
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Suruh beberapa orang tahanan wanita lainnya untuk mengerjai mereka, pastikan mereka tersiksa di sana. " Seru Andra.
" Baik tuan, akan segera kami lakukan sesuai dengan perintah anda. " Sahut sang bodyguard.
" Aku ingin mereka mendapatkan balasan yang setimpal karena sudah berani mencelakai putriku, pastikan dua wanita iblis itu sengsara di dalam penjara. " Tegas Andra lagi.
" Baik tuan Andra, kami akan benar melakukannya sesuai perintah anda tuan. " Sahut sang bodyguard.
" Bagus. "
Tut... tut... tut...
Dan Andra pun mematikan panggilan handphonenya.
Hingga detik ini rasa amarahnya pada Celine dan juga Ria masih begitu sangat membara, bahkan dirinya sudah sangat tak sabar ingin mendengar kabar jika dua wanita yang sudah menyakiti putrinya itu sengsara di dalam penjara. Inilah sifat yang kurang baik dari diri seorang Andra, pendendam, karena sifatnya ini membuatnya akan membalas dengan lebih pada siapapun yang sudah dengan sengaja mengganggu dirinya dan juga keluarganya.
Hingga detik ini Nadira masih belum tahu pasti akan sikap suaminya yang pendendam seperti ini, yang diketahui oleh ibu muda itu adalah suaminya Andra punya sifat buruk seperti pemarah dan mudah tersinggung, sehingga sangat tak jarang jika suaminya Andra suka bersikap semaunya.
*****
Sementara di dalam ruangan perawatan, gadis kecil yang sudah cukup lama terpejam itu secara perlahan mulai membuka kelopak matanya. Sampai pada akhirnya sepasang bola mata birunya itu benar terbuka.
" Dira, lihat, Aida sudah sadar. " Ujar bu Dewi yang melihatnya lebih dulu.
Nadira yang merebahkan tubuhnya di samping putrinya langsung mengangkat kepalanya.
" Sayang, anak bunda, kamu sudah sadar nak?. " Serunya.
" Alhamdulillah, nona Aida sudah sadar. " Bi Sari sangat bersyukur karena nona kecilnya sudah kembali membuka matanya.
Semua orang di ruangan ini berkumpul mengerumuni Aida, kecuali Firly yang masih terlelap dengan tidur paginya.
Aida masih agak bingung, gadis kecil itu memperhatikan wajah bundanya.
" Sayang, anak bunda. "
Cup... cup...
Diciumnya kening putrinya dengan lembut. Nadira sangat paham jika putri kecilnya ini masih kebingungan.
" Sayang, ini bunda nak, sekarang Aida ada di rumah sakit. " Jelas Nadira.
" Bunda... bunda... bunda. " Lantas Aida mengangkat sepasang tangan mungilnya untuk memeluk leher bundanya.
" Bunda hiks... Aida takut bunda hiks hiks... Aida takuuut... "
__ADS_1
" Sayang, tenanglah nak, di sini ada bunda, Aida sudah aman sekarang. "
Dengan hangat Nadira memeluk tubuh mungil putrinya. Dalam dekapannya sangat jelas terasa betapa putrinya ini begitu sangat ketakutan. Entah hal apa saja yang sudah dilakukan oleh Celine dan Ria sehingga putrinya menjadi ketakutan seperti ini, pasti dua wanita itu memukuli putrinya dengan tanpa ampun. Ingin sekali rasanya dirinya menangis juga, namun itu tak boleh terjadi, karena hal itu akan membuat psikis putrinya semakin tak baik.
" Nak, sebaiknya putrimu disuruh minum air dulu, pasti dia kehausan, bukankah kata dokter putrimu agak dehidrasi?. " Seru bu Dewi.
Nadira baru menyadarinya, seharusnya dirinya segera memberikan putrinya air minum agar sedikit lebih tenang.
" Sebentar sayang, bunda mau ambil air minumnya Aida dulu ya?. " Izinnya.
Aida langsung melepas pelukannya, tak ada salahnya juga minum air, lagipula tenggorokannya juga terasa kering.
" Ayo, minum airnya dulu nak. " Seru Nadira dengan menyodorkan segelas air minum di dekat bibir putrinya.
Dengan perlahan kedua belah bibir mungil Aida benar meminum air minumnya itu.
" Aaah... sudah bunda. " Serunya setelah menghabiskan separuh gelas air minumnya.
" Ternyata kamu haus sekali sayang, sekarang Aida mau apa?, apa mau makan dulu?. " Tanya Nadira.
" Tidak, Aida tidak lapal, Aida mau pulang bunda, Aida ingin tidul di lumah. " Sahut Aida.
" Sayang, Aida kan masih sakit nak, jadi Aida masih harus menjalani perawatan, dirawat di sini akan lebih ba... "
" Tidak mau bunda, Aida mau pulang sekalang, Aida mau pulang bunda. "
" Nona, sebaiknya kita turuti saja keinginan nona Aida. " Seru bi Sari.
" Baiklah bi, tapi di mana mas Andra?. " Sahut Nadira.
" Sebentar, biar saya panggil tuan dulu nona, tadi katanya tuan ingin menelfon. " Sahut bi Sari.
Bi Sari mulai melangkah mendekati pintu keluar, wanita yang sudah lanjut usia itu tak ingin berlama-lama menemui tuannya.
Sementara Nadira menoleh pada sahabatnya Putri. Entah mengapa kali ini ada yang aneh dengan sahabatnya. Mengapa Putri terlihat diam saja, tidak biasanya Putri seperti ini.
Lalu Nadira menoleh pada sahabat suaminya , dan ternyata Firly masih tidur dengan begitu nyenyaknya.
" Put, dari tadi kamu hanya diam saja, kenapa kamu tidak duduk di dekat kak Firly? atau mengobrol dengan Aida. " Tanya Nadira.
" Tidak ada. " Sahut Putri singkat.
Nadira jadi mengernyit bingung, mengapa aneh sekali jawaban Putri, tidak biasanya ia bersikap seperti ini.
" Mungkin Putri sedang PMS, itulah kenapa terlihat kurang bersahabat. " Batin Nadira yang hanya menerka - nerka.
*****
Karena kejahatan yang telah dilakukan keduanya, maka polisipun benar membuka pintu penjara itu dan memasukkan dua wanita yang terbukti melakukan kejahatan kejinya.
__ADS_1
" Ini dua wanita tahanan yang menjadi teman baru kalian, sapalah mereka. " Ujar sang polisi wanita sebelum akhirnya kembali mengunci cel tahanannya.
Celine dan Ria benar berada di dalam cel tahanan ini, mereka berdua hanya bisa berdiri dengan bergidik ngeri.
" Kalian, kalian berdua pasti melakukan kejahatan karena menculik dan menyiksa anak kecil kan?. " Ujar salah satu tahanan wanita yang tak lain ketua tahanan di cel ini.
Tentu Celine dan Ria sangat tersentak kaget saat ditanyai hal ini. Dari mana wanita yang terlihat garang itu tahu dengan kejahatan yang sudah diperbuatnya, tidak mungkin kan mereka tahu karena memang tak ada seorangpun yang memberitahunya.
" Cel, dari mana wanita yang wajahnya menyeramkan itu tahu tentang kejahatan kita?, bukankah seharusnya mereka baru tahu jika kita yang memberitahunya?. " Bisik Ria karena wanita itu sudah mulai takut.
" Aku juga tidak tahu Ria. " Bisik Celine.
" Hey, kenapa kalian berbisik - bisik?, bukannya menjawab pertanyaanku malah berbisik - bisik. " Seru wanita itu yang tak lain bernama Silvi dengan begitu lantangnya.
Jujur saja Celine sangat tak suka mendapatkan perlakuan seperti ini. Bisa - bisanya orang lain membentaknya seperti ini.
" Ayo, dimulai dari kamu, setelah itu yang lainnya ikut juga. " Perintah Silvi.
Dan benar saja, semua anak bawahannya benar mendekati Celine dan Ria.
" Kalian, mau apa kalian?. " Tanya Ria.
" Tentu berkenalan dengan kalian berdua, kami punya cara tersendiri untuk menyambut tahanan yang baru, dan kalian berdua harus menerima pertemanan kami. " Sahut salah satu dari mereka.
" Tunggu apalagi?, cepat lakukan. " Perintah Silvi.
Plak... plak...
" Aw... apa yang kamu lakukan?. "
" Apa yang kamu lakukan?, beraninya menamparku. " Teriak Celine.
" Kalian tuli ya, kami punya cara tersendiri untuk berteman dengan tahanan baru, menampar setiap tahanan yang datang itulah cara kami berkenalan. " Sahut wanita itu.
" Kalian banyak bicara, tunggu apalagi?, cepat lakukan. " Tegas Silvi.
Plak... plak... plak...
Plak... plak... plak...
Dan semua tahanan lama di ruangan ini bergantian menampar Celine dan juga Ria. Terasa sangat sakit, panas, itulah yang dirasakan oleh keduanya.
Ini masih baru awal Celine dan Ria masuk ke cel tahanan, dan sepertinya masih ada hal mengejutkan yang lainnya yang akan segera datang.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1