
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Nona Celine ". Rasa khawatir asisten Ria sudah tak bisa dibendung lagi.
" Ya Tuhan, nona Celine, apa yang terjadi pada anda nona? ". Pelayan Ria semakin terkejut bahkan asisten rumah tangga di rumah Andra ini menjadi semakin ketakutan kala ia melihat adanya darah yang keluar dari bagian dalam hidung Celine.
" Nona - nona apa yang terjadi?, kenapa anda berdarah seperti ini nona? ". Seru Ria dengan menggerakkan bahu kanan Celine.
Semua orang di kediaman Andra bahkan termasuk Andra sendiri masih belum mengetahui jika Celine tak sadarkan diri.
Andra masih berada di kamarnya, pria tampan bertubuh tinggi dan gagah itu telah hampir selesai dengan persiapannya sebelum berangkat untuk mengantar Nadira ke kampusnya sebelum akhirnya dilanjutkan menuju kantornya.
Mengakhiri semuanya dengan bercermin pada sebuah cermin yang berukuran cukup lebar itu memang sudah menjadi rutinitasnya, sebelum dirinya benar - benar akan keluar dari kamarnya.
" Tolong... tolong... tolong... ".
Sontak Andra yang masih memfokuskan dirinya di depan cermin menjadi terkaget lantaran adanya suara seseorang yang meminta tolong hingga tembus ke dalam kamarnya.
" Tolong... tolong... nona Celine pingsan ".
Teriakan itu kembali menembus ke kamar Andra.
" Apa yang terjadi?... Celine, ya Tuhan... ".
Dengan tanpa memikirkan apapun lagi Andra pun langsung bergegas keluar dari kamarnya. Andra khawatir jika sesuatu yang buruk benar - benar terjadi pada Celine.
" Bi tolong, nona Celine pingsan di kamarnya, nona Celine berdarah bi, dia mengeluarkan darah dari hidungnya ". Seru Ria dengan penuh rasa panik pada bi Sari dan juga pelayan yang satunya yang sudah sampai di sana.
" Celine, apa yang terjadi? ". Seru Andra setelah dirinya sampai di dekat pintu kamar mandi.
" Tuan, nona Celine tidak sadarkan diri di lantai, nona Celine berdarah ". Ucap Ria dengan rasa khawatirnya.
Tanpa menyahuti penuturan dari pelayannya Ria, Andra pun langsung bergegas menerobos masuk begitu saja pintu kamar itu, dengan diikuti oleh yang lainnya mereka semua pun berada di kamar itu, kecuali si kecil Aida karena sebelum kejadian Ria meminta tolong si kecil Aida telah berada di halaman belakang untuk memberi makan ikan - ikan di kolam.
" Ya Tuhan, Celine ". Rasa khawatir begitu mencuat di hati Andra, bagaimana tidak, ia menyaksikan sendiri kondisi Celine yang begitu sangat memprihatinkan.
Andra sangat tak menyangka jika seorang Celine yang selama ini dirinya kenal sebagai orang yang kuat dan ambisius, malah lemah dan tak berdaya seperti ini.
Akankah Celine baik - baik saja, wajah pucatnya serta cairan darah yang keluar dari hidungnya sudah menunjukkan jika dirinya benar - benar berada dalam kondisi yang sudah tak bisa diabaikan lagi.
Dengan diselimuti oleh rasa khawatir, Andra pun mulai menggendong tubuh Celine yang telah tak berdaya itu, ia menggendongnya untuk menyelamatkan Celine yang segera membutuhkan penanganan.
Di lain tempat, tak begitu banyak selisih waktu yang terjadi setelah sepersekian menit, Nadira, seorang gadis cantik yang saat ini tengah siap untuk berangkat kuliah hanya bisa menunggu kekasihnya Andra yang setiap harinya akan selalu mengantarnya ke kampus.
Namun kali ini terasa ada yang berbeda, sudah sekitar sepuluh menit yang lalu Nadira menantikan jemputan dari Andra, apa yang dilakukan oleh Andra saat ini benar - benar bukan seperti pada biasanya.
Semenjak Andra berjanji akan selalu mengantarnya saat ingin kuliah, tak pernah sekalipun Andra datang terlambat seperti ini, apalagi sampai bermenit menit seperti ini.
Tak bisa dipungkiri jika saat ini Nadira merasa sedih, kecewa, kesal yang bercampur aduk menjadi satu, Nadira merasa kecewa dengan yang dirasakannya pagi ini.
__ADS_1
Sudah cukup lama dirinya menunggu jemputan dari Andra, namun mengapa hingga detik ini Andra masih tak kunjung datang untuk menjemputnya, apakah Andra lupa, tapi bagaimana mungkin, sangat mustahil jika Andra sampai terlupa, karena meski Andra tak jadi mengantarnya sudah pasti pak Rahman lah yang akan disuruh menggantikan untuk mengantarnya ke kampus.
" Sudah jam sebegini kamu masih belum datang untuk mengantarku mas?, apa aku telfon mas Andra saja?... mas Andra pagi ini kamu menyebalkan ". Gumam Nadira dengan segala keunegan hatinya.
Ingin ikut bergabung bersama dengan Putri malah merasa khawatir, khawatir jika Andra malah datang menjemputnya, menghubungi Andra adalah satu - satunya jawaban apakah dirinya akan benar datang ke sini dan mengantar dirinya ke kampus atau lebih baik ikut bersama dengan Putri saja.
" Loh Dir, kok kamu belum berangkat, tuan Andra tidak datang ya? ". Seru Putri tiba - tiba dari arah belakang tubuh Nadira.
Putri merasa heran karena tidak biasanya di jam seperti ini tuan Andra masih tak datang untuk mengantar sahabatnya, bahkan dirinya saja sudah terlalu siang untuk berangkat kuliah.
" Iya Put, mas Andra belum datang, ini aku sedang berusaha untuk menghubunginya tapi masih belum ada jawaban ". Sahut Nadira.
Putri bisa melihat dengan jelas jika ada raut kesedihan di wajah sahabatnya, Putri begitu sangat heran pada pagi ini, tuan Andra yang biasanya datang menjemput Nadira malah tidak ada dan yang lebih parahnya, tuan Andra sama sekali tidak menghubungi Nadira, tidak biasanya tuan Andra seperti ini.
" Kalau begitu kita bernasib sama, sama - sama tidak diantar oleh pasangan kita, maklum, mas Firly kan sedang ke luar kota, jadi ya aku harus naik motor, ya sudah, kalau begitu kita berangkat bersama, daripada kamu terlambat karena menunggu tuan Andra? ". Tutur Putri dengan ajakannya.
Dalam sejenak Nadira menghela nafasnya dengan cukup dalam, setidaknya dengan menghela nafas seperti ini bisa sedikit menurunkan rasa kekecewaannya.
" Huum, baiklah Put, aku ikut kamu ". Putus Nadira pada akhirnya.
Nadira merasa jika untuk saat ini dirinya ikut berangkat bersama dengan Putri, karena menunggu Andra pun percuma, apa yang dilakukan oleh Andra memanglah baru pertama kali ini, tidak mengapa jika Andra tidak ada niatan untuk mengantarnya, namun setidaknya Andra menghubungi dirinya, dan ini tidak sama sekali.
Ya sudahlah, mungkin hari ini kekasihnya Andra benar - benar sangat sibuk sehingga lupa untuk mengantar dan menghubungi dirinya.
*****
Ruangan yang didominasi oleh nuansa putih yang memiliki aroma yang khas, aroma di mana seorang pasien dirawat sedang ada seorang dokter ahli dan juga tiga perawat lainnya.
" Bagaimana, bagaimana keadaan Celine Niel?, apa kondisinya parah? ". Seru Andra kala Daniel selesai melakukan pemeriksaan.
" Tidak ada kondisi pasien yang menderita penyakit kanker itu akan baik - baik saja, semua pasien yang sakit kanker pasti begitu mengkhawatirkan, begitupun dengan kondisi Celine ".
" Begini saja Dra, sebaiknya Celine dirawat di rumah sakit ini saja, biar aku bisa secara intensif dalam merawat dan memberikan pengobatan padanya ".
" Ya aku tahu, Celine memang berencana untuk berobat ke luar negeri, tapi selama dia ada di sini, aku rasa tidak ada salahnya kan jika dirawat di sini dulu ". Tutur Daniel panjang lebar dengan segala penjelasan dan sarannya.
" Baiklah, lakukan saja apa yang terbaik menurutmu, aku mau Celine benar - benar dirawat dengan baik di sini ". Sahut Andra.
Jujur dalam situasi ini di mana dirinya harus mengetahui keadaan Celine, Andra sungguh merasa sangat kasihan, namun Andra sendiri juga merasa heran.
Kedatangan Celine ke Indo sudah pasti untuk mengurusi perusahaannya, namun Andra tetap tak habis pikir, mengapa disaat Celine sudah mengetahui jika dirinya sakit malah tidak membawa pendampingan ke sini, padahal kondisinya begitu sangat mengkhawatirkan.
Dan hingga setelah beberapa menit Celine tak sadarkan diri, nampaknya ia sudah mulai membuka kedua bola matanya.
" Celine... kamu sadar? ". Seru Andra.
" A-aku di mana? ". Seru Celine dengan suaranya yang nampak terdengar serak.
" Kamu di rumah sakit, tadi kamu tidak sadarkan diri ". Sahut Andra.
" Celine, mulai hari ini kamu akan dirawat di rumah sakit Andra, sampai kamu siap untuk berobat keluar negeri ". Kali ini Daniel lah yang memberikan penuturannya.
__ADS_1
" A- apa... dirawat di sini?... tidak, a-aku tidak mau ". Sahut Celine yang langsung menolak.
Deg....
" Celine, ini demi kebaikanmu, kamu akan dirawat di rumah sakit ku selama kamu belum menjalani pengobatan ke luar negeri ". Sahut Andra.
" Tapi Dra, tinggal di rumah sakit itu sangat membosankan, aku tidak mau berlama - lama di tempat seperti ini ". Sahut Celine yang ternyata masih menolak.
" Menurut lah Celine, ini demi kebaikanmu, sudah, jangan membantah lagi ". Sahut Andra.
" Baiklah, tapi, selama aku sakit dan dirawat di sini, kamu mau kan membantu dan menemaniku Dra, kan kamu tahu, orang tuaku tidak ada di sini ". Sahut Celine dengan rautnya yang penuh harap.
Deg....
Lagi - lagi Andra dibuat semakin iba pada Celine, bahkan disaat sakit seperti ini dia masih bekerja dengan tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya, memang benar jika Celine adalah anak tunggal, dan pasti mereka sangat berharap pada Celine, tapi dengan membiarkan Celine terus bekerja dalam keadaannya yang seperti ini bukanlah hal yang terpuji yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Mengapa orang tua Celine begitu tega, di mana sikap bijak mereka sebagai orang tua.
" Dan aku juga mau, jika setiap seminggu sekali aku bisa keluar Dra, aku tidak bisa jika terlalu lama tidak keluar ruangan, ruangan terbuka lebih bisa membuatku nyaman Dra ". Lanjut Celine lagi.
" Ya Tuhan, Celine, jadi kamu mau dirawat di rumah sakit, tapi juga mau liburan tidak jelas? ". Andra sudah benar - benar tak habis pikir dengan dengan keinginan Celine yang masih ngotot, percuma dirinya menyuruh Celine untuk dirawat inap jika Celine sendiri masih ingin keluar dari rumah sakit.
" Kan hanya seminggu sekali Dra, liburan itu memberikan kesenangan tersendiri untukku, dan kamu tahu kan, kesenangan seperti itu bisa memberikan dampak yang positif untuk kesehatan tubuhku, iya kan Daniel? ". Sahut Celine namun diakhir kalimatnya ia malah mengalihkan pembicaraannya pada Daniel.
" I-iya betul, pasien yang sakit memang harus lebih sering mendapatkan kesenangan ". Sahut Daniel.
Lagi - lagi Andra menghela nafasnya, memang tidak bisa dipungkiri jika kebahagiaan dalam hidup seseorang memang bisa menghilangkan rasa setres, apalagi bagi mereka yang menderita penyakit, pastilah sangat membutuhkan sesuatu hal yang membuat mereka bisa terus bahagia.
" Baiklah, jika itu memang keinginanmu Celine ". Sahut Andra pada akhirnya.
" Terima kasih Dra ". Sahut Celine dengan perasaan penuh bahagia.
Andra sudah pasrah, karena ini memang sudah keinginan Celine, membantunya sebisanya hanya itulah yang bisa dirinya lakukan.
Sementara Daniel sendiri yang menyaksikan semuanya hanya menjadi termangu dan merasa aneh.
Mengapa Celine menginginkan hal seperti ini, memang benar jika alasan yang Celine inginkan dari kebohongan penyakitnya adalah karena ia tidak ingin Andra terlalu sibuk bekerja sehingga bisa merawat dirinya, namun sangat jelas kemarin Celine mengatakan pembicaraan nya lewat telfon jika dirinya ingin dirawat di rumah sakit Andra, jika memang seperti itu bukankah itu menandakan jika Celine sudah tidak perlu dirawat oleh Andra, lantas mengapa Celine masih ingin ditemani Andra bahkan setiap seminggu sekali bisa keluar dari rumah sakit.
Dalam hal ini Daniel benar - benar merasa bingung, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Celine.
Ini sungguh aneh, sangat tidak masuk akal. Saat ini Daniel sungguh merasa bingung dan juga merasa bersalah, terutama pada Andra temannya sendiri.
Haruskah dirinya mengatakan semua kebenarannya pada Andra tentang kebohongan Celine mengenai penyakitnya yang sebenarnya tidak ada, namun jika dirinya sampai mengatakan semuanya, bukan tidak mungkin jika Andra akan sangat marah bahkan akan memporak - porandakan semuanya.
" Ya Tuhan, maafkan aku, aku janji, setelah sandiwara singkat ini telah selesai, aku tidak akan melakukan sandiwara lagi ". Batin Daniel yang ternyata sudah menyesal.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1