
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Ketika sang waktu malam datang menyapa, memang tak ada yang berubah dari kebiasaan keluarga kecil Andra.
Tayangan kartun kesukaan putri kecilnya memang sudah biasa terdengar di ruangan kamarnya.
Kartunya memang sedang tayang, tapi orang yang suka menontonnya entah kemana, hanya dirinya dan istrinya Nadira lah yang ada di kamar ini.
Andra duduk diam di sofa single yang ada di jendela kamarnya, pandangannya mengarah pada halaman rumahnya yang sudah gelap dengan penerangan indah yang menghiasi halaman itu.
Andra masih teringat akan di restoran tadi, pikirannya masih terus teringat akan keadaan temannya Daniel.
Mengingat keadaan Daniel yang seperti itu tak bisa dipungkiri jika dirinya merasa begitu sangat iba. Mungkinkah sikapnya sangat keterlaluan dalam membalas perbuatan temannya itu.
" Mas... ". Seru suara lembut bak sutra yang datang mendekatinya.
" Sayang ". Dengan lembut Andra pun menarik tubuh istrinya itu hingga duduk di pangkuannya.
" Maafkan aku sayang, kamu merasa diabaikan hum? ".
Nadira menggeleng tersenyum pada suaminya.
" Tidak, mas Andra kenapa?, apakah mas teringat dengan dokter Daniel? ".
Andra tak menyahut, dan pandangannya malah kembali beralih menatap ke arah luar jendela. Andra tak ingin membahas hal ini dengan istrinya.
" Mas, aku tahu jika sebenarnya mas Andra merasa kasihan dengan dokter Daniel kan?, maafkan saja dokter Daniel mas, kasihan dia, setelah dokter Daniel dipecat dari profesinya sebagai seorang dokter, sudah pasti di luar sana dia akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya ".
" Hal yang seharusnya bisa didapat oleh dokter Daniel hanya akan bisa didapat jika mas Andra menerima dokter Daniel kembali untuk bekerja di rumah sakit ".
" Semua itu sebenarnya terserah mas Andra, aku percaya jika suamiku ini adalah orang yang baik hati ". Tutur Nadira dengan apa yang ingin diungkapkannya.
Nadira bersandar di dada bidang suaminya, setelah mengucapkan kalimatnya yang cukup panjang lebar itu, dirinya tak ingin mengatakan apapun lagi. Nadira tak ingin terlalu memaksakan perasaan suaminya, biarlah suaminya merenungkan apa yang yang sudah diucapkannya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Ceklek....
" Bunda, daddy ". Seru si gadis kecil Aida.
" Sayang, kamu dari mana saja sih sayang?, bunda sama daddy mu kok ditinggal? ". Sahut sang bunda Nadira dengan mendekati putri kecilnya.
Pandangan Nadira terfokus pada sesuatu yang dipegang oleh sepasang tangan mungil putrinya.
" Sayang, apa ini? ".
" Ini puding bunda, ini puding coklat, tadi Aida minta dibuatkan pada bi Sali, ayo kita makan puding nya ". Sahut Aida dengan meletakkan puding coklat yang sudah dipotong - potong itu di atas meja.
Ternyata ini yang membuat putri kecilnya menghilang tanpa jejak. Sepertinya puding ini rasanya sangat enak, bolehlah jika ikut menikmati puding itu.
" Sayang, kalau bunda minta disuapi boleh tidak sayang? ". Nadira malah menjadi sangat tergiur dengan puding coklat ini.
" Oh, tentu boleh bunda, ayo kalau bunda ingin disuapi ". Dengan begitu siapnya si kecil Aida merasa senang jika harus menyuapi bundanya.
" Dasar kamu sayang, kamu ingin dimanja ya sama putri kita, jangan katakan jika ini ngidam padahal sebenarnya kamu sendiri yang ingin dimanja oleh putri kita ". Seru Andra yang merasa gemas dengan tingkah istrinya.
" Okey - okey lanjutkan saja, daddy akan makan puding nya juga, daddy akan makan sendiri ".
Memang bukan hal yang biasa jika sang istri dan juga putri kecilnya selalu kompak seperti ini, jika keduanya sudah sama - sama senang, sudah pasti dirinya tak akan diingat, ya, memang selalu begitu.
" Bagaimana, enak kan bunda puding nya? ".
" Iya sayang, ini enak, sangat enak, bi Sari pintar sekali ya membuat puding nya ".
" Ya begitulah bunda, bi Sali memang pintal memasak ".
Sepasang ibu dan putri kecilnya itu benar-benar menikmati puding yang mereka makan, mereka memakannya dengan saling mengobrol sampai - sampai keduanya lupa jika masih ada seseorang lagi yang telah mereka diamkan, ya siapa lagi orang itu jika bukan Andra.
" Kenapa bunda, kok belhenti makannya? ".
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada Nadira, mendadak dirinya jadi terdiam dan malah memandang pada suaminya.
" Ada apa sayang?, apa ada masalah dengan perutmu?, apa ada yang sakit? ".
" Tidak mas, bukan itu, mas, dua bulan lagi kan ulang tahun Aida yang ke lima, kita masih belum menyiapkan apa - apa untuk persiapan ulang tahun Aida ".
Dan ternyata hal itulah yang mengganggu pikiran Nadira.
" Yeay... yeay... yeay... asiiik... Aida mau ulang tahun, daddy Aida mau pestanya yang meliah, bial selu daddy ". Bahkan Aida mendadak langsung berloncat - loncat dari posisinya.
Seketika itu ruangan kamar inipun langsung berubah menjadi sangat berisik. Sungguh ini kabar yang sangat menyenangkan bagi Aida karena tak lama lagi dirinya akan berulang tahun.
" Ya daddy - ya daddy, Aida mau pestanya yang meliah sekali, Aida mau di kuenya nanti ada gambal kaltun kesukaan Aida daddy, ya daddy - ya daddy ". Dengan begitu girangnya Aida ingin agar daddy nya mau menuruti permintaannya.
Andra hampir tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, dirinya baru teringat jika tak lama lagi putrinya akan berulang tahun, dan itu menandakan jika tak lama lagi usia putrinya genap berumur lima tahun.
Beruntung istrinya Nadira sudah mengingatkannya, sehingga selama dua bulanan ini dirinya harus menunda pekerjaan yang mengharuskannya untuk pergi keluar negeri.
" Ih daddy, kok daddy diam sih?, apa daddy tidak senang kalau Aida ulang tahun? ". Mendadak wajah si kecil Aida jadi cemberut.
" Ya Tuhan, putri daddy, ya tentu daddy senanglah sayang, kan setiap tahunnya kalau putri daddy ini berulang tahun selalu dirayakan dengan sangat meriah, memangnya daddy mu ini kurang apalagi sama kamu sih sayang? ".
Ada - ada saja putrinya ini, bukankah setiap tahunnya ulang tahunnya selalu dilakukan dengan sangat meriah.
" Sudah - sudah, kenapa malah jadi ribut seperti ini, iya, pesta ulang tahun putri bunda yang cantik ini akan dilakukan dengan meriah, iya kan daddy? ".
" Iya benar, pestanya akan dibuat dengan sangat meriah, dan daddy akan mengundang ratusan anak yatim dan piatu agar pestanya tambah meriah, bagaimana, apa putri daddy ini sudah sangat senang? ".
" Yeay asik asik asik, Aida senang daddy - Aida senang daddy, Aida senang sekali yeay yeay... ".
Nadira yang menyaksikan keseruan dari putrinya ini hanya bisa menggeleng gemas, ada - ada saja putrinya ini, ya tak mengapa lah, namanya juga masih seorang anak - anak, pasti akan sangat bahagia jika dihadapkan pada hal - hal indah yang menyangkut dunianya.
" Bunda bahagia melihatmu bisa terus tertawa seperti ini sayang, semoga tawa ini bisa terus terpancar di wajahmu ". Batin Nadira.
Bersambung.........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€