
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari pagi telah memancarkan sinar indahnya menyapa setiap celah susunan bangunan indah dan rerumahan di hampir setiap hamparan tanah yang berpenghuni.
Pagi hari yang sudah tiba ini, telah mendatangkan semangat baru bagi setiap insan yang akan memulai hari mereka dengan segala aktivitas yang biasa mereka lakukan atau mungkin yang masih baru akan mereka lakukan.
Seolah alam begitu mengerti akan yang dibutuhkan oleh penghuninya, maka pagi hari yang begitu sejuk nan cerah ini, seolah telah memberi semangat baru bagi semua insan itu.
Meski semua insan yang akan memulai aktivitas paginya seolah mendapatkan semangat dari pagi yang sejuk ini, namun nyatanya tidak dengan seorang gadis cantik yang sudah akan bersiap menuju tempat kuliahnya.
Entah mengapa semenjak dirinya terbangun di waktu subuh, yang di mana pada waktu - waktu sebelumnya akan memiliki stamina dan semangat baru baginya setelah menempuh malam yang cukup panjang di malam hari demi untuk beristirahat, nampaknya untuk saat hari ini tak terasa seperti itu.
Ya, semenjak bangun di waktu subuhnya, Nadira merasakan kurang begitu nyaman di hatinya, Nadira begitu merasa sedih namun ia tak mengerti hal apa yang telah membuatnya sedih.
Hingga setelah dirinya menunaikan sholat subuh dan hendak untuk berdoa, tiba - tiba saja bayang - bayang akan wajah putranya Alvin seolah muncul dengan begitu nyata dalam pikirannya.
Dan semenjak itu pula Nadira sudah menyadari, jika rasa bersedih yang dirinya rasakan tanpa diketahui penyebabnya itu, karena ikatan batinnya pada sang putra tercintanya Alvin.
Dalam hal ini Nadira hanya bisa berdoa dan selalu terus berdoa, agar putra tercintanya itu selalu dalam lindungan-Nya, serta bisa dirawat dengan baik oleh kedua orang tua kandungnya.
Dan hingga setelah semua aktivitas paginya telah hampir selesai, kini Nadira sudah akan bersiap - siap untuk berangkat ke kampusnya.
Nadira mulai memasukkan beberapa buku tulis serta buku dari mata kuliahnya pada hari ini ke dalam tas ransel nya.
" Dira ". Seru Putri.
" Huum ". Sahut Nadira dengan dehaman saja.
" Kamu kenapa, kenapa kamu tidak terlihat bersemangat seperti ini, padahal ini masih pagi loh ". Tanya Putri, Putri cukup merasa heran dengan sahabatnya ini.
" Tidak bersemangat apanya sih Put, masih pagi seperti ini pula ". Sahut Nadira, nampaknya Nadira berusaha mengalihkan pembicaraan.
Nadira sudah memasukkan semua buku - bukunya ke dalam tas nya dan ia pun sudah hendak akan memasang tas ranselnya itu, namun baru saja Nadira hendak melakukannya tiba - tiba saja Putri mengambil alih tas yang hendak Nadira pakai itu.
" Loh Put, kenapa?, kok tas ku di ambil sih mana tas nya, kita kan sudah mau berangkat kuliah ". Seru Nadira yang begitu tersentak dengan sikap sahabatnya.
Putri diam, ia menatap Nadira dengan tatapan yang seolah menunjukkan jika dirinya menginginkan kejujurannya.
" Dir, kita tinggal bersama sudah lebih dari empat bulan, bahkan kita tidur di kamar yang sama, aku sangat tahu kalau kamu itu sedang menyembunyikan masalah, coba katakan padaku, sebenarnya kamu ada masalah apa sih? ". Seru Putri pada akhirnya, Putri sangat ingin jika Nadira sahabatnya bisa bercerita dengan jujur tanpa harus dirinya yang memaksanya untuk bercerita.
Nadira hanya bisa menghela nafasnya, sebegitu nampaknya kah jika dirinya memiliki masalah, padahal dirinya tak menunjukkan jika dirinya sedang memiliki masalah.
__ADS_1
Nadira sangat tak menyangka jika sahabatnya Putri akan se peka ini terhadap masalah dirinya yang sebenarnya Nadira sendiri sembunyikan, mungkin karena Putri adalah sahabat dekatnya, sehingga membuat Putri bisa merasakan, jika saat ini dirinya sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.
Lalu Nadira pun mulai duduk di kasur empuknya itu.
" Perasaanku merasa tidak karuan Put, aku mengkhawatirkan Alvin, aku merindukan anakku ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Nadira begitu sangat sedih, bahkan perasaannya menjadi sedikit gelisah, entah mengapa Nadira merasakan ada sesuatu pada Alvin, entah ini sebuah perasaan yang dirasakan oleh seorang ibu karena rindu akan putranya, atau mungkin memang benar sudah terjadi sesuatu pada Alvin.
Lalu Putri pun juga ikut duduk di samping Nadira.
" Dira ". Seru Putri dengan menyentuh lembut bahu kanan Nadira.
" Kamu rindu dengan Alvin?... kalau kamu memang rindu dengan anakmu itu, kenapa kamu tidak mencoba untuk menghubungi mantan suamimu itu, dengan begitu kamu bisa bicara dengan Alvin ". Sahut Putri dengan sedikit memberikan solusi.
" Mas Dani sudah mengganti nomer handphone nya Put ". Sahut Nadira dengan rautnya yang nampak semakin lusuh.
" Ya kamu hubungi nomer orang tua mu Dira, pasti orang tua mu itu tahu bagaimana kabar Alvin ". Sahut Putri lagi dengan memberikan solusi yang sama.
Nadira hanya bisa tersenyum hambar mendengar sahutan dari Putri, sepertinya Putri memang benar - benar tak menyadarinya.
" Entah kamu yang lupa, atau aku yang tak pernah terlihat apakah aku masih menghubungi orang tua ku atau tidak, kamu lupa ya jika semenjak aku tinggal di rumah ini, tidak sekalipun aku menghubungi orang tua ku lagi ". Sahut Nadira yang menjelaskan.
Mendengar sahutan dari sang sahabat, membuat Putri baru menyadarinya, jika Nadira memang tak pernah terlihat ber telfonan dengan memanggil ayah maupun ibunya, mengapa dirinya baru menyadarinya sekarang.
" Ayo kita berangkat kuliah sekarang, ini sudah pukul setengah tujuh ". Putus Nadira pada akhirnya, Nadira tak ingin jika sahabatnya Putri terlalu banyak memikirkan masalahnya.
" Bu, Putri dan Dira sudah mau berangkat kuliah ini ". Seru Putri pada sang ibu setelah mereka berdua berada di dekatnya.
" Kalian sudah siap rupanya, ya sudah kalau memang sudah ingin berangkat ". Sahut bu Dewi.
Lalu Putri dengan Nadira pun mencium punggung tangan kanan ibu mereka sebelum akhirnya kedua gadis itu benar - benar keluar menuju teras rumah mereka.
Putra sudah mulai memegang setir motornya untuk ia turunkan dari teras rumahnya, sedangkan Nadira sudah siap dengan memegang helm pelindung milik mereka berdua.
" Sayang ". Seru suara seseorang yang terdengar tak begitu jauh.
Sontak saja adanya suara itupun langsung membuat Nadira dan Putri menoleh.
" Mas Andra?... kok sudah di sini? ". Sahut Nadira yang begitu cukup terkejut.
" Ya karena aku ingin memgantarmu sayang ". Sahut Andra dengan begitu santainya.
" Mengantar kemana?... jangan katakan kalau mas Andra ingin mengantarku ke kampus? ". Sahut Nadira lagi yang sudah mulai nampak khawatir.
__ADS_1
" Itu kamu sudah mengetahuinya, tunggu apa lagi, ya sudah masuk ke mobil sayang ". Suruh Andra.
" Mas Andra lupa ya, aku kan sudah pernah mengatakan jika aku tidak ingin diantar mas Andra lagi ". Sahut Nadira yang menolak.
" Apa kamu juga lupa sayang, kalau kamu itu calon istriku ". Sahut Andra.
Mendengar sahutan dari Andra, membuat Nadira hanya bisa menghela nafasnya. Mengapa Andra bisa dengan begitu santainya mengatakan semuanya, sementara pada disaat pesta ulang tahun Aida, Andra sudah mengatakan jika ia akan setia menunggu jawaban dari dirinya, bahkan kini dirinya masih belum memberikan jawaban apapun pada Andra.
" Ayolah sayang, masuk ke mobilku, hari ini aku benar - benar ingin mengantarmu ke kampus ". Seru Andra.
" Mas, bukankah mas Andra sudah pernah mengatakan jika akan setia menunggu jawaban dariku, bahkan hingga saat ini aku masih belum memberikan jawaban apapun ". Sahut Nadira lagi, Nadira ingin agar Andra bisa menyadari akan kalimatnya sendiri.
" Ya itu kan aku akan setia menunggu jawaban iya dari kamu untuk melanjutkan hubungan kita, dan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan keinginan ku untuk mengantarmu ke kampus ". Sahut Andra.
Entah semenjak kapan pria yang terkenal irit bicara ini menjadi cukup banyak mengeluarkan kalimatnya.
Nadira sungguh benar - benar dibuat pusing oleh tingkah Andra, padahal sekarang ini waktu masihlah pagi, namun sudah ada drama ingin mengantar seperti ini.
Dan yang membuat Nadira tak habis pikir dengan sahutan Andra adalah, Andra mengatakan jika keinginannya untuk mengantar dirinya ke kampus sama sekali tidak ada hubungannya dengan keinginan Andra sendiri yang akan tetap setia menunggu jawabannya, padahal Andra sudah menganggapnya sebagai calon istrinya, bukankah itu artinya Andra sudah mengingkari janjinya sendiri.
Entahlah, Nadira sudah benar - benar dibuat yak habis pikir dengan tingkah Andra ini, bukan, lebih tepatnya, ketetapan Andra, ketetapan seorang Andra yang suka berbuat semaunya.
" Ayo sayang, tunggu apalagi?, masuklah ". Suruh Andra.
" Dan kamu Putri ". Seru Andra lagi.
" Eh iya tuan ". Sahut Putri yang cukup tersentak, karena dirinya sedari tadi hanya menonton drama antara pasangan yang putus nyambung ini.
" Kamu boleh ikut juga ". Ajaknya juga pada Putri.
" Terima kasih tuan, tapi sepertinya saya lebih baik naik motor saja, lebih enak naik motor tuan ". Tolak Putri dengan sopan.
" Ya sudah kalau begitu tunggu apalagi, aku akan mengantarmu sayang ". Ajak Andra lagi.
Dan mau tak mau, Nadira pun harus mengikuti keinginan Andra, karena jika tidak, Andra akan terus memaksanya layaknya seorang anak kecil yang akan terus - terusan merengek jika apa yang diinginkannya tak segera dituruti.
" Huum... baiklah mas ". Sahut Nadira yang sudah pasrah.
" Nah, begitu dong sayang, coba sedari tadi kamu mengatakan iya, pasti tidak akan panjang kan urusannya ". Pungkas Andra.
Dan akhirnya sepasang kekasih yang masih belum resmi akan hubungannya itu telah melangkah bersama menuju mobil mereka, sedangkan Putri sendiri menaiki motor matic nya.
Bersambung.........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ