan keputusannya yang ingin pergi ke luar negeri secara mendadak.


" Daddy belapa lama ada di sana? ".Tanya Aida.


" Kalau cepat, kemungkinan sekitar satu bulan daddy ada di sana sayang, tapi kalau ternyata selesainya lama, ada kemungkinan daddy ada di sana bisa lebih dari dua bulan ". Sahut Andra.


Jujur sebenarnya Andra merasa sedikit khawatir karena harus meninggalkan putrinya dalam waktu yang cukup lama, namun karena ini menyangkut pekerjaan dan juga perusahaannya, mau tidak mau dirinya harus bisa mengambil langkah ini.


" Ya sudahlah daddy, telselah daddy saja ". Putus Aida pada akhirnya.


Aida sudah tak mau bertanya apa - apa lagi pada daddy nya, apalagi tak lama lagi daddy nya ini sudah akan pergi ke luar negeri. Menolak pun percuma karena daddy nya memanglah pemilik dari perusahaan di sana, sehingga mau tidak mau Aida pun harus mengizinkan daddy nya untuk pergi keluar negeri.


Sementara di tempat lain, nampak seorang ibu muda sudah mulai akan menyuapi putra kecilnya. Setelah sang putra telah selesai ia mandikan dan sudah dipakaikan pakaian dengan begitu rapi, ibu muda inipun kini sudah mulai siap untuk menyuapi putranya untuk sarapan.


" Ayam dolen na yan banak bunda ". Seru Alvin setelah bunda nya sudah akan siap akan menyuapi nya.


" Baiklah - baiklah sayang ". Sahut Nadira.


Padahal ayam goreng yang di cuilnya sudah cukup banyak, tapi putranya Alvin masih ingin ditambah lagi ayam gorengnya.


Nadira akan menyuapi putranya dengan tangan karena memang itulah kebiasaannya, kecuali ketika putranya Alvin memakan mie ataupun bubur, barulah Nadira menyuapi putra kecilnya ini dengan menggunakan garpu ataupun sendok.


" Ayo sayang, bismillahirrahmanirrahim, aaa... ". Dan satu suapan pun telah berhasil masuk ke mulut mungil Alvin.


Alvin memakan sarapannya dengan begitu lahap. Bocah kecil itu sangat suka jika disuapi oleh bunda nya seperti ini.

__ADS_1


Mumpung dirinya menginap di tempat ini, Alvin ingin menghabiskan waktunya untuk bermanja - manja pada bunda nya.


Nadira terus menyuapi putra kecilnya ini dengan telaten, hingga sekitar sepuluh menit lamanya waktu sudah berlalu, barulah sarapan Alvin habis tanpa ada sisa.


" Bial Alpin cendili yan minum bunda ". Seru Alvin.


Alvin menolak jika bunda nya sampai mengambilkan minumannya, padahal dirinya sendiri masih sangat mampu untuk melakukan hal itu.


" Habis ". Seru Alvin kala minumannya sudah habis di tenggaknya.


" Pintarnya anak bunda ". Puji Nadira dengan senangnya. Nadira merasa senang karena putranya terlihat begitu bersemangat.


Nadira ingin selama putranya Alvin berada di tempat ini, bisa merasakan kebahagiaan yang mungkin saja tidak dirasakannya meski itu bersama dengan kedua orang tua kandungnya sendiri.


" Sayang, Alvin, besok bunda masuk kuliah nak, besok bunda sekolah, Alvin besok jadi ikut bunda kan? ". Seru Nadira.


" Huum, iya bunda, Alpin becok mau itut bunda cetolah ". Sahut Alvin dengan mengangguk penuh keyakinan.


" Kalau begitu, besok Alvin jangan rewel ya?, kalau Alvin rewel, bunda tidak mau kuliah nak, apa Alvin paham? ". Sahut Nadira.


" Iya bunda, Alpin paham ". Sahut Alvin paham dengan menganggukkan kepala mungilnya.


Memang tak sulit untuk memberitahu Alvin, semenjak Alvin masih merah, Nadira memang selalu berusaha mengasuhnya dengan baik.


Termasuk selalu mengajarkan anaknya tentang yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dan Nadira cukup bersyukur karena putranya secara perlahan bisa tumbuh seperti apa yang diharapkannya.


*****


Waktu memang berjalan terasa begitu singkat, setelah tadi matahari mulai menampakan keberadaannya, kini waktu sudah mulai berganti, waktu sudah menunjukkan pagi hari menjelang siang.


Kesibukannya dalam bekerja, ternyata ia luangkan untuk menemui sosok yang ingin dirinya temui. Ia tahu, disaat dirinya memutuskan untuk datang ke tempat di mana orang - orangnya memiliki kesibukan yang dapat meningkatkan nilai rupiah yang mereka miliki, masih terdapat banyak pasien yang harus dirinya tinggalkan demi datang untuk menemui pimpinan mereka.


Dengan penuh percaya diri dan tanpa adanya rasa takut sedikitpun, pria yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam ini pun melangkah membelah lorong perusahaan milik teman baiknya, dan kini ia pun mulai mendekati bagian resepsionis.


" Permisi mbak ". Seru Daniel kala dirinya telah sampai di depan meja resepsionis.


" Iya, selamat datang, selamat pagi menjelang siang, ada yang bisa kami bantu tuan? ". Sahut karyawati di bagian resepsionis itu dengan ramah.


" Apa tuan Andra Becham Salim nya ada?, saya ingin datang menemuinya ". Seru Daniel.


" Mohon maaf sekali tuan, anda tidak bisa menemui tuan Andra, tuan Andra sudah semenjak tadi pagi sudah melakukan penerbangan ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya di sana, jadi jika tuan ingin menemui tuan Andra, harap dilain waktu ". Sahut karyawati itu.


" Apa?, keluar negeri? ". Daniel cukup tersentak setelah mendengar sahutan dari karyawati ini.


" Benar sekali tuan ". Sahut sang karyawati.


" Kita - kira kapan tuan Andra akan kembali? ". Tanya Daniel lagi.


" Kalau untuk soal itu, kami tidak tahu pasti tuan, namun berdasarkan perkiraan, tuan Andra akan berada di sana selama satu bulan atau mungkin lebih dari itu tuan ". Sahut karyawati itu dengan segala penjelasannya.


Setelah mendengar penjelasan dari sang resepsionis, seketika itu membuat tubuh Daniel seolah lemas. Daniel merasa kehilangan kesempatan untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya pada Andra.


Mengapa malah menjadi seperti ini. Mengapa disaat dirinya sudah memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Andra, malah sekarang kebenaran itu menjadi tertunda.


" Tuan, ada hal penting apa yang ingin tuan sampaikan pada tuan Andra, biar nanti kami yang akan menghubungi beliau lewat telefon ". Seru karyawati itu yang mencoba menawarkan jalan keluar pada Daniel.


" Oh tidak ada, tidak perlu mbak, nanti saja sudah, saya akan menemui tuan Andra sendiri jika sudah sampai di tanah air ". Sahut Daniel pada akhirnya.


Daniel tak ingin menyampaikan hal penting ini pada Andra dengan melibatkan orang lain. Ia ingin mengatakan hal ini dengan berbicara sendiri pada Andra, itulah mengapa Daniel sendiri merasa begitu sangat enggan untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Andra melalui sambungan telepon, karena apa yang akan dikatakan nya adalah hal yang begitu sangat sensitif bahkan dapat menghidupkan amarah Andra.


Mungkin dirinya harus sedikit lebih bersabar, karena jika marah dan memaki pun juga tak akan ada gunanya.


" Ya sudah mbak, terima kasih atas informasinya, kalau begitu saya permisi dulu ". Seru Daniel.


" Iya tuan, sama - sama ". Sahut sang resepsionis wanita itu dengan ramah.


Dengan perasaannya yang dilanda oleh rasa kecewa, Daniel pun melangkah meninggalkan area lorong perusahaan milik temannya itu. Ia melangkah dengan sedikit pelan seolah seperti seseorang yang sudah kalah dalam mengikuti kompetisi.


" Ingat Daniel, disaat Andra sudah kembali, kamu harus mengatakan yang sebenarnya, harus ". Batin Daniel.


Sebenarnya Daniel bisa saja menghubungi Andra lewat sambungan telefon, tapi itu bukanlah cara yang tepat untuk memberitahukan yang sebenarnya.


Ini hal yang sangat penting, bahkan dari saking pentingnya, bisa dipastikan jika Andra akan marah besar, dan mungkin yang lebih parahnya akan menghukum dirinya dan juga Celine.

__ADS_1


*****


Sore ini si kecil sedang berbaring santai dengan memperhatikan layar televisi yang berada di sebelah ruangan tamu.


Bocah kecil itu nampak memperhatikan tayangan yang ada di layar televisi itu dengan begitu seksama, dengan di temani oleh aunty Putri nya, sesekali kepala mungil Alvin diusap oleh sang aunty dengan lembut.


" Alvin ". Seru Putri dengan lembut.


" Iya aunty ". Sahut Alvin lalu ia pun sedikit mendongakkan wajahnya hingga mengarah pada wajah sang aunty.


" Alvin ingin menginap di sini berapa lama? ". Tanya Putri.


Inilah yang ingin Putri tanyakan semenjak jauh - jauh hari namun dirinya masih belum menemukan waktu yang pas untuk menanyakan nya.


" Emm... hana catu bulan aunty ". Sahut Alvin lirih.


Jujur saja ketika ditanya seperti ini oleh aunty Putri nya membuat Alvin merasa sangat sedih.


Waktu satu bulan hanyalah sebentar baginya. Alvin merasa belum siap jika harus kembali menjauh dari bunda nya, meski dirinya masih belum satu minggu menginap di rumah ini, namun tetap saja waktu satu bulan itu teramat begitu singkat baginya.


Alvin ingin setiap hari bisa bersama dengan bunda nya. Rasanya dirinya masih belum siap jika suatu hari nanti harus kembali tinggal bersama sang ayah dan juga bunda Diana nya.


Putri yang melihat adanya perubahan dari raut wajah Alvin menjadi merasa bersalah. Sangat jelas jika Alvin nampak sedih setelah mendapatkan pertanyaan seperti ini.


" Emm... Alvin ". Seru Putri lagi.


" Iya aunty ". Sahut Alvin.


" Alvin boleh kok menginap di sini terus sayang, malah aunty sangat senang kalau Alvin terus ada di sini ". Sahut Putri, Putri hanya tidak ingin jika Alvin sampai salah paham dengan pertanyaan darinya.


Mendengar sahutan dari aunty nya hanya membuat Alvin tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya. Dan senyuman Alvin ini benar - benar membuat hati Putri merasa semakin bersalah.


Entah mengapa senyuman dari Alvin seolah menyiratkan kesedihan yang masih belum usai. Jujur Putri menjadi merutuki pertanyaannya sendiri. Andai saja dirinya tidak bertanya seperti ini, mungkin Alvin tidak akan merasa sedih. Tapi ya sudahlah, saat ini Putri tak mau menyerukan apapun lagi pada Alvin. Putri khawatir jika dirinya berbicara lagi malah membuat hati Alvin menjadi semakin sedih.


Sementara di kamar pribadi mereka, nampak Nadira sedang membuka laci miliknya. Dirinya teringat akan sebuah lembaran amplop yang pernah mantan mertuanya berikan padanya.


Dan setelah beberapa hari berlalu, barulah dirinya memiliki waktu yang cukup tepat untuk membuka dan mengetahui tentang sebenarnya apa sih isi dari sebuah amplop itu. Dan kini, Nadira pun sudah mulai membuka dan mengambil isi amplop itu, dan ternyata isinya adalah sebuah surat.


" Ini surat apa? ". Gumam Nadira yang menjadi bertanya - tanya.


Karena merasa begitu penasaran, Nadira pun akhirnya mulai membuka dan membaca isi dari surat itu.


" Teruntuk mantan istriku, Nadira Ayu, satu hal yang ingin aku sampaikan, dan aku tahu jika ini sudah sangat terlambat ".


" Dira, bagaimana kabarmu saat ini?, semoga kamu baik - baik saja ".


" Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkapkan perasaanku ini. Namun satu hal yang ingin aku sampaikan, dan ini tulus dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam ".


" Dira, tolong maafkan aku, tolong maafkan semua kesalahan ku yang sudah pernah aku lakukan sewaktu aku pernah menjadi suamimu ".


" Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu akan apa saja kesalahan yang pernah ku perbuat dulu. Semua kesalahan ku teramat banyak sehingga aku tidak bisa menghitungnya ".


" Dira, tolong maafkan aku, maafkan semua kesalahan ku. Tuhan tidak pernah tidur, Dia maha mengetahui segalanya, termasuk apa yang pernah ku perbuat padamu. Dan sekarang, sepertinya, aku sudah mendapatkan hukuman dari perbuatanku ini ".


" Dira, tolong maafkan aku ".


" Dani... ".


Setelah membaca semua isi surat ini, membuat hati Nadira menjadi sangat begitu terharu.


Ternyata surat ini adalah surat dari mantan suaminya Dani, laki - laki yang tidak pernah memberikan kebahagiaan padanya sewaktu dirinya masih menjadi istrinya dulu.


Nadira sangat tak menyangka jika kak Dani nya akan memberikan surat permohonan maaf padanya. Padahal yang dirinya kenal, Dani adalah sosok pria yang sepertinya sangat tidak mungkin jika sampai meminta maaf padanya.


Hingga adanya bukti dari surat ini membuat Nadira sadar, jika mantan suaminya itu telah menyadari kesalahannya.


" Aku sudah memaafkan mu mas, bahkan jauh sebelum kamu meminta maaf ". Batin Nadira.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2