
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Gadis mungil itu masih setia memeluk bunda nya. Setelah sekian hari tak berjumpa, rasa rindunya pada sang bunda benar - benar menyeruak sehingga dirinya pun ingin melimpahkan rasa kerinduan nya itu dalam dekapannya.
Namun kali ini ada yang dirasa aneh yang dirinya rasakan. Mengapa bunda nya tidak memeluknya juga, mengapa hanya menyentuh kedua tangannya. Apakah bunda nya tak merindukan dirinya.
Lalu Aida pun mulai melepas rengkuhan tubuh mungilnya itu, Aida menatap bunda nya, namun mengapa bunda nya seolah enggan untuk menatapnya, apakah bunda Nadira nya tidak suka jika dirinya datang.
" Bunda ". Seru Aida.
" Iya sayang ". Sahut Nadira.
" Bunda kenapa, kenapa bunda tidak peluk Aida, apa bunda tidak lindu pada Aida? ". Sahut Aida dengan rautnya yang nampak sedih.
Seketika itu hati Nadira menjadi langsung tertegun. Apakah Aida merasakan sesuatu darinya, namun bagaimana bisa seperti itu.
" Jadi benal, bunda tidak suka kalau Aida datang kemali ". Serunya lagi.
" Ti-tidak sayang, bunda sangat merindukanmu nak ". Sahut Nadira pada akhirnya lalu gadis itupun membawa tubuh mungil Aida ke dalam gendongannya.
Nadira memeluk putri kecilnya itu yang sudah beberapa hari ini tidak dirinya temui.
" Maafkan bunda ya sayang, bunda sangat merindukan Aida, bunda sangat senang jika Aida datang kemari, maafkan bunda ya nak, bukan maksud bunda untuk mengabaikan Aida ". Seru Nadira lagi dengan tanpa melepas pelukannya.
Nadira yang tadi sempat tak langsung membalas pelukan Aida bukan karena dirinya tak ingin memeluknya, hanya saja Nadira masih belum merasa siap jika harus kembali bertatapan dengan daddy dari Aida, laki - laki yang sudah menyakitinya.
Setelah mendengar alasan dari bunda nya, si kecil Aida pun mengangguk paham, lalu gadis kecil itupun mulai merenggangkan tubuh mungilnya yang masih di gendong oleh bunda nya itu.
Cup... sebuah ciuman hangat pun telah gadis kecil itu sematkan pada pipi kanan bunda nya.
" Bunda cantik sekali ". Seru Aida tersenyum yang memuji kecantikan bunda nya.
" Kamu juga sangat cantik sayang ". Sahut Nadira.
Putri yang sedari tadi hanya diam menyaksikan interaksi antara Nadira dan juga Aida, benar - benar merasa sangat kagum. Meski keduanya tak memiliki hubungan darah, namun kedekatan Nadira dan juga Aida benar - benar seperti sepasang ibu dan juga anaknya. Putri merasa sangat senang melihatnya, menurutnya Nadira adalah wanita yang pantas untuk menjadi ibu bagi Aida.
" Aida ". Seru Putri.
" Iya aunty ". Sahut Aida.
" Aida tumben sih sayang, datang ke sini dengan memakai tas, biasanya tidak ". Ujar Putri karena memang itulah yang di awal Putri lihat dari apa yang dikenakan oleh Aida.
" Oh tas ini, hali ini Aida memang sengaja ingin membawa tas aunty, kalna Aida ingin ikut bunda kuliah ". Jelas Aida.
" Apa kuliah? ". Sahut Putri yang begitu terperangah mendengar jawaban Aida.
Apalagi Nadira, ia malah lebih terkejut dari Putri, yang benar saja jika Aida ingin ikut kuliah.
" Sayang, yang benar saja Aida ingin ikut kuliah nak? ". Sahut Nadira yang merasa heran.
" Iya bunda benal, Aida mau ikut bunda kuliah, itu pak Maman ( Rahman ) sudah menunggu ". Sahut Aida yakin.
Mendengar kata pak Rahman, membuat Nadira pun langsung menoleh ke arah di mana dirinya tak berani menoleh. Dan ternyata benar, pak Rahman sudah berdiri di sana dengan tersenyum.
Dalam seketika hati Nadira menjadi lega. Ternyata Aida datang ke mari bukan dengan daddy nya, melainkan dengan sang supir pribadi yaitu pak Rahman.
Nadira sudah tahu mengapa bukan Andra yang mengantar Aida datang ke mari, pasti karena Andra memang sudah sadar jika hubungannya dengan dirinya memang sudah berakhir, atau mungkin, Andra merasa malu jika harus bertemu dengannya setelah semua kebohongan yang pernah dilakukannya.
__ADS_1
" Aunty jadi penasaran, memangnya apa sih isi dari tas Aida itu, kan Aida tidak mungkin ikut mata kuliah? ". Tanya Putri.
" Isinya spesial aunty, ada kamela ". Sahut Aida.
Sontak Nadira dengan Putri pun menjadi mengernyit bingung, apa maksudnya ada kamela.
" Kamela itu apa nak? ". Kali ini Nadira yang bertanya.
" Kamela bunda, kamela, itu loh yang untuk foto - foto ". Sahut Aida yang menjelaskan.
Setelah mendengar sahutan dari Aida, barulah Nadira dan juga Putri bisa mengerti maksud dari kamela, ternyata kamela yang di maksud adalah sebuah kamera.
" Jadi sayangnya bunda ini ingin membawa kamera ke kampus? ". Seru Nadira lagi.
" Iya bunda, kalna Aida ingin foto - foto di sana ". Sahut Aida.
Dan seperti itulah Aida, selalu saja ada hal yang ingin dilakukan disaat dirinya mendapatkan kesempatan yang menyenangkan.
" Ayo bunda, aunty, kita belangkat kuliah sekalang ". Seru Aida yang sudah begitu tak sabar.
" Aunty di ajak juga? ". Sahut Putri yang tak percaya dengan menunjuk dirinya sendiri.
" Iya aunty, kita belangkat belsama, ayo tunggu apa lagi, kita belangkat sekalang ". Putus Aida yang sudah tak bisa diganggu-gugat.
Nadira pun memberikan kode anggukan pada sang sahabat agar ia mau menurut saja. Nadira sangat paham jika sebenarnya Putri merasa tak enak hati karena harus menaiki mobil Andra.
Dan akhirnya mereka bertiga pun menaiki mobil mewah itu dengan pak Rahman yang menyetir nya.
Tanpa sepengetahuan mereka, di mana dari jarak yang cukup jauh, seseorang telah memandang mereka dari semenjak waktu yang sangat pagi, lebih tepatnya seseorang itu sedang memandang Nadira.
Dari semenjak Nadira belum keluar dari rumahnya, ternyata Andra sudah menantikan keluarnya sang wanita pujaannya. Hanya bisa memandangnya dari jauh.
Andra memang sengaja tak mengantar putrinya langsung pada Nadira, sehingga itulah mengapa dirinya lebih menyuruh supir pribadinya untuk mengantar putrinya saja, karena saat ini, Andra masih belum memiliki hati yang cukup kuat untuk melihat Nadira setelah apa yang dilakukannya.
Sehari saja tak berbicara dengan Nadira benar - benar membuat harinya menjadi sepi. Andra sudah menyadarinya sekarang, jika satu hari saja dirinya tak melihat wajah Nadira, benar - benar membuat sebagian dari hatinya menjadi terasa kosong dan sangat sepi, Andra menyadari jika Nadira benar - benar telah memiliki tempat yang sangat istimewa di hatinya.
" Ternyata aku sangat merindukanmu sayang ". Batin Andra berbicara.
*****
Penjelasan - penjelasan dari sosok wanita berusia matang itu nampak terdengar begitu menghiasi ke hampir bagian sisi di salah satu ruangan kelas itu.
Para mahasiswa dan juga mahasiswi semester satu itu, cukup menyimak penjelasan dari sang dosen dengan begitu seksama, dan mungkin ini sudah hampir sekitar satu setengah jam lamanya sang dosen wanita itu memberikan penjelasannya.
Nadira begitu menyimak penjelasan dosennya, namun tak jarang juga dirinya mengelus kepala sang putri karena dirinya tak ingin mengabaikannya.
Aida sendiri sudah merasa jenuh berada di ruangan itu, dunia kampus yang menurut fantasinya terasa begitu menyenangkan, ternyata terasa begitu membosankan. Untuk sesaat Aida merasa menyesal karena dirinya sudah bersikukuh ingin ikut bunda nya kuliah, dan akibatnya malah seperti ini, dirinya benar - benar sangat bosan dan ingin segera keluar dari ruangan ini.
" Bunda, kapan sih selesainya kuliahnya, Aida sudah bosan tahu ". Serunya merengek pada sang bunda.
" Sayang, kamu sudah bosan nak, ayo, Aida duduk di pangkuan bunda saja, soalnya masih ada satu dosen lagi yang akan mengajar sayang ". Sahut Nadira lalu gadis cantik itupun membawa sang putri ke dalam pangkuannya.
Aida merasa sangat senang karena bunda nya begitu sangat perhatian padanya, inilah yang selalu dirinya inginkan dari seorang bunda. Tak ingin menyia - nyiakan momen ini, Aida pun memeluk bunda nya. Dengan penuh kasih sayang, Nadira pun mengelus pucuk kepala putrinya itu.
Waktu menerima mata kuliah pun masih terus berlanjut, dan setelah waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, barulah kegiatan belajar mengajar di kampus pun untuk sementara telah berakhir dan akan dilanjutkan kembali setelah waktu istirahat selesai.
" Sayang, mata kuliahnya sudah selesai, sekarang sudah waktunya istirahat ". Tutur Nadira pada putrinya.
" Baik bunda, tapi sebental dulu ya, Aida mau memasukkan kamela dulu ". Sahut Aida.
__ADS_1
Entah ada apa dengan kameranya, nampaknya semenjak Aida berada di dalam kelas, dirinya begitu sibuk dengan kameranya.
*****
Seorang ibu muda dengan putrinya pun sudah duduk di salah satu meja lengkap dengan tempat duduknya. Ibu muda dengan putri kecilnya itu nampak sedang mencari beberapa menu makanan yang sudah tersedia.
" Sayang, Aida mau yang mana nak? ". Tanya Nadira.
" Aida mau yang mana saja bunda, yang penting ada ayam golengnya ". Sahut Aida yang tak ingin merepotkan bunda nya.
" Ya sudah, kalau begitu bunda akan pilihkan nasi dengan lalapan ayam goreng saja ya ". Sahutnya pada sang putri.
" Hai - hai, kalian sudah duduk saja di sini, sudah pesan menu nya? ". Seru Putri tiba - tiba dan langsung ikut duduk bersama dengan mereka.
" Iya Put, aku dan Aida sudah memesan menu nya, kamu ingin pesan apa biar sekalian aku yang pesan kan ". Sahut Nadira.
" Samakan saja dengan punya si kecil Aida ini ". Sahut Putri dengan sedikit menggoda Aida.
" Aunty Putli telnyata suka menggoda ya, sama sepelti uncle Filly ". Sahut Aida yang merasa sedikit aneh dengan tingkah aunty Putri nya.
Sementara di posisi lain, tepatnya di salah satu pojok kafe, nampak seorang pria yang berusia matang itu yang sedikit menutupi wajahnya dengan topi warna silver nya, sedang duduk memperhatikan salah satu meja di mana Nadira dan juga putrinya Aida berada.
Ya, siapa lagi pria itu jika bukan Andra sang tuan pemilik kampus. Entah semenjak kapan pria berusia matang itu duduk di sana, namun yang pasti tujuannya datang ke kampus ini adalah untuk memandang Nadira dari jarak jauh dan juga putri tercintanya Aida.
" Bahkan kamu masih memakai baju yang sederhana sayang, kamu tidak memakai baju yang aku belikan ". Batin Andra yang merasa sedikit miris.
Ternyata Nadira memang benar - benar sangat kesal padanya, bahkan untuk sekedar baju yang diberikannya sekalipun, Nadira benar - benar tak ingin memakainya.
" Kita duduk di sini saja, sekali - kali lah kita duduknya mojok ". Seru salah seorang mahasiswa yang ternyata memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan meja Andra, dan pria itu yang tak lain adalah Feri.
Ya, kali ini Feri, Adit dan juga Jaka lebih memilih untuk duduk di pojokan saja. Mereka tidak sadar jika meja yang mereka pilih sedang bersebelahan dengan meja Andra sang tuan pemilik kampus.
Bahkan saat ini posisi Adit sedang bersebelahan dengan Andra, lebih tepatnya mereka sedang beradu punggung namun tanpa saling menyentuh.
" Jak, kamu ingin menu yang mana? ". Seru Feri.
" Nasi goreng sajalah, soalnya aku ingin sekali makan nasi goreng ". Sahut Jaka.
" Kalau aku pilih nasi soto sapi, sepertinya sangat enak di lidah, kalau kamu sendiri pilih menu apa Dit? ". Lanjut Feri.
Namun yang ditanya malah tak menyahut. Mendapati sang teman yang tak ada respon, baik Feri maupun Jaka ingin mengikuti kemana pandangan sang teman sedang mengarah, karena Adit tak kunjung menyahut disebabkan karena pandangannya sedang mengarah ke posisi lain. Dan ternyata benar, lagi - lagi Adit memandangi Nadira.
" Ya ampun Dit, kamu masih mandang Dira?, ingat Dit, Dira itu sudah menjadi pacar orang ". Seru Feri yang begitu tak habis pikir dengan temannya.
Mendengar nama Nadira sedang diucapkan, sontak hal itupun membuat Andra langsung tertegun.
" Iya kamu ini Dit, sudahlah lupakan Dira, Dira itu pacarnya tuan Andra, lagi pula kalau kamu memang ingin punya pacar seorang janda, carilah janda - janda yang lain, bukan janda yang sudah punya pacar ". Timpal Jaka yang mengingatkan Adit.
" Ini bukan soal janda, apalagi janda yang sudah punya pacar, aku menyukai Dira karena sifatnya, bukan karena statusnya, untuk melupakan Dira, rasanya masih sulit bagiku, karena aku sudah benar - benar jatuh hati padanya ". Sahut Adit dengan segala kejujurannya.
Mendengar jawaban yang begitu menohok dari Adit, seketika itu membuat tubuh Andra menjadi menegang. Dadanya terasa begitu sangat sesak, bahkan darahnya pun seolah mendidih.
Andra benar - benar diselimuti oleh rasa amarah, namun dirinya masih berusaha menahannya. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, tidak boleh ada seorangpun yang sampai mengambil Nadira darinya.
" Beraninya kamu bocah ingusan ". Batin Andra yang begitu sangat marah.
Niat hati ingin memandang sosok yang dirindukan nya dari jarak jauh, akan tetapi malah datang sebuah nyala api yang telah menyulut emosinya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ