Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Merasa Cemburu


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Diam dengan sepasang kedua bola mata indahnya yang terarah pada sebuah ranjang perawatan berukuran king size, itulah yang bisa Nadira lakukan di ruangan yang didominasi oleh nuansa putih.


Hatinya terasa begitu sesak masih dengan sekuat tenaga ditahannya. Hingga setelah hampir tujuh menit dirinya duduk menunggu, sosok kekasihnya Andra sudah muncul dari arah kamar kecil dengan tubuhnya yang masih siaga menggendong Celine.


Andra mulai menurunkan tubuh Celine sebelum akhirnya ia baringkan di ranjang perawatan itu.


" Terima kasih ya Dra yang sudah mau membantuku ". Seru Celine.


" Iya ". Sahut Andra singkat.


Lalu Andra pun sudah hendak akan menuju ke sofa di mana kekasihnya Nadira berada, namun baru saja dirinya hendak melangkah ke sana, tiba - tiba saja Celine menahan jemari tangannya, dan tentu hal itupun tidak luput dari perhatian Nadira.


" Ada apa lagi? ". Tanya Andra.


" Tidak ada, hanya saja aku masih belum selesai bicara Dra ". Sahut Celine.


" Dra, terima kasih karena kamu sudah mau peduli padaku, aku sungguh tidak menyangka jika kamu akan sepeduli ini ".


" Kamu sangat jauh berbeda dengan Andra yang dulu, dulu kamu cenderung dingin padaku, tapi sekarang kamu begitu sangat perhatian padaku, terima kasih ya Dra ". Tutur Celine dengan segala pujiannya.


" Itu hanya perasaanmu saja Celine, dari dulu aku memang seperti ini orangnya, jadi kamu tidak perlu berterima kasih ". Sahut Andra.


" Iya, kamu memang sama seperti yang dulu, yaitu masih sama - sama bersikap dingin, tapi, penilaianku kali tidak salah Dra ".


" Meski kamu terlihat dingin, tapi kamu begitu sangat perhatian padaku, apalagi sekarang, sikapmu menjadi lebih siap siaga dalam menjagaku ". Sahut Celine.


Mendengar penuturan Celine membuat Andra tak menyahuti ucapannya lagi, karena jika disahuti sekalipun akan percuma karena Celine akan tetap pada pemikirannya.


Merasa sakit, itulah yang Nadira rasakan saat ini. Pengakuan Celine benar - benar telah menambah torehan luka di hatinya.


Benarkah kekasihnya Andra sebegitu perhatiannya pada Celine, bahkan sampai menjadi sosok yang begitu siap siaga untuknya, mengapa sampai harus seperti itu.


Nadira hanya bisa terdiam menunduk setelah menyaksikan dan merasakan semuanya, hingga tanpa sepengetahuan Andra, Nadira pun menjatuhkan tetesan air matanya yang mengenai rok panjangnya.


" Sabar Dira, kamu jangan marah Dira, memangnya jika kamu marah, siapa yang akan peduli dengan kemarahan mu ". Batin Nadira sedih karena merasa sudah terabaikan.


Lalu Andra pun duduk di sebelah kekasihnya Nadira, ia merengkuh tubuh mungil kekasihnya itu dan membawanya ke dalam dekapannya.


" Sayang ".


" Mas, aku mau pulang ". Sahut Nadira yang bersamaan dengan kata sayang dari Andra.


" Mau pulang? , kamu mau pulang sekarang sayang, padahal aku masih baru duduk bersamamu? ". Sahut Andra.


Andra merasa heran karena tiba - tiba kekasihnya ini ingin mengajak pulang.


" Iya mas, aku ingin segera pulang, ini sudah sore, pasti ibu sudah menungguku di rumah ". Sahut Nadira padahal bukan itu alasan yang sebenarnya tentang mengapa dirinya ingin segera pulang.


" Baiklah sayang, jika kamu ingin pulang sekarang, aku akan mengantarmu ". Pasrah Andra pada akhirnya.


Ya, lebih baik Andra mengikuti saja apa yang menjadi keinginan kekasihnya, padahal dirinya masih begitu sangat ingin menghabiskan waktu berdua dengan Nadira, karena jika Nadira sudah kembali pulang, sudah pasti tidak akan ada waktu untuk berduaan dengannya lagi, karena Andra merasa tidak enak dengan bu Dewi jika harus berduaan bersama Nadira di rumahnya.

__ADS_1


Dan pada akhirnya Nadira pun benar - benar beranjak dari posisinya dan melenggang dari sana, begitupun dengan Andra, ia mengikuti tubuh mungil kekasihnya itu.


" Bagus... senang sekali rasanya bisa melihat kamu cemburu dan hancur seperti itu, ini masih baru awal Dira, akan aku pastikan kamu dengan Andra akan berpisah ". Batin Celine yang tersenyum senang.


*****


Kendaraan roda empat yang dikendarai oleh mereka masih melaju dengan kecepatan sedang untuk melewati jalanan di ibu kota.


Dalam perjalanan menuju pulangnya, ternyata tak ada sepatah katapun yang keluar dari belah bibir sang wanita yang di mobil itu, sehingga membuat kekasihnya yang sedari tadi masih menyibukkan dirinya untuk menyetir menjadi bertanya - tanya.


Dan sesekali ia pun memandang kekasihnya yang masih diam dengan seribu bahasa itu yang ternyata masih sibuk mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela.


Andra tak mengerti mengapa Nadira bisa menjadi seperti ini, diam seribu bahasa bahkan tanpa ada sedikitpun niat untuk menolehkan pandangannya padanya.


" Sayang, kenapa kamu hanya melihat ke arah jendela dari tadi, kan aku ada di sini? ". Seru Andra.


" Tidak ada ". Sahut Nadira singkat.


Dengan tangan sebelah kanannya yang masih setia mengendalikan setirnya, Andra menggunakan tangan kirinya itu untuk meraih tangan mungil Nadira.


" Sayang, kamu masih marah padaku karena aku tidak mengantarmu ke kampus tadi pagi, maafkan aku sayang ". Seru Andra, Andra tahu jika perbuatannya memanglah keterlaluan.


" Bahkan perbuatanmu semakin menyakiti hatiku mas, kamu lebih mengutamakan mbak Celine daripada aku, dan kamu masih belum mengerti juga kenapa aku menjadi seperti ini ". Batin Nadira yang malah semakin sedih.


" Sayang... kamu mau kan memaafkan aku? ". Seru Andra lagi entah ini sudah permohonan maaf yang kesekian kalinya Andra lakukan.


" Sayang, dua hari lagi aku akan keluar negeri, ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan di sana sayang, mungkin sekitar empat atau lima hari aku berada di sana ". Tutur Andra, inilah yang semenjak tadi pagi ingin dirinya sampaikan namun masih belum sempat.


" Sayang, bagaimana, kamu tidak apa - apa kan aku tinggal selama beberapa hari? ". Tanya Andra.


Deg...


Terkejut... itulah yang Andra rasakan.


Mendapati sahutan Nadira yang tak disangka - sangka, membuat Andra pun menjadi menepikan mobilnya. Andra sangat tak menyangka jika Nadira akan memberikan sahutan yang seperti ini.


" Sayang, apa yang kamu katakan, kenapa kamu bicara seperti itu sayang? ". Seru Andra.


Tak ada nada kemarahan dari Andra, Andra bertanya pada Nadira dengan cukup lembut, Andra tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres yang dirasakan oleh kekasihnya, jika tidak, tidak mungkin Nadira bersikap seperti ini.


" Sayang... Dira... ". Dengan lembut Andra pun mulai meraih dagu Nadira agar dirinya bisa melihat wajah cantik kekasihnya ini.


Deg...


Dan betapa terkejutnya Andra kala dirinya sudah melihat raut kekasihnya.


" Sayang, kamu menangis? ". Andra sangat terkejut dan juga begitu sangat khawatir lantaran kedua bola mata Nadira sudah beranak pinak penuh dengan air mata.


Dipeluk nya kekasihnya itu dengan begitu erat, Andra baru menyadarinya sekarang, pasti Nadira merasa begitu kesal karena dirinya telah diabaikan, atau mungkin, Nadira merasa cemburu pada Celine.


" Ya Tuhan, seharusnya kamu menyadari hal itu Andra ". Batin Andra yang merutuki dirinya sendiri.


" Sayang, kenapa kamu seperti ini hum, apa kamu cemburu pada Celine? ". Seru Andra dengan lembut.


" Hiks... hiks... hiks... ". Nadira pun benar - benar menangis, ia menangis dalam dekapan Andra. Sudah semenjak tadi dirinya ingin menangis, namun tak berani menunjukkan isak tangisnya di depan kekasihnya ini.

__ADS_1


Dengan perlahan Andra mulai mengangkat wajah mungil kekasihnya, di usapnya lelehan air mata yang membanjiri kedua pipi putihnya itu.


" Sayang, katakan, kamu cemburu, kamu cemburu pada Celin? ". Seru Andra lagi.


" Kalau mas Andra sudah tahu hiks... kenapa mas Andra masih bertanya? ". Sahutnya.


" Sayang, kamu jangan cemburu pada Celine, dia hanya temanku, aku membantunya karena dia temanku ". Sahut Andra.


" Tapi kenapa harus seperti itu mas, mas Andra memeluknya, bahkan juga menggendongnya, kenapa harus mas Andra, kenapa tidak yang lainnya saja? ". Sungguh Nadira benar - benar telah diselimuti oleh rasa cemburu.


Dan Andra semakin menyadarinya jika Nadira sungguh benar - benar merasa sangat cemburu, Andra sungguh tak menyangka jika kekasihnya yang begitu sangat polos ini akan sekesal ini.


Cup... ciuman yang penuh kelembutan itu telah Andra haturkan di kening kekasihnya, Andra menciumnya dengan cukup lama.


" Sayang, kamu jangan cemburu, aku dengan Celine hanya berteman, di sini, Celine tidak memiliki keluarga, semua keluarganya sudah pindah ke luar negeri, jadi, mau tidak mau, aku yang harus membantu untuk mengurusnya ". Tutur Andra.


Andra ingin agar Nadira mengerti dengan situasi ini, sangat disayangkan jika Nadira sampai cemburu pada Celine.


" Mas Andra dengan mbak Celine begitu terlihat sangat dekat, bagaimana kalau mas Andra benar menyukai mbak Celine? ". Entah keberanian darimana yang Nadira dapatkan, nampaknya rasa cemburunya telah mampu membuatnya protes.


Andra menjadi tersenyum setelah mendengarnya, ternyata kekasihnya yang terkenal pendiam dan malu - malu ini bisa juga memiliki pemikiran negatif dan itu diucapkan secara langsung.


Namun Andra menjadi merasa senang karena sikap kekasihnya ini sudah menunjukkan jika ia tidak ingin kehilangan dirinya, tentu Andra menyukai hal ini.


" Kenapa mas Andra malah tersenyum, membuatku semakin kesal saja ". Nadira sudah tak mengerti dengan sikap Andra.


" Sayang, itu tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukai Celine, hatiku hanya untukmu sayang, jadi yang aku sukai hanya kamu ".


" Sayang, sudah ya cemburunya, baiklah, mulai besok Celine akan diberi pendampingan khusus, aku akan menyuruh perawat di rumah sakit untuk menggantikan ku menjaga Celine ". Tutur Andra pada akhirnya.


Nadira menjadi terdiam, apakah dirinya terlalu kekanak-kanakan sehingga membuat Andra mengambil keputusan seperti ini.


" Tidak, aku tidak kekanak-kanakan, mas Andra kan pacarku, harusnya aku senang jika mas Andra bersikap seperti ini ". Batin Nadira yang menjadi bingung sendiri.


" Sayang, dua hari lagi aku sudah pergi keluar negeri, dan disaat aku sudah kembali nanti, aku ingin datang ke kampung halaman mu sayang, aku ingin meminta restu pada kedua orang tuamu, aku ingin kita segera menikah ". Dengan segala kesungguhannya Andra telah mengatakan hal itu.


Ya, inilah yang menjadi alasan utama Andra ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri, karena setelah urusannya selesai, dirinya memang ingin mempercepat hubungannya dengan Nadira ke suatu hubungan yang lebih sakral, yaitu pernikahan.


" Sudah, jangan cemburu lagi ". Ucapnya untuk yang terakhir kalinya.


Awalnya Nadira menjadi tersenyum malu, karena ulahnya, kekasihnya Andra malah sampai mengatakan hal ini disaat yang seperti ini, namun itu kan lebih baik.


Nadira hanya mengangguki apa yang sudah menjadi keputusan Andra, merasa senang, itulah yang dirinya rasakan.


" Ya sudah, kita pulang sekarang ". Putus Andra.


Dan akhirnya, setelah terjadi drama yang cukup menguras emosi itu telah usai, sehingga sepasang kekasih yang hendak ingin kembali pulang, mulai melanjutkan perjalanannya kembali sebelum akhirnya sepasang kekasih itu benar - benar kembali ke rumah mereka masing - masing.


Bersambung.....


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


Bagi kakak - kakak yang menantikan Nadira dan Andra segera menikah, harap bersabar dulu ya, karena jika mereka menikah dalam waktu cepat, artinya novel ini akan segera tamat πŸ™πŸ™πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2