
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang waktu masih terus berjalan dengan didampingi oleh hari - hari yang akan terus berganti. Berbagai hal telah terjadi dengan menyisakan kenangan.
Tanpa terasa sudah lima hari lamanya sang tuan Andra, seorang pengusaha sekaligus investor yang begitu kaya raya itu telah kembali dari luar negeri.
Andra telah sampai ke tanah kelahirannya. Setelah melakukan perjalanan yang cukup menyita waktu dengan menaiki pesawat pribadinya, kini Andra telah tiba.
Namun tibanya Andra di tanah kelahirannya, tak membuat pria yang memiliki ciri khas bola mata biru itu untuk langsung kembali ke rumahnya.
Ternyata, disaat dirinya baru beberapa menit sampai di bandara, Andra malah mendapatkan kiriman pesan dari Celine agar bisa menemuinya di salah satu kafe yang ada di ibu kota.
Celine berpesan padanya jika dirinya membutuhkan bantuannya, jujur Andra merasa sedikit jengkel dengan keinginan Celine, pasalnya Andra sudah ingin segera pulang ke rumahnya untuk segera menemui putri kecilnya Aida yang sudah dirinya tinggalkan selama beberapa hari ini.
Kini, di dalam mobil mewahnya, Andra sedang duduk tenang di kursi belakang dengan di dampingi supir pribadinya pak Rahman.
" Tuan, berarti tuan Andra benar akan ke kafe yang ada di daerah sana, tidak jadi pulang terlebih dahulu? ". Seru pak Rahman di sela - sela menyetir nya.
" Iya, antarkan aku ke kafe dulu ". Sahut Andra.
" Kalau bukan karena kamu yang sakit, aku malas menemui Celine ".
" Aida, Dira, dua bidadariku, sabar dulu ya, aku masih dalam perjalanan ". Batin Andra.
Pak Rahman selaku supir kepercayaan Andra, hanya bisa mengikuti saja apa yang menjadi perintah tuannya, ini adalah kali pertama bagi tuan Andra nya mampir ke suatu tempat ketika baru sampai dari luar negeri.
Padahal selama dirinya bekerja pada tuan Andra nya, tuannya ini lebih memilih untuk sampai di rumahnya terlebih dahulu daripada mampir sebelum sampai di rumahnya.
Tapi entahlah, mungkin tuan Andra nya ini memiliki urusan yang begitu sangat penting sehingga mengharuskannya untuk tidak pulang terlebih dahulu.
*****
Sepasang kaki jenjangnya yang tertutup dengan sebuah rok yang cukup panjang yang ia kenakan itu telah di langkahkan untuk memasuki kafe.
Gadis cantik yang telah memiliki janji untuk menemui seseorang itu kini telah sampai di depan teras sebuah kafe. Namun disaat dirinya telah sampai di teras kafe, ada satu hal yang membuatnya malah memiliki tanda tanya besar.
" Kenapa kafe nya terlihat sepi?, tapi memang benar ini kafe nya ". Batin Nadira.
Ya, hari ini Nadira memang sengaja datang ke sebuah kafe yang tidak pernah dirinya kunjungi selama tinggal di ibu kota.
Memang benar Nadira mengetahui kafe ini, karena dirinya disaat terkadang pergi ke mall dengan melewati jalan raya, sudah pasti melewati kafe ini.
Namun Nadira tak mempersoalkan hal ini, yang penting saat ini yang harus dirinya lakukan adalah bisa menyelesaikan urusannya dengan Celine.
Ya, hari ini Nadira bisa datang ke kafe ini adalah untuk memenuhi ajakan Celine, dan yang pasti Nadira ingin agar Celine mengakui semua kebohongannya di depan Andra.
Nadira terus melangkahkan sepasang kakinya itu untuk masuk ke dalam kafe, hingga akhirnya dirinya benar - benar telah menemukan sosok Celine.
Celine ternyata sudah siap di mejanya, rupanya ia memang benar - benar berniat ingin berbicara dengannya.
" Akhirnya kamu datang juga Dira, aku pikir kamu tidak akan datang? ". Seru Celine kala Nadira telah berada di dekatnya.
" Duduklah ". Suruh Celine, lalu Nadira pun mendaratkan tubuhnya di kursi itu.
__ADS_1
" Baiklah mbak Celine, kenapa mbak menyuruh saya ke tempat ini, saya datang ke tempat ini bukan untuk duduk, tapi saya minta agar mbak Celine mau mengakui semuanya secara langsung tentang kebohongan mbak itu di depan mas Andra ". Tutur Nadira, karena memang itulah yang diinginkan nya.
Celine menjadi tersenyum mahal di depan Nadira, apa yang di senyumkan nya ini menunjukkan jika dirinya telah meremehkan Nadira.
Melihat Celine yang tersenyum seperti ini membuat Nadira acuh, Nadira tidak merasa takut pada Celine, Nadira percaya jika kekasihnya Andra akan percaya padanya ketika dirinya sudah mengatakan semuanya pada Andra jika selama ini Celine telah berbohong.
" Jadi kamu ingin agar aku mengakui semuanya di depan Andra?... begitu?... ". Sahut Celine dengan tersenyum mahal.
" Baiklah, aku akan mengakui semuanya di depan Andra, tapi dengan satu syarat ". Tutur Celine.
Dalam hal ini Nadira merasa aneh dan dirugikan, Celine yang sudah jelas - jelas bersalah dengan melakukan kebohongan tapi mengapa untuk mengakui semua kebohongan itu dirinya malah meminta sebuah syarat, ini sungguh aneh dan tidak masuk akal, yang benar saja ia meminta syarat, Celine yang bersalah mengapa dirinya yang harus melakukan sesuatu.
" Sadarkah yang mbak Celine katakan ini, di sini yang melakukan kebohongan adalah mbak, sangat tidak pantas jika orang yang sudah berbohong dan ingin mengakui kebohongannya itu malah meminta sebuah syarat, apa mbak sadar itu? ". Sahut Nadira.
Meski Nadira tetap terlihat tenang, namun hatinya sungguh merasa begitu sangat jengkel dengan sikap Celine. Menurutnya Celine sungguh keterlaluan, sudah bersalah namun masih bertingkah layaknya orang yang tidak bersalah sama sekali, benar - benar keterlaluan.
" Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau mengatakan semuanya pada Andra, kalaupun kamu yang mengatakan, percayalah, Andra tidak akan mempercayai aduanmu itu ". Sahut Celine.
Deg...
Sungguh Nadira sangat tertegun dibuatnya. Tak bisa dipungkiri jika apa yang diucapkan oleh Celine benar - benar telah membuat hatinya merasa begitu sangat khawatir. Mengapa semuanya malah menjadi seperti ini, lagi - lagi dirinya dibuat tak bisa berbuat apa - apa.
" Kamu tidak menyahut, itu artinya kamu tidak mau mengikuti syarat yang aku minta... baiklah, kalau begitu aku akan pergi, tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi dengan kamu di tempat ini ". Lalu Celine pun mulai hendak berdiri dari posisinya.
" Baiklah mbak Celine, saya mau, saya mau mengikuti syarat apa yang mbak inginkan, asalkan setelah ini, mbak harus mengakui semua kebohongan mbak Celine di depan mas Andra ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Celine pun menjadi tersenyum setelah mendengar sahutan dari Nadira, rupanya sangat mudah untuk memperdaya seorang wanita seperti Nadira, hanya memerlukan sedikit ancaman saja sudah mampu membuatnya menurut.
" Dira - Dira, rupanya kamu tidak lebih dari seorang anak kecil ". Batin Celine yang tersenyum dengan penuh kemenangan.
" Baiklah, aku akan mengakui semua kebohongan ku di depan Andra jika selama ini aku sedang berpura - pura sakit, asalkan... kamu mau mengakhiri hubunganmu dengan Andra ". Sahut Celine pada akhirnya.
Deg...
Bak terkena hantaman yang begitu keras di dadanya, hati Nadira seolah terasa tertimpa batu besar, apa yang didengarnya benar - benar menjadi sebuah hal yang sangat tidak mungkin untuk dirinya lakukan.
" Apa yang mbak Celine katakan?, mbak ingin agar saya mengakhiri hubungan dengan mas Andra?... tidak, itu tidak akan, sampai kapanpun saya tidak akan pernah melakukan hal itu ". Tolak Nadira.
Nadira langsung berdiri dari posisinya, dirinya sudah sangat tidak tahan dengan sikap Celine, Celine sudah benar - benar teramat sangat keterlaluan.
" Oh, jadi kamu sudah mau pergi? ". Tahan Celine setelah dirinya juga ikut berdiri.
" Untuk apa saya berlama - lama di sini, lebih baik saya pergi dari tempat ini, jika mbak Celine memang ingin melanjutkan kebohongan mbak itu, silakan saja, tapi yang pasti, saya akan tetap mengatakan semuanya pada mas Andra, saya akan tetap mengatakan jika selama ini mbak hanya berpura - pura sakit ". Sahut Nadira yang masih tetap pada keinginannya.
Entah apa yang terjadi, dengan gerakan cepat Celine pun langsung menuangkan sebuah cairan merah dari dalam botol kecil yang memang sudah sedari tadi ia pegang di kedua lubang hidungnya.
Celine melakukannya dengan gerakan yang sangat cepat sehingga membuat Nadira menjadi kebingungan dibuatnya.
Brukkhh...
Celine pun terjatuh di atas lantai kafe yang dingin itu.
Sontak saja Nadira yang melihat Celine terjatuh begitu saja menjadi sangat terkejut, bahkan di kedua hidung Celine mengeluarkan cairan seperti samacam darah, dan Nadira sangat tahu jika cairan itu bukanlah darah.
" Apa yang kamu lakukan Dira, kenapa kamu begitu tega seperti ini padaku? ". Seru Celine yang nampak sudah begitu lemah.
__ADS_1
Nadira pun menjadi mengernyit bingung dengan apa yang dilakukan oleh Celine, mengapa Celine malah menyalahkan dirinya, bukankah Celine sendiri yang membuat ulah seperti ini.
" Aku tahu kamu memang tidak suka padaku, tapi tidakkah kamu berpikir jika aku ini orang yang sedang sakit? ". Seru Celine dengan nada suaranya yang semakin melemah.
" Apa yang mbak Celine katakan, berhentilah membuat drama lagi mbak, apa mbak Celine tidak sadar jika yang mbak lakukan ini sudah mempermalukan diri mbak sendiri? ". Sahut Nadira.
Nadira sungguh sudah tidak bisa menerima lagi segala kebohongan dan tipu daya Celine, apa yang dilakukan oleh Celine teramat sangat memuakkan.
" Kenapa kamu tega Dira... a-apa salahku, aku hanya meminta Andra untuk membantuku yang sedang sakit ini, itu saja inginku ". Sahut Celine yang sudah terbata.
" Apa yang kamu lakukan Dira? ".
Sentak suara seorang pria yang tak jauh dari posisi Nadira.
Deg...
Seketika itu Nadira menjadi terkejut, Nadira sangat terkejut kala dirinya melihat siapakah sosok yang sudah menyentaknya itu, ternyata Andra lah yang sudah datang dan meneriaki nya dengan begitu lantang.
" Celine kamu tidak apa - apa? ". Seru Andra kala dirinya sudah mendekati Celine.
" Andra... tolong aku, katakan pada Dira, jika aku dan kamu tidak punya hubungan apapun, aku tidak ingin Dira menjadi salah paham padaku ". Tutur Celine.
" Mas, mbak Celine sudah berbohong, dia sudah membohongi kita mas, mbak Celine tidak sakit ". Sahut Nadira.
" Apa yang kamu katakan Dira?, kamu benar - benar sudah keterlaluan, apa kamu tidak lihat jika Celine sudah sekarat seperti ini? ". Marah Andra.
" Mas, mas Andra harus dengarkan aku, mbak Celine ini tidak sakit mas, dia datang ke kehidupan kita karena dia sengaja ingin memisahkan kita ". Sahut Nadira yang berusaha untuk menjelaskan, bahkan kini kedua bola mata indahnya itu sudah nampak dipenuhi dengan linangan air mata.
" Cukup Dira, kamu ini sudah benar - benar sangat keterlaluan, hanya karena rasa cemburu, kamu sampai begitu tega memperlakukan orang yang sedang sakit seperti ini dengan begitu rendah, kamu keterlaluan Dira, aku benar - benar tidak menyangka jika kamu sampai berbuat serendah ini ". Andra sudah sangat tenggelam oleh rasa marah dan kekecewannya.
" Percayalah mas, apa yang aku katakan ini tidaklah bohong, mbak Celine itu tidak sakit, dia hanya berpura - pura mas, mas Andra jangan percaya dengan kebohongannya ". Bahkan kini Nadira sudah benar - benar menjatuhkan air matanya.
Hati Nadira sungguh terasa begitu hancur, melihat kekasihnya sendiri yang tidak mempercayai dirinya sungguh terasa begitu sangat menyakitkan.
Ditambah lagi dengan bentakan Andra yang sempat begitu sangat keras dirinya dengar, bahkan kekasihnya ini yang hampir selalu memperlakukan nya dengan begitu baik, sudah begitu tega membentak dan memarahinya.
" Ayo Celine, kita ke rumah sakit ". Tutur Andra.
Lalu Andra pun mulai membawa tubuh Celine yang sudah terkulai lemas itu pada gendongannya.
Andra beranjak dari tempat itu dengan membawa Celine dan meninggalkan kekasihnya Nadira yang saat ini sedang mematung dengan keadaan berderai air mata.
Andra meninggalkan Nadira seorang diri di kafe ini. Andra sudah tak mempedulikan Nadira yang saat ini sedang menangis.
Nadira sangat sedih, benar - benar teramat sangat sedih. Mengapa kekasihnya Andra tidak percaya padanya, bahkan Andra menolak semua penjelasannya. Tidakkah kekasihnya Andra itu menaruk sedikit kecurigaan pada orang yang ditolongnya.
" Hiks hiks... bahkan kamu tidak percaya aku mas hiks hiks... ". Seru Nadira dengan isakan tangisnya.
Kini, di kafe ini, tanpa adanya seorang pelayan sama sekali, Nadira menangis. Ia menangis dengan deraian air mata yang begitu derasnya lantaran hatinya yang sudah terluka.
Hatinya terluka karena Andra pria yang dicintainya sudah begitu tega membentak, memarahi dan tidak mempercayai nya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€