Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Alpin Lindu Bunda


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Bunda... ". Seru suara seorang bocah kecil yang terlihat jelas di layar handphone nya.


Deg...


Tubuh Nadira dalam seketika langsung membeku, bahkan detak jantungnya pun seolah terhenti, Nadira membelalak dengan rasa keterkejutan nya, dadanya benar - benar bergemuruh, bahkan deru nafasnya pun berderu dengan begitu kencang.


Benarkah ini, benarkah jika sosok mungil yang berada di layar handphone nya ini adalah putranya Alvin.


" Bunda, bunda hwaaa.... ". Tanpa terasa Alvin pun menangis karena melihat sosok bunda nya.


" Sa-sayang... ya Allah, ini benar kamu nak? ". Seru Nadira dengan segala perasaan pilunya.


" Buda hiks hiks... Alpin lindu bunda hiks... ". Sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana kerinduan seorang Alvin akan bunda nya.


" Sayang... bunda di sini nak, ya Allah, Alvin, kenapa kamu jadi kurus seperti itu sayang? ". Nadira sungguh tak sanggup melihat kondisi putranya Alvin.


Tubuh mungil sang putra yang dulunya cukup berisi dan cenderung gembul, kini tubuh mungil itu terlihat nampak begitu kurus, bahkan hampir bagaikan kulit yang membalut tulangnya.


Sungguh Nadira tak sanggup melihat akan kondisi putranya, meski dirinya hanya melihat Alvin dari layar handphone nya, namun tak membuat pandangan Nadira menjadi bias akan perubahan fisik tubuh mungil putranya.


Hati Nadira begitu tersayat dibuatnya, ibu mana yang bisa sanggup, jika harus mengetahui kondisi akan putranya yang begitu sangat memperihatinkan.


Seorang putra yang telah dibesarkan nya dengan penuh rasa kasih sayang bagai putra kandungnya sendiri, dan kini, setelah sekian bulan lamanya tak bertemu, kondisi sang putra malah berubah bahkan jauh dari kata baik.


Nadira sudah benar - benar menjatuhkan air matanya, entah semenjak kapan air mata itu telah bercucuran membasahi kedua pipi putihnya.


" Bunda hiks... Alpin lindu bunda, bunda di mana cih, tok dak pulan - pulan? ".


" Sayang, Alvin, maafkan bunda nak, maafkan bunda yang sudah meninggalkan Alvin ". Hanya kata itu yang bisa Nadira berikan sebagai jawaban akan pertanyaan putranya, pasti hingga detik ini, Alvin masih belum mengetahui jika dirinya dengan ayah dari Alvin sendiri sudah berpisah.


" Dira ". Seru Putri tiba - tiba dari arah belakang tubuh Nadira.


Entah semenjak kapan Putri turun dari atas kasurnya sehingga dirinya berada di dekat sang sahabat, namun yang pasti Putri ingin mengetahui sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga Nadira menjadi menangis seperti ini.


" Dira ada apa, siapa yang melakukan panggilan video, kenapa kamu malah menangis seperti ini? ". Seru Putri lagi lantaran Nadira tak kunjung menyahut.


" Putraku, putraku Alvin sedang menghubungi ku, ini dia anaknya ". Sahut Nadira dengan memperlihatkan layar handphone nya pada sang sahabat.


Putri bisa melihat dengan jelas akan sosok mungil di layar handphone sahabatnya itu, sosok mungil yang pernah dirinya lihat meski itu dalam bentuk foto.


Dan kini Putri bisa melihat dengan jelas akan sosok mungil itu, namun kali ini ia nampak terlihat menangis.


" Bunda, bunda tapan pulan, Alpin lindu bunda, Alpin lindu cetali ". Seru Alvin lagi yang nampak begitu menghiba.


" Bunda juga rindu dengan Alvin nak, bahkan bunda sangat rindu, Alvin berdoa saja ya, semoga bunda ini bisa segera bertemu dengan Alvin, sekarang, anak bunda yang tampan ini, dihapus dulu air matanya ya sayang ". Sahut Nadira pada sang putra, padahal dirinya sendiri masih belum menghapus air matanya sendiri.


" Dir, kamu bagaimana sih, kamu menyuruh anakmu untuk menghapus air matanya, tapi kamu sendiri masih menangis ". Timpal Putri yang menasihati sahabatnya.


Dan dengan spontan Nadira pun menghapus lelehan air matanya yang sempat meluncur hebat membasahi kedua pipi putihnya itu.


" Bunda, cetalan Alpin cudah dak nanit ladi, telus tapan bunda pulan na? ". Seru Alvin, rupanya Alvin masih tak lupa akan keinginannya agar sang bunda bisa segera kembali pulang.


" Sayang, anak bunda, Alvin berdoa saja ya nak, semoga bunda bisa segera bertemu dengan Alvin, sayang, Alvin kenapa sangat kurus seperti itu nak, apa Alvin tidak makan? ". Seru Nadira lagi, inilah yang sangat Nadira khawatirkan setelah melihat kondisi putranya, selama sang putra masih belum menyahut pertanyaan nya, tentulah Nadira tak akan berhenti bertanya.


" Emm... emm... ". Hanya itu yang terdengar dari Alvin.


" Sayang ada apa? ". Nadira malah menjadi khawatir dengan sikap putranya yang ini.


" Alpin duda dak tahu bunda, muntin talna Alpin lindu bunda, ya dadi na, Alpin dadi tulus bedini ". Sahut Alvin.


Mendengar sahutan dari sang putra, membuat hati Nadira seolah menjadi begitu teriris, bagaimana tidak, seorang putra yang begitu sangat disayanginya dan dibesarkan dengan kasih sayang pula, malah menjadi sangat kurus seperti ini, dan yang menjadi alasan mengapa sang putra menjadi kurus seperti hingga seperti ini adalah karena dirinya.


Nadira tak bisa berbuat apa - apa, dalam diamnya terkadang dirinya ingin pergi ke rumah mantan suaminya itu dan bertemu dengan putranya Alvin, namun dirinya tak mungkin melakukan hal itu, Dani sudah menyuruh pergi dari rumahnya, belum lagi jika dirinya sampai bertemu dengan kedua orang tuanya, entah hal apa yang akan terjadi.


" Bunda, telus tapan bunda mau te cini, Alpin cudah tak cabal mau beltemu bunda ". Seru Alvin lagi.

__ADS_1


Rasa rindunya pada sang bunda membuatnya hanya akan mengeluarkan pertanyaan yang sama, yaitu pertanyaan akan kapankah sang bunda akan bertemu dengannya kembali.


" Sayang, Alvin, kan bunda sudah mengatakan nak, Alvin berdoa saja, minta Tuhan, agar bunda bisa bertemu lagi dengan bunda ". Sahut Nadira.


Entah sudah berapa kali jawaban yang sama yang telah dirinya berikan pada sang putra.


" Huum, baitlah bunda, Alpin atan beldoa, dan telus beldoa, cupaya doa - doa na Alpin cepat buat bunda tembali ladi te cini ". Sahut Alvin dengan begitu polosnya.


Meski Nadira hanya melihat wajah Alvin dari layar handphone nya, namun masih terlihat begitu sangat jelas jika putranya benar - benar sangat berharap hal itu akan terjadi.


Dan hal itu, tentulah semakin membuat daftar dari rasa bersalah Nadira menjadi semakin bertambah. Putranya Alvin begitu sangat berharap jika dirinya benar - benar akan kembali, padahal apakah ada kemungkinan jika dirinya akan bertemu dengan Alvin, tentulah itu tidak dapat dibuktikan, dan bahkan sepertinya dirinya akan sangat sulit bertemu dengan putra kecilnya lagi.


" Alvin ". Seru Nadira.


" Iya bunda ". Sahut si kecil Alvin.


" Alvin janji pada bunda, selama bunda tidak ada di dekat Alvin, Alvin harus tetap menjadi anak yang baik ya sayang, Alvin harus sayang pada ayah Dani dan juga bunda Diana ". Seru Nadira yang mengingatkan putranya.


" Huum, iya bunda, tapi... Alpin tetap cayan bunda ". Sahutnya.


Nadira tak tahu harus berkata apa, memang Alvin begitu sangat menyayanginya, bahkan disaat dirinya masih merawat Alvin, Alvin hampir tak pernah lepas darinya.


Namun, jika dilihat dari bagaimana Alvin berbicara dengannya, sangat nampak jelas jika Alvin tak menggebu - gebu, ada kemungkinan jika Alvin sudah bisa menerima orang tua kandungnya sendiri.


" Alvin sayang, kamu sendirian di kamar nak, memangnya bunda dan ayahmu kemana? ". Tanya Nadira.


" Ada bunda, ayah Alpin dan bunda Diana ladi matan malam ". Sahut Alvin.


" Terus Alvin kenapa sampai bisa menghubungi bunda nak, memangnya Alvin menggunakan handphone siapa? ". Tanya Nadira dan pertanyaan inilah yang ingin dirinya tanyakan sejak awal.


" Alpin cudah di tacik idin cama ayah cama bunda Diana, tata meleta Alpin boleh pidio tol cama bunda ". Sahut Alvin yang menjelaskan semuanya.


Ya, semenjak permintaan Alvin pada ibu kandunnya Diana, yang ingin untuk bertemu dengan bunda Nadira nya, membuat Diana sudah berinisiatif untuk meminta pada ayah Alvin, Dani, agar putra kecil mereka bisa bertemu.


Diana yang ingin meminta hal itu bukanlah tanpa pertimbangan, melihat kondisi sang putra yang hampir setiap hari selalu merenungi foto Nadira, apalagi Alvin sudah berjanji jika ia ingin bertemu dengan Nadira hanya sebatas untuk melepas rindu, sehingga dari hal itulah membuat Diana benar - benar ingin memperjuangkan keinginan putranya.


Alvin hanya menjawab nasihat sang bunda hanya dengan mengangguk lesu, memang masih tidak mudah bagi anak se kecil Alvin untuk bisa menerima dan beradaptasi dengan kenyataan yang ada dengan begitu saja, namun harus bagaimana lagi, dirinya memang harus bisa menerima semua kenyataan ini meski belum semuanya


" Alvin anak bunda, Alvin sayang kan dengan bunda? ". Seru Nadira lagi.


" Iya bunda, Alpin cayan cetali pada bunda ". Sahutnya.


" Kalau Alvin sayang dengan bunda, Alvin juga harus menyayangi bunda Diana, karena jika Alvin menyayangi bunda Diana sama saja dengan Alvin sudah menyayangi bunda nak ". Sahut Nadira yang mencoba menanamkan pembiasaan yang positif akan putranya.


Dan benar saja, si kecil Alvin pun langsung mengangguk - angguk paham, Alvin memang masih belum terbiasa dengan ibu kandungnya sendiri Diana, namun jika sang bunda yang sangat dicintainya sudah memberikan nasihat, sudah pasti Alvin akan menuruti permintaan bunda nya itu.


Si kecil Alvin yang memang dari semenjak merah yang telah dirawat oleh Nadira, membuat kasih sayangnya tumbuh dengan begitu kuat pada ibu asuhnya sendiri, sehingga dari rasa sayang itulah membuat Alvin akan menuruti apa saja yang disuruh oleh bunda nya.


Tapi mungkin bukan hanya hal itu yang membuat Alvin menurut, rasa kasih sayang, kelemahlembutan, serta perlakuan sang bunda yang begitu sangat baik itu lah yang membuat seorang anak kecil seperti Alvin menjadi anak yang penurut akan bunda nya.


" Bunda ". Seru Alvin.


" Iya sayang ". Sahut sang bunda.


" Bunda, itu capa, uti - uti itu? ". Tanya Alvin, nampaknya Alvin begitu penasaran dengan sosok wanita yang berada di dekat Nadira.


" Oh, aunty ini?, aunty ini adalah aunty Putri sayang, sahabatnya bunda ". Sahut Nadira.


" Halo Alvin, apa kabarnya? ". Sapa Putri pada Alvin dengan melambaikan tangannya.


Lalu Nadira pun memberikan handphone pintar miliknya itu agar Putri sahabatnya bisa berbicara dengan Alvin.


" Halo si tampan Alvin, bagaimana kabar kamu sayang? ". Seru Putri lagi.


" Alpin cedih uti, tapi cetalan Alpin dah cenan, talna Alpin bica pidio tol cama bunda ". Sahut Alvin dengan begitu polosnya.


Ya seperti itulah seorang anak kecil, ia akan begitu sangat sedih jika ditinggalkan oleh sosok yang sangat disayanginya, namun kesedihan itu bisa dengan cepat akan mereda ketika sosok yang sangat disayanginya itu mulai terlihat.


Putri yang bisa berbicara sendiri dengan Alvin menjadi merasa terharu dan juga bangga, Putri merasa terharu karena ternyata Alvin memang benar - benar sangat menyayangi Nadira, dari hal ini membuat Putri mengerti akan satu hal, ternyata ikatan batin antara Alvin dan juga Nadira memanglah begitu kuat, sementara rasa bangga yang Putri rasakan ini adalah Alvin terlihat menurut pada setiap apa yang dikatakan oleh Nadira, dan hal itu menunjukkan jika Alvin adalah sosok anak yang baik karena Nadira telah berhasil mendidiknya, padahal usia Alvin masihlah seorang balita.

__ADS_1


" Uti, Alpin mau bicala cama bunda ". Seru Alvin.


" Oh baik sayang, maafkan aunty ya ". Sahut Putri lalu dengan sesegera mungkin Putri menyerahkan handphone Nadira.


" Sayang ". Seru Nadira.


" Bunda, cudah dulu ya, Alpin mau matan malam cetalan, Alpin mau nulut cama bunda ". Seru Alvin.


Seolah ingin menunjukkan kebaktian nya pada sang bunda, Alvin harus mengatakan jika dirinya ingin ikut makan malam.


" Iya, baiklah sayang, ingat apa pesan bunda nak, Alvin harus rajin makan, harus nurut sama bunda Diana, dan juga mau menyayangi bunda Diana, bagaimana, Alvin mau kan sayang? ". Seru Nadira lagi, Nadira ingin jika putranya Alvin benar - benar ingat akan pesannya.


" Huumm, iya bunda, Alpin dandi, tapi bunda duda halus dandi cama Alpin, talo Alpin pidio tol bunda halus dawab ya, tadi cada bunda itu lama cetali dawab na ". Sahut Alvin.


" Iya, baiklah anak bunda, bunda janji kapanpun Alvin ingin video call dengan bunda, bunda akan segera menjawabnya ". Sahut Nadira yang tersenyum.


" Ya sudah, Alvin di matikan dulu ya handphone nya sayang, ini kan sudah malam, cepat Alvin makan dulu ya ".


" Iya bunda, bunda... Alpin cayan cetali cama bunda ".


" Iya, bunda juga sangat menyayangi Alvin nak, sekarang tutup sudah handphone nya ".


" Alpin cayan bunda emmuah... ".


Dan setelah kalimat terakhir itu, Alvin pun mengakhiri panggilan video nya pada sang bunda.


Alvin memang masih sangat merindukan bunda nya, namun bisa mendengar suara sang bunda serta melihatnya meski hanya sejenak, sudah membuat hatinya menjadi sedikit terobati.


Alvin sengaja ingin mengakhiri panggilan videonya pada bunda nya, karena ia sendiri sudah berjanji pada sang ayah untuk tak terlalu lama dalam menghubungi bunda nya.


Alvin merasa khawatir jika dirinya terlalu lama berkomunikasi dengan bunda nya, dirinya malah tak diperbolehkan dan mendapatkan kesempatan untuk bisa berbicara lagi dengan bunda nya, dan Alvin tidak mau jika hal itu sampai terjadi.


Sementara Nadira sendiri sudah mulai meletakkan benda pipih yang baru saja digunakannya untuk menatap sang putra, obrolan yang baru saja usai terasa begitu sangat singkat, padahal rasa rindu pada putra kecilnya masihlah belum terobati.


Nadira terdiam menunduk, hatinya begitu sangat hancur setelah mengetahui kondisi putranya yang begitu miris. Nadira sengaja tak memperlihatkan kesedihannya itu, ia khawatir, jika dirinya terus memperlihatkan kesedihannya itu, malah akan membuat Alvin semakin sedih dan tak berhenti juga tak berhenti menangis.


" Dira... ". Seru Putri dengan memegang bahu Nadira dengan lembut.


" Put... ". Sahutnya lirih dan Nadira pun langsung memeluk sahabatnya itu.


" Hiks... hiks... hiks... ". Isak tangis Nadira benar - benar pecah dalam pelukan Putri.


" Dira yang kuat... ". Tutur Putri dengan mengelus punggung Nadira yang terasa begetar karena isak tangisnya.


" Aku hiks... tidak sanggup melihat Alvin hiks hiks... dia sangat menderita hiks... anakku menderita Put hiks hiks... ".


Putri sungguh tak sanggup dengan isak tangis dari Nadira, bisa dirinya rasakan jika Nadira benar - benar sangat terpukul setelah mengetahui kondisi putranya.


Dalam hal ini, tak ada yang bisa Putri perbuat lebih selain hanya menjadi tempat sandar bagi sang sahabat untuk meluapkan segala rasa kesedihannya, jika memang ada cara lain yang bisa dilakukan agar kesedihan sahabatnya ini menjadi sedikit berkurang, tentulah Putri akan melakukannya, namun dirinya tak bisa berbuat apa - apa selain hanya menjadi tempat untuk bersandar.


βž–


Sementara di tempat lain, di sebuah tempat di mana Alvin sempat mencurahkan rasa kerinduannya pada Nadira, nampak seorang wanita yang tak lain adalah ibu kandung Alvin sendiri, sedang menangis di balik tembok.


Diana menangis tanpa sepengetahuan siapapun, hatinya begitu sangat terluka setelah mendengar curhatan putranya sendiri.


Ya, disaat Alvin sedang melakukan panggilan video dengan Nadira, Diana sengaja mendengarkan obrolan putranya dengan wanita yang pernah mengasuhnya dari balik pintu kamar, meski pintunya tak terbuka secara penuh, namun Diana tetap bisa melihatnya dengan jelas percakapan putranya dengan Nadira, ibu asuhnya.


Dalam percakapan itu, putranya Alvin begitu sangat terbuka dalam mengungkapkan segala kerinduan dan kesedihannya, dan hal itu sungguh sangat jauh berbeda ketika Alvin bersama dengannya, Alvin nampak tak terlihat nyaman dan terkesan setengah - setengah ketika diajak curhat oleh dirinya, padahal dirinya adalah ibu kandungnya sendiri.


" Kapan kamu akan benar - benar bisa menerima bunda nak?, bunda ini bunda mu, bunda yang sudah melahirkanmu ". Batin Diana yang menangis sedih.


Sungguh Diana merasa tidak sanggup dengan semua ini, semua cara sudah dirinya lakukan agar putranya itu bisa lebih dekat dengannya, meski Alvin sudah bisa menerima jika dirinya adalah ibu kandungnya, namun tetap saja, hal itu tak membuat Alvin benar - benar tulus menerimanya.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2