
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan masih dibalut oleh rasa rindunya, Andra melangkahkan sepasang kaki jenjang nan kokohnya itu mendekati sang pujaan hati dan juga putri kecilnya.
Selangkah... dua langkah... tiga langkah... dan kini Andra pun telah benar - benar berdiri tepat di dekat tubuh belakang Nadira.
Karena ruangan mewah itu cukup di penuhi dengan suara alunan musik anak - anak, membuat Nadira menjadi tak menyadari jika Andra sedang berdiri di dekatnya, namun samar - samar dirinya seperti mencium aroma parfume yang begitu tak asing dalam indera penciuman nya.
Si kecil Aida yang memang yang memang kala itu sudah dalam posisi duduknya sedikit menghadap tubuh bunda nya, membuat gadis kecil itupun merasa seolah sekilas ada sosok yang berdiri di dekat sang bunda.
" Daddy ". Seru si kecil Aida setelah mengetahui jika ternyata daddy nya lah yang berdiri di sana.
Mendengar jika Aida memanggil daddy nya, sontak membuat Nadira pun langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya, dan...
Deg...
Seketika itu tubuh Nadira langsung membeku. Nadira tak mampu berkutik, keadaan yang ada di sekelilingnya mendadak seolah berubah menjadi dingin.
Andra berada tepat di dekatnya, bahkan sangat dekat, Andra menatap dirinya dengan tatapan yang begitu dalam.
Mendapati sang mantan kekasih yang menatapnya hingga seperti itu, membuat Nadira menjadi tak sanggup untuk terus melihat sosok yang berada di dekatnya, dan ia pun memilih untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke arah potongan kue nya.
" Daddy kenapa?, daddy kok malah diam? ". Seru Aida.
" Daddy ingin duduk di sini sayang, apa boleh? ". Sahutnya pada sang putri.
" Tentu boleh daddy kenapa tidak? ". Sahut putri kecilnya.
Mendengar adanya sahutan positif dari sang putri, membuat hati Andra merasa senang, Andra merasa jika dirinya seperti mendapatkan lampu hijau, mungkin momen inilah yang akan dirinya pergunakan untuk mendekati sosok wanita yang dirindukan nya ini.
Dan ternyata Andra memilih duduk di kursi sebelah kiri yang ada di dekat Nadira.
" Ya Allah, kenapa mas Andra duduk di sampingku ". Batin Nadira.
Nadira merasa kurang nyaman dengan keberadaan Andra di dekatnya, senyum kebahagiaan yang sebelumnya begitu terpancar disaat hanya berdua dengan putri kecilnya Aida, kini sudah menghilang karena kehadiran seorang pria yang membuat perasaannya menjadi tak menentu.
" Bunda, ayo suapi Aida lagi ". Seru Aida.
" I-iya sayang ". Sahut Nadira yang gugup.
" Bunda kenapa sih kok diam, apa kita gantian makan kue nya, Aida yang suapi bunda ya? ". Tawar Aida, mungkin yang membuat bunda nya diam karena sedari tadi hanya bunda nya lah yang menyuapi nya.
" Tidak perlu sayang, biar bunda saja yang menyuapi Aida ". Tolak Nadira.
Lalu gadis cantik itupun mulai kembali menyuapi putrinya. Andra memperhatikan Nadira dan juga putrinya, berada se dekat ini dengan Nadira semakin membuat Andra bisa melihat dengan jelas bagaimana kecantikan wanita yang dirindukan nya ini, namun sayangnya, meski posisinya begitu dekat dengan Nadira, tak membuat Nadira menjadi menoleh sedikitpun pada Andra.
" Sepertinya enak disuapi seperti itu, daddy jadi ingin disuapi seperti itu juga ". Seru Andra disaat sang putri sedang asyik disuapi oleh bunda nya, entah apa maksudnya mengatakan hal itu.
Deg... deg... deg... deg...
Detak jantung Nadira pun semakin tak menentu dibuatnya.
__ADS_1
" Ya enaklah daddy, namanya juga disuapi, daddy mau disuapi juga dengan bunda?, daddy mau nilu - nilu Aida yang disuapi bunda ya? ". Sahut si kecil Aida pada sang daddy, namun diakhir kalimatnya gadis kecil itu nampak tersenyum jahil.
" Iya, daddy ingin juga disuapi, tapi sayangnya tidak ada yang menyuapi daddy ". Sahut Andra dengan melirik pada Nadira.
Mendengar penuturan dari Andra, membuat Nadira menjadi merasa ter pojokkan, nampaknya Andra memiliki niat lain dengan mengatakan hal seperti itu.
" Jadi daddy ingin disuapi juga dengan bunda?, baiklah Aida akan mengalah... bunda, sekalang gililan daddy ya yang disuapi, kasihan itu daddy nya Aida mau disuapi makan kue juga dali bunda ". Sahut Aida pada akhirnya dengan segala pertimbangannya.
Rasa tak nyaman di hatinya semakin tak menentu yang Nadira rasakan, apalagi setelah putrinya Aida ingin dirinya melakukan sesuatu yang diinginkan nya, ternyata benar dugaannya jika Andra memang menginginkan hal ini.
" Terima kasih putriku, kamu memang pengertian ". Batin Andra yang tersenyum senang.
" Bunda, bunda kok malah diam?, daddy nya Aida sedang nunggu disuapi makan kue dali bunda ". Seru si kecil Aida lagi karena bunda nya tak kunjung melakukan pergerakan apapun.
" I-iya sayang ". Sahut Nadira pada akhirnya, Nadira sudah pasrah dengan situasi ini, sebenarnya dirinya ingin menolak, namun tak mungkin karena putrinya Aida pasti akan bertanya - tanya.
Dan dengan perlahan tangan mungilnya kembali menyendok potongan kue itu yang akan segera dirinya suapi pada Andra.
Dengan pandangannya yang masih belum mampu menatap wajah Andra, Nadira pun mulai menyuapi sang daddy dari putrinya.
Andra sangat senang bisa diperlakukan seperti ini, meski Nadira masih belum bisa menatapnya, namun bisa mendapat perlakuan dengan disuapi potongan kue pun sudah membuat hatinya begitu sangat senang.
" Humm... dasal daddy manja, maunya disayang - sayang sama bunda ". Sindir Aida pada daddy nya.
Andra hanya bisa tersenyum mendapatkan sindiran dari putrinya, menurutnya kapan lagi dirinya bisa mendapatkan perlakuan manis dari wanita pujaannya jika bukan saat ini.
Sementara di posisi yang tak terlalu jauh dari mereka, yaitu di meja Putri dan Firly, nampak kedua orang dewasa itu dengan ditemani beberapa anak - anak kecil yang merupakan teman - teman Aida, masih disibukkan dengan obrolan mereka.
" Mas ingin meminta nomer handphone ku?, emm... bagaimana ya? ". Sahut Putri dengan sikapnya yang seolah dibuat lama berpikir.
" Aunty, berikan saja nomer handphone nya, uncle Firly itu baik sekali loh orangnya, pokoknya aunty itu dijamin senang deh berteman dengan uncle Firly ". Sahut si gadis kecil kelas satu SD itu.
" Iya betul ". Timpal anak - anak kecil yang lainnya.
" Iya - iya baiklah ". Sahut Putri pada akhirnya.
Dalam benaknya Firly merasa senang, sangat - sangat merasa senang, dengan diberikannya nomer handphone Putri bisa menjadi jalan yang baik untuk dirinya agar menjadi lebih dekat dengannya.
" Ini nomer handphone ku mas, silakan lihat dan ketik sendiri ". Ujar Putri dengan menyodorkan handphone nya itu pada Firly.
Dengan senang hati Firly pun menerimanya, dan pria berusia matang itupun mulai merogoh handphone miliknya sendiri yang ada di balik saku jas mewahnya, namun masih belum sempat dirinya benar - benar mengeluarkan handphone miliknya itu, pandangannya malah terarah dan terpaku pada sosok Andra sahabatnya.
" Hah, apa yang dilakukan oleh si Andra?, yang benar saja dia?, ya Tuhan, dia sedang disuapi Dira?, wah - wah - wah, Andra - Andra, enak sekali kamu disuapi Dira, taktik apa yang kamu gunakan sampai Dira mau menyuapimu begitu?, hemm... kamu benar - benar sangat bucin, benar - benar bucin akut ". Batin Firly tak percaya.
Sementara Andra sendiri masih menikmati potongan kue yang masih terus disuapi oleh Nadira.
" Sayang, kamu menyuapi kue nya, tapi tak melihat wajahku, kalau kamu salah menyuapi kue bagaimana? ". Seru Andra.
Sontak perkataan Andra pun benar - benar langsung membuat Nadira menatap wajah Andra, Nadira khawatir jika benarkah dirinya salah menyuapi kue.
Sontak raut khawatir dari wajah Nadira pun membuat Andra reflek tersenyum, akhirnya setelah sekian lama Nadira mau menatapnya.
" Aida, Aida ". Panggil dua orang anak kecil laki - laki dan juga perempuan yang mendekat ke arah Aida.
__ADS_1
" Iya ". Sahut Aida.
" Ayo kita main, soalnya sebentar lagi kita berdua sudah mau pulang ". Ajak gadis kecil itu yang berusia dua tahun lebih tua dari Aida.
" Kalian di sini ya, kenalkan ini bunda ku ". Sahut Aida, bukannya menerima ajakan bermain dari kedua temannya, si kecil Aida malah memperkenalkan bunda nya.
" Wah, aunty ini bunda mu ya? ". Sahut si anak laki - laki.
" Iya, ini adalah bunda ku ". Sahut Aida lagi dengan begitu percaya dirinya.
" Halo aunty ". Sapa kedua anak kecil itu ramah pada Nadira.
" Halo sayang, kalian tampan dan cantik sekali ". Sahut Nadira.
Nadira sangat senang karena kedua anak kecil yang mendekati putrinya terlihat begitu sangat manis dan nampaknya mereka anak - anak yang baik juga menyenangkan.
" Aunty ini cantik sekali, cantiknya sama seperti boneka barbie di rumahku ". Sahut gadis kecil itu.
" Aida, bunda itu kan sama seperti mommy kan, berarti aunty ini mommy kamu ya? ". Seru si anak kecil laki - laki pada Aida.
" Iya, bunda ini adalah mommy ku ". Sahut Aida dengan begitu bangga.
" Jadi benar kamu punya mommy? ". Sahut anak kecil laki - laki itu lagi.
" Iya benal aku punya mommy, bunda lah mommy ku ". Sahut Aida.
Deg...
Bak mendapat hantaman yang begitu keras di dadanya, Andra begitu sangat tertegun bukan main. Apa maksud pertanyaan dan juga jawaban yang dirinya dengar dari teman - teman putrinya dan juga putrinya sendiri, apakah selama ini putrinya dikucilkan karena tak memiliki mommy, namun dirinya tidak mengetahuinya.
Obrolan putrinya dan juga kedua temannya sudah membuktikan semuanya, ternyata selama ini putrinya Aida sangat dikucilkan karena tak memiliki seorang mommy, mendapati kenyataan ini, membuat hati Andra menjadi mendidih sekaligus merasa miris dalam waktu yang bersamaan.
" Aida, biasanya kalau ada pesta ulang tahun, biasanya mommy dengan daddy kita akan berdansa, terus kenapa daddy dan juga bunda mu tidak berdansa, padahal malam ini kan pesta ulang tahun mu? ". Sahut gadis itu lagi.
Aida nampak terlihat bingung, gadis kecil itu sama sekali tak tahu jika dalam pesta ulang tahun mommy dan juga daddy nya harus berdansa.
Lalu gadis kecil itupun mengarahkan pandangannya pada sang daddy dan juga bunda nya. Jujur melihat raut kebingungan putri kecilnya membuat hati Nadira menjadi tersayat, apa yang terjadi padi putrinya Aida, mengingatkan nya akan dirinya sendiri yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya sendiri.
" Kasihan sekali kamu sayang ". Batin Nadira sedih.
" Malam ini daddy dan juga bunda mu akan berdansa sayang ". Sahut Andra pada akhirnya.
Deg...
" Beldansa daddy?, asyiiik... bunda dan daddy mau beldansa ". Seru Aida dengan begitu senangnya.
" Yeay bunda dan daddy mau beldansa, yeay bunda dan daddy mau beldansa yeay yeay yeay ". Aida terus berseru kegirangan karena perasaannya yang terlampau senang.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1