
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dalam keadaan tubuhnya yang masih begitu sangat lemah, sepasang bola mata birunya seolah tak henti menatap wajah cantik kekasihnya. Iya, kekasihnya, karena hingga detik ini Andra masih menganggap Nadira sebagai kekasihnya.
Karena dirinya masih terus diperhatikan seperti ini, membuat Nadira pun ingin berpindah saja dari posisinya, dan Nadira memilih untuk berdiri di samping Putri saja. Nadira merasa malu dan tak enak jika Andra terus memandangi nya.
" Ya Tuhan, Dra - Dra, dalam keadaan sakit begini pun kamu masih saja memandang Dira seperti itu, lihat itu, Dira sampai malu tahu ". Seru Firly.
Tak ingin kekasihnya menjadi semakin malu seperti itu, Andra pun akhirnya mengalihkan pandangannya, dan kini pandangannya itu beralih pada putri kecilnya yang saat ini sedang memeluk lengan kirinya.
Bukan tanpa sebab Andra memandang Nadira dengan cukup lama, pasalnya Andra masih begitu tak percaya jika kekasihnya Nadira bisa sampai berada di sampingnya. Masih sangat teringat dalam benak Andra bagaimana pertemuan terakhirnya dengan kekasihnya yang sangat kurang dari kata baik.
Dan kini, Andra hanya memfokuskan pandangannya itu pada putri kecilnya, darah dagingnya yang begitu sangat berharga dari nyawanya sendiri.
" Sayang ". Seru Andra lembut pada Aida.
" Daddy, Aida senang sekali kalna daddy sudah sadal, Aida sedih daddy sakit, Aida takut kehilangan daddy, Aida tidak mau kehilangan daddy, Aida sayang sekali pada daddy ". Sahut Aida dengan segala curahan hatinya.
Terenyuh, itulah yang hati Andra rasakan. Andra merasa terenyuh mendengarkan ungkapan perasaan putri kecilnya.
Sebegitu takut kehilangannya kah putri kecilnya ini akan dirinya. Iya, tentu saja Aida merasa begitu takut kehilangan dirinya. Andra baru menyadarinya sekarang jika dirinya teramatlah sangat egois. Seharusnya dirinya tak tenggelam dalam emosi dan kebodohan. Seharusnya dirinya juga berpikir akan bagaimana nasib putrinya jika sampai dirinya tak bisa selamat. Seharusnya dirinya tidak pergi dari rumah Firly dalam keadaan mabuk.
Dengan perlahan Andra pun mulai mengangkat lengan kirinya yang dipeluk putrinya itu sebelum akhirnya beralih untuk memeluk tubuh mungil putrinya.
" Ma-afkan dad-dy sa-yang, ma-afkan dad-dy ". Sahut Andra lirih.
Andra sangat menyesali kebodohannya itu. Andra menyadarinya jika dirinya adalah orang tua tunggal bagi putrinya. Bagaimana nasib putrinya jika tanpa dirinya. Seharusnya hal itu yang harus selalu dirinya ingat.
Nadira yang mendengar dan menyaksikan akan bagaimana yang dialami oleh seorang ayah dan juga putrinya ini menjadi semakin merasa bersalah. Bagaimana tidak, karena secara tidak langsung dirinyalah yang menyebabkan Andra sampai menjadi seperti ini.
" Oleh karena itu Dra, kamu itu jangan keras kepala, sudah tahu masih mabuk, masih saja ingin kembali pulang, akhirnya seperti ini kan jadinya ". Entah ini sudah yang keberapa kalinya Firly menunjukkan sikap protesnya pada Andra.
" K-kamu Fir, bisa-nya hanya mengoceh ". Sanggah Andra dengan nada suaranya yang masih serak itu.
" Lah, kan faktanya memang seperti itu, kamu memang keras kepala. Belajarlah untuk bisa mengurangi sikap keras kepalamu itu Dra, tidak baik tahu jika terlalu dominan ". Sahut Firly.
Dalam sejenak Andra berpikir, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya Firly. Dirinya memanglah terlalu keras kepala. Bahkan dari sifat keras kepalanya ini sampai membuat hubungannya dengan Nadira menjadi hancur.
Hingga akhirnya, Andra kembali mengalihkan pandangannya pada Nadira. Dan kini, mereka berdua pun kembali saling memandang. Merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf, itulah arti dari pandangan Andra pada Nadira.
Ceklek...
Pintu kamar perawatan Andra itu pun telah dibuka, dan ternyata sang dokter dengan didampingi oleh dua orang suster itulah yang datang.
__ADS_1
" Permisi tuan, kami ingin memeriksa kondisi tuan Andra, ini benar - benar di luar dugaan kami, kami mengira tuan Andra akan sadar setidaknya di tengah malam nanti, ternyata tuan Andra malah bisa sadar lebih awal dari yang kami prediksikan ". Ujar sang dokter dengan segala penuturannya.
" Ya wajarlah dok jika si Andra ini sadar lebih awal, kan yang menjadi sumber kekuatannya sudah hadir di sini ". Sahut Firly dengan melirik Andra dan juga Nadira.
Sang dokter dan kedua orang suster itu hanya bisa sedikit tersenyum, mereka sudah mengerti dengan alasan apa yang membuat tuan Andra mereka bisa menjadi sadar.
" Baiklah, kalau begitu, kami akan segera memeriksa kondisi anda tuan Andra ". Ujar sang dokter.
Dokter pria itupun dengan didampingi oleh dua orang susternya mulai melakukan pemeriksaan pada Andra.
Mereka melakukan pemeriksaan itu dengan begitu sangat teliti. Dan setelah mengetahui kondisi Andra, mereka pun mulai melepaskan beberapa alat medis yang sempat dipasang di tubuh Andra itu.
Tentu dengan di lepasnya beberapa alat medis yang melekat di tubuh Andra itupun memberikan kesimpulan yang baik jika kondisi Andra saat ini sudah berada pada level yang baik - baik saja.
" Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi tuan Andra sudah membaik, untuk saat ini tuan Andra hanya perlu untuk lebih banyak beristirahat dan meminum obat secara rutin, dengan begitu, tuan Andra akan menjadi lebih cepat dalam proses penyembuhannya ". Tutur sang dokter dengan segala penjelasannya.
" Wah, sungguh hebat kamu Dir, gara - gara kedatanganmu, si tuan Andra yang keras kepala ini sudah sembuh ". Seru Firly.
Tentu apa yang dikatakan oleh Firly itupun membuat semua orang yang berada di ruangan itu menjadi tersenyum, kecuali Nadira, Andra dan si kecil Aida.
" Ya sudah kalau begitu, kami keluar dulu tuan ". Seru sang dokter.
" Oh iya dok, silakan saja silakan ". Sahut Firly.
" Bunda, daddy ". Panggil Aida.
Sontak saja panggilan Aida itupun membuat semua orang mengarah padanya, tak terkecuali Andra dan juga Nadira.
" Ada apa Aida, sepertinya terlihat serius sekali? ". Sahut Firly.
Benar, raut wajah Aida kali ini nampak terlihat begitu serius, bisa dipastikan jika Aida sudah seperti ini ada hal besar yang dirinya inginkan.
Aida memandang sang daddy dan juga bunda nya. Mungkin memang benar jika dirinya harus mengatakan apa yang diinginkannya saat ini juga.
Apa yang diinginkannya adalah hal yang sangat besar, menyangkut dirinya, sang daddy dan juga bunda nya.
" Putri dad-dy, apa yang, i-ngin ka-mu ka-takan sayang? ". Ujar Andra pada akhirnya.
Andra sangat paham dengan putrinya, jika sudah seperti ini, pasti ada hal besar yang ingin Aida utarakan.
" Daddy, bunda, Aida mau daddy sama bunda menikah ".
Deg...
" Aida mau daddy sama bunda menikah, kan kalau daddy sama bunda menikah kita bisa hidup belsama, bunda bisa tinggal di lumah Aida setiap hali, mau ya daddy sama bunda menikah ". Itulah segala ungkapan Aida.
__ADS_1
Semua orang yang berada di ruangan itu sungguh dibuat tercengang dengan penuturan Aida, apalagi Andra dan juga Nadira. Bagaimana bisa anak sekecil Aida bisa tahu soal pernikahan. Sangat mustahil rasanya jika anak yang masih berusia lebih dari empat tahun sudah bisa membahas soal pernikahan yang di mana hal itu sering dibahas antar orang - orang dewasa.
Awalnya Andra merasa begitu sangat terkejut dengan penuturan putri kecilnya, namun sesaat setelah itu hati Andra malah berubah menjadi tersenyum senang. Andra merasa sangat senang dengan apa yang diinginkan oleh putrinya. Berharap jika dirinya dan juga Nadira bisa menikah, itu memanglah keinginannya.
Sementara Nadira sendiri masih begitu sangat terkejut dengan apa yang dituturkan oleh putri kecilnya. Bagaimana bisa putrinya ini memiliki keinginan agar Andra bisa menikah dengannya, dan apa tadi, bisa hidup bersama.
" Mau ya bunda, daddy, kalian menikah, Aida mau bunda sama daddy menikah, pokoknya bunda sama daddy halus menikah ". Seru Aida lagi untuk memperjelas apa yang menjadi keinginannya.
" Aida, kenapa Aida bisa punya keinginan seperti itu?, bagaimana bisa Aida punya keinginan jika bunda dengan daddy harus menikah? ". Kali ini Putri lah yang membuka suaranya.
Aida lalu beralih dengan memandang uncle Firly nya. Firly yang mendapatkan tatapan seperti itu dari putri sahabatnya ini menjadi beralih memandang dengan menatap tembok. Sudah dirinya duga jika pasti putri sahabatnya ini masih teringat dengan apa yang pernah dikatakannya.
" Iya aunty menikah, uncle Filly pelnah mengatakan jika olang yang sudah menikah itu akan hidup belsama, bealti kalau Aida ingin agal daddy dan bunda bisa hidup belsama, belalti daddy halus menikah sama bunda agal bisa hidup belsama, iya, sepelti itu kan ya uncle? ". Tutur Aida.
Lagi - lagi semua orang yang berada di ruangan ini pun menjadi melongo tak percaya, kecuali Andra, apalagi juga Firly yang sudah menjadi tersangka akan terbentuknya keinginan Aida.
" Ya Tuhan, Aida, otakmu terbuat dari apa sih, bagaimana bisa kamu punya keinginan dari hasil analisamu sendiri? ". Batin Firly.
Firly serasa sudah tak memiliki muka lagi. Sudah pasti yang akan menjadi tersangka atas hal yang tak terduga ini adalah dirinya. Pasti semua orang akan mengira jika dirinyalah yang telah menghasut Aida. Entahlah, Firly merasa tak tahu harus berbuat bagaimana, jika bisa, ingin sekali rasanya dirinya pergi menghilang dan menenggelamkan dirinya di dasar kolam. Firly benar - benar merasa malu dengan kejadian ini.
" Ayo, bagaimana ini, bunda sama daddy masih belum nyahut, bunda sama daddy mau ya menikah?, pkoknya kalian halus menikah ". Seru Aida lagi.
" Iya sayang, dad-dy dan, bunda mu, a-kan menikah ". Sahut Andra pada akhirnya.
Deg...
" Yeay... yeay... yeay... daddy sama bunda akan menikah, daddy sama bunda akan menikah ". Teriak Aida.
Aida begitu sangat bahagia setelah mendengar jawaban dari daddy nya. Akhirnya yang menjadi keinginannya akan segera terwujud. Ya, inilah alasan yang sebenarnya mengapa Aida menghubungi bunda nya agar mau datang ke rumah sakit, alasan terbesarnya adalah karena dirinya ingin sang daddy dan juga bunda nya bisa menikah.
Bisa memiliki kedua orang tua yang lengkap adalah keinginan terbesar Aida. Dan sekarang keinginan itu akan segera terwujud.
Jika Aida dan juga Andra begitu sangat senang dengan semua ini, maka beda halnya dengan Nadira.
Nadira tidak tahu apakah dirinya harus merasa senang atau tidak. Ini semua terlalu mendadak baginya. Masih belum lama dirinya dengan Andra putus hubungan, dan sekarang Andra sudah memutuskan untuk menikahinya.
Bagaimana ini, bagaimana bisa seperti ini. Seharusnya Andra meminta persetujuannya terlibih dahulu, bukan mengambil keputusan secara sepihak seperti ini. Jika ditolak rasanya tidak mungkin, karena hal itu akan sangat melukai Aida.
Andra memanglah tetap Andra, selalu saja ketika sudah memutuskan sesuatu langsung diputuskan secara sepihak.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1